
Gadis bersayap itu diam sejenak. Lalu mulai bercerita.
"Maya adalah ibuku," katanya memulai.
Robert mengangkat alisnya tinggi, hingga gurat di keningnya tampak nyata. Tapi dia tak berkomentar. Membiarkan gadis itu bicara.
"Kata Maya, bangsa kami berasal dari bintang yang jauh. Tapi aku tidak tau. Karena aku lahir di sini."
Gadis itu menjeda kalimatnya. Matanya menerawang ke arah langit.
"Maya dan ayahku adalah keluarga bangsawan. Hari itu ayah pergi bertugas seperti biasa. Dan Maya yang sedang hamil menghabiskan waktu dengan teman-temannya di taman belakang rumah."
"Lalu?" tanya Robert.
"Tiba-tiba terjadi guncangan keras. Dunia itu seperti menghadapi gempa. Berguncang berkali-kali. Membuat mereka tak sadarkan diri."
???? Robert mulai tertarik.
"Jangan bilang bahwa rumah yang kalian diami itu adalah rumah yang berasal dari bintang sana. Itu sangat mudah ditebak," kata Robert usil.
Gadis itu mengangguk.
"Memang begitu. Saat tersadar, mereka lihat sebagian dinding rumah runtuh. Mereka mencoba bangun dan menuju ke arah depan rumah untuk mencari pertolongan."
"Hah! Entah kenapa, aku tidak bisa merasa bangga karena tebakanku benar. Ini terlalu klise," ujar Robert sinis.
Gadis itu menyadari sindiran sinis Robert. Tapi dia tak menggubris.
"Kata Maya, setelah dia dan teman-temannya menuju halaman depan, bangunan-bangunan rumah tetangganya hancur. Yang tinggal hanya kediamannya yang hancur sebagian."
"Mereka menyusuri jalan kota yang retak dan terbelah, mencari informasi tentang peristiwa itu serta mencari pertolongan. Tapi tak ada siapapun."
Pencarian mereka terhenti di sepan jurang yang menganga dalam. Mereka shock dan hanya bisa menangis. Tempat itu telah terputus dengan bagian kota lainnya."
"Salah seorang dari mereka berbalik arah dan mencari akses jalan ke arah lain. Tapi mereka justru menemukan hutan tak jauh dari taman belakang yang hancur."
"Mereka tak mengenali hutan itu. Karena seharusnya ada danau besar di taman belakang."
"Setelah menangis hingga lelah. Esoknya mereka mulai menyadari bahwa perut harus diisi. Terutama Maya yang sedang hamil muda."
Mereka kembali ke rumah yang sudah hancur sebagian. Para pelayan tewas tertimpa reruntuhan. Mereka terpaksa makan apa yang tersedia."
Hari berganti lagi, bau busuk mayat dimana-mana memaksa mereka untuk membereskannya. Semua mayat yang ditemukan, ditumpuk jadi satu. Lalu dibakar."
Keadaan memaksa mereks bertahan hidup. Dari semula mencari persediaan dari setiap puing rumah yang ada, jadi berburu. Dan itu bukan hal mudah."
"Gadis-gadis bangsawan yang biasa dilayani banyak pelayan, malah harus memburu makanannya sendiri. Tapi seiring waktu, kami jadi mahir," ujar gadis itu.
"Hemmm...."
Robert melihat gadis itu.
"Jadi kau lahir di sini?" Gadis itu mengangguk.
"Siapa namamu?" tanya Robert.
"Vivian," jawabnya.
"Baiklah, vivian. Sejak saat itu kalian berlima terperangkap di sini dan tak pernah keluar? Apa kalian sudah memeriksa setiap tempat? Mungkin saja ada jalan keluar," tanya Robert ingin tau.
"Dulu kami berenam. Salah seorang dari kami tewas saat berburu," Vivian tertunduk sedih.
"Aku sekarang tak ingin membahas masa lalu yang menyedihkan," ujar Robert.
__ADS_1
"Tadi ku tanya. Apa kalian pernah memeriksa seluruh area hutan tempat berburu? Mungkin saja ada jalan keluar tersembunyi di situ," tanya Robert lagi.
Kami telah melihat seluruh hutan itu saat berburu. Tapi tak ada keanehan di sana," jawab Vivian
"Kau yakin?" Robert tak mudah percaya.
"Ya. Ribuan tahun berburu. Semua bagian hutan berburu itu sudah kami jelajahi," jawab Vivian percaya diri.
"Jika kami membantu kalian membuka lahan kebun, apakah aku dan Kang bisa memeriksa seluruh sudut hutan perburuan itu?" Robert mengajukan syarat untuk bantuannya.
"Kau sungguh mau membantu kami?" tanya gadis itu berseri-seri.
"Tentu saja. Kami akan membantu persiapan lahan pertaniannya. Setelah itu kalian yang harus merawatnya," kata Robert yakin.
"Aku akan katakan hal ini pada Maya." gadis itu bersemangat membayangkan kebun sayuran milik sendiri.
"Ah iya. Jadi lupa kan. Kang belum kembali juga. Jangan-jangan dikira makanan oleh teman-temanmu," kata Robert khawatir.
"Aku akan membawamu ke sana," kata Vivian.
"Kau yakin sudah kuat?" tanya Robert ragu.
Hemm.. Ayo. Mungkin temanmu kerepotan di sana," gadis itu juga mulai khawatir.
Robert dibawa terbang oleh Vivian. Dia merasa ngeri. Takut tiba-tiba dilempar ke lembah oleh Vivian.
"Eh, itu Kang!" teriak Robert sambil menunjuk ke lembah. Kang sedang melompat dari satu dahan ke dahan lainnya.
Vivian turun ke lembah. Dia ingin mencegat Kang.
"Kang.. Kang.. Aku di sini!" teriak Robert.
Tangannya digoyang-goyangkan agar mudah terlihat oleh Kang. Kang menghampiri keduanya.
"Apa kau baik-baik saja? Kenapa lama sekali baru kembali?" tanya Robert. Kan menyentuh dahi Robert.
"Vivian, kau pulang saja. Aku akan pulang dengan Kang," ujar Robert.
Vivian memandangnya ragu.
"Tolong bantu kami," pintanya.
"Ya. Besok kami akan ke tempat kalian. Membawa bahan makanan dan membantu menyiapkan kebun sayur," janji Robert.
"Baik. Aku kembali." Vivian terbang kembali ke arah tebing di depan mereka.
"Ayo Kang, kita pulang," ajak Robert.
*
*
Saat makan malam.
"Jadi keadaan mereka sangat parah? Tapi kau sudah membuatkan cukup bubur untuk malam ini kan?" tanya Robert. Kang mengangguk.
Robert mengatakan pada Kang kesepakatan dengan Vivian. Kang mengangguk setuju.
"Oke. Kalau begitu kita segera beristirahat. Besok banyak tugas yang harus diselesaikan," ajak Robert.
*
*
__ADS_1
Pagi setelah sarapan.
Robert dan Kang menyiapkan apa yang akan mereka bawa ke tempat para wanita itu. Lalu keduanya segera berangkst.
Para wanita itu terlihat mulai pulih. Mereka merebahkan diri di bangku-bangku panjang yang ada di bawah pohon.
Vivian sibuk melayani seseorang yang masih tergolek lemah.
'Apakah dia yang bernama Maya? Ibunya Vivian?' pikir Robert.
Saat melihat kehadiran Kang dan Robert, 3 wanita yang sedang berbaring itu segera mencoba duduk dengan sopan.
"Ehemm... Kami datang untuk membantu kalian menyiapkan kebun. Kalian harus belajar memelihara dan merawat sumber makanan yang ada."
Robert menyampaikan maksud kedatangannya. Para wanita itu tak bereaksi. Mereka menatap Robert dengan pandangan kosong.
'Hah, kenapa jadi terasa mengerikan?" pikir Robert.
'Apakah ada yang ingin membunuhku?' pikirnya lagi.
"Tapi sebelum mulai bekerja, kalian harus makan dulu. Biar tambah semangat." Robert mencoba mencairkan suasana yang terasa seram.
"Kang, keluarkan apa yang kita bawa," kata Robert pada Kang.
Kang mengangguk. Dia mengibaskan cincin dimensinya. Kemudian berderet sekarung gandum, beberapa ikat sayur segar. 3 ekor ayam berbumbu yang kemarin dipotong dan diasapi Robert. Serta satu kendi besar ikan.
Wajah para wanita itu berseri seri.
Kang menyentuh dahi Robert, menyampaikan isi pikirannya. Robert mengangguk setuju.
"Mari kita mulai bekerja. Jika aku sudah selesai lebih dulu, aku akan membantumu," ujar Robert.
Begitulah keduanya membagi tugas. Robert memasak untuk para wanita, sementara Kang mengolah tanah di dekat situ untuk menjadi kebun sayur.
"Vivian, kemari!" panggil Robert.
Gadis itu tersentak karena tiba-tiba namanya disebut. Tapi dia segera menghampiri Robert.
"Ada apa?" tanya Vivian.
"Kau harus belajar memasak. Mulai besok kalian harus masak sendiri. Kami bukan pelayan, ingat itu!" kata Robert tegas.
"Ya, aku akan belajar," jawab Vivian.
"Satu lagi. Apakah persyaratanku kemarin sudah kau sampaikan pada ibumu?" desak Robert.
Vivian mengangguk. "Ya. Dia setuju."
Tak ada cara lain untuk bertahan hidup, selain bekerjasama dengan Robert dan Kang. Dan mulai merubah pola makan mereka sendiri. Dari pemakan daging menjadi pemakan segalanya.
"Bagus. Kalau begitu mari kita masak," Robert merasa puas dengan kesepakatan mereka.
Robert mengerjakan tugas memasaknya dengan serius. Vivian membantunya dan tak segan bertanya ini dan itu. Robert mengajarinya banyak hal tentang memasak dan bahan makanan. Itu penting agar mereka tak kelaparan lagi.
"Nah.. makanan kalian sudah selesai. Ini harus cukup hingga sore." kata Robert.
"Aku akan membagikannya," ujar Vivian sigap.
Vivian membagikan makanan pada teman-temannya. Robert membantu Kang menyiapkan lahan kebun. Mereka bekerja hingga sore.
"Besok kami datang lagi untuk menaburkan benih sayuran. Kalian harus ikut belajar cara menanam dan merawatnya," kata Robert.
Vivian mengangguk. Dan teman-temannya sudah mulai terlihat segar. Melihat mereka pulih perlahan, rasanya melegakan.
__ADS_1
"Ayo Kang, kita pulang," ajak Robert.
******