
Setelah pintu teleportasi itu bergeser, di belakangnya terlihat ada lorong menuju ke tempat lain. Sambil merentangkan tangannya yang bercahaya ke kiri dan kanan, bola cahaya berisi tiga orang itu, perlahan melayang masuk. Robert dan Indra ikut memeriksa bagian atas dan belakang, khawatir akan adanya jebakan dan serangan tiba-tiba yang lainnya.
Lorong itu berbelok ke kiri dan ke kanan sekali. Setelah itu mereka bisa melihat ada cahaya terang dari depan lorong.
"Apakah itu pintu keluar menembus bukit?" gumam Indra heran.
Dokter Chandra tak mengomentari. Dibawanya bola cahaya masuk makin dalam, untuk mengetahui di mana akhir lorong itu.
Dan mereka terkejut melihat apa yang tersaji di depan sana.
"Tanaman obatku!" seru Penguasa dengan suara tercekat.
Ya, di depan mereka, di dalam ruangan gua yang luas dan tinggi penuh cahaya. Ada hamparan berbagai jenis tanaman obat, yang Indra dan Robert tak mengetahui nama dan fungsinya.
Dokter Chandra membawa bola cahaya masuk makin dalam ke ruang gua itu. Dia tak percaya adiknya mendisain ruang gua begitu rupa, agar dapat menyembunyikan tanaman obatnya.
"Dia tak sepenuhnya gila. Dia memindahkan setiap jenisnya di sini. Dia merancang pencahayaan dengan banyak lubang di langit-langit." Dokter Chandra merasa lega.
"Dan air yang masuk ini, harusnya berasal dari aliran air terjun bagian atas. Dialirkan ke dalam dengan saluran berkelok-kelok. Lalu berakhir di salah satu lubang di bawah, dekat air terjun juga," tambah Robert.
"Triknya membuat kita tidak langsung menyadari bahwa ada gua di belakang dinding air terjun. Sangat cerdas!" komentar Indra.
"Pertanyaannya, untuk apa dia bersusah payah menyembunyikan tanaman obat di sini?" tanya Robert.
"Untuk menyakiti Penguasa. Karena sangat tau kesukaan Penguasa pada tanaman obat, jadi disembunyikan dan dipasangi jebakan di mana-mana!" jawab Indra cepat.
"Bukankah akan lebih menghancurkan hati, jika tanaman itu dimusnahkan saja tanpa sisa?" bantah Robert.
"Lalu bagaimana penjelasanmu tentang semua jebakan yang ada?" debat Indra.
"Di saat dunia kita runtuh, pastinya orang yang mengambil keuntungan pribadi. Pernahkah terpikir, bahwa mungkin ada yang datang ke sini dan memanen semua tanaman obat sembarangan? Lalu Adik Penguasa datang dan menyadari bahwa tempat ini milik kakaknya. Dia menjaganya, menyembunyikan sisa yang bisa diselamatkannya. Lalu memasang jebakan untuk para perampok yang mungkin datang."
Robert membeberkan argumennya. Dan itu sangat berbeda dengan pendapat Penguasa yang merasa adiknya sangat jahat dan gila.
"Kita bahkan belum menemukan jasadnya!" tambah Robert lagi. "Lebih baik kita berpencar, agar dapat mencari di setiap sudut."
"Bagaimana kalau ada jebakan lagi?" lontar Indra cemas.
"Bagaimana, Penguasa?" Robert bertanya pada Penguasa, alih-alih berdebat dengan Indra.
"Mari berpencar dan memeriksa." Bola cahaya itu menghilang. "Berhati-hatilah," pesannya.
Tiga orang itu berkeliling gua, untuk mencari keberadaan adik Penguasa. Sudah memutari hingga dua kali, mereka tak menemukannya juga.
"Kau juga tak menemukannya?" tanya Robert pada Indra. Indra menggeleng.
"Dimana Dokter Chandra?" Indra mencari-cari di sekitar, tapi tak menemukannya. Robert juga tak melihat.
"Penguasa, Anda dimana?" panggil Robert lewat transmisi suara.
"Aku di sini!"
__ADS_1
Robert dan Indra mencari asal suara. "Dari sana!" tunjuk Indra.
Keduanya terbang menuju tempat itu. "Penguasa!" panggil Indra lagi.
"Aku di sini!"
Dokter Chandra menjulurkan kepalanya, dari sebuah sekat batu. Tak ada yang menduga, bahwa ada ruangan kecil di situ. Kedua orang itu mendekat untuk melihat.
"Apa yang Anda temukan di situ?" tanya Robert.
"Catatan adikku," jawab dokter Chandra pelan.
"Apakah jasadnya ada di sana?" tanya Indra. Dokter Chandra menggeleng.
"Ayo kita cari lagi,"
Robert menarik Indra pergi. Indra kadang tidak peka, kapan mesti bicara, kapan diam. Akhirnya Indra dibawa keluar ruangan.
"Kenapa mencari di sini?" tanya Indra.
"Bisakah kau diam? Jika ingin bicara, lihat dulu air muka orang lain!" tegur Robert ketus.
Indra terdiam. "Aku salah bicara ya?" tanyanya penuh sesal.
Robert mengabaikan Indra, dan mulai terbang mencari. Karena bagian bawah gua telah diperiksa seluruhnya, tinggal bagian langit-langit yang harus dicek kembali.
Dengan matanya yang bercahaya oranye kemerahan, dia memeriksa setiap sudut. Sesekali tampak nyala api di telapak tangannya, menerangi celah dinding yang gelap.
Indra ikut membantu memeriksa di bagian lainnya. Tapi, hingga cukup lama, tak ada jejak jasad adiknya Penguasa.
"Mungkin saja. Kita tunggu Penguasa selesai membaca pesan dari adiknya di dalam sana.
"Aku mau lihat tanaman obat di dalam," ujar Indra sembari memasuki lorong. Robert pun akhirnya mengikuti dari belakang.
"Apa kau tau fungsi-fungsi tanaman obat ini?" tanya Indra. Robert menggeleng. Dia buta sama sekali tentang tanaman obat. Jadi mereka hanya melihat berkeliling seluruh tanaman yang diatur dengan rapi.
"Kalian masih di sini?"
Robert dan Indra menoleh, setelah mendengar suara dokter Chandra.
"Kami sedang mengagumi penataan tanaman di sini. Kebun herbal ini direncanakan dengan matang." Robert mengagumi kebun di dalam gua itu.
Dokter Chandra tak mengatakan apapun. Dia terbang ke sana kemari memetik beberapa jenis tanaman obat. Lama kelamaan terkumpul cukup banyak juga.
"Katakan pada kami, apa yang harus dipetik. Kami akan membantu memanennya." Indra menawarkan diri.
"Tidak perlu. Ini sudah cukup. Ayo keluar. Sunil butuh obat," ujar dokter Chandra.
Ketiganya keluar dari gua, menuju rumah panggung. Dokter Chandra membawa beberapa wadah gerabah dari dapur. Lalu dia menuju rumah kecil yang baru selesai dibangun.
"Aku mau membuat obat dulu. Jangan diganggu!" pesannya.
__ADS_1
"Oh, baiklah!" sahut Robert.
Robert dan Indra saling berpandangan. "Penguasa juga seorang alchemist ternyata. Tak heran dia memiliki banyak koleksi tanaman obat," komentar Indra.
"Paduan ilmu kedokteran dan alchemist ... sangat cocok 'kan?" Robert tersenyum lebar.
"Yah, sekarang kita takkan kebingungan lagi, meskipun ada yang sakit." Indra mengangguk puas.
"Hei, kalian sudah kembali?" Terdengar sapaan Niken dari arah tangga.
"Bagaimana dengan Dean?" tanya Robert. Lukanya sudah lebih baik. Tinggal Sunil yang...."
"Jangan khawatir," sela Indra. Penguasa sedang membuat obat untuk Indra," ujarnya tersenyum.
"Benarkah? Itu bagus! Tanpa Sunil, terasa ada yang kurang di sini." Wajah Niken kembali cerah.
"Yah ... itu karena akhirnya kami berhasil menemukan kebun herbal tersembunyi di dalam gua itu," jelas Indra.
"Bagaimana dengan jebakan yang mengenai Dean?" suara Widuri tiba-tiba terdengar.
"Sudah kami bereskan semua. Gua itu sudah aman," terang Robert.
"Baguslah kalau begitu."
Widuri mengambil tempat buah dan membawanya ke meja makan. Dia makan buah dengan nikmatnya.
"Aku mau lihat Sunil dulu."
Robert menaiki anak tangga menuju ke atas. Dilihatnya Dean duduk di sebelah Sunil, sambil memejamkan mata.
"Bagaimana kabar kalian?" sapa Robert dari jauh, agar tidak mengagetkan dua temannya.
"Aku sudah baikan. Mungkin besok, luka ini akan menutup sepenuhnya," sahut Dean.
"Syukurlah." Robert mengamati Sunil yang seperti tertidur.
"Di mana Indra dan Dokter Chandra?"
"Indra istirahat di bawah. Dokter Chandra sedang membuat obat untuk Sunil," jawab Robert.
"Membuat obat?" Dean tak percaya.
"Yah, kami menemukan kebun obat Penguasa di dalam gua! Jadi sekarang dia akan meramu obat untuk Sunil."
"Semoga berhasil!" timpal Dean.
Setelah Dean mengucapkan kalimat itu, seberkas cahaya putih menyebar dari pondok Penguasa, ke seluruh tempat itu.
"Penguasa!" seru Robert khawatir.
"Aku mencium aroma herba yang kuat!" sela Dean.
__ADS_1
Keduanya berlari ke dekat jendela, untuk melihat apa yang terjadi di pondok kecil di depan sana.
*******