Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Pusaka Raja Singa Api


__ADS_3

Saat ini Madika telah berhasil membangun-kan Nia meski-pun dengan cara yang aneh.


tampak Nia sedang duduk dengan cara menekuk lutut-nya ke bawah seperti orang yang sedang berlutut, sementara Madika tampak sedang duduk bersila di hadapan Nia.


"maaf sudah melakukan hal aneh pada-mu." ucap Madika dengan perasaan tulus sambil menatap Nia.


"i.... iya..... aku maaf-kan, lain kali jangan begitu lagi." balas Nia sambil sedikit memaling-kan wajah-nya dari Madika dengan ekspresi yang terlihat malu-malu.


Setelah Madika meminta maaf, kini kedua-nya tidak berbicara lagi.


suasana pun terasa sunyi untuk beberapa saat.


Hingga akhir-nya Madika pun sedikit merangkak dan mendekati Nia yang duduk berhadapan dengan-nya saat ini.


setelah itu Madika pun mulai menyentuh rambut yang saat ini menutupi pipi Nia, lalu di sibakan-nya rambut itu dan di selipkan-nya rambut itu di balik telinga sehingga kini wajah Nia bisa terlihat dengan sangat jelas ketimbang sebelum-nya.


bahkan kecantikan Nia pun seolah bertambah, apa lagi saat ini wajah Nia tampak sedang memerah, hal itu pun membuat wajah Nia terlihat semakin manis.


"selamat ulang tahun Nia." ucap Madika dengan suara yang lembut sambil menunjuk-kan senyum manis-nya pada Nia.


Mendengar ucapan selamat ulang tahun dari Madika, tiba-tiba saja Nia langsung merasa sangat bahagia.


hal itu bisa terlihat dari ekspresi-nya yang saat ini terlihat sangat senang mendengar kata-kata itu dari bibir Madika.


"t.... terimakasih." ucap Nia yang masih malu-malu sambil sedikit memaling-kan wajah-nya dari Madika. namun sesekali ia terlihat berusaha menoleh ke arah Madika seperti orang yang sedang curi-curi pandang dengan ekspresi yang tampak malu-malu.


Madika yang menyadari tingkah Nia itu tentu tahu bahwa saat ini Nia sangat senang namun ia merasa sedikit malu menunjuk-kan rasa senang-nya itu di hadapan Madika.


Madika pun hanya tersenyum manis melihat tingkah Nia.


lalu Madika mengangkat tangan kanan-nya dan ia pun mulai mengelus kepala Nia dengan lembut.


"apa selama aku tak sadar-kan diri kau selalu menemani-ku di sini?" tanya Madika dengan lembut.


"uhm.... aku ingin jadi yang pertama melihat-mu siuman... ku pikir mungkin saja ada yang bisa ku lakukan untuk membantu-mu." jawab Nia dengan jujur.


"begitu ya...." balas Madika. "hmm.... sebenar-nya memang ada sih sesuatu yang aku ingin kau membantu-ku." ucap Madika yang kemudian berhenti mengelus kepala Nia.

__ADS_1


"apa itu?" tanya Nia.


"aku hanya ingin kau memberitahu-kan pada ayah-mu bahwa setelah hari ini, besok raja Andreas akan datang ke tempat ini untuk mengesah-kan posisi ayah-mu sebagai pemimpin kota Kayau yang baru." ucap Madika memberitahu-kan Nia sesuatu yang ia ingin Nia bantu.


Mendengar ucapan Madika barusan, Nia pun langsung mengetahui maksud dan arah dari pembicaraan Madika saat ini.


"apa kau sudah mau pergi sekarang?" tanya Nia yang terlihat tidak bersemangat.


"benar, aku tidak bisa terlalu berlama-lama di sini, soal-nya kalau aku sampai bertemu dengan raja Andreas maka akan ada kejadian yang sangat merepot-kan nanti-nya." ucap Madika dengan ekspresi suram.


"apa kau ada masalah dengan raja Andreas?" tanya Nia penasaran.


"bukan masalah besar kok, hanya saja aku merasa bahwa saat ini aku tidak ingin bertemu dengan-nya." jawab Madika.


"begitu ya...." Nia mencoba memahami situasi Madika saat ini.


"uhmm." Madika mengangguk.


"lagi pula sebelum-nya kau sudah memberitahu ku informasi tentang apa yang ku cari, dan saat ini aku sudah menempati kata-kata ku untuk tetap di sini sampai hari ulang tahun-mu tiba... jadi sekarang ku rasa aku sudah bisa pergi." ucap Madika menjelas-kan.


Nia kini hanya diam saja, ia merasa seolah akan segera kesepian jika Madika pergi dari kota ini.


Madika yang menyadari hal itu kini langsung mengambil inisiatif.


Madika kini menyentuh kedua pipi Nia mengguna-kan kedua telapak tangan-nya.


setelah itu ia mendekat-kan wajah-nya pada Nia hingga akhir-nya ia pun langsung mengecup kening Nia dengan lembut.


Satu kecupan manis itu pun kini membuat Nia langsung terkejut.


mata-nya terbelalak dan wajah-nya langsung memerah.


tubuh-nya seolah terpaku dan tak bisa bergerak, bahkan bibir-nya kini seolah membantu sehingga ia tak mengeluar-kan suara sedikit-pun.


Setelah itu Madika pun melepas-kan kecupan-nya di kening Nia.


ia kemudian menatap Nia dengan serius.

__ADS_1


"aku tidak akan pergi selama-nya, suatu hari nanti kita pasti akan bertemu lagi, jadi ku harap jika saat itu tiba, kita bisa menjadi teman akrab seperti saat ini." ucap Madika yang kemudian tersenyum ramah pada Nia.


Nia hanya diam saja dan terus memandangi Madika tanpa menunjuk-kan reaksi lain-nya.


Setelah itu Madika pun langsung mengeluar-kan sebuah senjata pusaka milik-nya.


senjata pusaka yang ia keluar-kan itu adalah sebuah kalung yang ia dapat-kan setelah membunuh seekor raja singa api di masa lalu.


"ini hadiah untuk-mu." ucap Madika sambil menunjuk-kan kalung itu pada Nia.


Sementara itu, Nia yang bisa merasa-kan bahwa kalung itu adalah sebuah benda pusaka kini sedikit terkejut dan ia pun merasa bahwa pemberian Madika saat ini sudah terlalu berlebihan.


"i.... ini benar benda pusaka kan?" tanya Nia memasti-kan dengan ekspresi takjub.


"ya benar." jawab Madika singkat dan santai.


"kalau begitu aku tak bisa menerima-nya, ini sudah terlalu berlebihan bagi-ku." ucap Nia menolak sambil memalingkan wajah dari Madika.


Mendengar ucapan Nia barusan, kini Madika hanya bisa tersenyum tipis sambil menggeleng-kan kepala-nya.


lalu Madika pun langsung mendekati Nia sekali lagi.


setelah itu, tanpa mengata-kan apa-apa, kini Madika pun langsung memakai-kan kalung itu di leher Nia.


Nia pun hanya bisa diam, dia memang sedikit terkejut karena saat ini Madika benar-benar sangat dekat dengan-nya.


jantung-nya pun mulai berdebar-debar karena saat ini ia terpikir-kan bahwa situasi seperti ini biasa-nya lebih sering terjadi antara sepasang kekasih.


"b.... bukan-kah ini malah jadi terlihat seolah kami adalah sepasang kekasih?!" batin Nia yang kini mulai terlihat senang namun bercampur rasa panik.


Setelah selesai memasang kalung itu, kini Madika pun langsung mendekat-kan bibir-nya di telinga Nia, dan setelah itu ia pun langsung membisik-kan sesuatu pada Nia.


"tidak perlu sungkan, ini hanyalah salah satu benda pusaka milik-ku.... aku masih punya beberapa pusaka lain-nya kok." ucap Madika dengan suara halus di telinga Nia.


Wajah Nia makin memerah, namun bukan karena ucapan Madika, melain-kan jarak diri-nya dan Madika saat ini benar-benar terlalu dekat sehingga Madika terlihat hampir memeluk tubuh mungil Nia.


Menurut kalian lebih bagus mana? cerita penuh aksi dan petualang atau cerita yang seperti beberapa episode belakangan ini?

__ADS_1


Tulis jawaban kalian di komentar biar Thor coba sesuai-kan alur dan tema yang kalian sukai. :)


__ADS_2