
Saat ini kerbau angin milik Madika itu telah di ledak-kan oleh ular petir milik Udin.
Madika yang melihat hal itu kini hanya menatap malas kerbau-nya yang meledak begitu saja.
Tak lama setelah itu, kini ular petir milik Udin itu pun langsung melesat ke arah Madika dengan gerakan acak.
Madika yang melihat hal itu kini hanya tersenyum tipis sambil bersiap menerima serangan dari si ular itu.
Saat ular itu berada dekat dengan Madika, kini si ular yang sedang melesat cepat itu pun langsung membuka mulut-nya untuk menerkam Madika.
Namun karena mata Madika masih bisa mengikuti kecepatan si ular itu, kini Madika pun dengan segera melangkah dua langkah ke samping sambil memutar tubuh-nya serta melakukan tebasan dengan pola memutar.
Hal itu pun membuat kepala bagian samping si ular itu langsung terkena tebasan memutar dari Madika saat Madika menghindar barusan.
"sial!.... dia menghindar sambil menyerang dalam satu waktu yang bersamaan.... bocah ini ternyata boleh juga!" ucap si Udin.
Si Udin berpendapat seperti itu karena pada dasar-nya si Udin hanya selalu bertarung mengguna-kan jurus-jurus kuat dengan jangkauan yang luas serta serangan-serangan jarak jauh lain-nya.
hal itu pun membuat si Udin jadi tidak begitu mahir dalam pertarungan jarak dekat.
ia hanya mempeduli-kan kekuatan dari setiap jurus-jurus yang bisa di gunakan dari jarak jauh.
Namun Madika adalah orang yang berbeda, ia adalah sosok yang tidak hanya mengandal-kan kekuatan besar seperti jurus-jurus dengan jangkauan luas, ia lebih memilih menghemat energi-nya selagi bisa. namun jika benar-benar sudah terdesak, maka bisa di pasti-kan Madika akan mengguna-kan jurus-jurus tersebut.
Saat ini Madika telah berhasil menghindar sambil menebas ular petir itu.
namun tebasan Madika tidak terlalu berpengaruh bagi ular petir itu.
Kini si ular petir itu kembali berputar ke arah Madika, namun dengan segera Madika melompat ke udara tepat di atas kepala si ular itu, dan dengan segera Madika langsung mengangkat kedua pedang-nya itu sehingga kini kedua pedang itu berubah menjadi satu dan ukuran pedang-nya juga jadi lebih besar dari sebelum-nya.
__ADS_1
Dengan segera Madika pun menebas-kan pedang yang sudah ia satu-kan dan perkuat itu ke kepala si ular.
Seketika itu juga tebasan Madika pun langsung membelah kepala si ular itu menjadi dua sehingga kepala-nya tampak seolah bercabang.
Tak butuh waktu lama, kini ular petir itu pun langsung meledak seketika, dan ledakan ular petir itu membuat Saga yang Udin gunakan untuk mengendali-kan si ular kini berbalik menghantam tubuh si Udin sehingga membuat Udin sedikit mengalami luka dalam akibat dari ledakan jurus-nya sendiri.
Si Udin kini tersentak dan terdorong mundur saat ular petir-nya itu meledak.
sementara Madika yang melihat hal itu kini hanya tersenyum tipis karena sedari tadi ia sudah menyadari bahwa ular petir milik Udin itu seharus-nya hanya bergerak lurus saja dan tidak akan mungkin berbelok arah kecuali si ular itu memiliki sistem penargetan otomatis atau sedang di kendali-kan secara penuh oleh si pengguna jurus.
"sudah ku duga, dia mengendali-kan jurus-nya itu secara penuh.... apa dia sama sekali tak tahu bahaya dari menggendali-kan jurus dengan cara seperti itu?" batin Madika.
Setelah berkata seperti itu dalam hati-nya, kini Madika pun langsung melesat-kan tebasan angin yang sangat besar ke arah Udin mengguna-kan pedang besar-nya itu.
Sementara itu, si Udin yang tadi-nya terdorong ke belakang kini telah berdiri tegak dan dengan segera membalas tebasan angin Madika itu mengguna-kan pedang petir-nya.
Tebasan angin milik Madika pun berhasil ia hancurkan dengan satu kali tebasan saja.
namun tidak cukup sampai di situ, Madika kini terus melancar-kan serangan tebasan api mengguna-kan pedang besar itu.
sementara si Udin terus berusaha menghindar serta menebas lengkungan angin yang melesat ke arah-nya.
Karena saat ini si Udin terlena dalam menghadapi tebasan angin Madika, kini ia tidak sadar bahwa Madika saat ini telah membuat beberapa peluru angin yang bisa ia gunakan untuk menyerang kapan saja.
Tak lama setelah itu kini Madika yang sudah menyiap-kan beberapa peluru angin milik-nya itu kini langsung berhenti menyerang Udin mengguna-kan tebasan api.
namun Madika kini segera menembak-kan peluru angin ke arah si Udin.
kini beberapa peluru angin tampak melayang di sekitar tubuh Madika, dan peluru angin itu pun kini di tembak-kan ke arah si Udin.
__ADS_1
Udin yang melihat peluru angin itu melesat ke arah-nya kini langsung menghentak-kan pedang-nya.
lalu dengan cepat ia melesat ke arah Madika sambil menghindari semua serangan peluru angin milik Madika.
Setelah itu ia pun langsung melompat ke udara sambil memutar tubuh-nya serta mengayun-kan pedang-nya dengan pola memutar.
Seketika energi Saga di sertai Sambaran petir berkumpul di pedang yang ia ayun-kan sambil memutar tubuh-nya di udara, dan saat ia menebas-kan pedang-nya itu, seketika terbentuk-lah seekor piton raksasa yang langsung melesat ke arah Madika.
Madika yang melihat hal itu kini langsung melompat ke belakang sehingga piton petir itu kini hanya menghantam tanah.
Namun hantaman piton itu tidak membuat sebuah ledakan atau-pun menghancur-kan lantai.
justru piton petir itu kini tampak masuk ke bawah lantai tanpa meninggal-kan bekas sedikit-pun.
Madika yang melihat hal itu kini mulai curiga.
"seperti-nya ular itu tidak sekedar masuk ke lantai saja!.... mungkin ia akan kembali muncul ke permukaan." ucap Madika dalam hati sambil mulai melirik ke berbagai arah untuk memasti-kan situasi.
Tak lama setelah itu, tiba-tiba tepat di bawah kaki Madika si piton petir itu langsung keluar dari lantai sambil membuka mulut-nya lebar-lebar sehingga kini Madika pun berada dalam jangkauan mulut-nya.
Seketika itu juga si piton petir itu pun langsung menerkam Madika dan membuat Madika pun kini masuk dalam mulut si ular petir itu.
"AAARRRRGGGGHHH!!"
Madika berteriak kesakitan akibat sengatan petir yang sangat kuat memenuhi seluruh tubuh-nya.
Seketika Madika merasa-kan seluruh tubuh-nya kaku dan tak bisa di gerak-kan.
sementara si piton petir itu kini membawa Madika melesat ke udara, dan setelah berada di posisi yang cukup tinggi di udara, kini si piton petir itu pun langsung melesat ke bawah lantai untuk menghantam-kan Madika ke lantai.
__ADS_1