PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 411. Kejutan Liam


__ADS_3

Dean, Dokter Chandra dan Indra kembali ke dunia kecil. Semua gembira menyambut kedatangan mamanya Widuri.


"Kalian tinggal di sini?" tanyanya sambil melihat rumah panggung itu.


"Kamarnya di atas. Di bawah ini hanya untuk dapur, kamar mandi dan ruang makan besar, tempat berkumpul dan berdiskusi," jelas Widuri.


"Mama akan senang tinggal di sini. Tak jauh beda dengan kampung-kampung Indonesia," timpal Dean.


"Apakah ada persawahan juga?" tanya wanita tua itu.


"Ada, Ma. Ada kebun sayur, ada peternakan sapi, domba, kuda. Ada air terjun tuh!" tunjuk Widuri ke arah air terjun di sisi kiri rumah.


"Indah sekali. Kau pasti tiap hari berenang kalau begini!" duga mamanya.


"Kok Mama bisa tahu?" Niken nimbrung.


"Karena waktu kecil paling suka mainan air. Papanya cuci motor saja, air di ember dia tuang ke badan!" cerita mama Widuri.


"Hahahaha ... kotor dong!" ledek Indra.


"Sekarang aku enggak main air kotor lagi kok, Ma," ujar Widuri manja.


Sore itu, dunia kecil mereka terasa hangat. Marianne mengajak mama Widuri terbang mengitari tempat itu. Dan hal itu sukses membuat wanita tua itu terkagum-kagum. Dean yang menbawa Widuri mengikuti keduanya, akhirnya bisa tersenyum lega.


"Melihat semua ini, Mama yakin kalian bisa bertahan hidup. Tidak!" bantahnya sendiri.


"Hidupmu akan jauh lebih baik di sini, bersama anak-anak kalian nantinya. Tidak perlu kembali ke Indonesia, jika dunia tak bersedia menerima cerita kalian nantinya."


Dari gazebo di atas bukit, Mama Widuri membuang pandangan ke birunya laut.


"Tempat ini sudah komplit. Ada pertanian untuk hidup, ada peternakan, ada air terjun untuk sumber air tawar. Juga ada laut yang membiru."


"Mama dan Papa bisa ikut tinggal di sini, jika mau," tawar Dean.


Wanita itu menggeleng. "Papamu masih kolot. Dia paling sulit beradaptasi. Itu juga alasan kami tidak pernah pindah dari rumah peninggalan eyangmu!" tutur mamanya.


Widuri mengangguk mengerti dan tersenyum. Tapi Mama dan Papa bisa liburan ke sini, kapan saja!"


"Kapan perkiraan kelahiran putramu?" tanya mamanya.


"Sekitar tiga bulan lagi," sahut Widuri.


"Mama akan ke sini untuk menemanimu!" bisiknya penuh pengertian.


"Terima kasih, Ma."


Widuri dan Dean tak dapat berkata-kata lagi. Kehadiran orang tua akan sangat berarti saat persalinan nanti.


"Cahaya petang sudah hampir hilang. Mari kita kembali!" ajak Marianne lagi.


Keempatnya kembali ke rumah dan menyiapkan makan malam.


*


*

__ADS_1


"Jadi kita akan undang Laras, Liam dan Nastiti untuk berdiskusi?" tanya Niken memastikan.


"Ya!" Dokter Chandra mengangguk.


"Baik, Besok aku bisa ke sana!" Dean menawarkan diri.


"Aku ikut!" kata Widuri. Aku ingin memperkenalkan ibu pada Yoshi dan Yabie, dua keponakanmu itu," tuturnya.


"Kau punya keponakan di sini? Tentu saja aku ingin mengenal keluarga besanku," mama Widuri sangat antusias.


"Baik. Dean yang bertugas ke sana!" putus Dokter Chandra.


"Terima kasih, Dok!" Dean mengangguk.


Satu malam lagi berlalu.


Keesokan harinya, setelah sarapan selesai, Widuri dan mamanya kembali disembunyikan dalam kalung penyimpanan. Dean berangkat menuju dunia kecil Kakek Kang, dilanjut pergi ke hutan larangan di Kota Pelabuhan.


Di sana, kedua orang itu dikeluarkan. Mamanya kembali terkejut dan takjub melihat tempat itu.


"Ini tempat yang sangat indah dan teduh. Pohon-pohon raksasa seperti ini, takkan bisa lagi kita temui di bumi," ujarnya.


"Dulu kami tinggal di sini. Seorang teman penumpang pesawat, tewas tenggelam di laut di sana. Kami memakamkannya di pinggir tebing. Rumah ini juga Dean yang buat. Dan kami menikah di sini. Diresmikan Ketua Kota ini," jelas Widuri panjang lebar. Mamanya manggut-manggut mendengar sambil berjalan melihat tempat itu.


"Luar biasa!" katanya berkali-kali.


Dean meminta Ra, -putra Ketua Suku Cahaya, yang menjaga pintu teleportasi- untuk pergi ke tempang Kang dan mengundang Nastiti agar ikut berdiskusi bersama Dokter Chandra.


Sementara Dean akan ke Kota Mati untuk menyampaikan pesan Dokter Chandra pada Liam dan Laras.


Sambutan mereka sangat hangat. Bahkan Yoshi bersedia menunjukkan sayapnya yang cantik seputih salju. Hal itu tentu membuat mama Widuri terpana.


"Tempat kalian tinggal ini telah diberkahi. Di bumi, sudah sulit untuk menemukan keajaiban seperti ini," bisiknya pada Widuri.


"Paman, bolehkah aku pergi ke tempat asalmu? Aku ingin tau tempatnya. Aku ingin membangun kota ini sebaik tempat itu!" pinta Yabie.


"Kau bisa bicarakan itu dengan Dokter Chandra nanti. Kami belum tahu kapan akan kembali ke sana lagi. Itu sebabnya memanggil Liam, Laras dan Nastiti. Ingin tahu pendapat mereka," jelas Dean.


"Baik." Yabie tersenyum tipis.


"Ayah, aku akan bepergian sebentar dengan Paman," ujar Yabie.


"Pergilah! Kau harus mengambil pelajaran yang baik di sana, untuk perubahan kota kita!" kata Ketua Kota.


Hari sudah sore lagi, saat Dean bersiap untuk kembali. Ikut bersamanya Yabie yang membawa Liam, Laras dan Nastiti. Ada juga Kang, yang tak mau jauh dari istrinya.


Mereka melintasi pintu teleportasi dan tiba di dunia kecil saat malam tiba.


Diskusi malam itu terasa hangat.


"Jika sesulit itu meyakin manusia-manusia di dunia kalian, lebih baik tetap tinggal di sini saja!" ujar Kang.


"Betul. Sudahlah ... Paman tetap tinggal di sini saja. Toh kalau mau membeli keperluan, pasar di dunia Aslan sudah memadai. Kita tak butuh terlalu banyak hal lagi di sini!" Yabie setuju dengan Kang.


"Pendapat kalian bagaimana?" tanya Dokter Chandra pada Laras, Liam dan Nastiti.

__ADS_1


"Aku hanya ingin tinggal bersama Kang!" suara Nastiti sudah bulat. Dia sudah memutuskan itu sejak dia jatuh cinta pada Kang.


Dokter Chandra mengangguk penuh pengertian. Lalu pandangan dialihkan pada Liam dan Laras.


"Kalian bagaimana?" tanyanya pada dua orang itu.


"Aku ingin menjadi guru di Kota Mati!" sahut Laras.


"Oke! Lalu kau mau bagaimana?" tanya Dokter Chandra pada Liam.


"A-aku ... aku ingin melamar Laras," ujarnya mengagetkan semua orang.


"Apa?" Laras terbengong.


"Apa kau mau jadi istriku, Laras?" tanya Liam memberanikan diri.


Laras terdiam! Hatinya yang patah dan mendingin sejak cintanya bertepuk sebelah tangan, sekarang menghangat. Berbulan-bulan Liam menunjukkan perhatian yang bukan pura-pura. Di saat-saat dia terouruk dan hampir mati, Liam tak beranjak dari sisinya.


Mata Laras melembut. Kemudian dia tersenyum dan mengangguk. "Iya, aku mau."


"Horeeee ... akhirnyaaaa jadi juga!" Widuri, Niken dan Nastiti bersorak bersama. Mereka memeluk Laras dengan haru.


Dokter Chandra meneteskan air matanya. Gadis-gadis itu seperti putri-putrinya. Dan sekarang, dia harus menikahkan yang seorang lagi.


"Kalian ... telah membuat orang tua ini bahagia. Aku akan menikahkan kalian di Kota Mati!" putus Dokter Chandra.


"Terima kasih, Dok," Wajah Liam sekarang sangat cerah. Kesabarannya membuahkan hasil. Laras akhirnya dapat menerimanya.


"Kapan kalian kembali ke Jakarta, jangan lupa membeli kamera. Jadi, semua yang di sini bisa diabadikan!" pesan Niken.


"Akan kuingat. Berarti harus punya komputer dan printer juga agar bisa mencetak gambarnya!" Dean mengangguk setuju.


"Komputer apa? Kita tak punya listrik!" tanya Robert heran.


"Aku memesan panel surya pada Astrid. Mudah-mudahan saat kita kembali ke sana, semua itu sudah ada.


"Wahh ... hebat! Meskipun tidak bisa digunakan online karena tak ada internet, tapi bisa digunakan untuk hal lain. Bagus sekali idemu, Dean!" puji Sunil.


"Apakah itu sangat bagus? Apa perlu kubeli juga untuk di Kota Pelabuhan?" tanya Yabie.


"Ya! Kau sangat membutuhkan hal itu untuk memudahkan pencatatan administrasi kota!" Robert mendukung Yabie.


Dean mengangguk. "Baik. Nanti kubelikan satu set bersama panel suryanya untukmu!" janji Dean.


"Terima kasih, Paman!" Yabie memeluk Dean hangat.


"Kau sudah besar, sudah punya istri. Apa tak lihat mata mereka memandang aneh padamu?" tunjuk Widuri ke arah yang lain.


Yabie tersadar dan kembali duduk dengan wajah tersenyum senang.


"Besok kita bisa kembali dan melihat, apa saja yang sudah disediakan Astrid," kata Dokter Chandra.


"Oke!" sahut yang lain setuju.


Diskusi malam itu berakhir dengan satu kejutan baru. Pernikahan Laras dan Liam.

__ADS_1


*******


__ADS_2