PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 54. Pindah


__ADS_3

Indra melangkah lesu menuju hutan tempat teman-temannya bersembunyi. Belum lama dia berjalan, sudah bertemu dengan anggota tim lain yang justru kembali dengan buru-buru.


"Indra.. Kau tidak apa-apa?" tanya Laras khawatir.


"Aku tidak apa-apa. Kenapa kalian kembali?" Indra bertanya balik.


"Syukurlah kalau gak kenapa-napa." Silvia mengatur nafasnya yang terengah-engah akibat berlari tadi.


"Kami kembali dari memetik mangga saat melihat asap hitam membubung tinggi dari arah shelter. Jadi kami putuskan untuk kembali, kuatir kamu kenapa-kenapa." Dokter Chandra menjelaskan.


"Oh.. Ya sudah. Mari kita kembali." Indra berbalik badan.


"Asap apa itu tadi In?" Liam tak bisa menahan rasa ingin tau.


"Shelter kita dibakar mereka," jawab Indra lesu.


"Apaa?!" Terdengar teriakan beberapa orang yang terkejut.


"Apa mereka pergi setelah membakar shelter?!" tanya Niken dengan geram.


"Hemm," jawab Indra sambil mengangguk.


Teman-temannya segera berlarian menuju shelter meninggalkannya yang berjalan lesu.


"Jangan patah semangat, yang paling penting kita selamat. Shelter masih bisa dibangun lagi." Dokter Chandra menepuk punggung Indra menjajari langkahnya.


"Dokter! Dokter!" terdengar teriakan panik dari arah teman-temannya, membuat dokter Chandra terkejut dan mempercepat langkah.


"Aku duluan," ucap dokter Chandra.


Indra berhenti di pohon kelapa tak jauh dari area shelter. Dia terduduk lemas di situ. Bayangan Marianne dan Michael yang diseret tanpa perlawanan membuatnya geram sampai membuat tubuhnya bergetar. Dikatupnya rahang menahan amarah.


"Bagaimana dengan Toni dok? tanya Silvia pada dokter Chandra yang sedang memeriksa Toni.


Dokter Chandra menggeleng. Lalu matanya mencari-cari ke sekitar.


"Dimana Marianne dan Michael? Apa kalian menemukan mereka?" dokter Chandra bertanya dengan suara keras.


"Tidak ada. Kami tidak menemukannya." Angel menjawab.


"Liam, Leon. Apa ada Marianne dan Michael di pantai?" teriak Niken pada Leon dan Liam yang menuruni tebing ke pantai.


"Tidak adaa," jawab keduanya dari bawah sana.


Mereka hanya menemukan bubu ikan yang terjungkal di pasir dekat kolam air terjun. Leon meletakkan bubu itu kembali ke tempatnya di kolam. Lalu mereka berbalik setelah memandang ke laut tapi hanya melihat kapal layar itu semakin mengecil di langit yang mulai menggelap.

__ADS_1


"Indra, dimana Marianne dan Michael?" Laras ingin kejelasan.


"Mereka diculik orang asing itu. Indra mengusap kepalanya dengan kasar. Rambut yang sekian lama tidak dipangkas itu jadi terlihat makin kusut semrawut. Laras terhenyak mendengarnya.


"Kalian kenapa?" tanya Angel yang melihat Laras terbengong dengan pandangan kosong.


"Marianne dan Michael diculik." Laras berkata dengan pandangan kosong.


"Apa?!"


Suara Angel yang keras menarik perhatian yang lainnya. Mereka mendekat.


"Apa kalian tau tentang Michael dan Marianne?" Niken bertanya hati-hati setelah melihat ketiga temannya seperti sedang tidak berada di tempat itu.


"Diculik. Marianne diculik. Orang-orang bar-bar itu akan memperlakukannya dengan buruk! Ya Tuhaan.." Angel menangis dengan keras dan tubuhnya bergetar. Matanya menyiratkan rasa takut yang amat sangat.


Rasa takut itu menjalari anggota tim lainnya. Tak bisa mereka bayangkan apa yang akan menimpa kedua rekan mereka itu diantara begitu banyak orang-orang kasar di kapal. Mereka terduduk dengan pikiran yang kacau. Termangu ditemani suara derak api yang menjilati kayu-kayu kering bekas shelter.


Langit gelap yang dipenuhi bintang tidak lagi tampak Indah bagi hati-hati yang memendam rasa marah dan sedih akibat kehilangan teman dengan cara seperti itu.


Malam itu mereka menggali tanah tak jauh dari shelter yang masih membara. Tempat itu di ketinggian menghadap padang terbuka yang dipenuhi semak berbunga. Mereka menguburkan jasad Toni disitu. Meletakkan batu dan menulis namanya dengan arang.


Anggota tim itu melewati makan malam yang terasa sangat sunyi. Tak ada yang bicara. Lalu beristirahat di bawah bintang-bintang dan kembali tenggelam dalam pikiran masing-masing.


***


Dipandangnya laut lepas dari tepi tebing itu. Tampak noktah hitam di kejauhan. "Itu mungkin sebuah kapal, tapi terlalu jauh" Robert mendesah.


*


Setelah sarapan seadanya, Robert dan Gilang meninggalkan tebing tempat mereka beristirahat. Robert hanya tidur sebentar menjelang pagi.


Langkah mereka cepat, tanpa jeda untuk mengamati sekitar, mereka terus berjalan agar bisa sampai lebih cepat di shelter. Hari belum terlalu sore saat mereka mendengar suara gemericik air, mereka makin bersemangat, karena artinya shelter sudah makin dekat. shelter ada di seberang sungai kecil itu.


Robert menyeberangi sungai kecil tempat mereka biasa mandi dan mencuci pakaian. Jaraknya hanya 2 meter dan ketinggian airnya hanya sebatas pinggang saja. Robert tak melihat bubu ikan yang biasanya dipasang disitu.


Di tepi sungai tak terlihat seorangpun. Robert melangkah lebar ke arah shelter. Dia melihat berbagai gerabah yang pecah berantakan. Keningnya mengerut. 'Ada apa ini?' pikirnya. Gilang juga melihat hal itu dengan heran.


"Ini..?" ucapannya terputus setelah melihat lokasi shelter yang menghitam hangus. Hanya abu yang yang tersisa di situ.


"Ada apa ini?" Robert sangat terkejut melihat tempat itu.


"Indraa!" teriak Robert memanggil, karena tak terlihat seorangpun di tempat itu.


Robert dan Gilang mencari sekeliling shelter, tapi tak menemukan siapapun.

__ADS_1


"Kemana mereka?" Gilang tampak bingung.


"Apa mereka diangkut kapal yang ku lihat tadi malam?" kata Robert.


"Kapal apa? Kapan kamu melihat kapal?" Gilang heran.


"Tadi malam saat berjaga. Ku lihat noktah hitam di tengah laut. Sangat jauh. Tak tau mereka singgah disini atau lewat saja di kejauhan," jawab Robert.


"Tapi jika benar mereka singgah, harusnya menunggu kita kembali baru membawa semuanya. Dan tak perlu membakar shelter juga kan.." kata Gilang.


"Yaa. Kau benar." Robert justru makin cemas mendengar perkataan Gilang.


"Kalau mereka baik, pasti akan menunggu kita dan tak ada perlunya membakar shelter yang ditinggalkan." Robert mengulangi perkataan Gilang.


"Ini berarti terjadi sesuatu. Apa itu kapal perompak? Apa mereka diculik?" Robert bertanya-tanya sendiri.


"Itu sebabnya kau gelisah sejak kemarin," kata Gilang sambil berjalan ke arah tebing pantai.


Di pantai tak terlihat seorangpun. Tapi Gilang tetap turun.


"Aku periksa pantai dulu," teriaknya saat menuruni tangga.


Robert memeriksa area shelter dengan lebih teliti. Tak ditemukannya satupun keranjang willow disitu. Tak ada juga ikan-ikan asin yang dijemur. Tak ada jemuran. Tapi ada yang terlihat aneh. Tampak bekas tempat mencetak batu bata kehilangan beberapa batunya. Jika itu rusak seperti gerabah, maka pasti akan ditinggalkan saja disitu. 'Tak mungkin batu-batu bata mentah itu diangkut ke kapal. Buat apa?' Robert berpikir keras.


Perlahan wajahnya berubah cerah. Teman-temannya pasti selamat. 'Mereka hanya pindah dari sini setelah shelter terbakar. Mereka membawa cukup banyak batu bata yang sudah dicetak ke tempat baru' pikir Robert optimis.


"Gilang. Apa yang kau temukan disana?" teriak Robert di dekat tangga willow.


"Tak ada apapun di sini. Bahkan bubu ikan di kolam juga hilang," sahut Gilang.


"Naiklah," teriak Robert.


Robert lalu duduk beristirahat di batu dekat tebing yang biasa digunakan menjemur pakaian. Tiba- tiba matanya terbelalak melihat pesan yang ditulis di batu.


"Gilang, mereka meninggalkan pesan," suara Robert terdengar senang.


"Pesan apa?" tanya Gilang yang muncul di tangga.


"Ini. Lihatlah. Hahaha." Robert tertawa senang.


Gilang menghampiri dan ikutan membaca pesan di batu yang ditulis dengan arang.


KAMI PINDAH KE ARAH KITA MENCARI KAYU


Gilang ikut tersenyum lebar. Bahagia.

__ADS_1


"Mari kita susul ke sana. Hahaha."


Robert berjalan dengan semangat sambil merangkul pundak Gilang. Wajah keduanya sangat cerah sekarang. Beban di hatinya sudah terangkat.


__ADS_2