
Hari ini adalah hari pemakaman teman-teman mereka. Dean sudah membersihkan sedikit lahan untuk itu. Sudah tersedia empat lubang berdampingan.
Mereka berdiri mengelilingi saat keempat jasad diturunkan ke dalam lubang. Jasad Penguasa diapit oleh Jasad Jenderal So dan Penasehat Ma. Sementara jasad Michael berada di samping jasad Penasehat Ma.
Setiap lubang yang ditutup, ditandai dengan sebongkah batu besar dengan ukiran nama masing-masing. Lalu mereka membingkai tiap makam dengan susunan batu. Kemudian menaburi bunga liar di atasnya.
"Penguasa, akhirnya anda tiba di negeri kami. Kami memakamkan anda di sini. Di bawah penjagaan Leon. Satu jiwa bangsa kita yang tersisa, menjaga anda selamanya," batin Dokter Chandra.
"Jangan bersedih. Kalian bisa menjengukku kapan saja, kan?" hibur Leon.
"Bagaimana kalau kita ke pantai dan bermain air? Sambil melihat apa yang bisa kita lakukan di sana. Mungkin ada hal menarik juga." Sunil memberi ide.
"Aseeekkk ... berenang ... berenang." Niken kegirangan.
"Ayolah ... sudah lama kita tidak berenang," ujar Alan antusias.
"Kalian duluan saja. Aku mau pindahkan bibit apel hutan larangan lebih dulu," tolak Widuri.
"Mau kau tanam di mana?" tanya Marianne.
"Sepertinya cocok ditanam di sebelah makam. Biar teduh. Bagaimana pendapat kalian?" Widuri memandang teman-temannya.
"Itu sangat bagus!" Dokter Chandra mengangkat jempolnya.
"Oke. Dean, bantu aku membuat lubang," panggil Widuri.
"Siap, Nyonya," godanya nakal.
Yang lain tertawa kecil.
"Oke, kami ke pantai duluan. Kalian cepat menyusul ya."
Anggota tim itu menuruni bukit bersama.
"Dean, seperti pembicaraan semalam. Tidak bisakah kita terbang saja? Menunggu kapal tengkulak itu terlalu tak pasti. Jujur saja, aku tak sabar untuk bertemu mama dan papa," kata Widuri.
"Bagaimana jika dilihat orang?" tanya Dean sabar.
"Kita bisa terbang malam hari. Tidak ada yang akan lihat," bantah Widuri.
Dean diam sejenak.
"Nanti kita diskusikan lagi dengan yang lain. Kalau mereka setuju, kita lakukan seperti itu saja," ujar Dean lembut.
Widuri melempar senyum manis ke arah Dean. "Kau yang terbaik."
"Ayo kita selesaikan ini. Mau tanam apa lagi?" tanya Dean.
"Ini ada bibit lemon dan blueberry. Ku kira, lebih baik ditanam di situ dan di sana!" tunjuk Widuri.
"Siap!"
Keduanya sibuk dengan urusan menanam dan menyiram. Dean menarik air laut untuk menyirami seluruh tempat yang masih kering dan berdebu.
"Sudah ... sudah. Kau sudah membasahi seluruh tempat hingga kebun itu. Sudah seperti hujan lokal saja. Sekali lagi kau tarik air laut ke sini, maka seluruh halaman akan becek!" omel Widuri.
"Kenapa kau selalu menggemaskan? Bahkan saat mengomel pun, terlihat lucu," goda Dean.
__ADS_1
Keduanya saling pandang dengan kasih sayang. Dean memeluk pinggang Widuri.
"Mari kita susul yang lain ke pantai. Atau aku akan memakanmu," godanya.
"Boleh," jawab Widuri sambil tersenyum.
Dean terdiam dan sedikit ragu. Dia tak ingin menebak-nebak.
"Boleh apa hemm?" tanyanya lirih.
"Kau ... boleh memakanku." Wajah Widuri memerah seperti kepiting rebus. Dialihkannya pandangan ke arah lain.
Dean tak mungkin melewatkan isyarat itu. Dengan segera dibopongnya tubuh Widuri dan terbang ke dalam rumah.
"Sesuai perintahmu, Nyonya," ujarnya dengan suara bergetar.
*
*******
Di pantai, kelompok itu asik berenang dan bermain air. Cloudy dan kuda Jane senang berlarian dan melompat-lompat di pantai. Air terciprat kemana-mana.
"Cloudy! kau membasahiku!" ujar Alan.
"Apa kau rindu bermain air di pantai air asin? Kau ingin bermain denganku?"
Alan dan Cloudy berguling-guling di bibir pantai. Rambut Alan dan bulu-bulu Cloudy basah serta dipenuhi pasir. Tapi Alan tak peduli. Dia sangat gembira.
Tak jauh dari sana, Sulaiman terkekeh melihat polah orang-orang baru itu. Dia duduk mencangkung di tepi dermaga tua, dengan sebuah alat pancing. Hari yang cerah dan cantik. Dia lebih ingin memancing, ketimbang bermain air seperti anak-anak.
"Pasti menyenangkan jika mereka mau tinggal di sini, seperti Leon. Lebih ramai, lebih hidup," angannya.
*
*
"Alan, bisakah kau menangkap beberapa ikan untuk makan siang?" tanya Marianne.
"Oke!"
Alan menarik beberapa rumput di pantai. Lalu berenang lebih ke tengah. Dia tak mungkin terbang dibawah pandangan Sulaiman. Sesekali dia menyelam dan menarik ikan yang cukup besar. Ikan-ikan itu diikatnya dengan tali dari rerumputan. Kemudian dia kembali ke pantai.
"Apa ini cukup?" tanyanya.
"Kurang! Baiknya seorang satu. Karena tak ada nasi di sini," ujar Marianne.
"Baik. Ku ambilkan lagi," jawab Alan.
Sunil dan Robert membantu membuat tungku untuk membakar ikan. Kemudian mengumpulkan kayu-kayu bakar. Keduanya menyusuri garis pantai lebih jauh lagi. Ada cukup banyak batang pohon dan ranting yang dibawa ombak ke pantai. mereka telah mengumpulkan sangat banyak kayu bakar. Rasanya itu baru akan habis dalam seminggu. Sunil menyimpan kayu-kayu itu dalam penyimpanan.
"Hahahaha ... aku menemukannya!" ujar Robert senang.
"Apa yang kau temukan?" Sunil mendekat.
"Lihatlah!"
Robert menunjukkan satu cangkang kerang yang besar.
__ADS_1
"Apakah itu-"
"Ini kerang mutiara," potong Robert.
"Leon bisa mengumpulkan lebih banyak uang jika memelihara kerang mutiara. Harganya mahal."
Sunil mengangguk setuju.
"Kita panggil dia ke sini atau bagaimana?" tanya Sunil.
"Panggil saja," kata Robert.
"Leon, coba kau ke sini. Ada yang kami temukan di sini," panggil Sunil dengan transmisi suara.
"Oke!" jawab Leon. Dia segera menyusul Robert dan Sunil.
Melihat apa yang ditunjukkan Robert dan Sunil, dia sangat gembira. Masa depan akan lebih cerah sekarang. Membeli kapal baru bukan lagi sekedar angan-angan.
"Ku pikir, lebih baik memindahkannya ke pantai yang dekat dengan rumahku. Nanti harus dibuat kolam pembesaran khusus agar air laut berganti secara alami, tapi tak membuatnya hanyut saat air pasang naik." Leon dengan cepat menganalisanya.
"Cepat sekali kau menganalisanya," puji Sunil.
"Kalian di mana? Marianne menunggu kayu bakar begini lama!" terdengar teguran dari dokter Chandra lewat transmisi suara.
"Ah, ok. Aku segera ke sana," balas Sunil.
"Kalian ambil yang lain. Kumpulkan. Nanti kita bagi rata. Yang kecil-kecil itu untuk kau pelihara," ujar Sunil. Leon dan Robert mengangguk.
"Aku kembali dulu. Marianne butuh kayu bakar." Sunil berdiri dan melesat pergi.
"Ayo kita kumpulkan."
Leon dan Robert mengumpulkan semua tiram mutiara yang mereka temukan. Semua disimpan dalam penyimpanan. Keduanya lalu kembali sembari memungut lebih banyak kayu yang mereka temukan.
"Kau bisa menyusuri pantai lagi untuk mencari bibit mutiara dan memindahkan ke kolammu." kata Robert.
"Terima kasih Robert. Kalau kau tak menemukannya, aku juga tak tau. Lain kali aku akan menyusuri seluruh bibir pantai di pulau ini," ujar Leon.
"Ya..Kau bisa melakukannya. penduduk pulau ini hanya kau dan Sulaiman. Bantulah dia, agar tidak ditipu para tengkulak.
"Baiklah." Leon mengangguk.
*
*
Para wanita sedang sibuk membakar ikan, saat Robert dan Leon kembali sambil menenteng kayu bakar lainnya.
Udara yang makin panas memaksa semuanya naik dan berteduh di bawah perlindungan pepohonan kelapa di pinggir pantai. Mereka menikmati ikan bakar seraya membuang pandangan ke laut lepas.
Di horizon, birunya langit dan laut menyatu. Angin yang senantiasa bertiup, berhasil meringankan sedikit sunburn yang dirasakan kulit
"Kulitku akan semakin cokelat," gerutu Niken.
"Kau tetap cantik meskipun cokelat," bujuk Indra. Niken cemberut mendengarnya.
"Kita kembali saja. Ini memang terlalu panas," ujar Dean. Yang lain akhirnya setuju mengakhiri acara pantai siang itu.
__ADS_1
Mereka segera berbenah. Semua makanan, Cloudy dan Kuda Jane juga dimasukkan ke penyimpanan. Para wanita dan Indra juga ikut menghilang.
Sunil membantu membawa Sulaiman agar berjalan lebih cepat ke arah rumahnya. Yang lainnya langsung melesat cepat menuju rumah Leon.