PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 76. Kunang-kunang


__ADS_3

Tiga hari kemudian.


Pagi sekali kuda-kuda dikeluarkan dari kandang. Tali kekang diikatkan di kayu pagar, lalu mereka diberi rumput dan air. Kuda-kuda itu makan dengan senang karena pagi ini akhirnya dikeluarkan juga dari kandang setelah lumpur mulai mengering. Beberapa hari mereka tak merasa bebas di kandang itu.


Sebelumnya, Robert telah membuat pelat dari lempung yang diukir dengan nama mereka semua sebagai pengingat bagi siapapun yang nanti menemukan tempat ini nanti. Robert membakar pelat itu di perapian di tengah halaman tadi malam. Kini pelat nama tersebut diletakkan didepan pintu pondok.


Para wanita menyiapkan sarapan. Meja kayu dibiarkan tetap di dapur sejak hujan deras itu. Semua segera berkumpul dan menyelesaikan sarapan. Tak banyak pembicaraan, karena semua hal sudah diputuskan kemarin malam.


Dengan cepat peralatan makan dibersihkan dan disimpan seperlunya dalam keranjang. Kuda-kuda diberi pelana serta pelapis untuk mengikatkan tali-tali pengikat beban bawaan.


Mereka sudah siap kini. Semua orang memegang tali kekang kuda masing-masing. Pintu- pintu pondok dan dapur serta jendela sudah ditutup rapat. Mereka menarik kuda keluar dari halaman. Saat Robert mengikat pintu pagar, mereka melihat tempat itu untuk terakhir kalinya. Mata-mata yang mulai terasa hangat dan basah itu menunduk dan segera berbalik, menarik kuda mengikuti Indra yang telah berjalan lebih dulu.


Kediaman hangat yang beberapa waktu ini mereka tempati dengan nyaman, kini akan jadi kenangan karena sudah harus ditinggalkan demi mencari jalan pulang.


Ada sedikit ketidak relaan mengingat bagaimana sudah bersusah payahnya mereka membangun itu dari nol hingga terasa nyaman dan manusiawi untuk dihuni.


Mengingat suka duka yang mereka lalui selama di dunia ini, kehilangan 3 orang teman dalam sehari. Juga kesulitan-kesulitan yang dilewati untuk bertahan hidup di alam liar yang memaksa mereka beradaptasi dengan cepat. Dari yang tidak tau cara membuat mangkuk gerabah, jadi mahir. dari yang tidak tau jenis-jenis tanaman liar yang bisa dimakan jadi memahami.


Tubuh yang dulu lemah karena dimanjakan fasilitas modern telah berubah jadi kuat kukuh. Kini mereka terampil berkuda, memanah dan menggunakan tombak untuk berburu atau mempertahankan diri.


Beriringan mereka berjalan menuju sungai. Melintasi sungai kecil yang biasa jadi tempat mandi dan mencuci. Lalu menyusuri sisi sungai itu melewati rerimbunan willow. Setengah jam kemudian berbelok ke arah hutan mapel setelah menemukan percabangan sungai.


Tak memakan waktu lama, mereka telah tiba di tepi kolam air panas itu. Indra menghentikan kudanya, diikuti yang lain.


"Kita bisa turunkan barang-barang bawaan di sini," kata Robert yang segera dilakukan oleh anggota tim lain.


Dua ekor kuda dijajarkan lalu di punggung keduanya diletakkan kayu dengan anyaman willow. Sebagian barang bawaan ditaruh di atas anyaman itu untuk menghindarinya dari kebasahan.


Indra, Gilang dan Robert masuk ke dalam kolam, berjalan menuju ke tengah kolam dan menghilang di balik tebing batu yang menjorok ke tengah kolam.


"Baik, kami lebih dulu naik ke tepi dan menunggu kalian," kata Indra.


Indra dan Gilang menarik kuda perlahan agar semua barang di atas punggung kuda tidak jatuh jika sampai terpeleset. Robert memperhatikan mereka mulai menurunkan barang-barang itu dan mengembalikan anyaman kayu willow pada Robert.


Robert kembali ke tepi kolam tempat anggota tim lain menunggu. Mereka kembali menyandingkan dua ekor kuda dan meletakkan anyaman willow di atas punggungnya. Lalu menempatkan barang-barang bawaan mereka di situ. Kali ini giliran dokter Chandra dan Niken yang berjalan masuk kolam.


Begitu bergiliran mereka melintasi kolam air hangat sambil membimbing kuda-kuda yang membawa barang di punggung. Hingga kemudian Robert dan Laras mengakhiri penyeberangan itu. Mereka memberi waktu untuk Robert dan Laras mengganti pakaian basah mereka lebih dulu.


"Baiklah, sekarang waktunya kita melanjutkan perjalanan," kata Robert yg dijawab anggukan kepala semuanya.


"Robert, tidakkan menurutmu kolam ini mungkin pintu 2 arah?" tanya Indra.


"Maksudmu?" Robert balik tanya.

__ADS_1


"Tadi anyaman willow ini bisa berkali-kali dibawa kembali olehmu kan? Berbeda dengan saat kita melintasi dinding cahaya itu, kali ini kita bahkan bisa tetap melihat keberadaan kolam itu." Indra menjelaskan.


"Hemm, entahlah. Mungkin saja. Kenapa?" tanya Robert belum mengerti.


"Mungkin kita bisa kembali ke pantai lewat kolam ini lagi," jawab Indra.


Robert akhirnya menggangguk mengerti.


"Jika lingkungan di depan sangat buruk, kita mungkin bisa kembali. Itu maksudmu bukan?"


Robert menebak inti pembicaraan mereka. Indra mengangguk. Robert tersenyum dan menepuk punggung Indra.


"Mari kita mulai petualangan kita di dunia yang baru ini. Sudah siap semua?" tanya Robert.


"Siap!" mereka menjawab dengan bersemangat.


Robert memimpin rombongan itu di depan. Menuntun kuda sambil melihat kiri kanan. Tapi batang-batang pohon itu seperti ditutupi tembok gelap di belakangnya. Membuat Robert tak bisa melihat pemandangan hutan atau memilih jalan lain selain lorong pohon mapel yang sangat panjang itu.


Robert berhenti, lalu meraih daun-daun mapel yang berguguran di tanah. Daun merah itu digenggamnya. 'Daun ini nyata' pikirnya. Dicobanya mendekat dan meraba batang mapel, 'ini juga nyata' gumamnya.


Tapi, meski sedekat itu dengan batang mapel, Robert tetap tak dapat melihat apa yang ada dibalik batang pohon itu. Dia hanya bisa melihat yang di depan matanya itu saja.


"Ada apa?" tanya Laras yang berdiri di belakangnya.


"Bisakah kau melihat melewati sisi batang mapel ini?" Robert menunjuk bidang gelap antara batang pohon.


"Tidakkah itu aneh? Sinar matahari menembus bagian yang kita lalui ini, tapi tidak pada bagian balik pohon itu." Robert menyatakan keheranannya.


"Kau benar! Kita seperti digiring untuk mengikuti jalan yang ada saja."


Indra memimpali setelah mengamati dinding mapel di kiri dan kanan lorong jalan itu.


"Seperti sebuah bidang ilusi yang membatasi pandangan kita. Entah seperti apa dunia yang ada di baliknya." Niken bergidik membayangkan.


"Maksudmu? Ada yang sengaja pasang ilusi di sini?" Angel nimbrung.


Mereka berhenti dan berkumpul di tempat itu sekarang. Saling berpandangan dengan khawatir.


"Menurutku, lorong mapel yang indah ini mungkin sebuah jebakan untuk memancing orang masuk. Digiring mengikuti jalan yang mereka siapkan, lalu masuk ke dunia mereka yang sangat buruk." Niken mengutarakan pemikirannya.


"Lalu bagaimana? Kita akan lanjut jalan atau kembali?" tanya Silvia.


"Kita sudah mencari jalan keluar cukup lama di sana, tapi tak ada jalan lain selain lewat laut seperti kapal asing itu, atau lewat lorong ini. Lewat laut kita jelas tak bisa. Jadi hanya ada pilihan jalan ini untuk mencari jalan keluarnya," jelas Robert.

__ADS_1


Robert tak merasa terganggu dengan keraguan mereka saat ni. Dia mengerti bahwa di waktu belakangan, teman-temannya itu telah merasakan hidup menetap dan nyaman. Tanpa sadar, mereka sudah menganggap pondok itu sebagai rumah. Tidak heran jika mereka ragu melanjutkan perjalanan, karena pasti harus menghadapi kesulitan hidup lagi. Kesulitan yang belum terbayangkan.


"Yah, bagaimanapun, kita harus terus jalan. Jika ingin pulang, maka tak ada jalan kembali." Dokter Chandra mengingatkan tujuan awal mereka.


Semua menunduk merenungi lalu kembali menegakkan kepala dan meneguhkan hati.


"Baik, kita lanjut jalan."


Leon berdiri dari duduk dan membenarkan posisi busur panah di punggungnya, diikuti Liam yang segera mengelus-elus kepala kudanya.


"Ayo," Robert kembali memimpin rombongan meninggalkan tempat mereka beristirahat tadi.


Jatuhnya bayang sinar matahari yang menerobos dedaunan mulai berganti arah. Makin lama makin miring memanjang pertanda hari mulai sore. Tapi lorong mapel itu seperti tiada ujungnya.


"Kita istirahat di sini saja bagaimana?" tanya Robert pada anggota tim yang sudah kelelahan itu.


Mereka segera duduk melunjurkan kaki di atas dedaunan mapel untuk menghilangkan rasa pegal.


"Jangan lupa beri minum dan rumput untuk kuda-kuda,' seru Robert mengingatkan.


Robert memeriksa kendi air miliknya yang tinggal sedikit. Diminumnya sedikit, lalu memberikan sisanya untuk minum kuda hitam miliknya. Segera setelah Robert memberikan rumput yang dibawanya pada kuda, kuda itu meringkik senang dan makan dengan lahap.


Robert menepuk-nepuk batang pohon mapel di dekat kuda itu berdiri. Dibersihkannya sedikit permukaan batang pohon itu dari lumut dan kotoran, lalu menusuknya cukup dalam. Ditariknya pisaunya dan menunggu. Tak lama menetes air keluar dari bekas tusukan pisau itu.


'Syukurlah' batinnya senang.


Dibuatnya tusukan lain memotong bekas tusukan pisau tadi. Dibuatnya bentuk segitiga kecil dengan bagian runcingnya di bawah. Lalu menusukkan ranting willow kecil di ujung kecil itu. Robert mengikat kendi air miliknya dengan tali untuk menampung tetesan air yang keluar dari batang willow.


"Apa yang kau lakukan?" tanya dokter Chandra.


"Menampung persediaan air minum," jawab Robert lugas.


"Air itu bisa diminum?" Dokter Chandra mengamati air yang menetes dari ranting willow.


"Ya."Robert mengangguk yakin.


"Buatkan untuk kami juga Robert. Persediaan airku juga habis," kata Silvia.


Robert mengangguk. Dibantu Leon, akhirnya semua kendi air minum diikat di pohon untuk menampung tetesan air pohon mapel.


Malam itu mereka beristirahat di bawah kerindangan pohon mapel. Tempat itu diterangi cahaya perapian dan kelap-kelip sinar tubuh kunang-kunang saat malam tiba. Mereka menghemat lilin, karena tempat itu sudah diterangi sepenuhnya.


"Waahh.. sudah lama sekali tidak melihat kunang-kunang. Jadi ingat saat aku kecil di desa." Dokter Chandra menghela nafas panjang dan tersenyum.

__ADS_1


Bagi Robert, kehadiran kunang-kunang memberi petunjuk bahwa tempat itu masih sangat alami dan terjaga. Dia tak lagi mengkhawatirkan orang asing yang mungkin mencelakai timnya. Jadi hanya perlu berjaga bergantian untuk mengawasi kehadiran binatang buas.


***


__ADS_2