
"Kenapa kau membawa adikmu?" tanya Sunil.
"Sebenarnya aku kasihan melihatnya terus sedih. kukira ... jika dipertemukan dengan papa, kesedihannya akan hilang. Tak tahunya...."
Semua orang kembali mengamati Dimas. Dan hal itu membuat remaja itu merasa sedikit kecut di hatinya.
Dokter Chandra membongkar tas belanja yang sebelumnya dibawa Dyah. Dia mengambil sesuatu, kemudian pergi. Tak butuh waktu lama, pria itu sudah kembali. Wajahnya yang kembali bersih, mengejutkan Dimas dan Dyah.
"Papa!" Dyah berlari dan memeluk papanya.
"Apa harus potong rambut dulu, baru kamu bisa mengenali papamu?" tanya Dokter Chandra pada Dimas.
Remaja itu terduduk di lantai. Dia memejamkan mata, berharap bayangan tadi segera hilang. Namun saat matanya terbuka, Dokter Chandra justru berada tepat di depannya. "Ini bukan mimpi?" lirihnya.
Selubung cahaya sudah hilang. Diganti telapak tangan Dokter Chandra menempel di dahinya. Dimas tak kuasa menolak. Dia hanya diam di tempat dengan mulut menganga serta bersuara lirih. "Papa...."
Dokter Chandra melepaskan tangannya dan tersenyum. "Apa yang kau lihat?" tanyanya.
"Saat-saat kita berdua," jawab remaja itu.
"Kenapa kau langsung percaya?" tanya kakaknya.
"Karena cuma aku dan papa yang tahu!" ujarnya. Dimas berdiri dan memeluk Dokter Chandra.
"Bagaimana bisa begini, Pa?" tanya Dimas.
"Panjang ceritanya. Mbakmu bisa menjelaskannya. Sekarang ayo kenalan sama dua teman papa ini, Robert dan Sunil," kata Dokter Chandra.
"Sunil ... aku seperti pernah dengar nama itu!" gumamnya.
"Harusnya kau membaca nama itu di daftar nama penumpang pesawat!" tebak Dokter Chandra.
"Ah, iya!" Dimas mengangguk.
"Apa kau tidak membaca namaku?" tanya Robert heran.
"Hemm, aku tidak ingat," kata Dimas apa adanya.
"Namamu terlalu pasaran, jadi gak terlalu menarik perhatian!" timpal Dyah. Adiknya mengangguk setuju.
Robert hanya bisa menghela nafas, miris. Menghadapi dua kakak beradik ini saja tidak mudah. Apa lagi menghadapi lebih banyak orang lain. Pasti jauh lebih sulit untuk mempercayai cerita mereka.
"Dyah, papa mau merapikan taman depan, biar rapi," kata Dokter Chandra.
__ADS_1
"Ceritakan dulu padaku bagaimana bisa Papa ada di sini!" tahan Dimas penasaran.
"Minta kakakmu bercerita," perintah Dokter Chandra.
Robert, Sunil, mari kita bereskan taman depan!" ajak Dokter Chandra.
"Oke!" sahut Robert dan Sunil.
Ketiganya bekerja dengan cepat, untuk membersihkan halaman depan rumah itu.
Di teras yang menghadap taman belakang yang asri, Dyah menceritakan apa yang diceritakan Dokter Chandra, Robert dan Sunil. Dyah juga mengatakan bahwa dirinya sampai dibuat terbang dulu, baru bisa mempercayai hal-hal ajaib yang dihatnya.
"Aku baru lihat selubung putih yang membuatku tak bisa apa-apa. Juga kendi terbang.... Kukira rumah ini dihuni makhluk halus!" Dimas menggelengkan kepala.
"Kubilang juga apa. Kau akan sangat menyesal kalau sampai menyakiti hati papa. Jika kita tak menerima, maka mereka bertiga akan langsung pergi menggunakan pintu teleportasi.
"Pintu teleportasi? Apakah papa melintasi ruang dan waktu dengan itu? Wahh ... hebat! Aku ingin melihat tempat itu!" Mata Dimas berbinar. Jiwa petualangan dan rasa penasarannya seketika tergelitik.
"Aku juga bilang ingin ikut. Tapi kata papa, tunggu sampai kepanikan ini reda. Dan mama tidak terlalu khawatir lagi. Nanti kita bisa ke sana dan berkenalan dengan teman-teman papa yang lain," jelas Dyah.
"Baiklah ... aku akan sabar menunggu. Sekarang kita harus membuat hati mama tenang dulu. Aku setuju!"
"Kalau begitu, mari bantu mereka di depan!" ajak Dyah.
Dua kakak beradik itu pergi menyusul ke halaman depan. Tapi tak banyak yang bisa dilakukan. Karena halaman itu sudah bersih, dan sedang ditata oleh Dokter Chandra.
"Dari mana tanaman itu?" tanya Dyah heran. Rasanya tak ada pohon seperti itu di halaman depan mereka yang seperti semak belukar itu.
"Itu dari penyimpanan Penguasa. Sepertinya dia selalu membawa beberapa bibit tanaman di kalungnya!" sahut Sunil.
"Bibit apa? Pohon itu sudah besar. Dan sepertinya sebentar lagi akan berbuah!" debat Dyah.
"Sudah berbunga!" tunjuk Dimas ke atas pohon setinggi atap teras.
Dyah membelalakkan mata. Tadi pohon itu belum sebesar itu. Dia hanya berdebat sedetik! Diperhatikannya tangan Dokter Chandra yang bercahaya diarahkan pada batang terbawah pohon itu.
"Apakah Papa sedang mempercepat pertumbuhan pohon itu?" pikirnya.
"Sudah berbuah!" seru Dimas terkejut.
"Dok, sudah cukup! Nanti semua orang di sini terkejut melihatnya!" Sunil mengingatkan lewat transmisi suara.
Dokter Chandra akhirnya berhenti. Sekejap dia lupa bahwa ini bumi, bukan dunia kecilnya. "Beberapa hari lagi, akan matang!" ujarnya puas.
__ADS_1
"Nduk, barang-barang yang papa taruh di garasi, lebih baik minta diangkut oleh tukang sampah saja, biar rumah ini kembali rapi," pesannya.
"Iya, Pa. Nanti biar Dimas yang cari tukang sampah!" sahut Dyah.
"Jadi bagaimana sekarang, Dok?" tanya Sunil saat mereka beristirahat.
"Melihat anak-anak yang sudah mempercayai kita, kurasa rumah ini bisa kita jadikan tempat menaruh pintu teleportasi!" ujar Dokter Chandra.
"Jadi basecamp!" Sunil setuju.
"Bagus! Nanti kita bisa datang dan pergi, sambil menunggu waktu yang tepat, untuk muncul di hadapan publik!" Robert setuju.
"Iya, taruh pintu itu di sini saja. Dengan begitu, kita bisa sering bertemu!" ujar Dyah.
"Ini ponsel lama Dyah. Sudah diisi kartu dan pulsa. Papa bawa saja. Jika pulang ke sini, hubungi Dyah. Nanti kami ke sini, jenguk Papa," ujarnya sambil menyerahkan sebuah ponsel.
"Akhirnya, teman-teman kita yang lain bisa hubungi keluarga mereka lagi." Sunil sudah membayangkan bisa bertemu dengan putra dan putrinya lagi.
"Sudah waktunya kita kembali dan mengabarkan hal ini pada yang lain," kata Dokter Chandra.
"Baik!" sahut Sunil dan Robert.
"Pintu teleportasi ada di kamar ini. Kalian tidak bisa mendekat, karena papa akan memasang pelindung di kamar. Tapi kalian berdua, bisa melihat kami pergi. Setelah itu, kunci kamar ini!" Dokter Chandra mengingatkan.
"Iya, Pa!" Dyah langsung memasukkan kunci kamar ke tempatnya, dan mencoba. Kuncinya masih bekerja.
"Bagus! Ayo kita pergi!"
Dimas dan Dyah memeluk papanya, seakan tak ingin ditinggalkan. "Nanti papa kembali lagi, kok. Kami harus mengabarkan berita ini dulu, pada yang lain. Jadi pelan-pelan yang lain bisa bertemu keluarganya. Biar makin banyak keluarga yang berhenti menangis!" bujuk Dokter Chandra.
Dyah dan Dimas mengangguk. Pelukan mereka merenggang. "Cepat kembali ya, Pa!" senyum Dimas. Dokter Chandra mencium puncak kepala dua anaknya sebelum meninggalkan mereka di depan pintu.
Sebuah selubung cahaya putih berkilauan, melingkupi seluruh ruang kamar. Cahaya itu melindungi ruangan dari penerobos yang ingin masuk.
Dyah dan Dimas melihat dengan mata sendiri, bagaimana papanya dan dua orang lain, menghilang di dalam pintu bercahaya yang mereka sebut pintu teleportasi.
"Ajaib!" ujar Dimas, masih dengan mata melebar.
Dyah segera mengunci pintu kamar itu. Lalu membersihkan dapur dan ruang makan.
"Ayo kita bereskan barang-barang yang ada di garasi. Setelah itu kita pulang. Nanti Mama nyariin!" kata Dyah sambil menyeret adiknya untuk membantu pekerjaan.
********
__ADS_1