
Saat badai angin menghantam area pertarungan, tampak Madika berdiri di tengah-tengah es runcing yang sudah hancur di bagian tengah-nya.
tampak angin terus membuat seragam yang di gunakan Madika tampak berkibar-kibar.
hal itu membuat Madika makin terlihat keren dengan pose berdiri yang tampak gagah dan terlihat keren.
Mindo yang melihat hal itu menjadi kesal, ia kemudian langsung mengangkat tangan kanan-nya ke atas dan seketika muncul sebuah es runcing yang sangat besar di atas Madika.
Madika yang melihat ada-nya bayangan di tanah, kini langsung mendongak ke atas dan melihat sebuah es runcing yang sangat besar itu jatuh ke arah-nya.
Madika yang melihat hal itu langsung mengangkat tangan kanan-nya, lalu seketika badai angin yang membawa beberapa peluru angin langsung menghantam es runcing itu hingga terjadi ledakan yang membuat es runcing itu hancur berkeping-keping.
Di saat yang bersamaan dengan ledakan itu, ternyata Minto sedang berusaha mengambil kesempatan untuk menyerang Madika dengan menjadikan es runcing itu sebagai pengalih perhatian.
kini sebuah tombak es melesat dengan sangat cepat ke arah Madika.
"Lihat ke depan-mu Madika!!" teriak Ariel yang secara tiba-tiba karena takut Madika akan terbunuh oleh tombak itu.
namun Madika tampak mengabaikan suara Ariel dan tetap mendongak melihat ke atas.
hal itu pun membuat tombak itu langsung menghantam Madika.
Ariel yang melihat hal itu langsung menutup mata-nya karena takut melihat Madika terbunuh.
beberapa saat kemudian, Ariel perlahan membuka mata-nya dan melihat Madika yang tampak masih baik-baik saja.
hal itu di karenakan Madika menggunakan perisai angin untuk memblokir serangan tombak es itu.
Melihat hal itu Ariel langsung kagum karena tak menyangka kalau Madika bisa menyadari serangan itu dengan cepat.
lalu Ariel mengalihkan pandangan-nya ke Mindo yang saat ini terlihat kesal pada Madika.
"ternyata dia memang tak boleh di remeh-kan!!" ucap Mindo dengan ekspresi kesal. hal itu bisa di lihat dari urat-urat yang muncul di sekitar wajah-nya.
Baru saja berkata seperti itu, tiba-tiba terjadi ledakan yang sangat kuat di dekat Mindo.
ledakan itu tidak hanya terjadi satu kali, melainkan terjadi secara bertubi-tubi hingga tempat itu di tutupi oleh kepulan debu hasil ledakan.
__ADS_1
Melihat ledakan bertubi-tubi itu, ekspresi para siswa langsung terlihat suram karena mereka tidak menyangka akan jadi seperti ini.
"ini....." ucap salah satu siswa menggantungkan ucapan-nya.
"benar-benar mengerikan.... jika terus di biarkan bisa-bisa Mindo akan terbunuh."
Tak lama setelah itu, kini Madika menghentikan serangan-nya, dan tampak kini Mindo sedang terkapar di tanah dengan baju yang sudah sobek-sobek akibat terkena ledakan tersebut.
"sial@n kau!!" ucap Mindo sambil berusaha sekuat tenaga untuk berdiri.
"sebaik-nya kita hentikan saja.... tadi itu aku sudah menahan diri.... tapi jika kau masih bersi keras untuk lanjut, maka aku tidak akan segan-segan menghabisi-mu." ucap Madika dengan tatapan mengancam.
Mendengar ucapan Madika itu membuat seluruh siswa yang menonton sontak terkejut mendengar-nya.
"dia hebat sekali!"
"padahal serangan-nya sangat kuat tapi ternyata dia masih belum serius?"
"luar biasa!"
Sebenar-nya Madika telah mengerahkan seluruh kemampuan-nya untuk dua teknik yang ia gunakan itu. namun ia berusaha menyembunyikan-nya dengan tujuan agar mental Mindo langsung jatuh akibat tekanan dari kata-kata Madika.
dan jika mental-nya sudah jatuh, maka ke depan-nya Madika tidak akan di ganggu lagi oleh Mindo.
itulah yang di pikiran oleh Madika saat ini, dan benar saja kini Mindo terlihat terkejut dengan hal itu.
ia merasa benar-benar tidak percaya bisa di kalahkan bahkan yang mengalahkan-nya ternyata belum sepwnuh-nya serius.
"ini sulit di percaya!!.... tapi kenyataan aku kalah dari-nya tak mungkin di pungkiri, dan jika memang apa yang ia katakan itu benar, maka!!...." Mindo menggantungkan ucapan-nya sambil menatap Madika dengan ekspresi kesal dan terkesan mengancam. hal itu Mindo lakukan karena saat ini Mindo benar-benar frustasi dengan segala kemungkinan yang muncul di pikiran-nya.
hingga akhir-nya ia memilih untuk menyerah karena jika memang apa yang di katakan Madika benar ada-nya, maka diri-nya tidak akan di untungkan jika pertarungan ini terus berlanjut.
"baiklah.... hari ini ku biarkan kau lolos.... tapi lain kali kau tidak akan ku biarkan bertindak seenak-nya!!" ucap Mindo dengan kesal dan kemudian langsung beranjak dari tempat itu.
"tchi.... yang bertindak seenak-nya itu justru kau bang$at!" batin Madika dengan rasa kesal-nya karena waktu makan-nya terbuang oleh hal yang tak berguna seperti ini.
Sementara itu, para siswa yang menonton pertarungan itu kini tampak bubar satu-persatu. saat mereka berjalan keluar dari tempat itu, tampak mereka dengan antusias membicarakan tentang Madika.
__ADS_1
tak sedikit dari mereka yang kagum bahkan menyebut Madika sebagai siswa berbakat.
Sementara itu, dari tempat yang paling tinggi di arena pertarungan itu tampak sosok si ketua OSIS yang sedang memperbaiki posisi kacamata-nya menggunakan satu tangan.
satu tangan-nya lagi berada di saku celana, ia berdiri dengan pose keren, angin berhembus dan mengibaskan seragam-nya hingga tampak berkibar-kibar.
"apa benar dia sedang tidak serius?" ucap ketua OSIS itu sambil berseringai licik.
Di sisi lain, tampak saat ini Ariel melompat turun dari tempat ia menonton dan langsung berlari ke arah Madika.
Madika melihat kedatangan Ariel, ia kemudian menyambut Ariel dengan senyum manis di wajah-nya.
Ariel kini berdiri di depan-nya sambil sedikit terengah-engah.
"apa kau baik-baik saja?" ucap Ariel yang tampak sedikit khawatir.
"aku baik-baik saja." jawab Madika sambil tersenyum.
lalu perlahan Madika mengangkat tangan-nya dan meletakkan-nya di atas kepala Ariel. ia mengelus kepala Ariel dengan lembut sambil tersenyum.
"terimakasih karena sudah menghawatirkan-ku.... bahkan kau juga sudah mendukung-ku.... aku sungguh berterimakasih." ucap-nya dengan senyum manis.
Ariel langsung grogi, wajah-nya memerah seketika saat tangan Madika membelai rambut-nya sambil mengucapkan terimakasih.
"ehmm.... uhmm.... aku hanya mempercayai-mu kok.... tidak perlu sampai berterimakasih seperti itu." ucap Ariel dengan ekspresi yang tampak malu-malu sambil memainkan kedua jari telunjuk-nya.
Madika yang melihat reaksi Ariel yang tampak menggemaskan itu hanya tersenyum.
wajah-nya benar-benar imut.
pikir Madika.
Sementara itu, saat ini di salah satu pojokan area bertarung tampak Natalia yang sedang berdiri sambil menyandarkan punggung-nya di tembok.
ia tampak menyilang-kan kedua tangan-nya di depan dada.
"sungguh pemandangan yang menjijikan." batin Natalia dengan ekspresi malas.
__ADS_1