
Widuri kembali dan memberikan sebutir parasetamol pada Alan yang sedang mengisi cangkir batu dengan tetesan air dari tembok. Dean masih terbaring dan tampak tertidur lagi.
"Dean, minum obat ini dulu. Mungkin bisa meringankan sakit kepalamu."
Alan membantu Dean duduk dan mengangsurkan sebutir obat ke mulut Dean. Tapi Dean masih mengatupkan mulutnya.
"Cuma parasetamol Dean. Minumlah," bujuk Alan lagi.
Dean meminum obat itu lalu mengambil cangkir dan meminumnya hingga habis. Dia tampak masih sedikit bingung.
"Apa kau baik-baik saja? Kalau tidak enak badan, pekerjaan di pondok bisa ditunda besok. Istirahatlah." Alan bicara dengan lembut.
"Baiknya kita sarapan dulu biar tubuhmu segera pulih. Nastiti sedang menyiapkannya. Ayo, ku bantu kau." Alan memapah Dean berjalan keluar ruangan.
"Ruangan apa itu?" tanya Dean menoleh ke arah ruang kosong di kanannya.
"Entah, kami belum memeriksanya. Apa kau tau sesuatu sebelum pingsan?" tanya Alan.
Dean menggeleng. Tapi tanpa disadarinya, tangannya mengibas ke arah pintu itu. Dan pintunya langsung menutup seketika. Tak hanya Alan dan Widuri, Dean juga tak kalah terkejut. Dilihatnya tangannya dengan seksama. Tak ada yang aneh disitu. Bagaimana bisa pintu itu menutup setelah dia mengibaskan tangan? Dean mencoba mengibaskan tangan lagi, tapi tak ada yang terjadi. Pintu itu tak mau terbuka lagi.
Alan juga heran. 'Apakah kibasan tangan itu hanya untuk menutup pintu? Lalu bagaimana cara membukanya? Kami bahkan belum memeriksa ke dalam' batinnya. Tapi ketiganya kembali berjalan keluar.
Di ruang besar gua itu, Dean lebih banyak diam dan berpikir. Dia merasa ada yang aneh, tapi tak tau apanya yang aneh.
Yang lain juga tidak berkomentar banyak. Setelah Sunil kembali, dia menceritakan apa yang terjadi pada Dewi dan Nastiti. Itu membuat kedua wanita itu memilih untuk tidak banyak bicara. Sarapan pagi itu berlangsung dengan canggung.
"Hei, jika sudah selesai sarapan, ayo kita melihat apa yang bisa dilakukan di pondok." Alan memecahkan kebisuan yang terasa mengerikan pagi ini.
"Ayo. Aku mau memeriksa kebun sayurku," sahut Dewi cepat. Dia ingin cepat menyingkir dari situ.
"Sunil, kita coba buat pintu pondok. Bawa paku yang kita siapkan tadi malam." Alan mengambil alih komando pagi ini agar semua tetap berjalan seperti biasa.
"Ya, nanti ku bantu. Tapi aku harus membawa beberapa batu untuk mencairkan biji besi dulu," jawab Sunil.
"Oke, mari kita bawa." Alan mengikuti Sunil keluar.
"Widuri, bantu aku bawa cetakan-cetakan paku itu. Kita harus membuat beberapa lagi," Nastiti bangkit dan menyiapkan keperluannya dibantu Widuri.
Dean memandang semua temannya yang kembali beraktifitas. Dia mengikuti Alan dan Sunil, membawa bebatuan yang sudah dikumpulkan di mulut gua. Mereka berjalan menembus hutan, menuju padang rumput dimana para domba sudah lebih dulu menikmati rumput segar di sana.
"Pagi ini, dia seperti Dean, tapi lebih pendiam," bisik Nastiti pada Widuri yang berjalan di sampingnya.
"Iya. Dia tampak seperti Dean yang linglung. Padahal biasanya suka memancing emosi." Widuri menanggapi serius tapi justru membuat Nastiti tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Hahaha.. Jadi, apa kau senang Dean yang linglung begitu atau yang suka bikin emosi?" goda Nastiti.
"Kau ini, pagi-pagi sudah bikin seteru." Widuri mengejar Nastiti yang lari di depannya sambil terus tertawa.
"Hah, syukurlah. Pagi ini kembali normal," gumam Sunil yang melihat canda tawa kedua temannya.
Ketiga pria itu masih bolak balik mengangkat persediaan batu bara dan biji besi. Menumpuknya di dekat tungku dan membiarkan Sunil dan Nastiti mengerjakannya. Widuri dan Dewi berjalan melewati kawanan domba menuju ladang gandum yang belum juga selesai dipanen.
"Kalian kemana?" tanya Dean.
"Mengambil gandum," jawab Dewi.
Dean mengangguk dan mengikuti dari belakang. Alan juga akhirnya menyusul ketiganya. Tak lama mereka sampai dan melihat cukup banyak batang gandum yang rebah sebab terlalu lama tidak dipanen.
"Ini harus dipanen semua, sebelum busuk," kata Alan melihat keadaan ladang gandum yang menyedihkan.
"Ayo bekerja," kata Widuri.
Tapi ketiganya berhenti melangkah saat melihat batang-batang gandum itu melayang di udara lalu menumpuk tak jauh dari tempat mereka berdiri. Tampak Dean sibuk mengayunkan tangannya di depan ladang.
Mereka terpana melihat bagaimana mudahnya Dean memotong batang-batang gandum di ladang dengan tebasan tangannya dari kejauhan.
"Apakah dia punya ilmu golok angin?" gumam Dewi tak percaya.
Hanya butuh 10 menit, panen gandum itu selesai dikerjakan Dean sendirian.
"Yeah, terima kasih bantuannya Dean. Pekerjaan kita jadi cepat selesai. Sekarang kita hanya perlu mengangkutnya ke gua. Andai aja kamu juga bisa membantu membawanya," Dewi tersenyum lebar.
"Namaku A." Dean berkata serius.
Lalu tangannya diayun-ayunkan lagi. Maka batang-batang gandum itu berkumpul dan terikat dengan batang merambat yang ditarik Dean dari semak-semak. Sekarang ada 10 ikat besar panenan gandum siap diangkat.
Alan, Dewi dan Widuri melihat itu dengan pandangan takjub.
"Tangan Dean ajaib banget" gumam Alan.
"Sssttt, Dean bilang, namanya A. Nama macam apa itu?" bisik Widuri.
Belum selesai mereka mencerna perubahan nama dan mengagumi hasil ikatan jerami yang rapi itu, tiba-tiba semua ikatan itu melayang di udara. Dean mengangkat tangannya ke atas dan berjalan kembali ke arah pondok.
Setelah sadar dari keterkejutan, ketiganya menyusul Dean. Dean berhenti di tak jauh dari Sunil dan Nastiti yang melongo melihat ikatan-ikatan gandum yang melayang dan ditumpuk rapi di dekat kebun sayur.
"Ajaib banget," kata Nastiti lirih.
__ADS_1
"Matanya juga bisa bersinar keemasan tadi malam," balas Sunil.
"Woaaa.. Dean, kau hebat. Terima kasih." Dewi tersenyum lebar dan menepuk pundak Dean dengan ekspresi senang.
Dean mengangguk, "tapi namaku A, bukan Dean."
"Hahah, aku belum terbiasa dengan nama itu. Tapi bagaimanapun, kau menumpang di tubuh Dean, jadi aku tidak salah panggil juga," Dewi beralasan.
Dean terlihat tidak senang. Dia menatap Dewi dengan tajam.
"Baiklah, karena panen sudah selesai, waktunya kita buat pintu," kata Alan mengatasi suasanya yang mulai tegang. Ditariknya Dean menuju pondok.
Widuri melangkah menuju kebun sayur untuk mengerjakan tugas mereka. Dewi mengikuti dengan bersungut-sungut.
Sunil dibantu Nastiti yang masih bingung juga kembali sibuk, seakan tak terjadi apa-apa. Itu mereka lakukan agar Dean tidak merasa canggung dan merasa dirinya aneh. Mereka memutuskan untuk menerima Dean apa adanya. Selama roh yang menguasai Dean tidak mencelakai anggota tim, maka dia tetap teman mereka.
Dean membantu pekerjaan Alan membuat pintu pondok. Dia bisa memotong pohon dan membelah kayu-kayu menjadi potongan yang rapi hanya dengan tangannya. Alan benar-benar takjub.
"Dean. Eh, A.. melihat keterampilanmu ini, aku penasaran apa kau juga yang memahat gua batu itu?" tanya Alan sambil bekerja.
"Tidak semua." Dean menjawab singkat.
"Jadi dari mana asalmu sebenarnya?" Alan bertanya penuh selidik.
"Aku ditugaskan markas pusat untuk menjaga dunia kecil ini," Dean menjawab.
"Kalian siapa? Bagaimana bisa sampai sini? Kalian lemah, tidak seperti manusia di tempat asalku."
Kata-kata Dean yang lugas menohok hati Alan, 'huft.. lemah katanya, bikin sakit hati aja' batin Alan.
"Dunia kami namanya bumi. Kami dari Indonesia, dan Dean yang tubuhnya kamu tempati, berasal dari Kanada," jari Alan menunjuk dada Dean.
"Lalu apa nama duniamu? Jika kau bertugas menjaga dunia ini, berarti dunia ini berada dalam kekuasaan duniamu? Apakah teman-temanmu akan datang ke sini? Apa kau tau cara keluar dari sini? Kami semua terjebak di sini lebih dari sebulan. Kami ingin pulang, tapi tak tau caranya."
Alan lalu menceritakan perjalanan mereka dari awal hingga saat itu. A juga menceritakan kisahnya.
"Hei, sudah siang. Ayo istirahat dulu," teriak Dewi memanggil Dean dan Alan.
"Ya, kami ke sana," jawab Alan.
"Mari kita ceritakan kisahmu pada mereka. Bagaimanapun, mereka berhak tau siapa yang menempati tubuh Dean," kata Alan.
Dean mengangguk dan mengikuti langkah Alan.
__ADS_1
***