PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 174. Pernikahan Widuri


__ADS_3

Melihat api mulai melahap beberapa pohon, Kang melakukan beberapa gerakan dengan kedua tangannya. Muncul selarik cahaya yang segera melingkari area terbakar. Perlahan-lahan cahaya itu menutup hingga area kebakaran dilokalisir sepenuhnya.


Robert melihat kemampuan Kang dengan mulut terbuka.


"Ilmu apa yang dimilikinya?" gumam Robert.


Kebakaran itu tidak padam, tapi Kang menjaganya agar tidak merambat ke tempat lain. Andai saja ada ilmu begini di masa depan, tak perlu ada kebakaran hutan di musim panas di seluruh dunia.


Kang tetap berada di tempat untuk menjaga lingkaran cahaya. Robert bisa melihat api yang menggila di dalamnya. Beberapa pohon yang tersambar api menjadi abu dengan segera. Perlahan hanya terlihat asap hitam yang memenuhi lingkaran cahaya itu. Makin lama makin menipis. Lalu lenyap sama sekali.


Robert dapat melihat di dalam lingkaran cahaya itu hanya ada tanah kosong berdebu.


"Syukurlah, kau bisa menjaga agar kebakaran tidak meluas. Sekarang itu sudah aman."


Kang melakukan beberapa gerakan tangan lagi. Lalu lingkaran cahaya itu hilang. Matanya melihat tempat itu dengan sendu.


Tiba-tiba Kang terbatuk-batuk dan memuntahkan darah segar dari mulutnya


"Kang. Apa yang terjadi padamu?" Robert menahan tubuh Kang yang limbung.


"Ayo kembali ke pondok. Kau menghabiskan energimu untuk menahan api itu. Kau harus istirahat."


Robert membawa Kang kembali ke pondok dan merawatnya. Dia merasa bersalah karena telah memaksa Kang untuk berteriak.


*****


Hari itu pondok terasa lebih hidup. Banyak hiasan dimana-mana. Semua orang terlihat menebar senyum sumringah.


Hari ini Dean dan Widuri akan menikah. Kamar mereka sudah dihias. Yoshi menghadiahkan alas tidur baru untuk keduanya. Beberapa tanaman hias ditanam di bawah jendela. Pondok mungil mereka jadi terlihat asri.


Di dalam kamar, rambut Widuri sedang dikepang dan dihiasi dengan bunga kecil-kecil. Sebuah mahkota bunga membuatnya terlihat seperti bidadari. Sebuah buket bunga liar sudah disiapkan di meja, menunggu untuk dibawa ke upara pernikahan.


Pakaiannya baru. Mereka membeli kain di pasar dan Marianne membantu menjahitkan sebuah gaun baru yang membalut tubuh Widuri dengan sempurna.


Niken dan Nastiti menatap tak percaya. Dalam balutan gaun biru berpotongan sederhana itu, Widuri terlihat sangat anggun. Rajutan putih yang indah membingkai bahunya yang dibiarkan terbuka. Beberapa sulaman kecil disebar Marianne di bagian bawah gaun itu. Membuatnya jadi gaun pengantin yang sempurna.


'Gaun sederhanapun bisa jadi gaun pengantin sempurna jika pengantinnya bahagia' batin Niken.


*


*


Dean juga tak kalah tampan. Indra membantunya memangkas rambutnya yang panjang tak beraturan.


Dean mengenakan setelan kemeja dan jasnya yang lama yang dia kenakan saat naik pesawat dulu. Semua itu masih tersimpan rapi dalam tas ranselnya.


"Kau benar-benar terlihat seperti seorang eksekutif muda," puji dokter Chandra.


"Tapi sayang terdampar di hutan.. Hahahaa.." Michael tertawa.


"Paman.. bibi.." terdengar suara Yoshi di luar.

__ADS_1


"Kami di sini." Indra keluar.


Yoshi datang dengan membawa ayahnya. Indra membawa mereka duduk di bangku yang sudah disiapkan.


"Bagus sekali tempat upacaranya," Yoshi memuji wedding arch yang telah disiapkan.


Wedding arch yang dibuat dari dua batang kayu. Disatukan membentuk segitiga dengan menancapkannya di tanah. Lalu dililit tanaman rambat dan buket bunga liar di sisi kanan dan kiri. Di bagian kaki arch juga ada 2 pot gerabah yang diisi dengan segala macam daun dan ranting oleh Niken.


""Terlihat indah karena berlatar belakang pemandangan laut." komentar Indra.


"Tidak. Hiasan ini sangat baru untukku. Apakah di dunia paman upacara pernikahan seperti ini?" tanya Yoshi ingin tau.


"Ada banyak cara dan itu terserah pengantinnya mau dibuat seperti apa. Kami membuat yang terbaik yang kami bisa."


Michael muncul diikuti dokter Chandra. Di belakangnya ada Dean yang mendorong kursi roda Sunil.


"Paman. Kau terlihat... luar biasa." Yoshi terpukau sejenak.


Dean tersenyum. Dia meletakkan kursi Sunil di tempat terdepan. Dean berjongkok di sebelah Sunil.


"O, Sunil, ini hari bahagiaku. Aku ingin menikahi Widuri hari ini. Tidakkah kalian mau bangun dan mengucapkan selamat serta doa untukku?"


Mata Dean berembun. Dia merasa sedih melihat keadaan O dan Sunil yang tak kunjung sadar.


"Dean, apakah sudah siap? Aku akan menjemput Widuri." tanya dokter Chandra.


"Baiklah."


Dean berdiri dan melangkah mendekati ketua kota. Dibawanya ketua kota menuju tempat upacara. Mendudukkannya di kursi yang sudah dibuat Dean secara khusus. Kursi itu lebih tinggi dari kursi umumnya. Itu akan membuat posisi ketua kota sama tinggi dengan Dean dan Widuri yang berdiri. Yoshi merapikan posisi ayahnya, lalu kembali ke bangku di sebelah Sunil.


Marianne, Niken dan Nastiti keluar kamar. Ketiganya bergabung dengan Indra dan Michael.


"Kau sudah siap?" Tanya dokter Chandra.


Widuri mengangguk. Dia menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Meski ini adalah pernikahannya yang kedua, tapi rasa gugup itu masih ada meski sedikit.


'Ini pilihanku, aku mencintainya. Dan menikah adalah cara terbaik untuk membuktikan cinta.' Widuri memantapkan hatinya.


"Papa, mama, doakan aku dari sana," bisik Widuri lirih.


"Jangan menangis. Ini hari bahagiamu."


Dokter Chandra menggenggam tangan Widuri untuk memberi dukungan.


"Terimakasih dok. Aku sudah siap." Ucap Widuri sambil tersenyum.


Keduanya berjalan bersama dari kamar. Dokter Chandra menggandeng tangan Widuri. Sampai di depan Dean, dokter Chandra menyerahkan tangan Widuri ke tangan Dean.


"Ku serahkan dia padamu Dean. Mulai sekarang, kau yang harus bertanggungjawab atas hidupnya. Harus lebih menyayangi dan mencintainya." kata dokter Chandra.


"Terimakasih dok. Akan ku ingat semua hal itu. Aku akan menjaganya." Jawab Dean tegas.

__ADS_1


Dokter Chandra kembali ke tempat duduk. Upacara sudah siap untuk dimulai. Semua menantikan dengan tak sabar.


Ketua kota masih diam dengan mata terpejam. Keningnya sedikit mengerut. Semua orang menunggunya memulai uparacara.


"Ayah? Ada apa?" tanya Yoshi. Dia berdiri dan maju ke depan.


Ketua kota menggeleng. Dia menatap Yoshi sejenak.


"Aku merasakan kehadiran makhluk asing yang kau ceritakan itu. Tapi jangan membuatnya terkejut dan lari. Mari kita tunjukkan sayap kita, agar dia tau bahwa kita temannya." ketua kota mengirim pesan transmisi pada Yoshi.


Yoshi mengangguk. Dia mundur dan berdiri di belakang bangku semua orang. Yoshi lalu menunjukkan sepasang sayapnya yang besar dan putih berkilauan ditimpa cahaya matahari.


Ketua kota juga memilih berdiri. Kursi tinggi itu disingkirkan ke belakang. Lalu ketua kota mengekspos kedua sayapnya yang berkilau keemasan.


Widuri dan Dean tak percaya melihat itu. Keduanya merasa terharu. Semua yang ada di tempat itu merasa takjub melihat keindahan sayap ketua kota dan Yoshi.


Niken, Indra dan dokter Chandra pernah melihat bangsa peri yang sangat cantik dan bersayap. Tapi bangsa peri itu tubuhnya lebih mungil. Sayapnya juga kecil. Itu membuat mereka bisa terbang dengan lincah kesana-kemari. Tapi Yoshi dan ketua benar-benar berbeda. Tubuh mereka bahkan berpendaran dibawah suraman cahaya, seakan benda transparan.


Semua terpukau dan tak dapat berkata-kata.


"Mari kita mulai upacaranya." kata ketua kota.


Semua kembali fokus pada acara. Tapi tidak Yoshi. Dia mencoba mencari keberadaan makhluk asing itu dengan kesadarannya. Mata Yoshi menutup rapat. Keningnya berkerut. Dia akhirnya menenukan pengintip misterius itu. Bersembunyi di balik pagar, sedang mengamati upacara pernikahan itu dari dahan sebuah pohon.


Yoshi menahan diri untuk tak melakukan apapun yang bisa merusak suasana yang khidmat.


"Upacara pernikahan sudah selesai. Kalian suami istri sekarang." ujar ketua kota.


Semua orang bertepuk tangan dan bersorak gembira. Dean dan Widuri menyalami ketua kota. Dean lalu memeluk dan mencium Widuri di depan semuanya.


"Yeayyy.. selamat berbahagia." teriak teman-teman mereka.


"Saatnya melempar buket." teriak Nastiti antusias.


"Ahh, andai saja kameraku masih ada. Sial sekali hilang saat tenggelam di laut."


Niken merasa sangat sedih. Foto kenangan pernikahan Angel ada di situ. Termasuk rekaman tempat-tempat yang mereka lalui selama ini.


"Bisa kau ambil foto kami dengan hape ini?" Dean mengeluarkan hape dari saku jasnya.


"Wahh, kau masih menyimpannya." seru Niken tak percaya.


"Coba dulu saja. Hape itu pernah tercebur air sekali. Tapi tadi malan sudah kucoba menyalakan, dia masih menyala." Dean menjelaskan.


"Ayo, foto bertiga dengan ketua kota dulu." Ujar Niken memberi aba-aba.


"Satu.. dua.. tigaaa.." semuanya ikut memberi aba-aba.


Saat Niken menekan tombol kamera, disaat yang sama Yoshi menghilang tanpa seorangpun menyadari, kecuali ayahnya yang telah memberi kode.


Beberapa saat kemudian Yoshi muncul di depan semua orang sambil mencengkeram seorang asing. Semuanya terpekik kaget.

__ADS_1


"Aaaahhh.."


*****


__ADS_2