Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Serangan Nyasar


__ADS_3

Saat ini Madika dan Aurel terus berbincang-bincang.


hingga akhir-nya Madika pun mendapat-kan informasi yang ia ingin-kan dari Aurel.


"saat ini aku juga sedang menuju ke hutan Rikombo, lebih tepat-nya tujuan-ku adalah reruntuhan kuno itu." ucap Aurel.


"kau juga ingin ke sana ya.... jadi apa tujuan-mu ke sana untuk mengambil tongkat kecil itu?" tanya Madika sambil menoleh ke arah Aurel yang saat ini berdiri di samping-nya.


"bukan itu sih tujuan-ku.... aku ke sana karena ku dengar-dengar ada rumor yang mengatakan bahwa tongkat kecil yang ada di ruang bawah tanah reruntuhan kuno itu hanyalah tongkat palsu, sementara yang asli ada di balik sebuah pintu rahasia yang ada di balik tugu batu yang berada di belakang tongkat kecil yang tertancap itu." ucap Aurel.


"hmm.... palsu?" ucap Madika memasti-kan.


"ya begitu-lah kata-nya.... tapi tujuan-ku yang sebenar-nya bukan-lah tongkat itu, melainkan beberapa harta Karun yang ada di balik pintu itu.... karena aku juga mendengar rumor bahwa di balik pintu itu ada sebuah ruang bawah tanah yang bahkan lebih luas dari ruang bawah tanah tempat tongkat palsu itu.... bahkan ada rumor yang bilang ruang bawah tanah itu bagaikan labirin yang di penuhi oleh berbagai harta Karun, jadi aku berpikir mungkin aku bisa mendapat-kan sesuatu di sana mumpung masih belum ada yang berhasil masuk ke tempat itu." ucap Aurel menjelas-kan.


"hmm.... begitu ya." ucap Madika menanggapi.


******


Saat ini Madika dan Aurel telah melakukan perjalanan selama lima hari lama-nya untuk tiba di depan hutan Rikombo.


"akhir-nya kita bisa tiba tepat waktu." ucap Aurel sambil menarik nafas dalam-dalam dan kemudian menghembuskan-nya.


"hmm?.... tepat waktu?" ucap Madika dengan ekspresi meminta penjelasan.

__ADS_1


"eh?.... aku belum memberitahu-kan pada-mu ya." ucap Aurel sambil menoleh ke arah


"tentang apa?" tanya Madika lagi.


"ah.... itu tentang segel yang ada di pintu rahasia yang pernah ku cerita-kan pada-mu lima hari yang lalu." ucap Aurel sambil memutar tubuh-nya menghadap ke arah Madika. "sebenar-nya pintu rahasia itu sampai saat ini masih tersegel dan sulit untuk di buka, namun, berdasar-kan beberapa hasil penelitian seseorang, kata-nya sore ini segel di pintu itu akan melemah dan orang-orang yang kuat di pasti-kan bisa membuka segel pada pintu tersebut." ucap Aurel memberi penjelasan.


"hmm.... begitu ya.... itu arti-nya kita masih sempat datang sebelum orang-orang mendahului kita ya...." ucap Madika.


"ya kau benar." ucap Aurel yang kemudian kembali memutar tubuh-nya dan menghadap ke depan. setelah itu ia kembali melanjut-kan perkataan-nya. "tapi jangan senang dulu karena saat ini bukan hanya kita yang mengincar tempat itu.... soal-nya informasi tentang tempat itu saat ini sudah tersebar di seluruh kekaisaran Balengga ini, dan lima kerajaan yang ada di kekaisaran Balengga saat ini mengutus beberapa perwakilan mereka untuk memperebut-kan harta yang ada di reruntuhan kuno itu.... konon kata-nya reruntuhan kuno itu dulu-nya adalah sebuah istana kekaisaran, yang di diami oleh seorang kaisar yang suka mengkoleksi berbagai senjata, baik senjata energi mau-pun senjata pusaka.... namun akibat dari perang dunia yang melibat-kan para Niverom dan manusia di 300 tahun yang lalu, kini tempat itu hanya tersisa puing-puing saja, bahkan kaisar yang mendiami istana itu juga telah terbunuh akibat serangan dadakan dari para Niverom.... karena itu lah saat ini beberapa kerajaan di kekaisaran ini berpikir, 'mungkin di reruntuhan itu masih ada senjata yang tersembunyi di suatu tempat yang belum di jamah oleh orang-orang'..... jadi dengan alasan itu-lah kelima kerajaan di kekaisaran Balengga ini mengutus beberapa orang kepercayaan mereka untuk mencari harta Karun yang ada di reruntuhan kuno itu." ucap Aurel memberi penjelasan panjang lebar.


Setelah mendengar penjelasan panjang lebar itu, kini Madika pun paham dengan situasi saat ini.


"baiklah, kalau begitu bagaimana jika kita langsung ke sana saja.... aku yakin di sana pasti sudah banyak orang yang berkumpul." ucap Madika menyaran-kan.


"hmm..... baiklah.... kalau kau memang mau segera ke sana sekarang aku akan ikut." jawab Aurel sambil tersenyum ramah pada Madika.


Melihat Madika yang sudah mulai bergerak, kini Aurel pun langsung mengikuti Madika dari belakang.


"oke!.... ayo berangkat!" balas Aurel menanggapi ajakan Madika.


Kini Madika dan Aurel pun tampak langsung melesat dari satu pohon ke pohon lain-nya dengan sangat cepat.


tujuan mereka saat ini berada jauh di pedalaman hutan Rikombo itu, dan target mereka saat ini, kemungkinan-nya mereka akan tiba di tempat tujuan itu setelah lewat jam 12 atau bahkan jam 1 siang.

__ADS_1


sedangkan segel di pintu itu kemungkinan akan melemah setelah lewat pukul 3 sore.


Saat Madika dan Aurel sedang fokus berlari, tiba-tiba sebuah serangan nyasar menghampiri mereka berdua.


serangan itu berupa serangan laser petir yang bergerak cepat ke arah Madika dan Aurel.


"awas!" ucap Madika memberi peringatan pada Aurel.


Kini Madika dan Aurel pun langsung melompat ke samping untuk menghindari serangan laser petir tersebut.


"sial, siapa yang menyerang kita?!" ucap Aurel yang kini mendarat di salah satu dahan pohon dan langsung menoleh ke arah datang-nya laser tersebut.


Namun pertanyaan dari Aurel sama sekali tak ada yang menjawab.


namun tak lama setelah itu, kira-kira di jarak 100 meter dari tempat mereka berdua saat ini tiba-tiba terjadi ledakan yang luar biasa.


bahkan ledakan itu sampai menghasil-kan tekanan angin yang sangat kuat yang kini bergerak ke arah mereka berdua.


Gelombang angin yang di hasil-kan oleh ledakan itu kini langsung menghantam Madika dan Aurel dan membuat rambut mereka terkibas-kan oleh angin itu.


"angin-nya kuat sekali!.... apa jangan-jangan di depan sana ada orang yang sedang bertarung?" ucap Aurel sambil menutup mata dengan satu tangan.


"hmm.... seperti-nya memang begitu, tapi untuk saat ini sebaik-nya kita tidak usah pergi ke sana, aku tak mau menambah masalah.... ingat tujuan kali ini hanya-lah pergi ke reruntuhan kuno itu." ucap Madika sambil menoleh ke arah Aurel.

__ADS_1


Aurel yang mendengar ucapan Madika kini hanya mengangguk mengiyakan ucapan Madika.


"baiklah.... terserah kau saja, lagi pula aku juga sepemikir dengan-mu." ucap Aurel sambil menggerak-kan kedua bahu-nya ke atas.


__ADS_2