
"Itu putriku!" tunjuknya pada seorang gadis yang sedang duduk di atas sepeda motor, dan memesan bubur ayam kesukaan Dokter Chandra.
Sunil dan Robert terkesiap. Apa yang harus mereka lakukan sekarang? Memanggil gadis itu arau membiarkannya saja?
"Dok, katakan apa yang anda ingin kami lakukan?" tanya Robert.
Dokter Chandra hanya diam. Matanya tak lepas dari gadis itu. Pandangan rindu seorang ayah yang berbulan-bulan tak bertemu.
"Siapa namanya?" tanya Sunil.
"Dyah Wardani," ujar Dokter Chandra tanpa sadar.
Sunil berjalan cepat ke arah gadis itu. "Miss Dyah!" sapanya ramah, saat mencapai tempat itu. "Can you not panic if I say something?" bisik Sunil sambil memutari motor gadis itu ke samping, seperti tak sengaja.
Dokter Chandra terkejut melihat Sunil mendekati putrinya. Tapi Robert menenangkannya.
"About what?" tanya gadis itu tenang.
"Your father!" sahut Sunil dengan suara rendah. Kali ini dia berdiri di samping gadis itu dan berbicara sok akrab, agar tidak dicurigai orang-orang sekitar.
Ekspresi Dyah jelas berubah. Dia terkejut dan sedikit takut. Entah apa yang dipikirkannya tentang Sunil saat itu.
"Your father said, he really likes this porridge!" kata Sunil. "Can you give me one, to hand over to him?" sambungnya lagi.
Gadis itu jelas bingung. Pria itu bicara sesuatu yang tadi membuatnya berprasangka buruk. Tapi ternyata hanya minta sebungkus bubur untuk ayahnya.
"If you want porridge, I'll give it to you. But don't use my father's name!" ujar gadis itu tegas.
"You misunderstood. It was for him. Would you like to look at the park? But don't panic!" Sunil mengingatkan.
"Ini buburnya, Mbak!" pedagang bubur itu telah selesai mengemas tiga tas plastik bubur untuk Dyah.
Gadis itu mengambil dan membayarnya. "Berikan sebungkus lagi untuknya!" kata gadis itu, sambil menyerahkan uang.
"No! I don't wany it!" tolak Sunil tegas. Ditinggalkannya Dyah dan berjalan menuju taman.
Dyah yang heran karena tawaran buburnya ditolak, melihat ke arah Sunil pergi. Dan dia sungguh terkejut. Motor yang diduduki itu hampir rebah karena tak bisa dikuasainya.
Disenyelesaikannya pembayaran bubur dan membawa motor ke taman. Tiga pria dengan tampang awut-awutan, melihatnya mendekat. Terutama yang terlihat paling tua.
Gadis itu menatap pria tua itu tak berkedip. Dengan penasaran, dia turun dari motor. Didekatinya Dokter Chandra yang tersenyum lembut padanya.
__ADS_1
Gadis itu tanpa sungkan merapikan rambut kelabu Dokter Chandra yang memanjang kasar. Dirapikannya dan dilihatnya. Dyah bahkan sampai menyanggulnya di belakang kepala, agar bisa melihat wajah Dokter Chandra dengan baik. Dokter Chandra hanya membiarkannya. Dia tak keberatan rambutnya dan kumisnya diacak-acak.
"Opo sing mbarep lali karo bapakmu dhewe?"
Suara Dokter Chandra yang sedikit berat, lembut dan teduh itu menegurnya halus. Gadis itu sangat terkejut. Pegangannya pada rambut Dokter Chandra terlepas. Tubuhnya gemetar.
"Aja wedi." Dokter Chandra menggenggam tangan gemetar gadis itu. Kemudian genggaman itu ditiupnya, dan tersenyum.
Gadis itu terbelalak. "Papa...."
Bulir bening jatuh dari kelopak matanya yang bergetar.
"Jangan nangis, papa di sini baik-baik saja. Nanti papa ceritakan kenapa bisa begini." bujuk Dokter Chandra.
"Tapi jangan katakan apapun dulu pada mamamu. Nanti dia shock!" kata Dokter Chandra.
Gadis itu masih berdiri sekaku pohon palsu di taman. "Dok, dia justru sedang shock!" kata Robert.
Dokter Chandra menyentuh dahi putrinya. Seberkas sinar putih menelusup masuk ke dahinya, kemudian menghilang.
Gadis itu kemudian tersadar. Dilihatnya tiga orang pria yang menunggu reaksinya. "Aku harus segera pulang. Papa jangan ke mana-mana. Nanti Dyah jemput dengan mobil!" ujarnya.
"Papa bisa beli bubur itu, sebelum kehabisan! ujarnya.
"Tidak usah. Kami sudah sarapan!" tolaknya.
Gadis itu ragu sejenak. Tapi anggukan Robert dan Sunil membuatnya tahu bahwa perkataan itu benar. "Pegang saja kalau begitu!" ujar gadis itu.
"Baiklah. Hati-hati di jalan!" Dokter Chandra mengingatkan.
Gadis itu pergi melajukan motornya masuk ke kompleks perumahan. Sekarang Robert dan Sunil yang tak dapat menahan rasa penasaran.
"Apa yang anda lakukan tadi, hingga dia menurut?" tanya Robert.
"Mengirim kilas balik masa kecilnya!" sahut Dokter Chandra.
"Pantasan dia langsung percaya dan tenang," timpal Sunil.
Dokter Chandra, Robert dan Sunil beralih masuk ke taman lagi dan duduk menunggu di dekat kolam air mancur. Tempat itu masih bisa terlihat dari sisi jalan, karena pembatas taman yang rendah.
Satu jam kemudian Dyah dapat menemukan tiga orang yang berbaring di bawah kerindangan pepohonan. Mata mereka sedikit mengantuk sekarang.
__ADS_1
"Pa!"
Dokter Chandra terbangun mendengar suara putrinya.
"Apa Papa selalu tidur sembarangan begini?" tanya putrinya sedih.
"Tidak! Jangan khawatir. Semua baik-baik saja!" katanya menenangkan.
"Dyah bawa mobil. Kita pergi ke rumah lain dan bicara!" ujarnya.
"Oke!"
Dokter Chandra setuju. Dibangunkannya Sunil dan Robert. Akhirnya mereka pergi dibawa Dyah ke rumah Dokter Chandra yang lain.
Tiga jam kemudian, mobil itu masuk ke sebuah kompleks perumahan lain. Tapi tempat itu sepertinya adalah kompleks perumahan lama. Beberapa rumah yang mungkin bentuk aslinya, terlihat kusam tak terawat.
"Dyah enggak ingat yang mana rumahnya!" keluh gadis itu.
"Di pertingaan depan, belok kiri," kata Dokter Chandra.
"Di depan belok kanan. Lalu kiri lagi. Rumah ke tujuh, atau ke delapan kalau papa enggak salah. Lihat saja yang bentuknya paling jelek!" Dokter Chandra terkekeh geli.
Dengan petunjuk itu, mereka sampai di rumah yang memang paling jelek dan kumuh di situ. Dyah turun dan membuka pagar. Dokter Chandra mengambil alih kemudi dan membawa mobil masuk ke parkiran.
Dyah tersenyum. Menyerahkan kunci rumah dan berjalan ke pintu pagar. Pintu itu dikuncinya dari dalam.
Gadis itu sangat tenang sekarang. Tesnya tentang jalan menuju rumah, dilewati pria tua berambut panjang itu. Tesnya tentang pintu masuk rumah, tampaknya juga lulus. Hanya keluarganya yang tahu bahwa pintu depan belum diperbaiki, jadi tak bisa masuk dari sana. Dan sekarang dua pria asing dan pria tua yang mirip papanya itu, telah berhasil membuka pintu garasi, lalu masuk lewat pintu samping.
"Akhirnya sampai di rumah juga...." Dokter Chandra lega dan menghempaskan tubuhnya ke atas sofa ruang tamu. Debu-debu segera beterbangan dan membuatnya terbatuk-batuk.
"Anda baik-baik saja, Dok?" tanya Sunil khawatir. Dokter Chandra mengangguk sambil berdehem, untuk meredakan batuknya.
Dyah menyodorkan botol air mineral pada Dokter Chandra, yang segera diminumnya. Robert dan Sunil juga segera mengambil botol air dan ikutan minum. Mereka memang haus. Tapi tak mungkin mengeluarkan kendi air di depan Dyah yang belum tahu banyak tentang dunia kecil.
Dyah kembali menetakkan tas dengan berbagai roti dan snack yang dibawanya dari mobil. "Sekarang ceritakan bagaimana bisa terasa tidak masuk akal begini? Dalam tiga hari papa sudah berubah setua ini?" ujarnya dengan pandangan tajam.
Dokter Chandra mengangguk. Akan kami ceritakan. Tapi sebelumnya, tolong bereskan dulu semua debu di sini, mataku berair karena alergi. Terlalu banyak debu dan lembab!" keluh Dokter Chandra.
"Oke!" sahut Sunil dan Robert.
********
__ADS_1