PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 282. Mencari Keberadaan Robert


__ADS_3

Pagi kembali menghampiri.


Setelah pekerjaan mereka yang sukses kemarin, hari ini ketiganya diserahi tugas mencuci seragam para tahanan.


Ketiganya bekerja dengan semangat. Dan Alan juga sudah kembali dalam kondisi prima. Bagi ketiganya, pekerjaan mencuci pakaian ini justru lebih mudah dari pekerjaan kemarin.


Dean masih menggunakan tenaganya untuk mengangkati tumpukan kain yang sangat banyak. Lalu menarik sejumlah besar air untuk mengisi mesin cuci.


Alan sedikit memperbaiki peralatan yang kurang terawat itu. Maka akhirnya semua mesin cuci raksasa itu bisa bekerja. Itu mempersingkat waktu kerja. Setelah baju diperas, dan digantungkan, Alan meniupkan udara panas dari mulutnya. Tak sampai 5 menit, seluruh baju yang digantung sudah kering.


Giliran Michael melipat dan menyusun baju-baju yang sudah bersih itu.


Sembari bekerja, mereka mendiskusikan rencana berikutnya. Dikarenakan sudah 2 hari Robert tak ada kabarnya, maka mereka harus mematangkan rencana.


"Di jam istirahat nanti, aku akan pergi memeriksa di tempat lain. Ada 5 gedung di lokasi ini. Kemarin seluruh lantai di sini sudah ku periksa. Tinggal 4 gedung lagi," kata Alan.


"Tapi jangan terlalu lama perginya. Kemarin kau sampai lemah sekali." Michael memperingatkan.


"Oke. Aku tau." Alan mengangguk.


Pekerjaan itu selesai lebih cepat dari kemarin. Tinggal satu kali putaran mesin cuci lahi. Jadi mereka ggunakan waktu itu dengan berkumpul bersama yang lainnya.


Semua tema-teman yang selama beberapa hari bersembunyi di ruang penyimpanan, kini dapat bernafas lega sejenak.


Mereka bercengkrama bersama sambil membantu Michael melipat semua pakaian bersih dan menyusunnya dengan rapi.


"Aku menantikan kapan kita dapat tugas di dapur. Jadi bisa ambil persediaan makanan untuk disimpan."

__ADS_1


Semua temannya melihat ke arah Alan dengan takjub. Dia selalu punya ide yang cemerlang dan mengejutkan.


"Itu bagus!" Indra mengacungkan jempolnya.


Yang lain tersenyum dan menahan tawa


*


*


Satu jam kemudian, petugas masuk. Dia melihat tiga orang itu hampir selesai melipat baju-baju kering. Dia sebenarnya terkejut. Bertumpuk-tumpuk lain kotor telah rapi dan bersih.


"Jika terlambat selesai, kalian tak bisa makan!" teriaknya.


Alan, Michael dan Dean. berbaris rapi. Sekarang semua baju sudah selesai ditangani.


Tapi tak ada yang membalas. Alan sudah ogah bersuara, karena hanya akan mendapat pukulan. Lebih baik dia menyiapkan tenaga untuk mencari Robert nanti.


"Masih mau disitu? Tak mau makan?" teriak petugas itu kasar.


Tiga sekawan itu segera mengikutinya ke ruang makan. Mereka makan dengan semangat. Petugas itu menggeleng. Tapi dia merasa puas dengan hasil pekerjaan ketiganya dua hari ini. Pekerjaan mereka bertiga lebih cepat dibanding pekerjaan sepuluh orang.


Di jam istirahat, pecahan jiwa Z mulai keluar dan mencari keberadaan Robert. Dia terbang menuju bangunan lain yang paling dekat dengan lokasi penjara.


Bangunan itu terdiri dari 5 lantai. Seberkas cahaya merah kecil hampir tak terlihat, mengelilingi tiap lantai dan mengintip dari jendela kaca besar yang ada di seluruh dinding.


Z tak menemukan setitikpun petunjuk keberadaan Robert di gedung itu. Dia lalu melesat menuju gedung yang tak jauh dari sebelahnya.

__ADS_1


Z melewati sedikit area kosong berumput tinggi yang mungkin dulunya adalah sebuah taman. Tak ada seorangpun di situ.


Tapi lebih jauh sedikit, terlihat ada sebuah pintu besi tertutup yang diperkirakan menuju ke bawah tanah. Dari pemeriksaan Z, tempat itu sudah lama tak dikunjungi. Karena rumput di sekitar pintu sudah tinggi namun tak ada yang rebah bekas terinjak kaki.


Z mengelilingi lagi bangunan 5 lantai itu. Tak ada lagi yang terlewat dari pengamatannya sekarang.


Z lanjut menuju gedung yang tadi ingin ditujunya. Gedung itu lebih rendah. Hanya 3 lantai. Tapi bangungannya lebar melingkar. Dengan bagian tengah terbuka. Hal ini membuat Z harus memeriksa dari jendela luar dan dalam.


Cahaya kecil Z naik ke ketinggian. Dia ingin melihat apa yang ada di bagian atas gedung yang terlihat terbuka itu.


Dia terkejut. Bagian atas itu adalah area pertanian. Dia bisa melihat hamparan gandum di seluruh atap bangunan yang besar dan melingkar itu.


Z turun ke arah jendela bagian luar. Seluruh bagian dinding itu terbuat dari kaca transparan. Dan, seperti perkiraannya. Gedung ini adalah area pertanian yang hidup dengan pencahayaan buatan. Di bagian dalam tersusun rapi rak-rak sayuran beraneka macam. Z mengelilingi lantai 3 itu seluruhnya. Semuanya sayuran.


Dia turun ke lantai 2 dan mulai memeriksa lagi. Kali ini dia bisa melihat pohon-pohon buah ukuran pendek dan sedang berbuah lebat.


Di sisi lain lantai itu, terlihat hamparan rumput yang tumbuh subur. Itu seperti rumput untuk pakan ternak. Terlihat susunan raknya yang berlapis-lapis.


'Lalu dimana mereka menempatkan ternak-ternak itu?' batinnya.


Z turun ke lantai dasar. Akhirnya dia menemukannya. Di dalam sana adalah area peternakan. Ada sapi, domba, hingga babi. Ada bagian unggas juga.


Z memang tak menemukan Robert. Tapi penemuan ini membuatnya bertanya-tanya. Dia terbang lebih tinggi lagi ke langit, untuk melihat keseluruhan kompleks bangunan tersebut.


"Tempat ini lumayan luas. Banyak sekali area kosong Kenapa tak ditanami? Tapi justru membuat area pertanian dan peternakan tertutup," gumamnya.


Z menoleh ke atas. Melihat cahaya matahari yang redup. Langitnya sama sekali jauh dari kecerahan. Seperti langit yang ditutupi oleh polusi udara. Dunia ini benar-benar aneh. Benarkah ini bumi yang mereka kenal?

__ADS_1


******


__ADS_2