
"Hiaaattt!"
Pria itu melompat menerjang Sunil. Kali ini tindakannya lebih terarah.
Takkk!
Pertarungan kali ini lebih seru. Pria itu terlihat jelas sangat mahir berpedang. Sunilpun larut dalam keseriusan pertarungan mereka. Dia harus menghargai seorang ahli, dengan menanggapinya secara serius.
Berkali-kali pedang itu hampir menyambar tubuh Sunil. Tapi dengan kemampuan terbangnya, Sunil bisa mengelak dengan mudah. Terkadang melompat tinggi dan jungkir balik, sambil menangkis sabetan pedang dengan pukulan toya yang bergetar. Gerakan-gerakan yang ditunjukkan Sunil sangat indah. Dia seperti menari dan terbang ke sana-sini , bahkan menjejak bilah pedang untuk tumpuan melompat.
"Woaaaa... kau lihat itu. Tubuhnya seringan kapas, bisa menjejak bilah pedang. Indah sekali."
"Ya... ini pertarungan yang hebat dan berseni. Dia seorang yang ahli."
Berbagai komentar keluar tiap kali Sunil mengelak, melompat atau bahkan saat menjejak lantai setelah salto di udara beberapa kali.
Sebenarnya pria itupun bukan tanpa kesulitan dalam menghadapi Sunil. Setiap kali senjatanya hampir menyentuh tubuh Sunil, setiap kali pula pedangnya ditangkis dan meleset. Dan toya itu memberi efek getaran dan setruman yang merambat dari pedang hingga ke tangannya.
Dia merasa tangannya sakit dan panas. Rasa kebas dan kesemutan itu membuat dia hampir tak kuasa menggenggam pedang dengan benar. Tapi dia terus mendesak Sunil. Pertarungan ini harus diselesaikannya secepat mungkin. Atau dia akan kalah dengan memalukan.
Sunil tersenyum melihat pria itu berkali-kali mengibaskan tangannya yang sakit, lalu kembali menggenggam pedang dan menyerangnya dengan lebih ganas lagi.
'Pria yang gigih. Andai saja dia berada di jalan yang benar' batin Sunil, sedikit kasihan.
"Hiaatttt!"
Pria itu kembali melompat menyerang Sunil yang siap menyambut mata pedang yang sudah somplak di sana-sini akibat berbenturan dengan toya Sunil.
"Mata pedangnya sudah ompong seperti gigi orang tua!" komentar salah satu pengawal Jason.
"Sudah hampir satu jam mereka bertarung. Pertarungan yang seimbang. Menurutmu siapa yang akan kalah?"
Para kru kapal ikut berdebat.
"Apa kau mau bertaruh?" balas yang lain.
"Baik. Aku bertaruh, pria dengan pedang itu akan menang. Organisasinya sangat terkenal!" ujarnya sambil mengeluarkan uang coinnya.
"Aku pilih pria yang bertongkat itu." Kru lain mengeluarkan uang mereka juga.
"Betul katamu. Dia terlihat seperti bermain-main saja. Kalau dia mau mengalahkan pria berpedang, dia tinggal memukulnya saja, pasti langsung beres." Orang itu mengeluarkan coinnya sambil memberi argumen.
"Belum tentu. Apa kau tak lihat dia berulang kali terdesak?" bantah yang lain.
Taruhan mereka makin banyak terkumpul.
Sementara di tengah dek, pria itu sudah mencapai batasannya. Sunil menatapnya sambil tersenyum.
"Terima kasih sudah membuatku berkeringat," ujar Sunil sopan.
"Sudah cukup bermainnya O! Para wanita sudah memanggil. Perutku sudah lapar. Ini waktunya makan siang!" teriak Alan dari arah kabin.
__ADS_1
"Kau dengar? Aku sudah harus makan siang. Jika telat, para wanita itu tak akan membiarkanku makan hingga malam nanti." Sunil masih menyunggingkan senyumannya.
Hemmppphhh!
Emosi pria itu memuncak. Bagaimana tidak. Dia bertarung habis-habisan, dan ternyata lawannya hanya menganggap ini bermain? Benar-benar menghina!
Digenggamnya pedang dengan erat. Diacungkan ke depan. Tenaganya sudah hampir habis. Dia harus mengakhiri ini dalam satu kali serangan.
"Hiaatttt...."
Takkk!
Sunil menangkis datangnya pedang dan kali ini dia membalas menyerang pria itu dengan tusukan ujung Toya yang bergetar hebat.
Pria itu mengaduh. Tubuhnya berputar di udara, sebelum kembali menerima pukulan telak di punggungnya. Menuat tubuhnya terjungkal ke dekat temannya yang terbaring.
Matanya memburam. Dia baru ingat. Selama pertarungan mereka, Sunil tidak pernah sekalipun membalas menyerangnya. Dia hanya menangkis semua serangan pedang yang datang.
'Apakah benar dia hanya bermain-main?' pikirnya tak rela.
Ada rasa panas hebat di punggungnya.
'Joe benar, pukulan tangan pria itu sangat berbahaya' batinnya.
Dilihatnya temannya yang tak jauh darinya. Temannya itu tak lagi bergerak. ada darah keluar dari mulutnya.
Dia merasa lelah dan ingin memejamkan mata sejenak. Rasa terbakar di punggung itu tak dirasakannya lagi. Sebelum benar-benar menutup mata, dia memuntahkan seteguk darah segar. Lalu terpejam.
"Dia mati?" tanya para kru. Mereka ribut, karena pemenang taruhan belum pasti.
Sunil sudah meninggalkan dek menuju kabin.
"Maaf, membuat kalian menunggu. Ayo kita makan. Aku sudah kelaparan," ujar Sunil santai.
"Gayamu itu!" balas Alan sebal.
"Apa bagusnya buang-buang waktu begitu?" sungutnya tak senang.
Wakil kapten menggeleng dari arah dek. Dia telah memeriksa 3 pria itu. Ketiganya telah tewas.
"Horeee... aku menang... aku menang.... Mana taruhannya!" teriak para kru gembira.
Kelompok Jason tercengang. Mereka menelan ludah. Terutama Jason, yang sudah berani bersikap lancang. Dia merasa beruntung tidak dibunuh saat itu. Mereka orang-orang yang mengerikan!
Kapten menggelengkan kepalanya. Dan menyuruh para kru membuang 3 jasad itu ke laut lepas. Mereka harus membersihkan ruangan kabin tengah itu dan mempersiapkannya untuk penumpang baru yang mungkin naik dari kota Levin, besok.
Terdengar suara tawa sesekali dari arah kabin Dean. Pertunjukan tadi telah merubah pandangan seluruh kru terhadap kelompoknya.
Orang yang terlihat biasa, bukan berarti tidak punya kemampuan. Mereka hanya tak ingin bersikap sombong saja.
*
__ADS_1
*
Pagi hari, saat Dean memberi makan Cloudy, kapten memutuskan, akan lebih aman jika Cloudy berada di kabin Dean, saja.
Kericuhan kemarin bernula dari kedatangan pria bau itu ke kabin kapten. Dia meminta uang sebelum turun di kota Levin.
Lalu dia melihat Cloudy di kandang, dan ingin mengambilnya. Saat itulah dia tau tentang kelompok Dean. Dan mulai membuat siasat licik untuk menjebak Dean saat turun di kota Levin.
Dean senang sekali dengan keputusan itu. Dibawanya Cloudy keluar dari kabin Kapten Smith. Dan Cloudy menggeram manja dan senang, karena bisa berada di tempat terbuka dan luas.
"Aahhh...!"
Salah satu pengawal Jason terpekik, melihat seekor macan melintas di dek.
Cloudy menoleh, membalasnya dengan menggeram. Lalu menyeringai, menunjukkan gigi-gigi tajamnya.
Pria itu mundur menempel pintu toilet. Mukanya pucat.
"Ayo Cloudy, jangan nakal," panggil Dean.
Cloudy melangkah lebih cepat menyusul Dean. Dia menempelkan kepalanya dengan manja ke kaki Dean.
"Mereka bahkan punya peliharaan seperti itu?" gumamnya gugup.
Lalu dengan bersemangat, berlari cepat ke kabin untuk menyampaikan berita terbaru. Dia yakin, teman-temannya belum mengetahui hal ini.
Saat matahari sudah di puncak kepala. Kapal itu akhirnya merapat di pelabuhan.
Aktifitas perdagangan dimulai. Kapten sangat sibuk dengan bisnisnya. Para kru kini sibuk menjaga dan mengatur para petugas pengangkut barang.
Tim Jason segera turun. Mereka harus membeli bekal untuk perjalanan berikutnya. Masih ada satu kota pelabuhan lagi sebelum tiba di kota tujuan mereka.
Di kota Levin, mereka akan mencoba peruntungan dengan bisnis anggur yang didapat dari Duke. Maka mulailah kelompok itu memasuki kota.
Sementara tim Dean, sebenarnya tak membutuhkan apapun lagi. Jadi, turun dari kapal hanyalah untuk hiburan dan melihat keadaan saja.
Dean membuat pengaturan. Cloudy tak boleh dibawa turun. Biarkan dia di dalam kabin saja, selama kapal bersandar.
Jadi tim harus dibagi 2. Yang ingin turun, harus ada Sunil atau Alan dalam kelompok. Yang tinggal di kapal juga harus ada yang punya kemampuan menjaga.
Sunil dan Alan menerima pengaturan itu, demi kebaikan semua orang.
"Sekarang, aku ingin turun lebih dulu, dengan Widuri. Alan, kau bisa menemaniku," kata Dean.
"Apa aku bisa ikut turun? Rasanya sangat membosankan terkurung di dalam kabin berhari-hari," ujar Niken.
"Baiklah. Apa kau ingin ikut juga, Indra?" tanya Dean.
"Tentu saja," jawab Indra senang.
"Kita nikmati makan siang dulu sebelum turun. Karena kita tak punya uang untuk berbelanja di sana," putus Dean.
__ADS_1
Setelah itu mereka turun dari kapal dengan santai. Melihat suasana pelabuhan yang sangat ramai.
******