
Saat ini tampak tongkat raksasa milik Madika itu mendorong ketua sekte dengan sangat kuat.
Si ketua sekte mencoba menahannya namun tak bisa hingga akhirnya tongkat itu pun langsung membawa ketua sekte menghantam tanah dan seketika itu pula terjadi ledakan yang dahsyat.
Bersamaan dengan ledakan itu tampak gelombang angin yang sangat kuat bergerak meluas dan menghempaskan segala yang ia lalui.
Tidak hanya itu saja, bahkan kini terjadi pula gempa yang sangat kuat menggetarkan hampir seluruh wilayah sekte tersebut.
Getaran itu berhasil merubuhkan banyak bangunan-bangunan yang ada di sekte itu.
Selain itu, para murid sekte serta para guru dan anggota sekte lainnya kini hanya bisa terkejut saat gempa dan badai angin itu menerpa mereka dan karena suara ledakan yang sangat kuat barusan, kini mereka semua menoleh ke sumber suara itu dan seketika itu juga mereka langsung terperangah melihat sebuah pilar raksasa yang tampak menembus hingga ke awan.
Mereka semua terkejut dan berpikir, "Apa yang sebenarnya terjadi di sana?"
Banyak orang yang kini bertanya-tanya, namun karena mereka sedang dalam pertarungan kini mereka tak bisa berlama-lama terperangah dan merasa terkejut dengan kejadian itu karena mereka harus berhadapan lagi dengan pasukan milik Madika.
"Monster-monster ini benar-benar sangat merepotkan!" Ucap salah satu guru di tingkat Epic sambil menangkis beberapa serangan dari para monster semut milik Madika.
Di sisi lain, si sesepuh sekte Balumba itu kini juga bisa melihat sebuah pilar yang sangat besar itu, yakni sebuah tongkat bayangan milik Madika yang ia gunakan memukul si ketua sekte.
Wilasopu pun kini hanya bisa terkejut melihat pilar raksasa yang menembus awan itu.
Matanya terbelalak, namun ia tidak berhenti dan terus melesat ke arah pilar raksasa itu.
"Di sana pasti lokasi si penyerang sekte!" Ucap si sesepuh itu.
Lalu Wilasopu pun segera mempercepat lesatan-nya ke arah pilar raksasa itu.
Di sisi lain, Madika yang telah mengubah tongkat bayangannya itu menjadi sangat besar kini hanya bisa menghela nafas panjang karena akibat perbuatannya itu kini energi Nosa yang berada di dalam mahkota raja kera bayangan miliknya kini sangat banyak terkuras.
"Hah... Sepertinya aku terlalu berlebihan!... Ini terlalu besar dan sudah memakan sangat banyak energi!... Jika terus seperti ini bisa-bisa mahkota raja kera bayangan ini harus ku istirahatkan dulu sebelum di pakai lagi!" Ucap Madika dalam hatinya.
"Tapi semoga saja serangan ini berhasil membuat si ketua sekte itu terluka parah, dengan begitu maka serangan ini tidak akan sia-sia." Pikirnya lagi.
Setelah itu Madika pun langsung menyentuh permukaan tongkat itu dan dan setelah itu ia pun mengecilkan kembali tongkat bayangan tersebut.
Seketika tongkat bayangan itu langsung mengecil dalam waktu yang sekejap mata.
__ADS_1
Setelah tongkat itu mengecil dan kini menjadi seperti tongkat pada umumnya, ia pun langsung memutar-mutar tongkat itu dengan beberapa variasi gerakan dan setelah itu langsung menghentakkan tongkat itu ke bawah.
Lalu Madika pun kembali melihat ke bawah tepat ke arah ketua sekte saat ini.
Kini ia bisa melihat bahwa saat ini si ketua sekte benar-benar sedang terluka cukup parah akibat serangannya barusan, tampak si ketua sekte sedang memegang tangan kanannya yang saat ini sedang merasakan sakit yang luar biasa.
bukan hanya tangan kanannya saja yang sakit, bahkan sampai seluruh tubuhnya juga terasa sangat sakit dan sulit di gerakkan.
Kini si ketua sekte hanya bisa menatap Madika dengan ekspresi yang tampak sedikit kesal, ia saat ini sedang berpikir dan tampak dari raut wajahnya ia seperti sedang ragu untuk menghadapi Madika yang saat ini.
Hal itu di karenakan dirinya kini sedang mengira-ngira siapa sebenarnya Madika ini, apa ia berkaitan dengan leluhur dari sekte Balumba karena mengetahui tentang tongkat kaisar rotan api itu.
Berbagai dugaan muncul di kepala sang ketua sekte, namun kini ia hanya bisa bergantung pada sang sesepuh saja karena hanya ada satu yang bisa membuktikan kebenaran itu.
"Untuk saat ini sebaiknya aku mengulur waktu dulu sampai sesepuh sekte tiba di sini!" Ucap si ketua sekte itu sambil menyeka darah di bibirnya.
Baru saja berkata seperti itu tiba-tiba sang sesepuh itu pun sudah bisa di rasakan kehadirannya oleh mereka.
Mereka semua kini langsung bisa merasakan kehadiran sesepuh itu melalui aura membunuh yang sangat kuat yang terpancar dari tubuhnya.
Mereka semua langsung merinding saat merasakan aura itu sampai-sampai membuat bulu kuduk mereka berdiri.
Sementara itu, Madika yang merasakan aura membunuh itu kini hanya bisa menoleh ke berbagai arah untuk memastikan di mana sumber dari kemunculan aura yang sangat mengerikan itu.
"Sial!... Ini aura yang sangat kuat!... Tidak hanya kuat saja, bahkan bisa menyembunyikan sumbernya sehingga penggunanya tidak mudah di deteksi!" Ucap Madika dalam hati.
Tak lama setelah itu, tiba-tiba sosok dari sesepuh sekte Balumba itu pun muncul di hadapan Madika, dan tampak sesepuh itu berdiri dan terbang menggunakan pedang miliknya.
Sesepuh itu saat ini sedang melayang di jarak kira-kira lima puluh meter dari tempat Madika berada dan kemunculan si sesepuh itu membuat Madika jadi sedikit terkejut.
"Ohh.... Jadi kau orang yang sudah memporak-porandakan sekte-ku ini ya?!" Ucap si sesepuh dengan nada suara yang terdengar menggema di udara.
Seketika semua orang yang mendengar suara itu kembali merinding, bahkan para tetua pun baru kali ini mendengar suara seperti itu dari sang sesepuh.
"Sepertinya sesepuh Wilasopu sangat marah saat ini!" Ucap tetua Barugo.
"Hahaha... Kalau sudah seperti ini, maka tamatlah riwayat mu bocah!" ucap tetua Lagonu yang saat ini sedang sibuk menghindari serangan lawannya.
__ADS_1
Sementara itu, Madika yang mendengar ucapan si sesepuh itu kini hanya diam, ia bisa merasakan aura dari si sesepuh Wilasopu benar-benar kuat dan seandainya sang sesepuh itu menggunakan auranya untuk menekan Madika saat ini, mungkin saja Madika sudah terjatuh karena tak bisa menahan tekanan aura dari sang sesepuh itu.
Namun, saat Madika melihat sebuah tongkat yang ada di tangan sang sesepuh itu, seketika perasaan semangat langsung mengalir di dalam tubuh Madika serta memenuhi pikirannya.
Saat ini Madika pun jadi bersemangat dan tak peduli sekuat apa sang sesepuh itu.
"Aku tak peduli siapa dan sekuat apa diri-mu! Tapi karena kau berani menyentuh senjata-ku! Maka aku harus merebutnya kembali darimu!" Ucap Madika dengan nada suara yang terdengar tegas.
"Senjata-mu? Maksudmu tongkat ini?!" Ucap sang sesepuh sambil menyodorkan tongkat kaisar rotan api yang sudah ia satu-kan itu ke depan.
Madika yang melihat hal itu kini baru menyadari satu hal saat ia melihat dengan jelas sebuah tongkat yang ada di tangan sang sesepuh itu.
Mata Madika seketika terbelalak dan tampak sedikit terkejut.
"Di.... Dia menyatukan keempat pecahan tongkat kaisar rotan api?" Ucap Madika dalam hati. "Bagaimana bisa ia melakukannya?!... Siapa sebenarnya orang ini?!" Ucap Madika dan bertanya-tanya dalam hati.
Sementara itu, si sesepuh sekte Balumba itu saat ini sudah mempunyai rencana sendiri.
Berdasarkan informasi yang ia terima dari muridnya yakni sang ketua sekte kini membuat sang sesepuh itu harus membawa dan menunjukkan tongkat kaisar rotan api itu pada Madika.
"Baiklah! Mari kita lihat, siapa dirimu yang sebenarnya!" Ucap sang sesepuh itu dalam hati.
Lanjutnya, "Tongkat ini hanya akan merespon tuannya, dan jika kau memang orang yang selama ini kami tunggu-tunggu itu, maka tongkat ini akan merespon dan mengenali tuannya!"
Setelah berkata seperti itu, tak butuh waktu lama kini tongkat tersebut langsung memancarkan cahaya yang cukup terang dan tampak tongkat itu mulai bergerak-gerak.
hal itu pun membuat sang sesepuh tampak sedikit terkejut dan matanya langsung terbelalak melihat kejadian itu.
setelah itu ia pun segera menoleh ke arah Madika dan menatap Madika.
Sementara itu, Madika saat ini tampak sedang mengangkat tangannya ke depan dengan posisi telapak tangan terbuka.
Ia saat ini melakukan hal itu karena ia sedang mencoba memanggil kembali tongkat miliknya itu.
"Saat ini sangat banyak pertanyaan di kepalaku mengenai identitas kalian! Tapi yang jelasnya, untuk saat ini aku harus mendapatkan kembali tongkat milikku ini!" Ucap Madika dengan tegas sambil terus mengarahkan tangannya ke tongkat itu.
"Tongkat ini merespon bocah itu!... Apa jangan-jangan bocah ini adalah..." Ucap sang sesepuh mulai menduga-duga.
__ADS_1