Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris

Reinkarnasi Sang Ksatria Legendaris
Serangan Digagalkan


__ADS_3

Saat ini Madika dan para rombongan langsung menyelinap secara terpisah ke dalam rumah keluarga Nemosu.


Mereka yang saat ini sudah berhasil menduplikasi kunci kamar dan kunci-kunci lain-nya yang di butuh-kan kini bisa dengan mudah masuk ke tempat-tempat yang mereka ingin-kan.


Saat ini Madika sedang memasuki kamar dari saudara si Karu, karena ada-nya kunci duplikat, kini Madika pun dengan mudah memasuki kamar tersebut.


Saat Madika tiba di dalam kamar, Madika melihat sosok seseorang yang sedang terbungkus oleh selimut di atas ranjang.


orang itu tampak tidak bergerak dan seperti-nya sedang terlelap.


"sebaik-nya aku selesai-kan segera urusan ini." batin Madika.


Kemudian Madika pun langsung mengayun-kan tangan kanan-nya ke samping.


seketika di depan Madika langsung muncul puluhan belati angin yang sangat tajam.


"selamat tinggal." ucap Madika yang kemudian langsung menghentak-kan tangan-nya ke depan.


Seketika puluhan belati itu langsung melesat dan langsung menusuk orang yang ada di dalam selimut tersebut.


Kini puluhan belati angin itu pun menembus orang itu, namun Madika malah merasa ada yang aneh kerena ia tak melihat ada-nya pergerakan dari orang itu.


jangan-kan pergerakan, bahkan darah pun tidak ada yang muncul, padahal jelas-jelas belati itu sudah menusuk ke dalam tubuh orang itu.


Karena penasaran, akhir-nya Madika pun berjalan mendekati orang yang masih berbungkus selimut itu.


Ketika Madika membuka selimut itu untuk memasti-kan, Madika pun sedikit terkejut karena ternyata itu hanyalah sebuah boneka yang sengaja di buat berbentuk manusia.


Melihat hal itu Madika pun langsung menoleh ke belakang dan berniat untuk segera pergi dari sini karena di pikiran-nya saat ini pasti ini adalah jebakan.


Madika merasa bahwa kemungkinan informasi penyerangan mereka telah di ketahui oleh orang-orang yang ada di rumah ini.


Madika pun mencoba untuk segera keluar dari kamar itu melalui pintu.


namun saat ia menoleh ke arah pintu itu, ia kini melihat sosok saudara Karu itu berdiri sambil tersenyum licik menatap Madika.

__ADS_1


Saudara Karu itu tersenyum layak-nya orang yang sudah berhasil mengelabui orang lain dan terlihat dari wajah-nya bahwa ia saat ini sudah sangat ingin membunuh Madika.


Madika yang melihat hal itu pun kini langsung melesat cepat ke arah jendela.


tanpa berpikir panjang Madika langsung mendobrak jendela itu dan keluar dari sana dengan cara merusak jendela itu.


Suara kaca jendela yang hancur serta pecah dan berserakan di lantai pun kini terdengar hingga ke luar ruangan itu.


Sementara itu, Madika yang saat ini melompat dari jendela lantai dua kini langsung mengeluar-kan sebuah pedang melayang yang akan ia gunakan untuk terbang.


Madika masih terus berusaha menyembunyi-kan sayap angin-nya itu karena diri-nya saat ini sedang menyamar.


Saudara Karu yang saat ini melihat kepergian Madika kini hanya tersenyum tipis.


"dasar bocah bod0h.... kau pikir kami tidak tahu identitas-mu itu?" ucap saudara Karu dalam hati sambil tersenyum licik.


Di sisi lain, kegagalan membunuh target ternyata tidak hanya di alami oleh Madika saja, melain-kan di alami oleh delapan orang lain-nya, tidak terkecuali dengan Liga yang memimpin mereka.


Kegagalan mereka semua itu membuat mereka semua tertangkap dan di bawa ke sebuah tempat penyiksaan yang ada di bawah tanah.


Hingga akhir-nya kini mereka pun tiba di satu tempat yang menjadi tempat tujuan mereka.


Di tempat itu terdapat tiga rantai yang bergelantungan di langit-langit.


lalu para ksatria penjaga yang membawa mereka kini langsung melempar Vera dan dua orang lain-nya ke tempat rantai itu berada.


Vera dan dua orang pria itu kini tidak berdaya karena Saga mereka sudah di tekan.


mereka sadar bahwa mereka tidak akan bisa melawan lagi karena kekuatan mereka jauh di bawah para pengguna Saga itu.


Para ksatria penjaga itu kini langsung mengikat tangan mereka bertiga mengguna-kan rantai, kemudian rantai itu di tarik hingga Vera dan dua pria yang di ikat itu tergantung dengan posisi tangan terikat.


"ma.... mau kalian apa-kan mereka?!" ucap Sigo yang tampak sedikit ketakutan.


Lalu salah satu ksatria penjaga itu langsung menoleh dengan ekspresi layak-nya psikopat.

__ADS_1


"tentu saja menyiksa-nya sampai puas.... tidak hanya dia saja.... ini juga berlaku untuk kalian semua."


Mendengar ucapan ksatria penjaga itu, kini Sigo pun menelan ludah dengan kasar, sementara Jos dan Liga kini terlihat kesal.


"terkutuk-kah kalian semua sial@n!!" bentak liga dengan emosi yang meluap.


"diam kau t4i!" balas salah satu ksatria Saga yang berdiri dekat Liga.


Kemudian ksatria Saga itu langsung melancar-kan tinju yang sangat kuat ke pipi Liga hingga beberapa gigi Liga copot dan berserakan di lantai.


Melihat hal itu, Sigo pun langsung sigap ingin mendekati liga dan membantu-nya untuk berdiri, namun salah satu ksatria penjaga lain-nya langsung memukuli perut Sigo hingga Sigo pun terdorong ke belakang dan akhir-nya terkapar di lantai.


Di sisi lain, Vera dan dua pria yang saat ini di gantung di bagian tangan kini mulai di permain-kan oleh ksatria berwajah psikopat itu.


Ketiga ksatria yang bertugas menyiksa Vera dan dua pria lain-nya itu kini mulai menelanj@ngi Vera dan kedua pria itu.


Vera yang mengalami hal itu kini hanya bisa memaling-kan wajah-nya dari pandangan Jos dan yang lain-nya.


Jos yang melihat hal itu kini langsung emosi, ia berniat menerobos para ksatria penjaga yang berusaha menghalangi mereka, namun sayang-nya ia tak lagi punya kekuatan yang cukup untuk melakukan hal itu, ia bahkan kini langsung di hajar habis-habisan oleh para ksatria penjaga.


"lebih baik kalian diam dan melihat saja!.... lagi pula kalian juga akan segera bernasib sama!" bentak salah satu ksatria penjaga itu.


Setelah itu, kini ketiga ksatria penjaga yang bertugas menyiksa Vera dan dua pria lain-nya kini langsung mengeluar-kan belati mereka masing-masing.


Vera yang tidak tahu siksaan macam apa yang akan menghampiri-nya kini hanya bisa menetes-kan air mata meski-pun diri-nya tidak mengeluar-kan suara tangisan.


Lalu salah satu Ksatria penjaga itu pun mulai meny@yat kulit Vera mulai dari bagian leher.


dari bagian leher itu kemudian ia mulai mengulit1 Vera dan memisah-kan kulit Vera dari daging-nya mengguna-kan belati milik-nya itu.


Seketika Vera pun langsung menjerit kesakitan.


setiap sayatan belati yang memisah-kan kulit dari daging-nya itu memberi-kan rasa sakit yang tidak tertahan-kan.


Tidak hanya Vera saja, dua pria yang saat ini berada di samping Vera yang juga mengalami hal sama, kini langsung berteriak kesakitan.

__ADS_1


jeritan mereka semakin menjadi-jadi.


__ADS_2