
"Aaaahhhhhh..."
Terdengar jerit dan pekik ketakutan seorang wanita. Sesuatu telah membuatnya jatuh terduduk. Wajahnya pucat lesi dan tubuhnya bergetar hebat.
Beberapa orang berlari untuk melihat apa yang terjadi.
"Ada apa?" tanya orang ramai.
"I... i tu.. a.. da.. ma.. yat.." tunjuknya dengan jari gemetar.
Semua mata mengikuti arah telunjuk wanita itu. Mereka ikut terkejut melihat sesosok tubuh bergoyang-goyang tanpa daya dipermainkan ombak. Tubuh itu tertelungkup dan sebelah wajahnya terbenam pasir. Kakinya terbelit lilitan rumput laut.
Seorang pria muda berjalan mendekat. Dibalikkannya tubuh itu. 'Belum kaku' pikirnya. Lalu dirabanya bagian lehernya yang dingin karena terendam air terlalu lama.
"Dia masih hidup! Bantu angkat ke pendapa. Salah seorang dari kalian panggil kakek tabib."
Pria muda yang berjongkok itu memberi instruksi. Beberapa orang mendekat untuk membantu. Salah seorang pergi memanggil tabib.
Bersama-sama mereka mengangkat tubuh lemah dan basah kuyup itu menuju ke pendapa desa.
"Apa ada yang mengenalnya?" Salah seorang penonton bertanya. Semua orang menggeleng.
"Mungkinkah orang di dari desa pertanian di selatan?"
"Atau orang dari kota?"
Penduduk desa nelayan itu berspekulasi dan kemudian berbisik-bisik ramai. Desa kecil itu gempar. Berbondong-bondong mereka ingin melihat orang yang terdampar di pantai itu.
Satu jam kemudian...
"Tabib datang.. tabib datang.." teriak orang-orang sambil membuka jalan.
"Woaa.. putri kakek tabib cantik sekali."
"Gadis tercantik dan paling pintar di wilayah ini."
Seorang gadis muda diiringi pelayannya yang membawa kotak obat, terus berjalan tanpa melepaskan senyumnya. Dia sudah biasa mendengar bisik-bisik orang kemanapun dia pergi.
"Mana orangnya?" Suara halus lembut terdengar.
Pria muda yang tadi menolong, langsung menoleh terkejut.
"Dimana kakek tabib?" Tanyanya heran.
"Ayah sedang pergi ke desa di bukit. Tadi sudah ku minta pelayan untuk memberitahukan hal ini. Jadi mari kita coba periksa dulu." Jawab wanita itu lembut.
Pria muda itu membantu gadis itu memeriksa. Selama menunggu kedatangan tabib tadi, mereka telah membersihkan dan mengganti pakaian pria tak dikenal itu. Sekarang gadis itu bisa lebih mudah memeriksanya.
"Katanya dia ditemukan di pantai? Bagaimana bisa pakaiannya kering?" Tanya gadis itu.
"Kami sudah membersihkan dan mengganti pakaiannya yang basah. Itu di sana pakaiannya." Jawab pemuda itu jujur.
"Taukah kalian jika menemukan orang yang mengalami kecelakaan, tidak boleh dibolak balik tubuhnya?" Gadis itu berkata tajam.
"Kami bahkan mengangkatnya ke sini. Kalau tidak, bagaimana caranya menolong orang yang setengah tenggelam?" Pria muda itu kembali membantah.
__ADS_1
"Hahh, aku tak mau berbantahan denganmu. Hanya perkataan ayah yang akan kau dengarkan." Ujar gadis itu.
Dia lalu memeriksa dengan seksama. Pelayannya sigap membantu. Semua orang memperhatikan cara gadis yang mereka kagumi itu menyadarkan korban tenggelam tersebut.
"Uhukk.. uhukk.. uhukk!"
"Orang itu sadar. Dia sadar!"
"Putri tabib memang hebat. Bisa menyelamatkan orang yang sudah diambang kematian." Mereka semakin kagum.
"Di mana aku?" Tanya pria itu lemah.
Gadis itu memberi semangkuk minuman padanya tanpa menjawab. "Minum dulu."
Pria itu menurut dan meminum isi mangkuk itu tanpa curiga. Tak lama kemudian dia menunduk dan memuntahkan semua isi perutnya.
Pelayan gadis itu menyodorkan mangkuk lain. Pria itu mengernyit curiga.
"Itu untuk membersihkan mulutmu. Untuk kumur-kumur." Gadis itu seakan tau apa yang dipikirkan pemuda itu.
Pemuda itu lalu meraih mangkuk dan berkumur-kumur serta membersihkan wajahnya sekalian. Mangkuk itu diserahkannya kembali.
"Sekarang minum ini. Untuk mengganti cairan tubuhmu. Agar kau punya tenaga untuk duduk."
Pria itu mengikuti arah pandangan si gadis.
"Ah, maaf. Menyusahkan anda." Ucapnya saat menyadari bahwa dia sedang bersandar pada seorang pria di belakangnya.
Diperbaikinya sikap duduknya lalu meraih minuman yang barusan disodorkan gadis itu.
"Ini, seperti air kelapa," celetuknya pelan.
Pria itu meneguk habis isi mangkuk yang ternyata adalah air kelapa itu.
"Tugasku untuk membuatmu sadar sudah selesai. Tapi ku sarankan kau ikut aku agar ayahku bisa memeriksa penyakit lain yang mungkin kau dapatkan saat hanyut di laut."
Gadis itu memberi kode pada pelayannya yang segera membereskan kotak obat yang mereka dibawa.
Aku harus mencari teman-temanku." Pria itu menggeleng menolak.
"Putri tabib benar. Kau ikut dia dan periksakan dirimu dulu."
"Jika masih ada teman-temanmu yang terdampar di sini, kami juga akan menolong mereka."
Penduduk desa nelayan itu memberikan solusi atas keberatannya. Tapi pemuda itu masih bimbang.
"Kau pergilah bersamanya. Aku dan beberapa orang akan menyusuri pantai untuk melihat apakah ada teman-temanmu di sini." Pria yang tadi jadi tumpuannya bersandar, ikut bicara.
"Ya, kami akan memeriksa pantai." Kerumunan orang di depan pendapa ikut mendukung.
"Baiklah. Terima kasih untuk bantuannya. Namaku Indra." Ucap pemuda itu.
"Aku Benny, biasa mereka panggil Ben." Pria muda tadi menyalami Indra.
Gadis muda itu segera berdiri dan berjalan keluar pendapa sambil membawa kotak obat. Indra mengiringi di belakang dengan langkah tertatih dibantu pelayan. Mereka menyusuri jalan desa menuju atas bukit.
__ADS_1
*
"Kau bisa beristirahat dan menunggu di sini dulu. Tampaknya ayah belum kembali dari berkeliling desa."
Gadis itu berdiri di depan sebuah ruangan yg pintu dan jendelanya segera dibuka oleh pelayannya.
Indra menganggukkan kepala.
"Terima kasih," katanya sambil menundukkan kepala sedikit.
'Pria yang sopan' pikir gadis itu. Lalu dia berbalik dan pergi diikuti pelayan.
"Jangan lupa siapkan dia makanan untuk memulihkan tenaganya." Pesan gadis itu pada pelayan di sisinya.
"Baik nona, akan segera ku siapkan. Adakah perintah lain?"
"Tidak. Kau pergilah. Aku akan beristirahat di kamar. Kabari jika ayah sudah kembali," pesannya.
"Baik nona." Pelayan itu membungkukkan tubuhnya sedikit sebelum pergi menuju dapur.
*
Indra melangkah memasuki ruangan itu sambil memeriksa keseluruhan isinya. Ada tempat tidur kecil berseprei putih bersih. Meja kecil di sampingnya kosong. Ada sepasang meja kursi di dekat jendela menghadap taman dalam. Sebuah sekat di sudut. Indra memeriksa apa yang ada di situ. Ternyata ada sebuah bak air dari kayu dengan gayung dari batok kelapa di atasnya.
"Ruang tamu yang bagus. Setengah batu dan berdinding papan. Isinya komplit dengan kamar mandi sederhana di dalam. Tampaknya aku sudah berada di dunia manusia lagi. Nanti aku tanyakan tahun berapa dan negara mana ini," gumam Indra optimis.
Dibaringkannya tubuhnya di atas tempat tidur. Pikirannya melayang pada kejadian malam itu. Perjalanan menuju cahaya itu berakhir buruk dan membuat mereka tercerai-berai.
"Dimana Niken sekarang? Mungkinkah penduduk kota lain menemukannya? Aku harus mencari tau keberadaan yang lainnya." Janjinya pada dirinya sendiri.
Tok.. tok.. tok..
Pelayan membuka pintu yang tidak dikunci itu. Dia masuk dengan nampan di tangan. Meletakkannya di atas meja.
"Silahkan makan dulu tuan. Anda harus mengisi tenaga agar cepat pulih." Katanya dengan ramah.
"Terima kasih untuk keramahannya." Ucap Indra tulus.
Pelayan itu berjalan kembali keluar ruangan dan menutup pintunya lagi.
Indra segera bangkit dan duduk di kursi depan jendela. Dia menyuapkan bubur di mangkuk sambil menikmati taman subur di depannya. Beberapa orang pekerja merapikan taman itu. Beberapa lainnya memetik dan menempatkannya hati-hati di dalam keranjang lebar yang mereka tenteng.
"Hemm, jika ini kediaman tabib, ku rasa taman di depan itu lebih mungkin adalah taman obat. Hebat sekali." Gumamnya kagum.
"Tunggu!"
Indra tiba-tiba menyadari sesuatu.
"Istilah tabib, tanaman obat dan pakaian yang mereka kenakan, tidak mengindikasikan jaman modern bukan?" Indra berpikir keras.
"Aku terdampar di jaman apa? Tahun berapa ini?" Dia kembali galau.
"Jangan-jangan cahaya di laut itu juga membawa kita ke masa lalu?"
"Akhhh, kepalaku sakit memikirkannya." Indra memegang kepalanya yang berdenyut hebat.
__ADS_1
"Jika aku berada di masa lalu, berarti harus menemukan celah dunia lain lagi untuk pulang. Tapi yang utama adalah menemukan teman-teman yang lain juga Niken." Tekadnya.
*****