
Ketika tombak petir yang di lemparkan Mindo ke arah Madika sudah berada dekat dengan Madika, kini dengan cepat Madika langsung memutar tubuh-nya seraya menebas tombak es itu menggunakan tangan kanan-nya yang sudah ia lapisi dan perkuat menggunakan elemen angin yang ia miliki. alhasil tombak es itu langsung terpental dan hancur seketika.
"apa aku pernah berbuat salah pada-mu?" tanya Madika dengan ekspresi wajah yang terlihat suram.
"ya.... kau baru saja membuat masalah dengan-ku." ucap Mindo sambil menatap Madika dengan tatapan tajam.
"aku sama sekali tak mengingat-nya?.... setahu-ku tak ada yang salah dengan tindakan-ku barusan." balas Madika sambil memasuk-kan tangan kiri-nya ke dalam saku celana-nya.
"setahu-mu begitu, tapi menurut penilaian-ku...." Mindo menggantungkan perkataan-nya sambil mengangkat tangan kanan-nya di udara, dan seketika muncul enam tombak es di udara. "kau salah dan harus di hukum!!" teriak Mindo sambil mengayun tangan kanan-nya ke arah Madika.
namun belum sempat melesat ke arah Madika, kini enam tombak es itu sudah hancur berkeping-keping karena sebuah serangan angin yang berbentuk seperti ular yang sangat panjang.
angin yang terlihat seperti ular itu tampak menabrak tombak es itu hingga hancur.
Saat tombak es itu hancur, Mindo tampak tidak terkejut, ia justru tampak berseringai licik namun tidak langsung menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang menghancurkan tombak es-nya.
saat ini ia tak menoleh karena ia sudah bisa menebak siapa orang yang baru saja menghancurkan tombak-nya itu. hal itu karena ia tahu betul siapa orang yang bisa menciptakan teknik angin yang berbentuk ular seperti itu.
"kau ini selalu saja menghalangi jalan-ku.... apa kau tak bosan-bosan berkelahi dengan-ku hah?" ucap Mindo sambil menoleh ke belakang dan mendapati Tepaonjo yang sedang berdiri cukup jauh di belakang-nya.
"orang yang kau ingin kau serang itu adalah anggota kelas-ku.... jadi aku tidak akan tinggal diam jika anggota kelas-ku di usik." jelas Tepaonjo.
"hah ku dengar-dengar kau adalah ketua kelas angin.... jadi ketua kelas itu memang merepotkan ya.... sampai-sampai harus melindungi orang lemah seperti ini." ucap Mindo sambil memutar tubuh-nya dan menatap Tepaonjo dengan ekspresi meremehkan.
"meski kau berkata seperti itu, tapi ku dengar-dengar kau juga sudah menjadi ketua kelas es.... bukan-kah itu juga akan merepotkan-mu?" balas Tepaonjo dengan tenang.
"oh yah.... tapi ku dengar-dengar aku adalah wali kelas satu angin.... apa kali ini aku bisa menghukum siswa yang nakal?" ucap pak Kulimu yang tiba-tiba berada di belakang Tepaonjo sambil menepuk bahu Tepaonjo.
__ADS_1
Melihat hal itu mereka berempat pun langsung terkejut karena kemunculan pak Kulimu yang sangat tiba-tiba.
"hei Mindo.... sebaik-nya kau segera ke kelas-mu.... wali kelas-mu tampak-nya sedang tidak ramah hari ini." ucap pak Kulimu dengan ekspresi malas.
"hemp..... seperti-nya ini bukan saat yang tepat." ucap Mindo yang kemudian langsung berlalu melewati Tepaonjo dan pak Kulimu.
Ketika Mindo telah pergi, kini pak Kulimu langsung menepuk bahu Tepaonjo sekali lagi.
"baiklah, kenapa kau meladeni anak itu dan bukan-nya langsung masuk ke kelas?" tanya pak Kulimu.
"tadi aku sedang berusaha melindungi Madi...." ucapan Tepaonjo tiba-tiba terhenti karena saat ini ia sudah tidak melihat Madika di tempat itu.
"hmm??" gumam pak Kulimu dengan ekspresi meminta penjelasan.
"hah.... seperti-nya dia sudah pergi." ucap Tepaonjo sambil menghela nafas.
Setelah kejadian itu, kini Tepaonjo dan pak Kulimu langsung masuk ke kelas, dan pak Kulimu mulai memberi beberapa pelajaran serta teori-teori yang di gunakan dalam memunculkan teknik-teknik yang di pelajari.
"baiklah anak-anak.... bapak punya satu pemberitahuan penting." ucap pak Kulimu.
Mendengar perkataan itu, para siswa di kelas pun langsung bertanya-tanya tentang pemberitahuan itu. mereka mulai berbisik-bisik untuk mencari tahu kira-kira pemberitahuan apa yang akan di sampaikan.
"dalam tiga hari ke depan, akan di laksanakan latihan gabungan antar kelas satu..... latihan gabungan ini di adakan dengan tujuan untuk mengukur kemampuan sebenar-nya dari para siswa serta untuk membuat para siswa bisa saling memahami kemampuan masing-masing.... dengan mengetahui kemampuan masing-masing, maka di harapkan agar semua siswa kelak bisa membuat strategi yang matang saat berada di pertarungan yang sesungguh-nya..... pertarungan ini akan di laksanakan secara berkelompok dan untuk setiap kelompok-nya akan di bagi secara acak..... jadi persiapkan-lah diri kalian dari sekarang untuk mengikuti latihan gabungan ini." jelas pak Kulimu.
Mendengar penjelasan pak Kulimu, kini para siswa di kelas tampak antusias dan bersemangat.
"wah..... seperti-nya ini akan sangat menyenangkan."
__ADS_1
"semoga aku bisa satu kelompok dengan Natalia!"
"ku harap kelompok-ku nanti-nya tidak di penuhi dengan beban tim apalagi beban keluarga."
"langsung bertarung lagi.... padahal baru satu Minggu yang lalu selesai bertarung karena ujian masuk.... sekarang harus bertarung lagi."
"tidak masalah, kali ini berkelompok dan tidak sendirian."
Berbagai bisikan-bisikan mulai terdengar dan membuat kelas itu jadi sedikit gaduh.
"baiklah...." ucap pak Kulimu yang kini membuat semua siswa berhenti berbisik dan langsung diam. lanjut-nya " cukup sekian saja pemberitahuan bapak.... setelah istirahat nanti kita akan lanjutkan dengan praktek jurus angin yang sudah kita pelajari barusan." ucap pak Kulimu.
"baik pak!!" ucap para siswa serentak.
setelah itu seluruh siswa langsung memberi hormat kepada pak Kulimu. lalu pak Kulimu pun langsung beranjak dari kelas itu dan pergi ke ruangan-nya.
Setelah pak Kulimu pergi ke ruangan-nya, kini Madika langsung keluar dari kelas bersama dengan beberapa siswa yang juga keluar dari kelas.
saat ini tujuan Madika adalah kantin karena saat ini ia sudah sangat lapar karena tak sempat sarapan saat berangkat ke sekolah.
"hah...." Madika menghela nafas dengan ekspresi malas. "gara-gara pertarungan semalam aku jadi lambat pulang dan tidak sempat tidur..... ujung-ujungnya aku pun jadi tak sempat makan ke sekolah karena harus buru-buru." batin Madika mengeluh.
Baru saja selesai mengeluh seperti itu, tiba-tiba sebuah tombak es langsung melesat ke arah Madika.
namun karena Madika sempat menyadari tombak itu, Madika pun dengan cepat melompat ke samping untuk menghindari tombak es yang datang dari arah belakang-nya.
"huh.... seperti-nya orang yang tadi kembali lagi." batin Madika sambil pasang ekspresi malas, dan benar, yang menyerang Madika saat ini adalah Mindo.
__ADS_1
Mindo saat ini berdiri cukup jauh di belakang Madika, dan tanpa basa-basi Mindo langsung mengajak Madika bertarung.
"ayo ke arena bertarung..... jika bertarung di sini bisa-bisa koridor ini akan hancur." ucap Mindo sambil berseringai.