Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Kehancuran Klan Petir


__ADS_3

Setelah Madika memerintahkan Alfa untuk menyerang, kini Alfa pun turun dari singgasana itu dan langsung menyerang para pasukan di klan petir itu.


"Sejujurnya aku tak ingin melanjutkan pertarungan, akan tetapi jika aku mencoba kabur aku yakin mereka tidak akan melepaskan ku... Mereka pasti akan mengejar ku dengan niat membunuh, jadi akan lebih baik jika aku segera menyelesaikan masalah ini di sini!" Ucap Madika dalam hati.


Setelah itu Madika memunculkan lagi sebuah benda pusaka, yakni kristal gorila api.


Madika memunculkan kristal itu di tangan kanan-nya,


Lalu ia segera mengaktif-kan benda pusaka yang ada di tangan kanan-nya itu.


Seketika itu juga, benda pusaka tersebut langsung memancar-kan cahaya berwarna merah, dan di saat itu juga seekor monster gorila yang sangat besar muncul di hadapan Madika dan menghadap ke arah para musuh Madika.


Madika yang sudah menarget-kan yang mana saja musuh yang harus di lawan oleh gorila itu kini langsung memerintah-kan si gorila untuk langsung turun dalam peperangan itu.


"Serang semua musuh ku!" Ucap Madika memerintah gorila itu.


Seketika itu juga si gorila pun langsung mengaum dengan suara keras sambil memukul-mukul dada-nya.


Setelah itu ia pun langsung memunculkan sebuah pedang besar di tangan kanan-nya dan sebuah perisai di tangan kiri-nya.


Lalu si monster gorila itu langsung melempar-kan pedang besar-nya itu ke salah satu anggota klan petir.


Si anggota klan petir yang saat ini sedang menyerang salah satu monster semut mengguna-kan laser petir-nya tidak menyadari serangan dari gorila itu, sehingga kini ia langsung terhantam oleh pedang besar itu dan membuat tubuh-nya terbagi menjadi dua bagian.


Pedang si monster gorila itu pun langsung tertancap di tanah.


Lalu si monster gorila itu langsung melakukan teleportasi ke pedang itu.


Begitu teleportasi berjalan lancar, kini si monster gorila langsung menebas beberapa anggota klan petir lain-nya.


Gorila itu kini terus mengamuk dan menghabisi sangat banyak pasukan dari klan petir.

__ADS_1


Sementara itu Askila kini mengeluar-kan Lebih dari 20 kloning untuk bertarung melawan para pasukan Klan Petir itu.


Di tengah-tengah kekacauan dalam pertarungan itu, kini Askila dan para kloning-nya berhasil berpencar dan berada di jarak yang cukup berjauhan.


Namun Askila memang sudah merencana-kan hal itu karena saat ini ia ingin mengguna-kan sebuah jurus yang memiliki jangkauan luas dengan mengandal-kan para kloning.


Tampak Askila yang asli kini berada di tengah-tengah formasi, sementara para kloning-nya berada cukup jauh dari-nya.


Seluruh kloning membuat sebuah formasi melingkar dalam jarak sekitar 200 meter lebih dari Askila yang asli.


"Aktif-kan formasi!" Ucap Askila yang asli dengan tegas.


Seketika itu juga seluruh tubuh kloning Askila langsung memancar-kan cahaya kebiruan yang cukup silau, dan dari punggung bergerigi tajam milik-nya itu muncul kilatan-kilatan petir yang makin lama makin membesar dan bertambah banyak.


Hal serupa juga terjadi pada Askila dan setelah itu kini petir-petir yang semakin membesar itu langsung menyambar ke udara.


Begitu pula yang terjadi pada para kloning Askila.


Sementara petir yang menyambar dari tubuh Askila kini masuk ke bagian tengah-tengahnya.


"Terima serangan-ku ini!!" Teriak Askila. "Hujan petir!!"


Setelah berteriak seperti itu, kini dari lingkaran petir itu muncul ribuan petir yang langsung menyambar ke bawah.


Ribuan petir itu telah di buat menarget-kan seluruh pasukan klan petir sehingga petir-petir itu kini hanya menyambar ke arah anggota klan petir saja.


Kini seluruh anggota klan petir yang ada di dalam wilayah lingkaran energi itu langsung terserang oleh hujan petir dari Askila.


Semua pasukan klan petir yang melihat serangan itu kini mencoba untuk menangkis-nya serta menahan-nya.


Namun saat mereka melakukan hal itu, kini monster semut mengambil alih untuk menyerang mereka dari jarak yang sangat dekat sehingga pada akhir-nya apa pun yang mereka lakukan mereka tetap terbunuh.

__ADS_1


Entah itu terbunuh oleh Sambaran petir, maupun terbunuh oleh monster semut atau pun monster gorila.


Di sisi lain, Alfa yang saat ini juga sudah turun tangan dalam peperangan itu kini sedang mengejar beberapa pasukan klan petir yang sejak awal juga sudah di targetkan oleh Madika.


Alfa mengejar mereka semua hingga tiba di satu tempat di mana para wanita dan anak-anak sedang di arahkan untuk melakukan pengungsian.


Sebenar-nya orang-orang yang sedang di ikuti oleh Alfa itu sedang di tugas-kan untuk membantu para wanita dan anak-anak untuk melakukan pengungsian.


Bisa di bilang mereka di perintah-kan untuk melakukan evakuasi terhadap para anggota klan yang tidak memiliki kemampuan yang mumpuni untuk bertarung.


Saat para pasukan klan yang di ikuti oleh Alfa sedang serius-seriusnya melakukan evakuasi korban, kini Alfa pun langsung melompat ke tengah-tengah rombongan para wanita dan anak-anak itu.


Tanpa sengaja Alfa menginjak seorang bocah hingga kepala-nya pecah dan tewas seketika di tempat itu.


Sontak suara teriakan pun terjadi di tengah-tengah orang yang sedang di evakuasi itu.


Mereka yang sebelum-nya berjalan dengan tertib kini langsung berhamburan dan langsung menjauh dari tempat itu.


Hal itu tentu-nya membuat para pasukan klan petir yang mencoba membantu evakuasi mereka malah jadi kewalahan karena tak bisa mengatur mereka lagi.


Sementara itu, kini seorang ibu tampak tidak mau pergi dari tempat itu.


Ia dengan hati yang hancur langsung berlari ke arah Alfa dan mencoba memukul tubuh Alfa mengguna-kan kedua tangan-nya agar Alfa pergi dari tempat itu.


Alfa yang sedari awal hanya menarget-kan para pasukan klan petir itu pun kini hanya menganggap si ibu itu sebagai angin lalu.


Ia kemudian langsung berjalan mendekati para pasukan klan petir itu dengan ekspresi yang penuh ancaman serta mengarah-kan aura membunuh pada para pasukan klan petir itu.


Begitu Alfa pergi dari tempat ia berdiri, kini si ibu pemilik bocah itu langsung memeluk anak-nya sambil menangis keras melihat putra semata wayang-nya itu mati dengan cara yang mengenas-kan.


Bocah yang seharus-nya memiliki masa depan cerah malah mati dengan kepala yang hancur akibat kedatangan si harimau api itu.

__ADS_1


__ADS_2