
Setelah Natalia mendapatkan kembali kekuatan dan ingatan masa lalunya, tampak wajahnya jadi semakin malu-malu menatap Madika.
Setiap kali ia melihat ke arah Madika, wajahnya langsung menjadi merah merona. Entah apa yang terbayang-bayang oleh gadis tersebut hingga hal itu bisa membuatnya jadi sedikit grogi menatap Madika.
Sementara itu, Madika saat ini sedang membahas hal serius lainnya dengan si kakek, yakni tuan Samon.
Tentunya dalam pembahasan ini, ayah dan ibu Natalia juga ikut menyimak.
Pembahasan tersebut mengenai gerak-gerik aneh yang di lakukan oleh kerajaan Tambolo yang saat ini di pimpin oleh Kiono Rosompodapala.
"Berdasarkan informasi dari mata-mata yang ku kirim ke kerajaan Tambolo, katanya di sana ada pergerakan yang cukup aneh yang di lakukan oleh Kiono." Ucap tuan Samon dengan ekspresi serius.
"Pergerakan yang aneh?" Tanya Madika penasaran.
"Ya... Beberapa Minggu yang lalu, raja Kiono mulai mengumpulkan semua pasukannya di kerajaan, Ia bahkan mulai mengelompokkan para pasukannya seolah-olah sedang mengelompokkan pasukan untuk persiapan perang." Jelas tuan Samon.
"Benar... Sejauh ini... Mata-mata yang juga ku kirim ke kerajaan Tambolo juga memberikan informasi yang sama dengan yang di katakan oleh ayahku... Namun ada satu hal kepastian dari mata-mata yang ku kirim..." Ucap Andreas menggantungkan ucapnya sejenak.
"Apa itu?" Tanya Madika.
"Jawabnya adalah ya!... Mereka memang sedang mempersiapkan perang... Bahkan mata-mata yang ku kirim itu juga sudah berhasil mendapatkan informasi bahwa besar kemungkinannya kerajaan tambolo akan menyatakan perang terhadap kaisar untuk merebut kekuasaan sebagai seorang kaisar." Ujarnya menjelaskan.
Mendengar ucapan Andreas, tampak wajah semua orang jadi sedikit terkejut.
Sementara itu, Madika yang sebenarnya sejak awal sudah punya rencana untuk menyerang kerajaan Tambolo saat ini tampak masih tenang-tenang saja.
"Paman, sebenarnya sekuat apa raja Kiono saat ini?" Tanya Madika pada Andreas.
"Sejauh ini belum ada yang tahu pasti seberapa kuat dirinya... Namun berdasarkan rumor yang ada, ia saat ini sudah berada di tingkat Epic dengan level yang lebih tinggi dari ayahku!" Jawab Andreas.
"Namun bukan itu yang di khawatirkan!" Sambung tuan Samon menyela dengan sedikit tegas.
Semua mata tertuju pada tuan Samon dan menunggu perkataan selanjutnya yang akan keluar dari mulutnya.
"Yang perlu di waspadai dari Kiono hanya satu... Yaitu jurus rahasia yang di wariskan secara turun-temurun oleh keluarga Rosompodapala." Ujar tuan Samon.
__ADS_1
"Jurus rahasia?" Sambung Madika dan raja Andreas.
"Rasanya aku pernah dengar rumor tentang jurus rahasia keluarga Rosompodapala... Namun untuk detailnya aku tidak tahu... Hanya saja jika di sederhanakan, jurus itu katanya bisa membuat penggunanya naik satu tingkat dan efek tersebut akan bertahan dalam beberapa waktu tertentu." Ucap Lilia, ibu Natalia.
"Ya, benar sekali... Jika seandainya Kiono telah berani mencoba untuk menyatakan perang, maka besar kemungkinannya ia sudah menguasai jurus tersebut." Sambung tuan Samon.
"I... Itu berarti, jika raja Kiono menggunakan jurus tersebut, maka ia akan langsung berada di tingkat legendaris?" Ucap Natalia memastikan.
"Sepertinya memang begitu." Balas Madika.
Tak lama setelah itu, kini salah satu prajurit di istana langsung menghampiri ruangan tempat Madika dan yang lainnya berada.
Prajurit tersebut terlihat terburu-buru dengan wajah yang tampak sedikit panik. Sepertinya ia sedang membawa sebuah informasi penting dan mendadak.
Prajurit itu kini berdiri di depan pintu ruangan tersebut. Pintu itu di jaga oleh dua pengawal istana.
"Apa tuan Samon ada di dalam!" Tanya si prajurit sedikit tergesa-gesa.
"Ya... Ada apa?... Kau nampak sangat terburu-buru!" ujar salah satu pengawal bertanya.
Setelah itu kedua pengawal pun segera mengetuk pintu dan meminta izin.
Setelah mendapat izin dari tuan Samon, kini prajurit yang baru tiba itu segera masuk dan menyampaikan informasi yang ia bawa saat ini.
"Mohon maaf mengganggu ketenangan anda tuan." Ucap prajurit itu sambil menundukkan kepala dan berlutut dengan satu kaki.
"Tidak masalah... Ada hal apa yang membuatmu terlihat tergesa-gesa seperti ini?" Tanya tuan Samon yang mulai memiliki prasangka dan menebak bahwa kemungkinan adanya masalah yang sedang terjadi.
"Wilayah kekaisaran di serang oleh sekelompok prajurit kiriman dari kerajaan Tambolo." Jawab si prajurit.
"Apa?!"
Semua orang terkejut mendengar ucapan tersebut.
Hal itu di karenakan mereka merasa bahwa kerajaan Tambolo tidak mungkin akan menyerang secepat ini. Apa lagi baru-baru ini terjadi penyerangan yang di lakukan oleh para Niverom.
__ADS_1
"Para prajurit kerajaan Tambolo di pimpin oleh empat ksatria Saga tingkat Epic... Jumlah mereka sekitar seribu orang, dan saat ini mereka berada di wilayah perbatasan antara kerajaan ngisi dan kekaisaran!" Lanjut si prajurit menjelaskan.
"Ini benar-benar di luar dugaan!" Ucap Andreas.
"Bagaimana bisa mereka bertindak secepat ini?... Bukankah kerajaan mereka juga mengalami serangan para Niverom?" Sambung tuan Samon bertanya-tanya.
"Memang benar mereka di serang juga." Sela Madika. "Namun menurut pandanganku... Kemungkinan saat ini mereka merasa bahwa ini adalah waktu yang tepat bagi mereka untuk menyerang... Dengan memanfaatkan sisa-sisa kekacauan, maka mereka bisa lebih mudah mengobrak-abrik ibu kota kekaisaran saat ini."
Mendengar penjelasan Madika, tuan Samon dan yang lainnya pun hanya angguk-angguk kepala dan berpikir bahwa itu memang masuk akal.
"Bagaimana situasi di sana saat ini?" tanya tuan Samon pada prajurit yang ada di depannya saat ini.
"Saat ini sisa-sisa ksatria Saga di pihak kita sedang berusaha menghalau mereka agar tak segera masuk ke dalam wilayah ibu kota... Mereka sedang menahannya di hutan Buliroa yang sudah dekat dengan salah satu desa yang ada di wilayah Balengga!" Jawab si prajurit.
Note: Balengga adalah nama wilayah yang di pimpin langsung oleh sang kaisar, Samon Taunaroso.
Mendengar jawaban itu, tuan Samon pun segera mengambil tindakan.
Ia pun menyuruh prajurit itu untuk menyampaikan informasi agar segera mengumpulkan seluruh pasukan yang ada saat ini.
Namun belum saja tuan Samon selesai memberi perintah, kini Madika langsung menyela.
"Maaf kek... Bisa percayakan hao ini padaku saja?" Tanya Madika dengan serius dan penuh percaya diri.
"Jangan bercanda Madika!... Jumlah mereka itu sangat banyak!... Kau tidak akan bisa melawan mereka seorang diri!" Ucap Andreas.
"Sebaiknya paman jangan meragukan-ku." Balas Madika sambil menatap Andreas.
Andreas terdiam, dan suasana pun mulai hening karena tak satu pun dari mereka yang berbicara. Hingga akhirnya tuan Samon pun memutuskan untuk mempercayakan hal ini pada Madika.
"Baiklah Madika... Jika kau memang sudah punya rencana untuk balas dendam, sepertinya aku sendiri juga harus memastikan kapasitas-mu sebelum membiarkan kau pergi menyerang kerajaan Tambolo." Ucap tuan Samon sambil menatap penuh makna kepada Madika.
"Baiklah... Terima kasih kek... Sekarang biar aku sendiri yang menghadapi mereka." Jawab Madika.
Kedua orangtua Natalia dan tuan Samon tampak sedikit cemas. Namun berbeda dengan Natalia. Ia saat ini tampak tenang-tenang saja dan percaya bahwa Madika bisa menyelesaikan masalah tersebut dengan mudah.
__ADS_1