PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 199. Pencatatan Kafilah Dagang


__ADS_3

Liam tak menyangka dalam waktu setengah jam, tandu sudah selesai dibuat.


Dean mengangkat Laras hati-hati ke udara. Melayang keluar kamar dimana tandu sudah dipegang oleh Yoshi dan Yabie.


Liam mengedipkan matanya beberapa kali melihat kemampuan Dean.


"Liam, Widuri, kalian disini dulu. Nanti kami jemput lagi.


"Ayo dok, aku yang akan membawamu," kata Dean.


Dokter Chandra mengangguk. Mereka keluar beriringan.


"Tunggu, aku ikut," Liam turun dari tempat tidur.


"Tunggu Dean menjemput kita. Jangan menghambat mereka. Laras butuh pertolongan segera," cegah Widuri.


"Aku kan bisa jalan sendiri. Tidak harus ditandu," kata Liam ngotot.


"Mereka terbang, bukan berjalan. Apa kau bisa terbang?" balas Niken.


"Terbang? Jadi mereka beneran bisa terbang?" Liam masih tak percaya.


"Widuri, kau tinggal bersama mereka. Apa kau tau berapa jauh ke tempat tabib itu?" tanya Liam penasaran.


"Aku gak tau rumah tabib itu. Tapi menurut Indra yang waktu itu dirawat di sana, itu ada di bukit di pedesaan. Antara desa nelayan dan desa pertanian. Cukup jauh juga dari kota." Widuri berusaha mengingat-ingat.


"Jadi, kau tinggal di kota?" wajah Liam berseri.


"Tidak. Kami tinggal di tengah hutan jauh dari kota. Tapi lebih jauh lagi jaraknya jika ke sini," jawab Widuri.


"Apa?" seru Liam.


"Yaahh... lokasi kota mati ini hampir di tengah pulau. Berada di tengah-tengah hutan lebat yang tak tersentuh manusia."


Widuri berkedip melihat mulut Liam, Kenny dan Mattew terbuka mendengar penjelasannya.


"Hahh.... Aku tau kalian takkan percaya. Saranku, jangan sembarangan keluar dari sini. Masih banyak misteri tak terpecahkan di hutan di luar sana. Salah langkah, kalian bisa hilang selamanya. Sudah banyak warga kota yang hilang saat berburu di hutan larangan ini," pesan Widuri.


"Hutan larangan?" Mereka saling pandang. Sama menakutkankah dengan hutan angker?


"Kalian, saat kami pergi, baik-baiklah tinggal di sini. Jangan langgar larangan Yabie. Nanti setelah pengaturan Laras selesai, kami akan kembali ke sini," pesan Widuri lagi.


"Ya, kami mengerti. Kami akan mematuhinya," jawab Mattew sopan.


*


*


Dean dan Yabie kembali untuk menjemput Liam dan Widuri.


"Liam, Yabie akan mengantarmu ke tempat tabib. Kau bisa tinggal di sana selama Laras dirawat. Ku harap kau bisa merawat dan menguatkannya," kata Dean.

__ADS_1


"Kau tidak ikut?" tanya Liam.


"Aku akan kembali ke pondok. Teman-teman yang lain juga pasti khawatir di sana. Mungkin besok kami akan menjenguk kalian. Lagipula ada dokter Chandra di sana." Dean menepuk pundak Liam.


"Oh, oke."


Liam mengangguk patuh.


"Kami berangkat. Kalian tinggal baik-baik di sini. Jangan lagi naik ke atas. Rumah ini sudah lapuk.


"Sebentar. Aku tidak tau apakah informasi ini berguna atau tidak." Mattew menahan Dean.


"Benda yang dia [👉menunjuk Yabie] ambil di gudang. Kotak hitam itu. Adalah benda yang ditabrak Laras saat jatuh," kata Mattew.


"Bagaimana kau tau?" tanya Dean.


"Saat kami ke sini, gudang itu berantakan. Tapi kami belum memeriksanya, hanya membuka jendela. Lalu Laras naik ke atas dan jatuh. Tubuhnya membentur jerami yang berserakan." Mattew menjeda keterangannya.


"Hari kedua Laras sakit, aku berfikir untuk membersihkan gudang, juga membuang lantai kayu yang jatuh di hari sebelumnya. Saat membereskan tumpukan jerami, di bawahnya ada kotak hitam itu tergeletak. Lalu ku simpan di rak dinding. Menurutku, benturan dengan kotak itu yang menyebabkan punggung Laras membiru. Tapi aku tidak tau akan separah ini." Mattew menunduk.


"Dia jatuh dengan keras. Jadi pasti kena telak ke tulang punggungnya," Liam masih merasakan nyeri di hatinya jika membayangkan jatuhnya Laras 3 hari yang lalu.


"Baiklah. Liam, kau bisa katakan pada dokter Chandra bahwa Laras jatuh menimpa kotak kayu. Mungkin itu bisa membuka sedikit gambaran cara penanganannya," pesan Dean pada Liam.


"Ya. Akan ku katakan." Liam mengangguk.


"Kami berangkat sekarang. Sampai jumpa lagi." Widuri melambai ke arah anak-anak yang berdiri di halaman depan.


"Bibi, nanti kita bermain lagi!" teriak gadis cilik yang digendong Widuri.


*


******


"Jane, hari hampir terang. Ayo berangkat!" teriak Leon dekat gerobak dorong mereka.


"Sebentar!"


Jane [nama aslinya Kaleela] melangkah keluar dari rumahnya. Dia membawa bungkusan kain.


"Apa itu?" tanya Leon.


"Bekal kita di jalan." Jane tersenyum. Dia sudah lebih ramah dan terbuka pada Leon. Sudah lebih mempercayai kata-kata Leon.


"Baiklah. Taruh di sini, lalu kita berangkat. Nanti terlambat," ujar Leon.


Mereka mendorong gerobak dengan semangat. Kali ini dagangan mereka tak hanya ikan asin dan garam. Tapi juga rumput laut kering.


Beberapa waktu sebelumnya, Leon menyelam ke laut. Dia ingin menemukan hal lain yang bisa dijual selain ikan dan garam. Mereka harus meningkatkan pendapatan agar tak terlalu sia-sia mendorong gerobak ke kota yang jauh.


Dia menemukan banyak rumput laut seperti yang biasa ditambahkan dalam manisan. Juga ada rumput laut jenis lain yang baru mereka coba untuk konsumsi sendiri.

__ADS_1


Leon mengajari Jane untuk membersihkan dan mengeringkan rumput laut yang mereka panen dari laut. Dan kemarin siang, Leon kembali menyelam untuk memanen cukup banyak kerang. Dia menyimpan kerang-kerang dalam wadah berisi air agar tetap segar.


Jadi hari ini gerobak mereka benar-benar penuh dan berat.


'Semoga orang-orang di sini mau mencoba memasak rumput laut yang kami bawa' batin Leon.


Leon bisa mengajari Jane makan rumput laut, karena Jane mempercayainya. Tapi belum tentu semudah itu menawarkannya pada orang lain. Apa lagi kultur makan rumput laut adalah kultur asia timur. Berbeda sekali dengan tempat ini.


*


*


Mereka tiba sore hari di depan gerbang kota. Semua gerobak pedagang mengantri masuk kota untuk beristirahat dan berlindung malam ini.


"Kenapa antrian ini lama sekali?" tanya Leon pada salah seorang pedagang.


"Apa kau sudah lama tak datang?" tanya pedagang itu.


"3 minggu. Kenapa?" tanya Leon.


"Pantaslah. Mereka sekarang mencatat nama setiap pedagang yang masuk dan keluar." Pedagang itu memberitau Leon.


"Kenapa? Apakah telah terjadi sesuatu di kota itu? Apa mereka menyelidiki kita?" tanya Leon ingin tau.


"Tidak ada. Mereka bilang hanya ingin mengetahui pedagang tetap kota ini. Setelah itu kita tetap bisa berjualan seperti biasa," jawab pria itu.


"Oh, menarik, mereka mulai membuat catatan administrasi. Kota ini lumayan maju," gumam Leon.


"Nama!" tanya petugas.


"Leon. Ini istriku Jane," jawab Leon.


Sudah berapa lama berdagang di sini? Sudah lama. Tidak ingat," Leon menggaruk kepalanya.


"Tapi namamu tidak ada dalam catatan sebelumnya."


Petugas itu mengamati wajah Leon yang mirip dengan garis wajah bangsa mereka.


"Aku sudah 3 minggu tidak ke sini. Kami memutuskan untuk mengumpulkan lebih banyak barang sebelum berangkat. Itu agar tidak terlalu banyak menghabiskan waktu di jalan." Leon berjalan ke belakang gerobaknya.


"Lihat, ada banyak jenis dagangan hari ini." Leon menyingkap kain penutup gerobak.


"Hai Leon, kemana saja kau? Ku kira istrimu hamil, makanya tak datang beberapa waktu." Suara seseorang di belakang, terdengar.


"Pak tua. Bagaimana kabarmu? Apa yang di samping itu putra yang selalu kau ceritakan?" tanya Leon sambil tersenyum lebar.


Petugas yang melihat keakraban itu lalu membiarkan Leon dan Jane masuk kota.


Leon bersyukur pak tua yang biasa berjualan di sampingnya ternyata ada tepat di belakang gerobaknya.


Leon dan Jane lalu beristirahat dekat tembok kota. Bersebelahan dengan pak tua yang tadi membantunya.

__ADS_1


Mereka menikmati makan malam sambil berbincang tentang kejadian-kejadian terakhir selama Leon absen berdagang.


******


__ADS_2