
Saat ini, Madika yang baru selesai menyegel kekuatan-nya kini terlihat sedikit melemah.
namun, tak butuh waktu lama, kini Madika pun langsung berdiri dengan tegak dan menatap ke arah Karu yang kini hanya bisa dia menatap diri-nya dengan ekspresi meminta pengasihan dari Madika.
"a.... apa anda baik-baik saja?" ucap Karu yang berusaha mencoba terlihat baik di hadapan Madika agar diri-nya mendapat keringanan dari Madika.
Namun Madika yang melihat tingkah Karu itu malah jadi makin jijik melihat sikap-nya itu.
"dasar penjilat." batin Madika sambil menatap sinis ke arah Karu.
Setelah itu Madika pun langsung berjalan mendekati Karu.
"kau tadi bilang akan melakukan apa pun untuk-ku bukan?" tanya Madika dengan ekspresi yang tampak merencana-kan sesuatu
Sementara itu, Karu yang melihat ekspresi Madika itu kini tiba-tiba langsung merasa-kan firasat yang tidak enak terhadap Madika.
"i..... iya tuan." ucap Karu yang tampak sedikit ragu.
"bagus lah kalau begitu." ucap Madika lagi sambil melebar-kan senyum licik di wajah-nya. "sekarang kau harus jadi anjing peliharaan-ku.... jadi untuk permulaan coba menggonggong seperti layak-nya seekor anjing." ucap Madika sambil menatap Karu dengan tatapan merendah-kan.
Sementara itu, Karu yang mendengar perintah Madika tentu-nya merasa sangat kesal.
namun karena saat ini di hadapan-nya ia melihat sosok Bunggu yang merupa-kan hewan kuno legendaris serta Madika yang ternyata juga punya kekuatan tingkat legendaris, kini Karu pun tak punya pilihan lain.
ia pun kini membuang harga diri-nya untuk bisa tetap bertahan hidup saat ini.
Ia yang saat ini sudah tidak di tekan oleh aura Saga lagi kini langsung menurun-kan kedua tangan-nya.
ia mulai merangkak dengan dua tangan dan dua kali layak-nya hewan berkaki empat.
Lalu ia pun mulai menggonggong layak-nya seekor anjing.
"guk, guk.... guk, guk....." Karu mulai menggonggong menirukan seekor anjing.
"berjalan mengelilingi ku sambil terus menggonggong." ucap Madika dengan ekspresi datar dan terkesan dingin.
Lalu Karu pun langsung berdiri dan mencoba untuk berjalan.
"siapa yang menyuruh-mu berdiri hah?!" bentak Madika yang langsung membuat Karu langsung terkejut.
__ADS_1
"merangkak dan berjalan seperti anjing dasar bod0h!!" bentak Madika lagi.
Mendengar bentakan Madika itu, kini Karu pun langsung merangkak seperti anjing dan mulai mengelilingi Madika.
"ma.... maaf tuan, maaf." ucap Karu memohon maaf.
"diam!!.... anjing tidak mungkin bicara seperti itu!!" bentak Madika lagi memarahi Karu.
Karu yang mendengar ucapan Madika itu kini langsung menggonggong lagi seperti seekor anjing.
Madika yang melihat hal itu kini langsung menertawai Karu dengan ekspresi licik.
Madika kini tampak seperti orang jahat yang sedang menindas orang yang lebih lemah dari diri-nya.
"hahahaha.... bagus.... bagus.... sekarang kemari lah dan jilat lah kaki-ku ini." ucap Madika sambil menunjuk ke arah kaki-nya.
Mendengar perintah Madika, Karu tampak sedikit ragu, namun karena Madika menatap-nya dengan penuh intimidasi, kini dengan rasa takut Karu pun hanya bisa mengikuti semua perintah Madika.
Kini Karu merangkak perlahan mendekati Madika, lalu begitu ia tiba di hadapan Madika, ia pun langsung menjilati kaki Madika.
Madika yang melihat hal itu kini kembali tertawa terbahak-bahak, ia benar-benar merasa puas sudah membuat Karu sampai kehilangan keangkuhan-nya sebelum-nya.
"tuan, ada satu orang lain di tempat ini yang masih hidup." ucap Bunggu sambil melirik ke arah Sigo yang saat ini terbaring di atas tanah tandus yang ada di domain milik Bunggu itu.
"uhmm.... aku tahu itu, aku sengaja membiar-kan diri-nya menyaksi-kan siksaan yang di alami oleh Karu agar mental-nya saat ini makin kacau dan dia pun akan jadi sangat ketakutan." ucap Madika memberi penjelasan.
"begitu ya.... sejujur-nya aku tak tahu pasti apa yang terjadi saat ini, tapi karena aku sudah mendengar semua percakapan anda dari jarak jauh, kini aku sedikit paham." ucap Bunggu.
"oh iya, bagaimana kalau kau saja yang menyiksa orang itu." ucap Madika menyaran-kan sambil menoleh ke arah Bunggu.
"baik tuan, aku akan melaksanakan-nya." jawab Bunggu dengan sopan.
"bagus, kalau begitu segera-lah lakukan tugas-mu." ucap Madika memberi perintah pada Bunggu.
"siap tuan." jawab Bunggu dengan patuh.
Setelah itu, kini Bunggu pun langsung berjalan mendekati Sigo yang sedang berpura-pura mati itu.
"berhenti lah berpura-pura dasar manusia bodoh!" ucap Bunggu dengan nada yang sedikit di tekan.
__ADS_1
Mendengar ucapan Bunggu, kini Sigo pun jadi semakin panik, ia yang sedari tadi sudah mengintip proses penyiksaan yang di lakukan Madika tentu jadi takut dan membuat diri-nya trauma.
"sudah ku bilang berhenti lah berpura-pura." ucap Bunggu dengan santai-nya sambil mengibas-kan tangan kanan-nya ke atas.
Seketika itu juga Sigo langsung terhempas ke udara, setelah itu, Bunggu langsung mengayun tangan-nya lagi ke bawah.
Seketika Sigo pun langsung jatuh dengan sangat cepat dan langsung terhempas ke tanah hingga terjadi sedikit ledakan saat tubuh Sigo menghantam pasir.
~BHUUUUFFF!!~
"AAARRRRGGGGHHH!!!!"
Sigo langsung berteriak kesakitan ketika diri-nya menghantam tanah.
tubuh-nya langsung terasa sulit untuk di gerak-kan, nafas-nya pun seolah tertahan, dada-nya terasa sangat sakit dan berat, bahkan jantung-nya kini terasa sakit sampai-sampai hampir tidak berdetak lagi.
Rasa sakit itu sangat menyiksa Sigo.
sementara itu, Bunggu yang saat ini sedang berada di depan Sigo kini langsung memuncul-kan beberapa benang api berujung runcing di udara.
"rasa sakit-mu saat ini belum seberapa, karena sebentar lagi kau akan merasa-kan sakit yang lebih dari ini sampai-sampai kau berharap untuk segera mati!" ucap Bunggu sambil tersenyum licik menatap Sigo.
Sigo yang melihat tatapan itu pun langsung ketakutan, apa lagi saat ia melihat sebuah benang api yang menyala-nyala bagai-kan lahar yang saat ini berada di sekeliling Bunggu.
Setelah itu, kini Bunggu pun langsung menggerak-kan tangan-nya.
seketika benang api berujung tajam itu langsung menusuk kulit hingga daging Sigo.
Kini benang yang masuk ke dalam daging Sigo itu pun mulai menjalar hampir ke seluruh tubuh dengan cara menusuk setiap daging yang ia lewati, bahkan benang itu juga mulai mengakar dan melilit tulang-tulang bahkan persendian milik Sigo.
Hal itu pun membuat Sigo langsung berteriak kesakitan, rasa sakit saat beberapa benang api itu menjalar di dalam daging-nya membuat ia tak bisa berhenti berteriak.
Setiap pergerakan dari benang api itu selalu memberikan rasa sakit yang tidak tertahan-kan.
hal itu membuat Sigo terus menjerit-jerit dan memohon ampun pada Bunggu sambil menggeliat bagaikan seekor cacing kepanasan.
"to.... tolong ampuni aku!!" teriak Sigo memohon ampun. "aku akan melakukan apa pun untuk-mu asal kau mengampuni-ku!!"
Mendengar ucapan Sigo itu, Bunggu hanya tersenyum sini menatap-nya.
__ADS_1
"tugas ku adalah menyiksa mu, jika kau ingin memohon ampun, maka minta lah itu pada tuan-ku karena aku tak punya hak untuk mengampuni mu." ucap Bunggu dengan ekspresi wajah yang tampak menikmati siksaan yang di rasakan oleh Sigo.