
Dean mendekati dinding itu. Mencoba mengetuknya beberapa kali. Setelah yakin bahwa dibalik dinding tak ada apapun, Dean mencoba memotong tembok itu dengan tangannya. Tapi tak bisa.
"Alan! Sepertinya harus kau juga yang melakukannya," kata Dean.
Alan mencoba memotong dinding tebal itu dengan sinar laser matanya yang kuat. Dan dinding itu bisa ditembusnya.
A few moments later.
Empat orang itu masuk ke ruangan sebelah, setelah dinding diturunkan.
Di sisi dinding satu lagi, ada satu jasad yang juga terikat rantai ke dinding. Kondisi ruangan ini sangat kotor. Ada banyak bercak darah kering menghitam menodai lantai.
"Ya, ini Jendral So," kata suara itu.
Alan memotong rantai pengikat dan membaringkan kerangka itu di lantai. Dean kembali dengan tempayan air.
Robert membantu menyirami jasad itu. Dia tadi telah melihat perilaku Dean dan Alan yang terus menyirami kerangka sebelumnya, hingga kembali ke bentuk aslinya.
"Alan, Sunil, menurutmu, cocok gak jika Robert jadi tempat untuk jiwa Jendral So?" tanya Dean dengan transmisi suara.
Alan dan Sunil melirik Robert yang terus sibuk mengambil dan menuangkan air ke seluruh kerangka jendral So.
"Tepat!" jawab Sunil.
"Lalu bagaimana dengan penasihat itu?" tanya Alan?
"Bagaimana dengan Michael?" tanya Dean.
"Kenapa bukan Dokter Chandra?" tanya Sunil heran.
"Michael sudah mahir berpedang.... Dia hanya kurang kuat. Jika dia bisa terbang, mungkin bisa menambah pertahanan kita," jawab Dean realistis.
Alan mengangguk. "Baik.... Argumenmu masuk akal. Aku setuju. Tapi tanyakan kesediaan mereka lebih dulu. Jangan memaksa."
Dean memeriksa jasad itu. Semua bagiannya sudah basah kuyup.
"Kita tinggal menunggu prosesnya."
Robert mengangguk dan berhenti menyiram. Dean mendekati Robert dan berbisik menanyakan pendapatnya tentang rencana mereka.
"Hah???!"
Robert sangat terkejut. "Apa aku nanti juga akan sepertimu?" bisiknya.
"Ya, tapi dengan keahlian bertarung. Karena dia seorang jendral. Dan kau mantan tentara. Jadi ku kira kau takkan terlalu sulit untuk beradaptasi dengan kekuatannya," jelas Dean.
"Selama itu bisa membantu tim kita, aku tak keberatan." Robert mengangguk.
"Dia sudah pulih!" seru Alan.
Dean menyentuh kalung di leher Jendral So. Mengeluarkan pakaian yang bersih. Mereka segera mengganti pakaian lusuh dan compang camping itu. Tampaknya dia disiksa dengan kejam karena melindungi tuan penasehat itu.
__ADS_1
Mereka kembali ke ruangan semula dan membaringkan jasad Jendral So tak jauh dari jasad penasehat.
"Michael, coba kau ke sini," panggil Dean.
"Aku? Oke!"
Michael bangkit dari duduk dan berjalan mendekat.
"Ada apa?" tanyanya.
Dean membisikkan hal yang sama seperti yang dikatakannya pada Robert.
"Hah???!"
Michael menatap jasad penasehat yang terbaring. Meski Dean telah menjelaskan alasan-alasan mereka memilihnya, tapi dia merasa ragu.
"Bagaimana jika dia justru menguasaiku dan menggunakanku untuk melukai kalian?" tanya Michael khawatir.
"Alan akan mengatasinya," ujar Dean.
"Ya ampun... aku bisa bernasip sama seperti Sunil dong?"
Michael menatap Dean ngerii. Dia teringat saat Sunil koma beberapa waktu gara-gara Alan.
Dean tersenyum sumbang. Tak bisa berkata-kata lagi. Semua keputusan itu terserah pada Michael.
"Baiklah. Jika dia ingin berbuat jahat, kalian bisa membunuhku saja," ujar Michael memantapkan hati.
Dean tersenyum lebar. Ditepuknya Michael. " Kami tidak akan membunuh teman sendiri."
Dean membawa Michael mendekat ke jasad penasihat.
"Siapa namamu?" tanya Dean lewat transmisi suara.
"Aku Penasihat Ma. Ada apa?" tanyanya.
"Ada persyaratan berat jika kau mau hidup lagi. Sebenarnya kau bukanlah hidup lagi. Tapi jiwamu menumpang tinggal di tubuh manusia. Jangan berfikir untuk menguasai tubuhnya. Karena kami akan melumpuhkanmu seketika. Jika kau tak bisa berjanji untuk mengikuti aturan tim, kau boleh pilih untuk tinggal di sini selamanya!" ujar Dean tegas.
"Kau tak kan mungkin menyakiti temanmu." Suara itu terkekeh.
"Dia sudah merelakan diri untuk dibunuh, jika kau berusaha menyakiti tim ini!" ujar Dean dengan perasaan menang.
"Hanya orang bodoh yang bicara begitu! Aku tak mau dia. Ganti yang lain!" ujar suara itu kesal.
"Ada yang kau tak tau tentang manusia bumi. Mereka punya perasaan halus, rasa saling menyayangi dan empathi yang kuat. Rasa cinta, persaudaraan dan kekeluargaan yang kental. Dan pengorbanan untuk melindungi keluarganya," ujar Dean.
"Kalau kau tak suka, maka lupakan saja." Dean berkata dingin.
"Baiklah... baiklah...." suara itu menyerah.
"Ucapkan sumpahmu dulu. Baru prosesnya kami lanjutkan," kata Dean.
__ADS_1
"Katakan. Aku akan mengikuti sumpahnya," suara itu terdengar kesal.
Dean mengucapkan sumpah agar dia tak menyakiti dan mengkhianati tim. Dan mendukung tim mencari jalan pulang ke indonesia. Suara itu mengikutinya.
"Berikan jarimu, Michael."
Dean melukai sedikit jari Michael. Menekan, agar darahnya keluar. Lalu meneteskannya di kening jasad Penasehat Ma.
Lalu keluar cahaya ungu yang kemudian menjalar ke seluruh tubuhnya. Setelah itu, cahaya ungu itu menggulung Michael.
"Aaaakkkkkhhhh!" teriak Michael kencang. Tubuhnya melayang dibelit kuat oleh cahaya ungu pekat.
Semua anggota tim terkejut melihat apa yang terjadi.
"Michael!" seru mereka khawatir.
"Tak apa. Itu proses yang harus dilewati Michael jika ingin seperti Dean, Alan dan Sunil," ujar Widuri.
"Apa???"
Dean mengabaikan kebingungan anggota tim lain. Dia langsung berjalan ke arah Robert. " Kau siap?"
Robert mengangguk. Meski dia ngeri melihat prosesnya, tapi memang tak ada cara lain.
Dean melukai jari Robert dan meneteskan darahnya di dahi jasad jendral So. Dengan segera prosesnya terjadi. Sebentuk cahaya orange membias ke seluruh jasad itu dan langsung menyambar Robert yang menjerit melengking tinggi.
"Aaaaaaaaaaaaahhhhh...!"
Semua orang menjauh dari dua gulungan cahaya ungu dan orange.
Michael tampaknya sudah tak dapat bersuara lagi. Tubuhnya terus bergetar hebat di udara tanpa suara.
Sementara cahaya orange itu masih berkutat menaklukkan perlawanan Robert. Tubuhnya bergetar hebat seperti disetrum. Bahkan mengeluarkan hawa panas.
Dean, Alan dan Sunil mengawasi dengan seksama. Proses ini tak bisa mereka campuri. Jadi ketiganya hanya bisa menunggu hingga selesai dengan sendirinya.
"Mengerikan! Apa mereka akan baik-baik saja?" tanya Dokter Chandra khawatir.
Tak ada yang menjawab. Pandangan mereka terpaku. Melihat kekuatan bangsa bintang yang sesungguhnya. Apa mungkin selama ini, Dean, Alan dan Sunil hanya menggunakan sepertiga dari kemampuan asli mereka?
"Apakah kekuatan Dean begitu juga?" celetuk Leon.
"Yahh... kurasa begitu. Dia bahkan bisa mendorong tubuhku dan Sunil hingga menabrak tembok hanya dengan kibasan tangan," jawab Widuri.
"Astagaaa...."
Mulut mereka ternganga membayangkan tim Dean saat pertama kali menghadapi hal seperti ini.
"Tapi, pada akhirnya keberadaan mereka justru memudahkan kalian kan?" ujar Niken.
"Setiap hal pasti ada plus minusnya. Fokuskan saja pemikiran pada hal-hal baik dan keuntungan yang diberikan Dean, Sunil dan Alan untuk ini," suara lembut Marianne menenangkan.
__ADS_1
Widuri mengangguk setuju dengan pendapat Marianne.
******