
"Berarti kalian bisa terbang! Tck... tak kusangka...." katanya.
"Jika kau ingin masuk, ada celah ventilasi yang terbuka setiap pagi dan sore hari. Dia hanya terbuka selama 1 menit. Kalian boleh memilih siapa yang masuk, siapa yang tinggal."
Dean dan Alan saling pandang.
"Biar aku yang ke sana. Kau kembali bersama yang lainnya saja," ujar Alan.
Dean menggeleng. "Biar aku saja. Nanti kau emosi mendengar kata-katanya," tolak Dean.
"Jika ternyata dia orang jahat, bagaimana?" tanya Alan khawatir.
"Aku tinggal mengeluarkanmu," jawab Dean santai.
"Baiklah kalau begitu."
Dean menyentuh Alan. Temannya segera lenyap ke dalam ruang penyimpanan.
"Aku sudah mendengar bunyi mekanis di sini. Sebentar lagi ventilasi itu terbuka dan akan mengeluarkan udara kotor dari sini. Setelah itu baru mengambil udara baru."
"Baik, aku sudah siap!" teriak Dean.
"Heheheee...." Suara asing itu terkekeh mendengar kata-kata Dean.
Tak lama, Dean mendengar suara keras pada dinding di sebelah kanannya. Dean melesat ke arah itu.
Benar saja. Sebuah jendela segi empat ukuran sedang, perlahan-lahan membuka. Dean mendekat. Udara panas masih menyembur dengan kencang dari arah dalam. Dean tak bisa masuk.
Begitu dorongan udara itu melemah, Dean tak membuang waktu lagi. Dia melesat masuk secepat kilat. Dean kini bisa merasakan udara sumpek dan hangat tadi, telah digantikan aliran udara sejuk pagi hari yang disedot masuk.
Dean terus mengikuti lorong sempit ventilasi itu. Hingga tiba di depan sebuah baling-balik yang sedang berputar dengan kecepatan konstan.
Dean meragu. Haruskah dia melewati baling-baling itu atau tidak.
"Kenapa lama sekali? Lewati baling-baling itu. Atau kau akan terjebak di lorong itu selamanya!"
Suara asing itu memasuki kepala Dean.
Dean bersiap, menghitung gerak perputaran baling-baling ventilasi itu.
1.. 2..
Syuuuuttt....
Dean melesat melewati baling-baling, tepat saat jendela ventilasi tertutup.
"Nyaris saja," gumamnya.
Dean masih melayang di udara. Melihat ke sekitarnya. Dia sedang melayang di sebuah tempat luas seperti Hall. Tapi tak ada siapapun di situ.
"Kau dimana?" teriak Dean.
"Aku ada di ruangan di depanmu. Buka pintunya jika kau ingin masuk." jawab suara itu di kepala Dean.
Dean melayang rendah. Dia bisa melihat daun pintu yang tertutup di ujung ruangan. Dean terbang ke sana.
Dean berusaha membuka handle pintu. Tapi pintu itu tak bergerak.
"Ini terkunci! Apa kau tau dimana kuncinya?" teriak Dean.
__ADS_1
"Jadi kau sudah di depan pintu? Nasehatku satu! Jangan pernah injak lantai di depan pintu itu. Atau hidupmu berakhir hari ini...."
"Hah?!!"
"Oke. Aku bisa melayang di atasnya. Terima kasih peringatanmu. Sekarang katakan dimana kunci pintu ini. Atau kau tau cara membukanya?" tanya Dean.
"Seharusnya kunci itu ada di sekitar. Kecuali dibawa mati oleh penjaga terakhir...."
"Apa maksudmu? Jika tak tau cara membukanya, bukankah sia-sia aku masuk? Kau tak bisa keluar juga!" gerutu Dean.
"Nak, bukankah tadi kau bilang perlu tempat berlindung dari matahari? Aku sudah membantumu. Apa salahku?" bantah suara itu.
Dean tercenung. Orang di balik pintu itu memang tak salah. Dia tak ada meminta Dean untuk dibukakan pintu yang mengurungnya. Tapi entah kenapa, tanpa sadar Dean jadi ingin membuka pintu itu.
Syuuuttt!
Alan keluar dan melayang di sebelah Dean.
"Ada apa?" tanya Alan.
"Orang itu terkunci di dalam. Tapi aku tak menemukan kuncinya."
"Dia tak memintamu mengeluarkannya. Lalu kenapa harus dibuka?" tanya Alan heran.
"Entah, aku tak tau. Tapi kurasa kita akan butuh bantuannya untuk bisa keluar dari dunia ini," jawab Dean.
"Hahahaaa...."
Terdengar suara tawa di kepala Dean dan Alan.
"Bagaimana cara kalian bisa masuk berdua? Bukankah lorong itu sempit?"
Suara itu diam, tak membalas sedikitpun.
"Bisakah kau gunakan lasermu utk memotong pintu itu? Atau dinding sebelahnya?" tanya Dean.
"Akan ku coba!" ujar Alan.
Alan mencoba memotong pintu itu dengan sinar laser dari matanya. Tapi dia justru terdorong mundur karena sinar itu memantul dan mengenai pundaknya.
"Akhhh... dinding sialan!"
"Kau terluka. Minum ini dulu dan pulihkan dirimu."
Dean mengambil secangkir air abadi dan menyerahkannya pada Alan. Bahunya terlihat terbakar dan mengeluarkan asap dengan aroma barbekyu.
Dean mendekati dinding di samping pintu. Dia mencoba memotong dinding dengan jarinya. Jika itu terbuat dari batu, harusnya Dean dapat memotongnya.
"Tidak bisa juga? Terbuat dari apa dinding ini?" gumam Dean.
"Mungkin bahan yang sama dengan pintu. Metal yang kokoh. Tapi bagian dinding tidak diberi pengaman seperti pintu. Biar ku coba sekali lagi!" kata Alan.
"Apa kau sudah pulih?" tanya Dean.
"Hemmm...." Alan mengangguk.
Dia melayang menuju dinding yang tadi dicoba Dean. Digunakannya mata lasernya memotong dinding itu.
"Ini berhasil!" seru Alan senang.
__ADS_1
"Lanjutkan, Alan."
"Oke," jawab Alan.
Dia memotong dinding selebar satu meter, dengan tinggi 2 meter.
Tak butuh waktu lama, pekerjaan itu selesai. Dean membantu mengangkat dinding itu agar tak jatuh ke lantai yang mungkin bisa memicu aktifnya perangkap.
Dean mengangkat dan meletakkan kepingan dinding itu pada balok-balok penyangga yang melintang di atas Hall.
Dean menuju ke dinding yang bolong. Ternyata Alan sudah masuk lebih dulu. Dean menyusul melesat masuk.
Alan terpaku di depan sesosok tubuh yang terkulai dan dirantai ke tembok. Dua tangannya ditarik dengan rantai ke arah kanan dan kiri. Kedua kakinya juga di rantai, tapi masih menjejak lantai. Tubuhnya sedikit terdorong ke depan. Dua rantai yang mengikat tangannya, menjaganya agar tak jatuh.
Dengan hati-hati, Dean mendekat. Diangkatnya kepala yang tertunduk, ditutupi rambut putih panjang dan acak-acakan.
"Akhh!"
Dean dan Alan terkejut. Orang itu sudah jadi tengkorak.
"Kau sudah mati. Bagaimana caramu memanggil kami ke sini?" tanya Dean.
"Aku tak memanggil siapapun. Tapi ku rasa, kalian dipanggil oleh sinyal dari lambangku. Hanya yang sebangsa denganku yang dapat mengetahuinya."
"Kau bangsa bintang?!"
Seru Dean dan Alan terkejut. Keduanya saling berpandangan dan Alan dengan cepat memotong rantai yang membelenggu jasad itu. Dean menjaganya agar tak jatuh menabrak lantai. Jasad itu kini melayang di udara.
"Lantai ruangan ini bisa kalian injak." katanya.
Alan dan Dean meletakkan jasad itu di lantai. Dean mengeluarkan tempayan air. Jasad itu disiraminya dengan air abadi.
"Apa Sunil sudah bangun?" tanya Dean lewat transmisi suara.
"Aku sudah bangun. Maaf, tadi tertidur begitu saja." ujar Sunil.
Dean mengeluarkan Sunil. Dia langsung terkejut melihat tempat mereka berdiri sekarang.
"Apakah ini benteng yang kita lihat tadi?" tanyanya.
"Ini bukan benteng. Tapi penjara dengan keamanan maksimum. Dan mereka mengurung seorang dari bangsa kita hingga tewas di sini." Dean menjelaskan.
"Apa?"
Sunil segera menemukan jasad yang sedang disirami air abadi seluruh tubuhnya.
"Kita harus menunggu jasadnya pulih," ujar Alan.
Syyuuutttt....!
Sunil mengeluarkan semua orang.
"Kalian bisa leluasa di sini."
"Tapi jangan keluar ruangan. Lantai di luar penuh jebakan!" Dean memperingatkan.
Teman-temannya terkejut. Dan mengangguk mengerti.
******
__ADS_1