
Dari jauh Dean mendengar suara ramai, tawa gembira banyak orang. 'Apa yang terjadi?' pikirnya heran. Tiba-tiba sesuatu menghantam dadanya, membuatnya terkejut. Rasa dingin menjalar di dadanya yang penuh dengan butiran salju. Dia melihat ke depan, pada orang yang masih tertawa lebar di depannya. Di tangan kirinya ada segenggam salju lainnya.
"Dean, kau kembali. Kami sedang ber.." Belum selesai Indra bicara, bola salju lain mengenai kepalanya dilempar oleh Gilang.. " Kau.. benar-benar minta dihajar yaa.." teriak Indra mengejar Gilang sambil melemparkan salju dalam genggamannya. Mereka berlarian sambil tertawa. Laras dan Niken segera ikut serta dalam perang lemparan bola salju itu.
Dean memindahkan tas-tas mereka ke dalam shelter. Dia lalu duduk menghangatkan diri.
"Dean, kau tidak ikut bermain?" Marianne mendekatinya. "Mereka sedang stress, putus asa. Bila rasa negatif itu tidak disalurkan, itu akan berbahaya. Jadi biarkan mereka gembira sejenak." Terang Marianne. Dean mengangguk mengiyakan. Dia ikut tersenyum melihat kegembiraan itu.
"Yah.. ini sangat bagus Marianne," kedua tangan Dean menggenggam tangan Marianne tulus penuh rasa terima kasih. Dia lalu ikut serta dalam kegembiraan itu dan melupakan sejenak beban berat di pundaknya. Mereka bermain hingga kelelahan.
"Sudah, sudah.. Sekarang sudah sore, angin dingin dan kencang. Ayo hangatkan tubuh kalian dulu." Marianne memanggil. Mereka berjalan masuk sambil merapatkan baju dan memeluk kedua tangan di depan dada untuk mengusir rasa dingin. Tapi senyuman bahagia masih tampak di wajah-wajah yang memerah akibat digigit suhu yang dingin. Mereka masih berbincang riang di depan perapian. Widuri dan Laras sigap memasak air minum dan mulai menyiapkan makan malam untuk semuanya.
"Kenapa tim 3 tidak semua ikut Dean?" tanya Liam sambil memilih daging diantara tulang-tulang ikan.
"Alex dan Lena belum bangun dari tidur panjang. Lalu Robert juga sedang terluka karena bertarung dengan serigala kemarin sore." Dean mengangkat kepalanya dari piring dan melihat ke arah semua rekannya. "Tapi besok, kita harus membawa mereka semua kemari. Akan sulit bagi kita untuk saling menjaga jika terpisah seperti ini. Terutama karena Robert sebagai pemimpin tim 3 juga jatuh sakit. Bagaimana pendapat kalian?" tanya Dean.
"Jika mereka tidak sadarkan diri, bukankah kita harus mengangkatnya dengan tandu?" tanya Leon. Dean mengangguk mengiyakan.
"Menurutku kita mungkin hanya perlu menyiapkan 1 tandu untuk Alex dan Lena. Jarak dari sini ke sana tidak terlalu jauh. Kita masih bisa bergantian mengangkatnya dengan dua kali perjalanan."
"Lalu bagaimana dengan Robert?" tanya Silvia.
"Tadi sebelum kami kembali dia sudah bangun, demamnya sudah turun. Tapi masih lemah. Itu sebabnya dia menolak ikut hari ini. Jadi mestinya besok sudah bisa berjalan sendiri." Dean menambahkan penjelasannya yang tadi belum selesai karena dipotong Silvia.
__ADS_1
"Baiklah. Itu bagus. Memang lebih baik kita berkumpul bersama jika terjadi sesuatu seperti ini." Marianne merasa cukup puas dengan kemajuan kepribadian rekan-rekannya. Mereka mulai terbiasa bekerjasama dan memikirkan teman lainnya.
*
Sekitar jam 10 pagi Dean, Leon dan Liam sudah sampai di shelter kedua. Dokter Chandra terlihat sedang membalut lengan Robert.
"Bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Dean pada Robert.
"Baik. Kurasa tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Betul kan dok?" Robert justru melempar pertanyaan pada dokter Chandra. Alis Dean sedikit mengerut merasakan keanehan.
"Kalian menyembunyikan sesuatu? Coba ku lihat lukanya." Dean ingin memastikan perasaan yang mengganggu di hatinya.
"Tidak ada apa-apa." Robert membantah, menahan Dean yang ingin membuka pembalut lukanya. Tapi Dean tak bergeming. Dia menyingkirkan tangan dokter Chandra dari perban itu. Dokter Chandra akhirnya memberi ruang pada Dean untuk memeriksa. Robert ingin menolak Dean, tapi tangannya yang lain dipegangi oleh Liam. Akhirnya dia tak bisa berbuat apapun dan membiarkan Dean memeriksa.
"Sebenarnya tidak seperti yang kau bayangkan Dean." dokter Chandra mencoba menenangkannya.
"Lalu seperti apa yang sebenarnya? Coba katakan padaku. Jangan menyembunyikan apapun, karena kita harus bersama mencari jalan keluar dari setiap masalah yang menimpa anggota tim. Itu untuk keselamatan bersama. Tapi kalian terlihat tidak mempercayaiku." Dean terlihat kecewa.
"Baiklah akan ku jelaskan, agar kau tidak berfikir macam-macam," sahut dokter Chandra. "Tadi malam Robert kembali demam tinggi tapi masih sadar. Aku memeriksa lukanya. Infeksinya menjalar cukup lebar. Jadi ku katakan padanya aku harus membersihkan lagi luka itu, membuang nanahnya dan mengganti dengan kain pembalut lain. Setelah itu dia tertidur hingga pagi. Pagi ini, selesai sarapan aku periksa lagi, tapi luka itu kembali terinfeksi. Lalu Robert menyarankan untuk menutup luka itu menggunakan pisau panas. Itulah hasil yang kau lihat."
"Hmmm.. baiklah. Maafkan aku. Apakah sekarang luka itu sudah baik-baik saja dok?" tanya Dean memastikan.
"Semoga sesuai harapan kita. Bagaimanapun kita sudah upayakan yang kita bisa." sahut dokter Chandra.
__ADS_1
"Lalu bagaimana dengan mereka berdua?" tanya Dean sambil menunjuk Alex dan Lena yang masih tertidur.
"Tadi malam mereka bangun saat Sunil berjaga. Setelah diberi minum dan makanan mereka kembali tidur. Terlihat sangat mengantuk kata Sunil." Dokter Chandra menjelaskan situasinya.
"Kenapa dibiarkan tidur lagi? Mereka harus melawan rasa kantuk itu dengan menghangatkan diri atau melakukan sesuatu. Tidakkah mereka puas tidur selama 2 hari 2 malam?" Dean sangat heran. Dokter Chandra mengabaikan dan melanjutkan pekerjaannya yang tertunda, membalut kembali lengan Robert.
"Bangunkan dia." Dean menunjuk Alex.
Leon mendekati Alex, menepuk-nepuk pipinya.. " Alex. Alex. Bangun. Kita mau berangkat." Di kali kedua Leon menepuk lebih keras pipinya, baru Alex terbangun dengan mata masih mengantuk.
"Cukup. Tidak ada waktu untuk tidur lagi. Kalian sudah tidur 2 hari 2 malam." Suara Dean tegas. Dia tidak dapat mentoleransi lagi. Mereka sudah bangun, bagaimana bisa tidur lagi? "Jika masih ingin tidur, kami akan meninggalkan kalian di sini."
Alex terlihat bingung. Dokter Chandra mengamati dari sebelah Robert.
"Dok, apakah ada kemungkinan otak manusia terganggu karena tidur terlalu lama?" tanya Liam yang heran melihat ekspresi Alex. Dokter Chandra mendekati Alex, memeriksa nadinya. Alex masih terlihat bingung seperti ingin bicara tapi tak bisa.
"Hmmm.. Sejauh ini, menurut pemeriksaan sederhana, dia terlihat mengalami hipotermia. Kesadarannya masih rendah. Dia tak menyadari keadaan sekitar karena aktifitas otaknya melambat." dokter Chandra menjelaskan. "Ada baiknya menjaganya tetap sadar dan membuat tubuhnya lebih hangat. Beri dia minum dan makanan hangat agar tubuhnya memproduksi energi. Mudah-mudahan segera teratasi."
Liam segera menuang air dari teko ke cangkir dan membantu Alex minum. Alex tidak membantah. Dia terlihat berusaha keras memahami keadaan sekitarnya. Matanya terus mengerjap untuk mengusir rasa kantuk. Liam menyodorkan sepotong daging panggang padanya, menyuruhnya makan. Alex mengikuti. Tak lama rasa kantuk Alex terlihat berkurang. Setelah mengamati itu, Dean mengalihkan pandangan pada Lena.
"Sekarang bangunkan dia." Leon mendekati Lena dan melakukan hal yang serupa pada Lena, menepuk-nepuk pipinya dengan cukup keras sambil memanggil namanya. Tak lama Lena juga bangun dalam keadaan linglung. Leon mengikuti Liam, memberi minuman hangat dan makanan padanya.
Melihat mereka berdua sudah mulai sadar, Dean tak menunda lagi. " Kita akan berangkat setelah semua orang berkumpul. Jadi jangan tidur lagi. Atau kami akan membiarkan kalian tidur di sini selamanya." Alex terkejut. Otaknya sudah mulai bekerja merespon kalimat Dean.
__ADS_1
Saat Sunil, Toni dan Gilang kembali dengan membawa hasil tangkapan, mereka segera berkemas untuk berangkat menuju danau, bergabung dengan anggota tim lain.