
Dalam sehari, semua pekerjaan itu harus dikebut. Dibantu Silvia dan Robert, mereka menyiapkan ruangan untuk operasi. Pelayan menyapu seluruh dinding dan atap. jendela di buka lebar agar semua debu keluar. Gorden dan karpet dikeluarkan.
Silvia mengajarkan untuk menyeka seluruh dinding, jendela dan lantai dengan cuka. Termasuk meja dan semua lampu yang dipakai di ruangan.
Kain-kain dicuci bersih dan direbus dengan air panas setelah itu disetrika dengan pelat besi panas hingga rapi, kemudian dilipat.
Sore hari, orang yang mendapat tugas membuat alat, datang. Dokter Chandra memeriksa ketajaman pisau. Kehalusan bentuk jarum dan lain-lain. Tapi tak ada jarum suntik di situ. Itu memang bukan hal yang bisa dibuat dengan mudah. Dokter Chandra pesimis dengan rencana ini. Ini seperti sebuah uji coba saja.
Tabib Michfur sibuk menyiapkan berbagai ramuan agar tuan Felix tak merasakan terlalu sakit saat tubuhnya dibedah. Tabib Michfur bertanggung jawab atas semua obat herbal.
"Bagaimana persiapannya dok? Apakah semua alat tersedia?" tanya Glenn saat makan malam.
Dokter Chandra menggeleng.
"Tidak ada jarum suntik. Itu penting untuk persiapan menyalurkan darah jika terjadi perdarahan," jawab dokter Chandra khawatir.
Glenn tak bisa berbuat apa-apa. Hidup ayahnya seperti diujung tanduk. Dibiarkan tak tega, ingin dioperasi tapi tak ada peralatannya.
"Ahh, satu lagi. Bagaimana cara membuat tuan Felix tetap tidur selama operasi?" tanya dokter Chandra.
"Serahkan saja padaku," jawab Glenn.
"Baik. Jadi malam ini ayahmu tak boleh makan lagi. Jika haus, berikan air dengan sendok." Dokter Chandra mengingatkan.Glenn mengangguk.
Robert dan Silvia masih sibuk mensterilisasi alat-alat. Setelah itu mereka membungkus dan menyiapkannya di meja kecil dekat meja operasi. Semua keperluan yang bisa disiapkan, sudah tersedia di situ. Mereka keluar dan menutup rapat pintu.
Semua orang tak terlalu bisa tidur nyenyak malam itu. Besok adalah hari besar. Tapi dokter Chandra serta Silvia memaksakan diri untuk tidur.
Pagi hari setelah sarapan singkat.
Tuan Felix dibawa masuk ke ruangan operasi. Tuan Felix bisa merasakan bahwa ruang itu sangat bersih. Dia duduk di meja besar di tengah ruangan. Tabib Michfur masuk membawa semangkuk ramuan obat. Tuan Felix langsung meminumnya hingga habis begitu disuruh. Lalu dia berbaring. Istrinya tersenyum mengecup pipi dan tangannya.
Glenn, dokter Chandra dan Silvia masuk dengan pakaian operasi. Tabib Michfur keluar membawa mangkuk obat dan bersiap berganti pakaian steril.
"Aku tunggu di luar sayang." katanya dengan suara lembut.
"Aku mencintaimu," balas tuan Felix dengan mata mengantuk. Istrinya tersenyum manis lalu keluar.
Tabib Michfur menutup rapat pintu. setelah mendorong masuk sebuah cawan berisi air garam hangat. Ada banyak handuk bersih dan steril di meja itu.
Dokter Chandra meminta Glenn untuk menjaga tuan Felix tetap tidur selama proses. Glenn bersiap menggunakan kekuatan sihirnya. Dokter Chandra dan Silvia berdoa sebelum memulai pekerjaan.
**
Di luar ruangan, nyonya Felix ditemani pelayan wanitanya duduk dengan mata tertutup. Kedua tangannya saling genggam. Tampak jelas dia merasa gugup dan cemas.
Pelayan kepercayaan Raja yang duduk tak jauh dari situ ikut gugup menunggu pintu ruangan yang dijaga dua pengawal itu terbuka.
Waktu terasa lambat saat menunggu. Tak seorangpun menyadari bahwa hari sudah siang. Seorang pelayan membawakab minuman dan makanan kecil untuk Nyonya mereka dan pelayan raja. Mesku enggan, tapi nyonya Felix tetap memaksa diri untuk mengisi perut.
__ADS_1
Piring hidangan sudah lama disingkirkan ketika pintu ruangan itu akhirnya terbuka. Dokter Chandra keluar dengan wajah penuh keringat. Di belakang menyusul Silvia yang tampak pucat.
"Operasi sudah selesai. Tabib Michfur sedang membereskan peralatan bekas operasi. Sementara Glenn masih menjaga agar tuan Felix tetap tertidur untuk sementara waktu." dokter Chandra menjelaskan.
"Hasilnya bagaimana?" tanya pelayan raja.
"Kita harus memantau perkembangannya. Semoga bagus dan tak ada infeksi lanjutan," sambung dokter Chandra.
Tabib Michfur keluar ruangan dengan mendorong meja yang penuh dengan kain dan peralatan kotor penuh bercak darah.
"Semua sudah saya bersihkan. Tapi tuan muda Glenn terlihat lelah." Tabib memberi laporan pada dokter Chandra.
"Biar aku menggantikannya," kata nyonya Felix. Tabib mengangguk pada Robert.
"Nyonya harus mencuci tangan dengan sabun dan mengganti dengan pakaian steril lebih dulu." kata dokter Chandra.
"Saya masih punya pakaian steril itu. Mari nyonya," ajak tabib. Nyonya Felix mengikuti.
"Kami harus membersihkan diri dulu tuan," kata dokter Chandra pada pelayan raja. Pelayan itu mengangguk.
**
Glenn keluar ruangan setelah digantikan oleh ibunya. Energi batinnya terkuras. Randal dengan sigap memapahnya pergi untuk beristirahat dan memulihkan tenaga.
Hingga sore, tak ada pelayan yang datang memanggil. Dokter Chandra dan Robert sedikit lega. Tapi masa kritis belumlah lewat. Mereka tetap siap siaga.
Tabib Michfur sudah meminta pelayan langsung mencuci baju dan perlengkapan operasi. Alat-alat juga sudah dicuci dan direbus air panas. Dia sedang menyekanya dengan alkohol, lalu menyusun dalam kain dan ditutup dengan rapi.
dan berharap tuan mereka kembali sembuh seperti sebelumnya.
**
Selepas makan malam, dokter Chandra memeriksa kondisi tuan Felix. Glenn sudah menggantikan ibunya untuk membuat ayahnya tetap tidur dengan nyaman.
Tabib pelayan obat masuk dengan semangkuk obat. Dia memandang Glenn yang fokus dengan mantranya.
"Bisakah anda menyuapinya tanpa harus dibangunkan?" tanya dokter Chandra.
"Baiklah," jawab tabib Michfur cepat.
Obat itupun akhirnya diminumkan dengan sendok sedikit-demi sedikit.
"Tuan Felix akan tertidur untuk sementara ini." katanya penuh harap.
"Kau bisa istirahat jika lelah Glenn. Tidak apa jika ayahmu bisa terbangun lebih cepat. Jika obat tak bisa mengatasi rasa sakitnya, kau bisa membuatnya tidur lagi," kata dokter Chandra.
Glenn membuka matanya.
"Kalau begitu aku akan menunggui ayah di sini." sahutnya keras kepala.
__ADS_1
"Kau harus makan dulu jika ingin menunggui. Panggil aku jika terjadi perubahan." pesan dokter Chandra sebelum pergi.
"Ya."
**
Tuan Felix terbangun lewat tengah malam akibat rasa sakit hebat. Dia berteriak lemah memanggil Glenn yang tertidur di samping.
"Sakit sekali ini." rintihnya pada Glenn yang masih linglung baru bangun.
"Ayah sudah bangun? Hahaa bagus sekali," Glenn terlihat gembira.
"Ya, tapi ini sakit sekali." keluh tuan Felix.
"Tabib Michfur, mana obat ayah?" tanya Glenn pada tabib yang ternyata ikut tidur di sudut ruangan.
"Ini. Minum pelan-pelan." Obat disodorkan ke mulut tuan Felix yang langsung meminumnya sampai habis.
"Aku lapar," keluhnya lagi.
"Hahahaa.. Syukurlah." Glenn tertawa hingga airmata menggenang di sudut matanya.
Tabib keluar membawa mangkuk kosong dan meminta pelayan obat di luar memanggil dokter Chandra. Dia kembali masuk dan memeriksa denyut nadi tuan Felix. Mereka menunggu dokter Chandra datang sambil menjawab semua pertanyaan tuan Felix terkait operasinya tadi pagi.
Dokter Chandra masuk dan memeriksa kondisi tuan Felix. Sejauh yang terlihat, semua baik-baik saja. Semoga seterusnya makin bagus.
"Boleh makan jika sudah bisa kentut," jawab dokter Chandra sambil tersenyum.
Tabib dan Glenn ikut tersenyum mendengarnya.
"Besok pagi saya periksa lagi luka operasinya. Tolong tabib siapkan obat dan kain pembalut luka yang bersih dan steril. Jika sudah bisa makan dan kondisi bagus, sudah bisa pindah ke kamar." Dokter Chandra menerangkan.
"Baiklah.. aku akan menantikan sarapan lezat besok pagi. Harus lezat." Katanya menekankan.
"Jangan khawatir ayah. Yang penting ayah harus kentut dulu," bujuk Glenn.
Tabib Michfur merasa sangat senang, karena ini adalah peristiwa operasi pertama yang diikutinya. Operasi pertama di klan Elf. Dia merasa bangga sudah ikut serta.
Tabib Michfur jadi bisa melihat sedikit rongga di dalam tubuh manusia. Dokter Chandra sudah membantu ilmu pengetahuan medisnya jadi lebih baik. Tabib Michfur kini sudah hafal bentuk dan letak organ-organ penting di dalam tubuh manusia. Gambar dan catatan keterangan fungsi-fungsi organ yang dibuat dokter Chandra sudah seperti buku berharga baginya. Tabib Michfur sangat berharap bisa menggali lagi ilmu medis yang dimiliki dokter Chandra.
*****
Curcol 🥰
Eh,, gak terasa udah 100 chapter aja. Author sendiri gak percaya.
Tapi... belum juga dikontrak.
Jadi kk pembaca setia, jangan lupa kasih like 👍, komen, vote, kasih 5 ⭐, jangan lupa difavoritin ❤ yaa.. Author bakal seneng banget juga kalau dapat gift 🌹.
__ADS_1
Makin banyak feedback pembaca, makin naik ratingnya. Moga-moga aja bisa dilirik admin. Yee kaannn.. Author jadi makin semangat deh nulis dan memasukkan karya baru.
Makasiii udah mampir kk 💙💙💙