Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Membunuh Rekan Udin


__ADS_3

Saat ini, Madika yang sedang memegang kepala si rekan Udin langsung membuat sebuah peluru angin di sela-sela otak rekan Udin itu.


kini tanpa membutuh-kan waktu lama, peluru angin itu pun sudah terbentuk dan dengan segera Madika pun meledak-kan peluru angin itu tepat di dalam kepala pria itu sehingga kini kepala pria itu langsung meledak.


ledakan yang terjadi itu kini membuat seluruh isi kepala pria itu berhamburan di lantai.


tampak otak pria itu hancur berantakan dan kini berserakan di lantai


dua bola mata pria itu juga kini terlihat menggelinding di lantai yang saat ini telah berlumuran darah akibat dari ledakan itu yang membuat banyak darah terciprat ke lantai.


Melihat hal itu, kini Udin dan para rekan-nya yang lain pun langsung terkejut melihat kejadian itu.


"apa-apaan barusan itu?" ucap salah satu rekan si Udin.


"apa yang dia lakukan barusan?"


"bukan-kah tadi dia hanya memegang kepala-nya saja?.... lantas kenapa bisa meledak?!"


Para rekan Udin pun kini bertanya-tanya sambil saling menoleh satu dengan yang lain berharap ada satu dari mereka yang memahami situasi saat ini.


hingga akhir-nya Udin pun mulai buka suara mengenai hal itu.


"bocah itu pasti mengunakan trik tertentu untuk melakukan-nya!" ucap-nya dengan ekspresi wajah yang tampak kesal.


lanjut-nya, "tidak salah lagi!.... itu pasti trik tertentu, aku belum pernah dengar jurus yang seperti itu, bisa meledak-kan tubuh orang lain hanya dengan menyentuh-nya saja!"


Setelah berkata seperti itu, kini Udin pun langsung memuncul-kan pedang petir di tangan kanan-nya.


"seperti-nya sia-sia saja jika aku terus berbicara dengan-mu." ucap Udin sambil mengarah-kan pedang-nya ke arah Madika.


lanjut-nya, "serah-kan kristal itu atau kau akan ku siksa sampai mati!!" ucap Udin dengan tatapan tajam dan mengintimidasi.

__ADS_1


"begitu ya...." balas Madika dengan santai-nya sambil menyembunyi-kan tangan kanan-nya di belakang.


kemudian Madika pun perlahan mengangkat tangan kiri-nya ke udara dengan posisi telapak tangan terbuka, setelah itu ia pun mulai mengumpul-kan angin yang sangat banyak di atas telapak tangan-nya hingga kini terbentuk-lah gumpalan angin yang besar-nya kira-kira sebesar kepala mobil truk.


Hembusan angin yang kini terbentuk di atas telapak tangan Madika itu kini membuat jubah Madika ter-kibas oleh angin itu, bahkan rambut-nya yang cukup panjang itu pun ikut bergerak mengikuti pergerakan angin yang sangat acak dan tak beraturan.


"seperti-nya kalian harus melihat jurus terkuat-ku." ucap Madika dengan ekspresi datar.


Setelah berkata seperti itu, kini Madika pun langsung mengayun-kan tangan kiri-nya itu dan melempar-kan gumpalan angin yang sangat besar itu ke arah Udin dan para rekan-nya.


"hemp.... hanya ukuran saja yang besar.... tapi kekuatan-nya sama sekali tak ada!" ucap Udin saat melihat gumpalan angin itu melesat ke arah-nya.


Sementara itu, para rekan Udin kini hanya menertawa-kan serangan gumpalan angin Madika itu karena mereka yakin bahwa Udin pasti bisa menghalau serangan itu dengan mudah.


Lalu si Udin pun kini langsung mengangkat pedang-nya itu dan segera mengayun-kan pedang-nya untuk menebas gumpalan angin milik Madika itu.


Benar saja, hanya dengan satu tebasan kini gumpalan angin itu pun langsung terpotong dan gumpalan angin itu pun menghasil-kan sedikit ledakan yang tidak membahaya-kan bagi Udin dan para rekan-nya.


Sementara itu Madika yang melihat hal itu kini langsung menatap Udin dengan tatapan jijik.


tak lama setelah itu Madika pun langsung menyuruh Udin untuk menoleh ke belakang.


"hei!.... nama-mu Udin bukan?.... coba lihat ke belakang!" ucap Madika yang kini mulai tersenyum tipis.


Udin yang mendengar ucapan Madika kini langsung berhenti berpose aneh dan dengan segera menatap Madika dengan tatapan sinis.


"hah?.... kau bicara apa bocah?!" ucap Udin yang tampak kesal dengan Madika.


Baru saja Udin berkata seperti itu, tiba-tiba salah satu rekan Udin langsung memberitahu-kan keadaan mereka saat ini pada Udin.


"kak Udin.... seperti-nya kami semua terkena serangan!" ucap salah satu rekan Udin sambil memegang dada-nya.

__ADS_1


Mendengar hal itu, kini Udin pun langsung menoleh ke arah rekan-nya dengan ekspresi tidak percaya dan mengira bahwa rekan-nya sedang mengada-ada.


"hah?!!.... yang benar saj...."


ucapan Udin tak sempat di lanjut-kan karena kini Udin melihat bahwa semua rekan-nya itu benar-benar terluka.


"apa yang terjadi pada kalian?!" tanya Udin dengan ekspresi panik.


"entah-lah, tiba-tiba saja kami terkena serangan benda kecil saat kak Udin berhasil membelah dan membuat gumpalan angin itu meledak!" ucap rekan Udin itu memberi penjelasan.


"begitu ya!.... jadi kau sengaja membuat gumpalan angin sebesar itu hanya untuk mengalih-kan perhatian agar kami lengah dan bisa dengan mudah kau serang?!..... hahaha..... jangan naif bocah!!.... benda sekecil itu mana mungkin bisa membunuh kami!!" ucap Udin mengejek dan merendah-kan Madika.


Madika yang mendengar ucapan Udin itu pun kini langsung melebar-kan senyum-nya.


lalu ia menutupi wajah-nya mengguna-kan telapak tangan-nya sambil mulai tertawa terbahak-bahak layak-nya para penjahat di film-film action fantasy.


Sementara itu, Udin yang melihat Madika tertawa seperti itu kini jadi semakin kesal dan ia merasa sedikit kebingungan tentang apa yang membuat Madika jadi seperti itu.


"bocah itu seperti-nya sudah gila!" ucap salah satu rekan Udin.


"apa karena saking takut-nya ia pun sampai-sampai jadi gila seperti itu?" timpal rekan Udin yang lain-nya.


Kini Madika pun berhenti tertawa dan ia mulai melemas-kan tangan-nya hingga tangan-nya kini tak lagi menutupi wajah-nya.


"begitu ya hah?" ucap Madika setelah berhenti tertawa terbahak-bahak.


"kalau begitu biar ku tunjuk-kan hal yang menarik pada-mu...... kau sebaik-nya segera berharap agar benda yang kau anggap kecil itu benar-benar tak bisa membunuh mereka." ucap Madika sambil mengangkat tangan kanan-nya di depan dada.


Setelah berkata seperti itu, kini Madika pun langsung menjentik-kan jari-nya, dan seketika itu pula peluru angin yang tertanam di dada para rekan Udin itu pun kini langsung meledak dan membuat tubuh para rekan Udin itu langsung hancur berantakan.


Tampak ledakan itu membuat darah para rekan Udin itu langsung terciprat kemana-mana, bahkan darah itu juga tampak cukup banyak yang terciprat di wajah serta pakaian Udin.

__ADS_1


Hal itu pun membuat Udin mau tak mau harus terkejut karena diri-nya benar-benar tak membayang-kan kalau hal itu bisa saja terjadi.


__ADS_2