
Saat ini Madika tengah berhadapan dengan si ketua kelompok Niverom yang sebelum-nya.
ketua Niverom itu tampak sangat bersemangat saat melihat Madika yang sedang berdiri di hadapan-nya.
hal itu terlihat dari senyum-nya yang sangat bergairah dan penuh dengan nafsu membunuh.
"sudah sangat lama aku ingin membalas-kan dendam adik-ku.... tapi sayang-nya sudah lebih dari satu setengah tahun baru aku bisa menemukan-mu.... kali ini kau tidak akan ku lepas-kan!" ucap si ketua kelompok Niverom itu dengan ekspresi yang penuh semangat.
"hah?!.... dendam?.... satu setengah tahun yang lalu?" ucap Madika yang tampak kebingungan.
"jangan berpura-pura bodoh kau!.... kau-lah orang yang telah membunuh adik-ku sial@n!!" ucap ketua kelompok Niverom itu dengan penuh amarah.
"mana ku tahu yang mana adik-mu dasar bod0h!.... lagi pula Niverom yang ku bunuh satu setengah tahun yang lalu tidak hanya seorang saja!" ucap Madika memarahi ketua kelompok Niverom itu.
Note: Satu setengah tahun yang lalu Madika pernah membunuh beberapa Niverom sebelum diri-nya mengikuti upacara penerimaan siswa baru di akademi Walawatu. (lihat episode 10 dan 11)
"berani-nya kau mengatai-ku bod0h?!.... biar ku tunjuk-kan siapa yang benar-benar bodoh karena tidak paham situasi!" teriak Niverom itu dengan penuh semangat.
lalu Niverom itu pun langsung mengeluar-kan sebuah pedang halilintar dari sebuah lingkaran energi yang ia buat.
ia menarik pedang halilintar itu dari lingkaran energi, lalu ia kemudian mengangkat-nya ke udara.
seketika langit langsung mendung.
awan-awan gelap menutupi sinar matahari.
seluruh hutan itu berubah menjadi mendung seketika.
Sementara itu, para Niverom yang melihat kepulan awan menaungi hutan dari terik matahari kini langsung tahu apa yang sedang terjadi.
"hahaha.... seperti-nya Bos akan mengamuk dan bersenang-senang kali ini." ucap salah satu Niverom saat melihat kepulan awan hitam itu.
Di sisi lain, saat kepulan awan hitam itu menutupi seluruh wilayah hutan di jarak yang sangat luas, kini dari pedang halilintar itu menyambar petir yang sangat besar dan kuat.
__ADS_1
sambaran-nya menghasil-kan cahaya yang menyilau-kan serta suara gemuruh yang sangat menakut-kan, dan hal itu terjadi secara bertubi-tubi hingga beberapa waktu.
"hmm.... seperti-nya benda itu adalah benda pusaka.... benda pusaka adalah benda yang tercipta oleh alam tanpa ada-nya campur tangan manusia.... benda ini memiliki tiga tingkatan, yakni tingkat bawah, menengah, dan atas.... sementara itu, pusaka pedang halilintar milik Niverom ini seperti-nya berada di tingkat menengah." ucap Madika dalam hati.
"nah sekarang kau tidak akan bisa kemana-mana lagi!.... tempat ini telah ku kunci mengguna-kan pedang pusaka halilintar ini..... hahahaha." ucap si Niverom dengan ekspresi jahat sambil tertawa.
"hmm.... maksud-mu pedang itu membuat tempat ini terhalang dari luar dan dalam?" ucap Madika dengan nada bertanya.
"ya benar sekali!.... tempat ini telah menjadi wilayah domain milik-ku.... kemana-pun kau pergi, kau akan tetap kembali ke tempat ini!.... ini adalah wilayah domain yang tercipta oleh pusaka pedang halilintar ini.... hahaha bersiap-lah untuk mati!" ucap si Niverom dengan ekspresi percaya diri.
Di sisi lain, Bu Meri serta seluruh siswa baik itu siswa dari akademi Walawatu maupun akademi Parompe kini langsung berhenti bertarung setelah melihat kepulan awan hitam yang penuh dengan Sambaran halilintar sedang menutupi langit yang ada di atas mereka.
Sambaran petir di sertai suara gemuruh Guntur yang sangat mengeri-kan membuat mereka semua langsung terdiam dan tampak waspada seketika.
di pikiran mereka kini penuh dengan tanda tanya.
"apa yang sedang terjadi?"
"apa-apaan awan mengeri-kan ini?"
berbagai pertanyaan timbul di pikiran seluruh siswa bahkan juga di pikiran para guru.
Sementara itu, Askila yang saat ini sedang melesat cepat ke arah Natalia kini telah melihat kelompok Natalia di depan-nya.
"Natalia!" ucap Askila sesaat ketika tiba di depan Natalia dengan terburu-buru. "apa kalian baik-baik saja?" tanya Askila.
"ya kami baik-baik saja.... berkat informasi dari kloning-mu kami bisa berjaga-jaga untuk menghindari sekelompok Niverom yang bergerak ke arah kami." ucap Natalia menjawab.
"hei Askila, apa kau tahu kenapa awan ini tiba-tiba menutupi kita semua?" tanya Nina sambil menatap ke atas.
"entah-lah.... tapi melihat awan ini membuat-ku merasa tidak enak.... semoga saja semua-nya akan baik-baik saja." ucap Askila sambil memperhati-kan awan yang penuh dengan petir yang menyambar itu.
Di sisi lain, saat ini tampak siswa dan dua guru dari akademi Narodo sedang bertarung melawan para Niverom.
__ADS_1
mereka terlihat cukup kesulitan untuk melawan karena tingkatan para Niverom itu jauh di atas para siswa yang mereka bawa, dan mereka hanya bisa bergantung dengan seorang guru tingkat Elite saja, sementara yang tingkat profesional tampak imbang melawan satu Niverom tingkat Alima.
"mereka terlalu kuat!... bahkan banyak siswa yang tak mampu mengimbangi mereka meski-pun sudah menyatu-kan kekuatan!" ucap.salah satu guru yang berada di tingkat profesional.
Di saat para siswa dan guru akademi Narodo sedang berhadapan dengan sekelompok Niverom tingkat Alima dan tingkat Aono, saat ini tampak Madika juga sudah memulai pertarungan-nya dengan si ketua Niverom.
tampak Madika dan ketua Niverom itu sedang beradu pedang sambil melesat cepat di udara.
saking cepat-nya sampai-sampai kedua-nya terlihat seperti cahaya yang sedang bergerak dengan sangat cepat.
Madika saat ini sedang mengguna-kan sebuah sayap angin milik-nya, yakni sayap yang sebelum-nya merupa-kan jurus yang di miliki oleh tuan Mawata.
sementara si Niverom saat ini terbang dengan mengguna-kan sebuah sayap api yang tampak hampir mirip dengan sayap angin milik Madika.
"ternyata kau bisa terbang dengan cepat juga bocah!" ucap si Niverom itu.
"tentu saja!" balas Madika.
Kini pedang mereka berdua kembali beradu dan saling berhantaman hingga mencipta-kan sebuah ledakan energi di udara.
ledakan energi itu menghasil-kan gelombang energi yang bergerak meluas dari pusat ledakan, yakni dari tempat pedang saling berhantaman.
"ini masih pemanasan bocah!.... aku ingin bermain-main lebih dulu sebelum membunuh-mu!" ucap Niverom itu dengan penuh percaya diri.
"terlalu banyak bermain-main akan membuat-mu mati!" balas Madika yang kemudian langsung menebas-kan pedang-nya dengan di sertakan oleh elemen angin milik-nya.
kini tebasan angin itu pun melesat ke arah si Niverom.
"kau pikir serangan kecil ini bisa melukai-ku?!" ucap Niverom itu sambil menebas lengkungan angin yang melesat ke arah-nya.
~DUAAAARR~
Terjadi ledakan yang cukup kuat saat lengkungan angin itu berhasil di hancur-kan oleh Niverom itu.
__ADS_1