Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Membunuh


__ADS_3

Saat ujung pedang Madika berada di depan wajah Niko, Niko pun mengangkat kedua tangan-nya sejajar dengan kepala.


sementara itu Nina dan Fany langsung mundur selangkah dan tampak waspada.


Madika melihat gerakan mereka itu kini tampak bingung.


ia tidak sadar kalau tindakan-nya saat ini membuat teman-nya takut pada-nya.


butuh waktu tiga detik, kini Madika menyadari apa yang sedang di pikirkan oleh teman-nya.


Madika tertawa kecil. ia memasukan kembali pedang-nya ke sarung pedang yang ia simpan di pinggang-nya.


"hahaha.... maaf aku tak menyangka kalian akan mewaspadai-ku.... ucap Madika sambil menggaruk kepala-nya yang tidak gatal.


Niko yang melihat Madika tertawa kecil kini menghela nafas lega.


"hah.... ku pikir kau akan menyerang-ku." ujar Niko.


"tentu saja tidak.... aku hanya ingin bilang, jika kalian takut pada pria bernama Rega itu, maka biarkan aku membunuh-nya lebih dulu, dan setelah itu kita bisa lebih leluasa melawan mereka." jelas Madika.


"kalau mau bilang begitu tinggal bilang saja! tak perlu sambil mengayunkan pedang seperti itu!" ucap Nina sambil menggembungkan pipi-nya dan membuat wajah-nya tampak menggemaskan.


"hahaha.... maaf, niat-nya aku melakukan itu supaya terkesan keren, tapi jadi-nya malah terkesan horor." balas Madika yang masih tertawa kecil.


"hah..... ku pikir kau akan menyerang kami di saat kami tak bisa menggunakan energi Saga." ucap Fany.


Fany berpikir demikian karena memang ini adalah kesempatan di mana Madika bisa membunuh rekan-nya sendiri.


"ya benar.... soal-nya hanya kau yang satu-satunya membawa pedang di sini." sela Niko.


"iya-iya.... aku minta maaf." ucap Madika yang kini terlihat tersenyum sambil menyatukan kedua telapak tangan-nya.


Setelah meminta maaf, kini Madika langsung pasang ekspresi serius. ia mulai mengintip pertarungan itu lagi.


kini di tempat itu hanya tersisa Rega dan dua rekan-nya. sementara musuh mereka hanya tersisa satu orang.


"sedikit lagi kita akan bergerak." ucap Madika sambil menoleh ke arah tiga rekan-nya.

__ADS_1


"hei Madika, apa kau yakin kita bisa mengalahkan mereka bertiga?" tanya Niko yang tampak sedikit khawatir karena diri-nya dan Fany tahu betul seperti apa kekuatan yang di miliki oleh Niko.


"ya, aku juga menghawatirkan hal yang sama dengan Niko." sela Fany.


"apa kalian tak memperhatikan kata-kata ku barusan?" ucap Madika yang balik bertanya.


ketiga anggota kelompok-nya itu hanya memiringkan kepala dan terlihat meminta penjelasan dari Madika.


"sebelum-nya sudah ku bilang, biar aku yang membunuh-nya." Madika mulai menjelaskan. "membunuh arti-nya tidak harus bertarung dan menang.... selama lawan bisa di bunuh dengan cara licik, kenapa harus bertarung terang-terangan?" ucap Madika dengan santai-nya.


"inti-nya, aku akan mengendap-endap mendekati mereka, setelah itu aku akan langsung membunuh pria bernama Rega itu.... setelah aku berhasil membunuh Rega, aku akan memberi kalian kode dengan cara berteriak. setelah itu barulah kalian boleh maju dan membantuku menyelesaikan sisa-nya." jelas Madika.


"baiklah kalau begitu.... lalu apa kode-nya?" tanya Nina.


"tidak perlu di pikirkan, inti-nya jika aku berteriak, maka itu-lah kode-nya." jawab Madika.


Setelah memberikan penjelasan itu, kini Madika mulai mendekati pertarungan yang di lakukan oleh kelompok Rega.


sementara itu, tiga anggota-nya yang lain juga tampak mulai bergerak. mereka bertiga berpencar dan mengepung area pertarungan itu.


Saat Madika sudah berada dekat dengan kelompok Rega yang sedang bertarung, kini Madika melihat bahwa Rega sudah siap mengakhiri hidup lawan-nya itu.


"mulut-nya di masukin pedang mana bisa bicara bod0h!" ucap Madika dalam hati dengan ekspresi jelek saat melihat tindakan Rega.


Rega tampak kesal, ia masih menunggu jawaban hingga merasa bosan.


"hmm.... tidak mau bicara ya..... kalau begitu mati-lah!" ucap Rega sambil mengalirkan petir di pedang-nya.


seketika petir itu menghasilkan ledakan. kepala lawan-nya meledak dan darah-nya terciprat ke mana-mana.


Beberapa detik kemudian, kini tubuh dan darah dari lawan Rega itu lenyap bagai abu yang di terbangkan angin.


Madika yang melihat hal itu hanya diam dan berpikir.


"seperti-nya kesadaran lawan-nya sudah kembali ke tubuh asli-nya." batin Madika


Rega berjalan santai mendekati dua anggota-nya.

__ADS_1


"kalian berdua pungut-lah gantungan kunci yang mereka miliki..... setelah itu kita akan membagi-nya." ucap Rega.


Setelah berkata seperti itu, kini kedua anggota Rega itu langsung patuh dan memungut gantungan kunci yang kini tergeletak di tanah karena jazad lawan mereka telah lenyap.


Setelah itu, Rega pun langsung berjalan ke arah sebuah batu yang cukup besar.


dari pergerakan-nya saat ini, tampak-nya Rega sedang kelelahan dan ingin duduk sejenak di atas batu itu.


"bagaimana tidak kelelahan, dalam waktu sesingkat ini dia sudah mengumpulkan gantungan kunci sebanyak itu." batin Madika saat melihat gantungan kunci yang jumlah-nya kira-kira ada 16. dengan kata lain, kemungkinan mereka sudah bertarung dengan 4 kelompok di dalam hutan ini.


"dasar orang tak berpengalaman.... mereka terus bertarung tanpa mempertimbangkan energi dan stamina mereka sendiri." batin Madika.


Kini Rega sudah berada di atas batu itu, dan benar ia langsung duduk di atas batu itu.


ia tampak kelelahan. menurut pandangan Madika, kemungkinan hanya Rega yang paling banyak bertarung saat berhadapan dengan musuh, karena hanya dia yang terlihat benar-benar kelelahan.


Setelah itu Madika pun mulai memikirkan cara mendekati Rega.


saat ini Rega duduk di atas batu di tempat yang terbuka.


hal itu tentu-nya bisa membuat Madika jadi sedikit sulit untuk mendekat.


satu-satunya cara yang di pikirkan oleh Madika saat ini adalah berjalan perlahan lalu menebas Rega dari belakang.


Tak lama setelah itu, kini Rega tampak menunduk-kan kepala-nya. kemungkinan-nya saat ini Rega sedang mengaktifkan teknik pendeteksian milik-nya.


"ini kesempatan!!" batin Madika. "saat ini ia sedang fokus mendeteksi!.... ia bisa lengah karena tak menyangka ada bahaya yang tak bisa ia deteksi!"


Benar apa yang di pikirkan Madika. saat ini Rega fokus pada teknik pendeteksian milik-nya. ia sepenuh-nya percaya dengan teknik pendeteksian itu, dan karena kelelahan, ia juga memejamkan mata-nya dan yakin bahwa teknik pendeteksian-nya tidak akan meleset.


Kini Madika perlahan mendekati Rega.


saat ia sudah berada di belakang Rega, tanpa basa-basi Madika langsung menebas leher Rega dengan perasaan yang teguh dan tidak ragu sedikitpun.


tidak ada keraguan dalam tebasan-nya.


hal itu membuat tebasan-nya jadi sangat akurat.

__ADS_1


kepala Rega kini berguling di atas tanah. darah menyembur keluar dari batang leher Rega seperti air mancur yang berhamburan.


__ADS_2