
Saat ini tampak Riko dan Madika sedang berdiri berhadapan di jarak yang kurang lebih 25 meter jauh-nya.
Riko tampak masih memegang tombak petir milik-nya, sementara Madika kini langsung mengeluar-kan pedang ganda milik-nya.
"senjata energi tingkat delapan ya?.... lumayan juga." ucap Riko dengan datar. "tapi itu tidak akan bisa menghenti-kan ku!" ucap-nya tegas sambil menggerak-kan tombak-nya secara memutar.
Seketika terbentuk beberapa belati petir di sekitar tubuh Riko.
setelah itu Riko langsung mengayun-kan tombak-nya ke arah Madika dengan tegas.
seketika itu juga seluruh belati petir itu langsung melesat cepat ke arah Madika.
"hmmp.... tingkat master ya?.... tidak buruk." balas Madika sambil menghindar dan menangkis seluruh belati itu dengan sangat cepat.
"kau ternyata lincah juga!" ujar Riko saat melihat Madika bisa bergerak dengan cepat dan lincah memain-kan dua pedang di tangan-nya.
Setelah itu Riko pun langsung mengangkat tangan kanan-nya dengan posisi telapak tangan terbuka, dan tampak di jauh di atas Riko terbentuk sebuah lingkaran energi yang sangat besar dengan diameter lingkaran kira-kira sepuluh meter.
Setelah itu Riko pun langsung melempar-kan tombak petir-nya itu ke dalam lingkaran energi itu.
Seketika tombak petir itu pun langsung masuk ke dalam lingkaran energi yang sangat besar itu.
Sesudah itu Riko pun langsung menatap ke arah Madika sambil menurun-kan tangan kanan-nya hingga setinggi bahu.
"tombak seribu petir!" teriak Riko.
Seketika dari dalam lingkaran energi itu keluar ribuan tombak yang sama.
tombak itu terus bermunculan dari dalam lingkaran dan langsung melesat ke arah Madika.
Melihat hal itu Madika pun langsung mengeluar-kan sayap angin-nya dengan cepat.
lalu ia pun dengan segera menghindari semua tombak yang datang ke arah-nya dengan cara terbang cepat di udara.
Dengan sangat bebas Madika terus terbang di udara.
namun terlihat pula Riko yang terus menggertak-kan tangan-nya dengan berbagai variasi untuk mengarah-kan serangan pedang-pedangnya itu ke tempat Madika terbang.
__ADS_1
Namun semua serangan itu banyak yang tidak mengenai Madika karena Madika saat ini bisa bergerak sangat bebas di udara.
Madika yang sedang memegang pedang ganda itu terbang dengan bebas sambil menangkis beberapa tombak yang melesat ke arah-nya.
Madika tampak terus menebas-kan pedang-nya dan menangkis semua tombak yang melesat ke arah-nya dengan gaya berputar-putar dan bermanuver dengan cepat di udara.
Riko yang melihat hal itu tentu memiliki sedikit rasa iri pada Madika yang masih semuda itu tapi bisa memiliki jurus yang luar biasa.
Wajah Riko kini terlihat semakin kesal terhadap Madika.
amarah-nya karena Madika membunuh Hongu kini langsung memuncak.
"tidak akan ku biar-kan kau hidup bocah sial@n!!" bentak Riko yang kemudian langsung memanggil hewan peliharaan milik-nya.
Riko pun langsung mengibas-kan tangan-nya ke samping, dan tak lama setelah itu kini terbentuk-lah sebuah lingkaran energi di samping Riko.
Dari dalam lingkaran energi itu kini seekor ular cobra berelemen petir langsung keluar dan melesat ke arah Madika.
Besar tubuh ular kobra itu kira-kira dua kali lebih besar dari sebuah tiang listrik jalanan.
"sial, dia mencoba menyerang-ku dari dua arah!" batin Madika saat melihat cobra itu melesat cepat ke arah-nya.
Madika yang tadi-nya sibuk menghindari serangan tombak yang melesat ke arah-nya kini harus berhadapan lagi dengan cobra petir itu.
Cobra petir itu tampak sangat lincah di udara dan ia berhasil membuat Madika kerepotan.
di tambah lagi saat ini Riko terus melancar-kan serangan ribuan tombak petir milik-nya.
"sial!... apa tombak orang itu tidak ada habis-nya?" batin Madika yang mulai kesal.
Karena Madika saat ini di serang dari dua arah, Madika pun akhir-nya terkena serangan tombak.
tepat-nya kini wajah serta bahu kiri Madika tergores oleh tombak petir itu.
"sial!" batin Madika.
Baru berkata seperti itu kini di depan Madika tampak cobra petir itu tiba-tiba muncul dari arah bawah dan kemudian langsung menghadang Madika sambil membuka lebar mulut-nya untuk menerkam Madika.
__ADS_1
Madika yang melihat hal itu dengan refleks langsung membelok arah terbang-nya dengan tergesa-gesa.
Hal itu pun membuat Madika langsung terhempas ke tanah dan diri-nya langsung berguling cukup jauh dari tempat awal ia menghantam tanah.
Saat Madika berhasil berhenti, Madika langsung melompat ke belakang sambil menyibak-kan sayap angin-nya itu dan terbang melayang.
"matilah!!" teriak Riko yang saat ini ternyata sudah terbang melayang di belakang Madika.
Mendengar ucapan Riko, kini Madika pun langsung menoleh ke belakang dan melihat ke atas-nya.
Tampak kini dari atas tempat Riko yang sedang melayang muncul sebuah tombak Petir raksasa yang melesat ke arah Madika.
Tombak itu bahkan sudah berada sangat dekat dengan Madika dan hal itu tentu-nya membuat Madika terkejut sambil membelalak-kan mata-nya.
"sejak kapan orang itu...." ucapan Madika tidak berlanjut.
Kini tombak itu tampak sudah mencapai tanah dan menghantam tanah itu hingga terjadi kehancuran yang sangat luar biasa.
Hantaman tombak petir raksasa itu seolah menghasil-kan ledakan yang sangat kuat.
tampak dari tempat tombak itu menghantam tanah muncul gelombang angin yang sangat kuat bergerak dan meluas dengan cepat ke berbagai arah.
Pepohonan yang ada di sekitar tempat itu pun langsung beterbangan dan hancur akibat hantaman dari gelombang angin yang sangat kuat itu.
Kepulan debu tanah bagai-kan asap tebal kini langsung menyebar bahkan langsung merembes ke udara hingga mencapai ketinggian kurang lebih 500 meter dari permukaan tanah.
Kepulan debu bagai asap tebal itu kini menutupi daerah itu hingga radius seratus meter.
bahkan debu bagai-kan asap itu juga sudah ada yang mencapai pemukiman warga yang berada kurang lebih 800 meter dari tempat Madika dan Riko bertarung.
Suara ledakan dari serangan tombak petir raksasa milik Riko itu tentu-nya berhasil membangun-kan banyak orang yang sudah tertidur.
Kini banyak masyarakat yang berbondong-bondong keluar rumah untuk melihat situasi yang ada.
Rumor pun langsung beredar cepat, dan karena mereka melihat bahwa skala pertarungan yang terjadi itu sangat-lah besar, maka tak ada satu pun orang yang berani mendekat, terutama para ksatria yang masih berada di tingkat profesional ke bawah karena mereka yakin pasti yang bertarung saat ini adalah orang-orang yang berada di tingkat master ke atas.
Hal itu pun membuat beberapa ksatria Saga tingkat tinggi dan profesional pun kini hanya bisa menatap dari kejauhan karena biar bagaimana pun mereka juga penasaran seperti apa pertarungan para ksatria tingkat master ke atas.
__ADS_1