
"Aku harus pisahkan dulu pintu menuju pulau tahanan itu!" Naga tua itu memejamkan matanya sebentar.
"Ini dia!" Diambilnya pintu yang dipilihnya, dan diletakkan menyandar di dinding gua bagian bawah.
Robert, Sunil dan Dokter Chandra berjalan ke sana. "Bagaimana kau bisa yakin ini pintunya? Apakah kau hapal koordinat tempat itu?" tanya Dokter Chandra.
"Aku menggali ingatanku saat aku di sana."
Kang Tua menempelkan jarinya ke dahi Robert. Robert terkejut, itu sama dengan cara komunikasi Kang, temannya.
Setelah jari itu diangkat, Robert memperhatikan pintu itu. "Bentuk pintu ini sama dengan yang ada di ingatanmu!" Angguknya heran.
Robert menengadah ke langit-langit gua. Dia baru menyadari, bahwa tidak ada pintu yang persis sama! Ternyata begitu cara naga tua ini mengingat dan membedakan sesuatu.
"Tapi, bagaimana jika posisi pintu itu berubah? Mungkin dipindahkan orang?" Sunil mengetes keakuratan cara Sang Naga.
"Tinggal lihat saja!" ujar Kang. Dia merubah tubuhnya menjadi tubuh manusia. Kemudian memasukkan kepalanya ke dalam pintu hingga tenggelam dalam cahaya, namun tubuhnya masih berdiri di luar.
"Hei! Apa yang kau lakukan!" seru tiga orang itu terkejut.
Tak lama, kepala Kang Tua keluar lagi. Dengan yakin dia bilang, "Pulau yang sama! Meskipun banyak perubahan, tapi itu pulau yang sama. Aku mengenalinya!"
"Apa yang kau lihat?" tanya Sunil lagi.
"Kurungan cahaya yang kubuat, sebuah kota dengan pelabuhan yang ramai, dan ada kompleks rumah unik di pinggir tebing," ujarnya.
Ketiganya terpana. "Rumah di tebing itu dulu rumah kami," ujar Sunil.
"Benarkah?" Kang Tua menatap heran. "Kenapa kalian tidak tinggal di kota?" tanyanya.
"Kami adalah pengembara. Bukan penduduk asli. Tempat itu hanya satu dari banyak persinggahan yang kami lalui," sambung Robert. Kang Tua mengangguk mengerti.
"Bagaimana kalau ... ternyata kau bisa melihat jelas ke sana itu adalah karena keterikatanmu dengan Kang teman kami?" Dokter Chandra mengatakan hipotesa yang berkelebat di pikirannya.
"Jadi coba buktikan apakah kau juga bisa melihat sesuatu di dalam sini!" tantang Dokter Chandra.
Kang tua langsung mengangguk setuju. Tampaknya itu bukan perkara sulit untuk dibuktikan. Dia sangat percaya diri dengan kemampuannya. Didekatinya pintu yang mengarah ke dunia kecil. Dimasukkannya kepala hingga tenggelam di dalam cahaya pintu. Tak sampai lima menit, dia sudah menarik lagi kepalanya.
"Apa yang kau lihat?" tanya Dokter Chandra tak sabar.
"Bukit batu dengan gazebo di atasnya. Rumah kecil warna merah muda dan dua rumah lain dekat air terjun. Juga rumah pohon dekat padang rumput!" jawabnya dengan rinci.
"Kau benar! Bagaimana kau melakukannya?" tanya ketiganya heran.
__ADS_1
"Bukankah kalian juga melakukan hal yang sama? Memeriksa tujuan sebelum pergi ke sana adalah hal yang penting. Jadi tidak akan salah tempat!" jawabnya santai.
"Kami tidak bisa seperti itu. Kami pergi dengan mengandalkan titik koordinat dan keberuntungan. Jika koordinat salah, meski berbeda sedikit saja, maka tujuannya jadi berubah. Keadaan di situ pun belum tentu bagus. Dan itu baru diketahui setelah kami memasukinya!" keluh Sunil.
"Kalian punya cukup keberanian untuk melakukannya. Hebat!" puji Kang Tua.
"Ahhh ... aku ingat, Kang memiliki mata ajaib. Apa kau juga memiliki kemampuan mata yang sama?" tanya Robert memastikan.
"Tentu saja. Setiap naga memiliki mata khusus yang bahkan bisa melihat ke dalam hatimu!" jawabnya tanpa ada nada sombong sedikitpun.
"Ohh, pantas saja." ujar Sunil iri.
"Kemampuanmu itu akan memudahkan perjalanan kita," kata Dokter Chandra.
"Bagus! Sekarang aku mau menyimpan dulu pintu-pintu itu di tempat aman dan menguncinya, agar tempat ini terhindar dari hal-hal buruk."
Kang menyelubungi setiap pintu dengan selubung hitam. Ada lebih dari seratus pintu yang tergantung di langit-langit gua. Dan sekarang, pemandangan di atas, mirip dengan kumpulan lampion berwarna hitam pekat.
"Selesai!" desahnya lega. Selama ini dia tak menyadari bahwa koleksinya mungkin bisa membahayakan suatu hari nanti.
"Bagus. Sekarang, kita bisa melanjutkan misi kita. Setelah itu, kita bisa kembali ke sini sebelum mengunjungi Kang di Kota Pelabuhan!" Dokter Chandra menjelaskan rencana mereka.
"Setuju. Kau perencana yang baik. Apakah kau pemimpin mereka?" tanya Kang Tua pada Dokter Chandra.
"Benarkah?" Mata Kang Tua melebar tak percaya.
"Dunia kita berjauhan. Kami berada di garis bintang ke sebelas. Tapi nama besarmu terdengar hingga ke tempat kami! Aku beruntung bisa bertemu dengan kalian. Cucuku juga beruntung mengenal kalian, bangsa yang terkenal sangat baik dan cinta damai," ujarnya panjang lebar, seperti pidato penyambutan.
"Kau makhluk kuno dan membosankan!" gerutu Robert. Mulutnya sedikit mengerucut saat mengatakan itu. Dan Kang Tua terkekeh geli melihatnya.
"Bisakah kita mulai perjalanan ini?" tanya Dokter Chandra.
"Ya!" jawab Sunil dan Robert serempak. Sementara Kang Tua hanya manggut-manggut saja.
"Mana pintunya? Biar kulihat dulu, ada bahaya atau tidak!" ujarnya.
"Kami tak punya pintunya. Koordinatnya dikunci dari pintu teleportasi yang ada di bukit tadi," jelas Dokter Chandra.
"Jadi bagaimana mencapainya?" tanya Kang Tua bingung.
"Ya melewati pintu ini hingga ke batas percabangan, baru berbelok dan melanjutkan perjalanan!" Jelas Dokter Chandra.
"Baiklah ... jika memang begini cara kalian, mari lakukan!" Kang Tua mengangguk mengerti.
__ADS_1
Dokter Chandra menyelubungi Robert, Sunil dan Kang Tua dengan cahaya putihnya yang berkilau cemerlang. Perlahan keempat orang itu melayang masuk ke pintu teleportasi.
Jalur teleportasi ini masih seperti sebelumnya. Dorongannya kuat. Hingga tak butuh waktu lama, bola cahaya itu telah tiba di persimpangan jalan lagi. Dokter Chandra memilih jalur ke kiri. Dan sekarang tak ada lagi energi kacau di lorong itu. Bola cahaya mereka melayang dengan stabil.
"Dok, setelah kita membawa pintu di sana, apakah kita langsung pergi ke tempat Kang?" tanya Sunil.
"Jika kita gunakan lagi jalur ini, pasti sulit. Lebih aman kita menyimpan pintu teleportasi itu dan menggunakan pintu cadangan yang mengarah langsung ke dunia kecil," analisa Dokter Chandra.
"Selain itu, karena kita akan mengunjungi Kota Pelabuhan, lebih baik beri tahu Dean. Mungkin dia ingin ikut untuk bertemu Yabie dan Yoshi keponakannya," ujar Dokter Chandra bijak.
"Anda benar. Lebih baik begitu!" Sunil setuju.
"Sudah terlihat cahaya di depan sana!" Kang Tua mengingatkan.
Benar saja, cahaya yang tadinya hanya sebuah titik kecil, makin lama makin besar dan sangat menyilaukan. Semuanya bersiap untuk keluar. Tarikan dari lubang itu semakin kuat, menarik bola cahaya itu keluar dari jalur teleportasi.
"Aaaahhh...."
Bola cahaya itu melayang di udara. Kang menahannya agar tidak sampai jatuh ke tempat yang tidak diinginkan.
Setelah semuanya pulih, Dokter Chandra kembali mempertahankan bola cahaya di udara. Mereka melihat sekeliling tempat itu.
"Gua lagi ... gua lagi," komentar Sunil.
"Tapi gua ini berbeda. Tempat ini tertutup rapat. hanya cahaya pintu ini yang jadi penerangnya!" bantah Robert.
"Bukankah ini mirip dengan pintu teleportasi yang disimpannya di Rusia! Dia sengaja menyembunyikan pintu ini agar tak ditemukan oleh penjahat itu!" jelas Dokter Chandra. Sunil dan Robert mengangguk.
"Sekarang mau bagaimana? Mau langsung kembali, atau melihat keadaan sekitar dulu?" tanya Kang Tua.
"Bukankah itu bisa membahayakan. Misi kita adalah membawa kembali pintu teleportasi ini untuk menjadi penghubung dengan dunia di mana Ivy meninggalkan anak-anak itu!" Robert mengingatkan.
Kang Tua melihat berkeliling gua. "Kurasa, kita berada di perut gunung. Tak ada seorangpun di sekitar. Dan aku melihat ada lorong gua lain di sebelah sana!" tunjuknya.
"Ya, seperti di bukit di Rusia itu, dia juga membuat jalur tipuan, agar pintu teleportasi ini aman!" simpul Sunil.
"Jika tak tertarik keluar, lebih baik kita segera kembali. Aku ingin segera bertemu dengan cucuku," desak Kang Tua.
"Mari kita lihat sebentar. Mungkin saja ada tanaman baru yang bisa kita kumpulkan untuk ditanam di dunia kecil." Dokter Chandra memutuskan.
"Oke!" Sunil dan Robert akhirnya mengangguk setuju. Sebelum pergi, pintu cahaya itu disimpan Robert. Dan berkat mata ajaib Kang Tua, mereka bisa menemukan pintu keluar dengan mudah.
*********
__ADS_1