Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Mengalah-kan Kelompok Siwu


__ADS_3

~DUAAAARRRR~


Sebuah ledakan terjadi tepat di tempat Madika di serang oleh Siwu dan kawan-kawanya.


Kini tempat itu di selimuti oleh asap tebal yang tercipta dari ledakan tersebut.


Siwu dan kawan-kawanya melihat ke tempat Madika berdiri sebelum-nya sambil mengguna-kan kemampuan pendeteksian mereka.


Seketika mereka semua pun langsung terkejut dan membelalak-kan mata-nya ketika mereka menyadari bahwa Madika masih hidup.


"sial!.... harus-nya serangan itu sudah cukup untuk membunuh-nya!" ucap Siwu dengan ekspresi kesal.


"bocah ini benar-benar di luar dugaan!" ucap pria lain-nya.


"seperti-nya kita harus lebih berhati-hati lagi menghadapi anak ini, dia bukan-lah ksatria Saga biasa!" timpal pria yang satu-nya.


Tak lama setelah itu, Madika pun langsung menghentak-kan kaki-nya dan mencipta-kan sebuah gelombang angin yang kini menerbangkan seluruh asap yang menutupi diri-nya.


"apa kalian berpikir jurus kalian bisa membunuh-ku?" ucap Madika sambil berseringai licik menatap Siwu dan kawan-kawanya.


Siwu pun langsung menggertak-kan gigi-nya dengan sangat kesal.


"bocah ini benar-benar sudah terlalu meremeh-kan ku!" ucap Siwu yang kesal melihat tatapan dan ekspresi Madika yang seolah mengejek Siwu dan kawan-kawannya.


"baik-lah, karen tadi kalian sudah menyerang-ku dengan kekuatan besar, maka sekarang giliran-ku." ucap Madika sambil memutar-mutar tongkat kaisar rotan api milik-nya.


Setelah itu ia mengangkat tongkat itu ke udara, lalu tongkat itu pun langsung di penuhi oleh kobaran api yang menyala-nyala.


Sesudah itu Madika pun mulai mengguna-kan elemen angin milik-nya untuk memperkuat api di tongkat milik-nya itu.


Seketika api itu beresonansi dengan elemen angin yang mengelilingi tubuh Madika sehingga kini api di tongkat itu langsung berubah menjadi warna biru, dan api biru itu pun kini langsung beterbangan di sekitaran tubuh Madika mengikuti arah gerak angin yang di kendali-kan oleh Madika.


Siwu dan kawan-kawanya pun langsung menganga dengan mata terbelalak melihat kejadian itu.


pasal-nya mereka belum pernah melihat penggabungan angin dengan api seperti itu.


Mereka semua langsung terkejut dan tak bisa berkata-kata.

__ADS_1


Setelah itu Madika pun langsung menurun-kan Tongkat-nya itu ke tanah dan menghentak-nya hingga tanah yang di tempati tongkat itu langsung hancur.


Kemudian Madika menatap Siwu dan kawan-kawanya dengan tatapan penuh intimidasi.


"menjalar-lah wahai kaisar rotan api!" ucap Madika dengan suara dingin namun bisa di dengar-kan oleh Siwu dan yang lain-nya.


Seketika bulu kuduk Siwu langsung berdiri saat mendengar suara Madika.


dan di saat yang bersamaan kini tampak dari bawah tanah tempat tongkat itu berpijak kini muncul rotan tajam dalam jumlah yang sangat banyak.


rotan tajam itu di selimuti oleh kobaran api biru, dan dengan cepat rotan tajam itu melesat ke arah Siwu dan yang lain-nya.


Melihat hal itu, Siwu dan kawan-kawannya pun langsung menyiap-kan senjata mereka dan mencoba untuk menahan serangan dari rotan api tersebut.


Namun saat dua pria yang hanya mengguna-kan senjata elemen menahan rotan itu mengguna-kan senjata elemen masing-masing, kini senjata mereka langsung hancur seketika, dan rotan api yang sangat tajam itu langsung menembus seluruh tubuh mereka karena jumlah rotan itu sangat banyak.


Sementara itu, Siwu dan pengguna tombak serta pengguna kapak tampak masih bisa menahan serangan rotan tajam itu mengguna-kan senjata energi mereka.


Siwu saat ini berusaha bertahan dengan mengguna-kan senjata energi milik-nya, yakni belati petir tingkat delapan.


Madika yang melihat hal itu kini langsung mengangkat tangan kanan-nya dengan posisi telapak tangan terbuka.


"jangan pikir kalian bisa menghindar semudah itu." ucap Madika dengan nada suara yang terdengar dingin


Lalu Madika langsung mengepal-kan tangan kanan-nya itu sambil mengeluar-kan aura Saga-nya untuk menekan pergerakan Siwu dan dua teman-nya itu.


Hal itu pun membuat Siwu langsung terkejut dengan mata terbelalak karena tubuh-nya tiba-tiba terasa berat.


Di saat-saat itulah rotan api yang sangat tajam itu pun langsung menusuk tubuh Siwu dan kedua teman-nya yang lain.


Siwu pun kini tak bisa berbuat apa-apa. diri-nya yang sudah tidak berdaya kini hanya bisa melihat keempat teman-nya yang saat ini juga tertusuk banyak rotan tajam dengan ekspresi wajah yang tampak penuh penyesalan.


Lalu di sela-sela sebelum ia menutup mata-nya, Siwu pun perlahan menoleh ke arah Madika yang kini berjalan santai mendekati diri-nya.


"harus-nya kami tidak berurusan dengan orang ini.... hah.... mau bagaimana lagi, lagi pula ini sudah jadi tugas kami." ucap Siwu berbicara sendiri hingga akhir-nya diri-nya langsung menghembus-kan nafas terakhir-nya.


Saat Madika kini berdiri di depan Siwu yang tertusuk dan tergantung di rotan tajam milik-nya itu, kini Madika hanya bisa menghela nafas.

__ADS_1


"ya ampun, dia langsung mati begitu saja, padahal ada yang harus ku pasti-kan dari-nya." ucap Madika dalam hati.


Sebelum-nya Madika ingin bertanya pada Siwu tentang siapa yang mengirim mereka.


namun karena Siwu telah terbunuh, kini Madika pun tak bisa berbuat apa-apa.


"hah, ya sudah-lah." ucap Madika sambil menghela nafas dengan ekspresi malas.


Sesudah itu Madika pun langsung berbalik badan dan mulai berjalan keluar dari gang sempit itu.


"sebaik-nya keberadaan kalian di hilang-kan dari dunia ini." ucap Madika sambil menghentak-kan tongkat-nya ke tanah.


Seketika api langsung menjalar melalui rotan api yang menusuk Siwu dan kawan-kawanya.


lalu api biru itu langsung membakar habis Siwu dan kawan-kawanya hingga tak tersisa sedikit-pun.


Setelah Siwu dan kawan-kawanya lenyap, kini Madika mengguna-kan rotan api yang menjalar itu untuk mengambil senjata energi milik Siwu dan dua lain-nya.


"Senjata ini cukup berharga, sangat rugi jika harus di buang." Batin Madika.


Kemudian Madika pun memasuk-kan kembali tongkat-nya beserta belati, tombak, dan kapak itu ke ruang penyimpanan milik-nya, dan setelah itu ia pun pergi dari tempat itu.


*******


Saat ini Madika baru tiba di rumah penginapan yang sudah ia pesan sebelum-nya.


Karena Madika sudah di berikan sebuah kunci kamar yang ia pesan, kini Madika pun langsung pergi ke kamar-nya.


Setiba-nya ia di kamar itu, ia pun langsung mengunci pintu kamar-nya dari dalam.


"hah." Madika menghela nafas sambil menjatuh-kan tubuh-nya di atas ranjang empuk yang cukup mewah.


"ni benar-benar hari yang melelahkan." batin Madika sambil menutup mata-nya mengguna-kan tangan kanan-nya.


Tak lama setelah itu Madika kembali bangun dan langsung duduk bersila.


"sebaik-nya aku segera mengubah energi netral di tubuh-ku untuk meningkat-kan level-ku saat ini." batin Madika yang kemudian melakukan semedi.

__ADS_1


__ADS_2