
"Bagaimana keadaan Sunil, Dok? tanya Dean, setelah dokter Chandra kembali dari memeriksa Sunil di atas.
"Dia akan membaik," balas dokter Chandra. Pria tua itu ikut duduk di bawah pohon bersama Dean.
"Kau ingin bicara apa tadi?" tanya dokter Chandra.
"Aku hanya ingin menggantikan Sunil untuk melihat dunia luar, sementara dia sedang sakit ini," ujar Dean.
"Widuri membutuhkanmu..Kita tunggu Sunil sehat saja, baru memeriksa keluar lagi," tolak dokter Chandra.
"Tapi Dok, justru aku ingin secepatnya kita bisa kembali. Dengan begitu, Sunil bisa dibawa ke Rumah Sakit," jelas Dean. "Biarkan dia istirahat sementara waktu."
Dokter Chandra tidak menjawab. Dean tak tau apa yang dipikirkan dokter Chandra. Tapi dia sudah memberikan argumennya. Bagaimanapun, sejak hadirnya Penguasa, maka keputusan akhir diskusi berada di tangan dokter Chandra.
"Kita tunggu tiga hari ini. Jika Sunil belum membaik, kita keluar mencari pertolongan!" Akhirnya dokter Chandra membuat keputusan juga.
"Baik," sahut Dean.
"Sekarang kau tidurlah dulu. Siang nanti, bantu pekerjaan Robert." Dokter Chandra berdiri dari duduknya.
"Oke," jawab Dean lagi.
*
*
"Dean. Akhirnya kau bangun," sapa Robert.
"Yah, perut yang lapar adalah alarm alami." Dean tersenyum lebar. "Aku mau melihat Widuri dulu," sambungnya.
"Setelah urusanmu selesai, kemarilah," ujar Robert.
"Oke," jawab Dean. Dia pergi menemui Widuri yang sedang berenang bersama Marianne.
"Apa kau sudah makan?" teriak Dean dari pinggir kolam.
Widuri menoleh ke arah Dean. "Sudah. Marianne membuatkanku makanan enak, tadi."
"Bagus kalau begitu. Apakah masih ada makanan? perutku lapar," tanya Dean.
"Lihat di dekat perapian. Ada makanan hangat di sana!" seru Marianne.
"Oke. Kalian berhati-hatilah berenangnya. Dan jangan terlalu lama berendam di air," pesan Dean sebelum pergi.
"Oh, oke!" sahut Widuri dari kejauhan.
Dean menghabiskan makanannya dengan cepat. Dia ingin tau, hal penting apa hingga Robert khusus memintanya untuk datang setelah makan.
Saat Dean akan keluar rumah, dokter Chandra kembali dengan membawa dua keranjang sayuran.
"Kau mau ke mana?" tanya dokter Chandra
"Robert memanggilku tadi," jawab Dean. "Apa Anda perlu bantuan?' Dean gantian bertanya.
"Tidak," sahut dokter Chandra. Pergilah!"
"Jika butuh sesuatu, panggil saja," ujar Dean sambil berlalu.
Dokter Chandra mengangguk. "Hemmm."
__ADS_1
Dean terbang mencari keberadaan Robert. Dia sudah tak berada di depan rumah lagi.
"Robert, di mana Kau?" panggil Dean lewat transmisi suara.
"Di halaman rumah Indra."
Suara Robert terdengar di kepala Dean. Dia segera terbang menuju ke sana. Terlihat Robert sedang berjalan-jalan di melewati semak-semak bunga liar aneka warna.
"Hei, kau mau ke mana?" Dean terbang di dekat Robert.
"Mau ke hutan," jawab Robert santai.
"Kau bisa terbang, kenapa malah jalan kaki?" tanya Dean heran.
"Sensasi berjalan di alam liar ini yang kurindukan." Sambil tersenyum lembut, Robert memandang area pinggiran hutan yang dipenuhi bunga.
"Baiklah ... aku akan menemanimu."
Dean turun dan ikut berjalan bersama Robert. Keduanya menyibak rumpun-rumpun bunga liar yang belum pernah mereka jejaki.
Suasana hening sebentar. Tak seorangpun yang berbicara. Robert memberi Dean kesempatan untuk kembali menikmati keindahan alam dengan seluruh inderanya. Dia ikut tersenyum, melihat sudut bibir Dean ditarik, membentuk seulas senyuman samar.
"Kau telah menemukan iramanya," cetus Robert.
"Yah. Kau benar. Gesekan daun yang ditiup angin, adalah irama paling melankolis. Irama cinta yang akan terus memanggil para petualang alam liar. Terima kasih, Robert," ucap Dean tulus.
"Kalau begitu, mari kita secepatnya ke hutan." Robert telah terbang menuju hutan.
"Tunggu aku!' seru Dean.
"Apa yang mau kau kerjakan di hutan?" tanya Dean begitu bisa menyusul Robert.
"Lalu, aku harus membantu bagaimana?" tanya Dean.
"Kau? Penguasa bilang ingin pondok terpisah di seberang rumah kita, di tepi danau juga," sahut Robert.
"Oh, maksudmu, aku menebang beberapa pohon lagi? Oke," balas Dean.
Dari siang hingga sore, keduanya berada di hutan. Mengerjakan tugasnya masing-masing.
"Sudah sore. Mari kita kembali. Besok bisa kita lanjutkan lagi," ajak Robert.
"Oke."
Dean terbang sambil membawa cukup banyak papan dan balok kayu untuk membuat pondok mungil yang diinginkan dokter Chandra.
"Robert, tidakkah menurutmu ini aneh?" ujar Dean.
"Tentang apa?" Robert bertanya balik.
"Penguasa pasti bisa membangun kediamannya sendiri. Tapi malah meminta kita!" ucap Dean.
"Mungkin agar kita tidak terlalu banyak memikirkan hal lain. Jadi, diberi tugas. Alasan selain itu, aku tak tau. Aku tak bisa menduga apa yang ada dalam pikiran Penguasa." Robert mengatakan pendapatnya.
Ketika mereka tiba di dekat rumah, terlihat dokter Chandra sedang berdiri tepat di tepi kali, seberang rumah panggung.
"Penguasa!" seru Robert.
"Bawa ke sini!" perintah dokter Chandra.
__ADS_1
"Penguasa sudah memilih tempat," ujar Dean sambil menoleh ke arah Robert.
"Ayo, turun!" Robert melayang rendah dan membawa kotak madu yang baru dibuatnya di hutan.
"Kayu-kayu itu, taruh di sini!" perintahnya. Dean mengikuti instruksi. Menurunkan semua kayu yang berhasil dipotongnya, hari ini.
"Kotak madu itu, susun di sebelah sana!" tunjuknya, mengarahkan Robert.
"Penguasa, kayu-kayu itu mungkin kurang banyak. Besok aku akan ke hutan lagi," kata Dean.
"Tidak, ini sudah cukup." Dokter Chandra tersenyum bijak.
"Terima kasih untuk bantuan kalian hari ini," ujarnya.
"Itu kewajiban kami," sahut Robert.
Dokter Chandra tak menanggapi. Dia terus saja tersenyum sambil membalikkan badan. Lalu kedua tangannya bergerak-gerak. Semua rumput dan tanaman liar tercerabut dari tanah. Bergulung-gulung seperti angin topan kecil di atas sebidang tanah, yang perlahan menjadi bersih. Lalu angin topan kecil penuh rumput itu, berpindah ke tempat para ternak berada. Kemudian dijatuhkan di sana.
Dean dan Robert memandang dengan takjub. Sekarang ada lahan kosong dan bersih di depan mereka. Penguasa masih menggerak-gerakkan tangannya. Tumpukan kayu yang diletakkan Dean, bergerak mengikuti gerakan tangan dokter Chandra.
Satu persatu tiang untuk rumah sudah ditancapkan. Disusul tiang dan kayu lainnya. Bergantian terpasang dan saling mengait, sesuai keinginan dokter Chandra. Tak butuh waktu lama, sebuah rumah mungil dan apik telah selesai.
"Itu bahkan lebih bagus dari pada rumah Indra," celetuk Dean.
"Hehehehe ...." Robert hanya tertawa kecil mendengar nada iri dalam suara Dean.
"Bagaimanapun, kita tak mungkin melewati kemampuan Penguasa," katanya menyadarkan Dean.
"Aku tau. Penguasa memiliki banyak kemampuan, sementara kita hanya memiliki satu atau dua kemampuan sesuai bakat." Dean mengangguk.
Di depan rumah panggung, Widuri dan Dean juga ikut melihat apa yang terjadi.
"Penguasa itu sangat hebat ya. Dalam sekejap, bisa membangun rumah yang butuh beberapa hari kerja oleh Dean dan Indra." celetuk Widuri.
"Kalau kemampuannya rendah, tak mungkin bisa jadi Penguasa ribuan tahun." Marianne menyahuti.
Di seberang sana, urusan membangun rumah baru itu belum selesai. Dokter Chandra masih membereskan tanah sekitarnya dari rumput liar. Kemudian menyusun tiga kotak madu yang dibuat Robert, berjejer sekitar sepuluh meter dari sisi rumah.
"Besok kita lanjutkan. Hari sudah mulai gelap," ujar dokter Chandra.
"Oh ... ya. Baiklah." Dean dan Robert menjadi sedikit bingung karena disapa tiba-tiba saat mereka masih mengamati apa yang terjadi.
"Ayo!" ajak dokter Chandra. Dia mendahului jalan menuju rumah panggung. Dean dan Robert mengikuti.
"Hei, rumah yang bagus sekali, Dean. Kapan kau membuatnya?" tanya Indra dari ketinggian.
Dean menoleh ke arah Indra yang baru datang bersama Niken. "Penguasa yang membuatnya," sahut Dean.
"Benarkah? Sangat bagus. Untuk siapa?" tanya Indra ingin tahu. Niken sudah diturunkan dan bergabung dengan Marianne dan Widuri.
"Untuk Penguasa." Robert yang menjawab pertanyaan itu.
"Oh?" Indra terdiam. Dia merasa sedikit heran.
"Apakah penguasa telah memutuskan agar kita tinggal di sini saja?" gumamnya lirih.
"Apa?" Seru Dean Robert serempak.
*******
__ADS_1