
Saat ini laser petir api Natalia menghantam habis empat perisai angin milik Madika dan menyisakan satu perisai lagi.
namun kini perisai angin yang terakhir itu pun kini mulai retak dan retakan-nya semakin membesar.
"hentikan pertahanan-mu! dan segera-lah menghindari serangan itu dengan cepat!" ucap tuan Risiwuku memerintah.
"tapi guru, aku tidak akan sempat menghindari-nya karena jika ku lepas-kan sekarang maka serangan laser petir api tu pasti langsung menghancurkan perisai dan langsung menghantam tubuh-ku sebelum sempat kabur!" ucap Madika menanggapi saran guru-nya itu.
"sudah lakukan saja!... tidak masalah jika lambat sedikit, setidak-nya nyawa-mu tidak hilang.... tidak masalah jika sebagian kaki atau tangan-mu putus asal-kan kau selamat!.... setelah itu segera-lah gunakan langkah dewa angin!" ucap tuan Risiwuku memberi saran dengan tegas.
"ya ampun.... kedengaran-nya sangat mengerikan." ucap Madika menanggapi.
"di pertarungan yang sesungguh-nya hal seperti itu sering di lakukan oleh para ksatria!.... cepat-lah, perisai-mu tidak akan bisa bertahan lagi!" ucap tuan Risiwuku mendesak Madika.
"ba.... baik guru!" ucap Madika yang terpaksa mengikuti arahan guru-nya itu.
Madika pun kini langsung melepaskan pengendalian-nya untuk menahan perisai itu.
kini perisai langsung hancur berkeping-keping.
Madika masih sempat membuat perisai di samping-nya menggunakan tangan kanan-nya.
lalu dengan cepat Madika mendorong tubuh-nya ke samping menggunakan tangan kanan-nya yang bertumpu di perisai yang belum jadi sempurna itu.
Madika kini terdorong ke samping.
namun tangan kanan-nya kini benar-benar hancur karena terkena serangan dari laser petir api itu.
tangan Madika langsung lenyap hingga ke lengan atas-nya.
"ARGGGHH!!"
ucap Madika dengan suara yang agak keras sambil menahan rasa sakit yang ia rasakan.
Ariel yang melihat Madika yang sedang meringis kesakitan kini langsung terkejut dan mulai khawatir. ia kini hanya bisa diam dan menutup mulut-nya menggunakan kedua telapak tangan-nya sambil pasang ekspresi gelisah.
Kini Madika langsung membuat perisai angin lagi menggunakan tangan kiri-nya.
lalu ia pun mendarat di atas perisai angin itu.
__ADS_1
Natalia yang melihat hal itu kini merasa sedikit kagum pada Madika.
"tidak ku sangka kau masih bisa menghindar di saat kritis seperti itu.... orang biasa pasti sudah mati dalam keadaan seperti tadi." ucap Natalia.
Madika yang saat ini tampak masih meringis kini berusaha menahan ekspresi-nya agar tak terlihat sedang menahan sakit.
lalu Madika pun menghentikan pendarahan di bahu kanan-nya yang telah kehilangan tangan kanan itu.
"aku hanya beruntung saja bisa mengorban-kan tangan untuk menghindar." ucap Madika.
"beruntung, kalau begitu semoga keberuntungan-mu terus berlanjut!" ucap Natalia yang kemudian langsung mengayun pedang-nya ke langit.
saat Natalia mengayun-kan pedang-nya itu, tampak sebuah petir menyambar dari area tebasan Natalia dan langsung melesat cepat ke langit.
saat petir itu menghilang di antara awan, tiba-tiba terbentuk-lah sebuah lingkaran petir di udara.
dari lingkaran itu kini banyak petir yang jatuh dari langit dan menyambar ke arah Madika.
Madika yang melihat hal itu pun kini langsung menghindari Sambaran petir-petir itu.
"benar-benar gadis yang merepotkan!" batin Madika.
ia kini memadat-kan sebuah bola api di depan dada-nya.
setelah itu, dengan beberapa variasi gerakan tangan ia pun langsung menghentak tangan-nya di gerakan terakhir.
seketika itu juga seekor naga api muncul dari bola api padat itu.
naga itu seolah sedang keluar dari dalam bola api padat, dan kini langsung melesat ke arah Madika.
"rupa-nya dia menggunakan jurus petir ini hanya untuk membuat-ku sibuk, sehingga dia punya waktu yang cukup untuk mengaktif-kan jurus ini!" batin Madika saat melihat naga itu bergerak ke arah-nya.
"karena sekarang kau sudah menggunakan jurus terkuat-mu, maka maaf saja jika aku harus mengakhiri pertarungan ini dengan cepat." ucap Madika dengan suara yang bisa terdengar jelas oleh seluruh penonton yang ada di stadion itu.
"apa Madika akan menggunakan jurus itu lagi?"
"seperti-nya kali ini akan terjadi badai yang mengerikan lagi!"
kini para penonton mulai gelisah namun sangat ingin melihat kelanjutan pertarungan mereka.
__ADS_1
Di sisi lain, tuan Samon yang mendengar ucapan Madika kini langsung memerintahkan pengawal pribadi-nya untuk membuat perisai kurungan untuk membatasi arena pertarungan dari orang-orang yang ada di stadion.
Kini perisai pun sudah jadi.
"coba saja gunakan jurus-mu itu!.... aku sangat ingin mencoba beradu kekuatan dengan jurus-mu itu!" ucap Natalia yang saat ini terlihat seolah senang mendengar ucapan Madika.
Di mata orang lain, ucapan Madika sebelum-nya sudah di anggap sebagai ancaman, namun semua orang malah bingung pada sikap Natalia yang justru terlihat dengan senang hati ingin menerima serangan dari jurus langkah dewa angin.
"kalau begitu maka jangan salah-kan aku jika kau harus merasakan kematian hari ini." ucap Madika yang kemudian langsung mengangkat kaki kanan-nya.
"langkah dewa angin!" ucap Madika sambil menapaki kaki-nya ke lantai arena pertarungan.
Saat kaki madika menyentuh lantai, maka terbentuklah gelombang angin yang sangat kuat dan menekan.
Sementara itu, naga api Natalia kini sudah berada di depan Madika dan tampak sedang membuka mulut-nya. naga itu kini sudah siap untuk menerkam Madika.
namun ketika hendak menerkam, kini gelombang angin yang di hasilkan oleh jurus langkah dewa angin kini menghentak naga api itu hingga naga itu langsung terdorong ke belakang.
Natalia berusaha menahan naga-nya agar terus bergerak maju.
namun usaha-nya sia-sia karena tekanan dari gelombang angin itu jauh lebih kuat.
hal itu pun membuat naga api-nya itu langsung meledak, dan ledakan naga api-nya itu kini berefek pada diri-nya.
kini Natalia terdorong ke belakang karena hentakan dari energi-nya sendiri.
Sementara itu, gelombang angin Madika terus bergerak dan sudah berada dekat dengan Natalia.
Natalia pun dengan segera menciptakan sebuah perisai naga petir yang sangat kuat.
perisai itu berhasil menahan serangan Madika untuk sementara.
namun dalam waktu yang tidak lama kini perisai naga petir itu pun mulai retak, dan Natalia yang berada di dalam perisai itu kini tampak kesulitan untuk menahan agar perisai-nya tak hancur.
"yang benar saja!.... ini-kah kekuatan dari jurus tingkat dewa?" batin Natalia.
kini dari dalam mulut Natalia tampak ada darah yang perlahan keluar dari sela bibir-nya.
hal itu di karenakan saat ini Natalia tengah mengalami luka dalam akibat ledakan dari naga api-nya sendiri, dan di tambah lagi diri-nya kini harus memaksakan diri untuk menahan serangan Madika.
__ADS_1