PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 393. Perpindahan Suku Cahaya


__ADS_3

Kelompok Dean sampai saat langit dunia kecil sudah memerah. Semua senang menyambut beritanya. Tak disangka koleksi pintu teleportasi Kang Tua sangat berguna.


"Kita bereskan tempat untuk pemukiman Suku Cahaya di tempat Kakek Kang, setelah dia kembali. Kita tak boleh lancang di tempat orang!" Dokter Chandra mengingatkan.


"Baik, Penguasa!" Ketua Suku Cahaya segera menjawab. Dia merasa peringatan itu untuk anggota sukunya yang nanti akan bermukim di sana.


Diskusi malam itu terasa intens. Banyak hal yang direncanakan serta pembagian tugas dan aturan-aturan yang harus dipatuhi oleh anggota Suku Cahaya. Dokter Chandra ingin segera membereskan beberapa hal sebelum pulang ke Indonesia.


Telah diputuskan, esok hari Ketua Suku Cahaya bisa kembali ke desanya dan menyiapkan warga untuk pindah. Lebih baik bagi mereka untuk segera meninggalkan desa. Agar tak ada lagi yang mengganggu.


Malam itu berlalu lagi, dengan satu harapan yang lebih baik untuk masa depan.


*


*


"Saya kembali dulu, Penguasa," pamit Ketua Suku Cahaya.


"Ya, dua hari lagi, kalian sudah harus siap untuk berangkat ke sini. Robert dan Sunil akan menjemput. Dan pintu teleportasi yang ada di sana, dibawa lagi ke sini! Jangan ada tertinggal jejak apapun di sana!" jelas Dokter Chandra.


"Aku mengerti!" Ketua Suku Cahaya mengangguk.


"Pergilah dan hati-hati!" Dokter Chandra mengijinkannya berangkat.


Pria itu melayang dan memasuki pintu teleportasi. Dia segera menghilang di dalam sana.


"Tugas kita sekarang adalah membuat tempat penampungan sederhana untuk warga desa. Apa kalian bisa?" tanya Dokter Chandra.


"Bisa. Akan kami kerjakan!" sahut Dean dan yang lainnya.


"Pergilah!" kata Dokter Chandra.


Dean, Indra, Sunil dan Robert melesat cepat keluar dari gua. Mereka harus menyiapkan tempat penampungan bagi warga desa dalam dua hari.


"Apa yang mengganggu pikiranmu?" tanya Marianne. Dia bisa melihat jelas kabut di wajah Dokter Chandra.


"Aku sedang tak ingin membicarakan apapun," tolak Dokter Chandra, mengusir Marianne dan Aslan secara halus.


Dua orang itu saling berpandangan. Lalu keluar dan meninggalkannya sendiri.


"Ada apa dengannya!" gerutu Marianne di luar gua. Aslan menceritakan pembicaraannya dengan Dokter Chandra sehari sebelumnya.


"Hah ... dia hanya sedang gugup. Khawatir adanya penolakan dari keluarganya," simpul Marianne.

__ADS_1


"Apa Nenek tak merasa khawatir?" tanya Aslan.


"Tidak! Aku sebatang kara. Aku senang jika bisa melihat lagi dunia maju di sana. Tapi di sini aku juga senang bisa punya keluarga. Kau harus lihat ke sana sekali waktu. Agar wawasanmu luas," kata Marianne.


"Iya, Nek. Aku akan mematuhi nasehatmu," sahut Aslan.


*


*


Hari berikutnya, Kakek Kang datang. Tidak hanya dia. Tapi juga Kang dan Nastiti. Para wanita itu gembira bisa bertemu lagi.


"Tempat ini sangat bagus!" ujar Nastiti kagum.


"Dunia kecil Kang jauh lebih bagus!" timpal Robert.


"Kapan kalian ingin punya anak?" tanya Marianne.


Nastiti tertunduk. "Aku tidak tahu. Kata kakek, ada masalah dengan kandunganku. Jadi dia membawa kami kemari sekalian mau meminta tanaman obat pada Dokter Chandra. Dia ingat pernah melihat tanaman itu di sini," jelas Nastiti.


"Oh, kalau masih bisa diobati, bukankah itu mudah. Tenang saja. Aku akan memusuhinya lagi kalau si tua itu tak memberikan bahan obatnya!" ujar Ivy ketus.


Nastiti sedikit terkejut melihat perubahan sikap Marianne. Tapi yang lain malah terkekeh dan merasa itu lucu.


Nastiti mengangguk. Sekarang harapannya kembali tumbuh. Dia sudah tak sabar ingin hamil seperti Niken dan Widuri.


Kang terbang berkeliling tempat itu bersama Robert. Dia senang sekali bisa melihat tempat yang baru.


Sementara Kakek Kang dan Dokter Chandra sedang berbagi pengetahuan tentang obat-obatan. Keduanya tenggelam dalam minat yang sama. Bersama-sama membuat obat yang terbaik untuk Nastiti. Hingga Sore mereka tak juga keluar dari kebun obat di dalam gua.


"Biar kususul. Si Tua itu akan lupa waktu jika sudah tenggelam dalam obat!" gerutu Ivy.


Yang lain tersenyum dan membiarkannya terbang ke sana.


"Ayo, kita sudahi bermain airnya. Saatnya menyiapkan makan malam," kata Niken pada Widuri dan Nastiti.


"Menyenangkan sekali di sini," puji Nastiti sungguh-sungguh.


"Nanti kita bisa lebih sering bertemu!" hibur Niken.


"Ya, senang bisa saling bercanda lagi," timbrung Widuri.


Waktu makan malam adalah saatnya diskusi seperti biasa. Sudah ditentukan bahwa esok hari, Sunil dan Robert bisa pergi ke desa Suku Cahaya dan membantu mereka pindah ke dunia kecil. Dean dan Indra akan membantu Kakek Kang di tempatnya.

__ADS_1


"Ini obat untukmu. Minum sekali sehari, setelah sarapan. Habiskan!" pesan Dokter Chandra.


"Baik, Dok." Nastiti menerima botol obatnya. Dia senang sekali. Harapannya makin besar setelah Dokter Chandra membuatkan obatnya.


"Baiklah. Sekarang sudah larut. Sebaiknya segera beristirahat. Masih banyak tugas yang harus dikerjakan besok!" ujar Dokter Chandra membubarkab pertemuan itu.


*


*


Dua hari berikutnya, dunia kecil itu berubah ramai karena didatangi banyak orang Suku Cahaya. Beberapa kepala keluarga langsung dibawa ke dunia baru untuk mempercepat membangun desa di sana.


Seminggu berikutnya, dunia kecil itu kembali sunyi seperti semula. Orang-orang Suku Cahaya telah pindah seluruhnya ke dunia baru. Desa mereka telah siap untuk ditempati.


Semua pergi setelah bersumpah setia pada Penguasa Cahaya dan menandatangani perjanjian kerjasama untuk bisa tinggal di tempat Kakek Kang. Selanjutnya Kang mengajak Ketua Suku Cahaya untuk bertemu Ketua Kota Pelabuhan dan menperkenalkan dirinya. Meminta ijin memasuki kota itu untuk berdagang dan membeli keperluan mereka.


Ketua Suku Cahaya telah menempatkan putranya Ra yang memiliki bakat api, sebagai penjaga pintu teleportasi di bekas kompleks rumah Dean. Seorang warga desa lain, menemaninya di sana.


Sekarang semua pengaturan telah selesai. Dokter Chandra sudah tak sibuk lagi mengurus sisa rakyatnya.


"Kurasa, sudah waktunya kita melakukan perjalanan pulang!"


Dokter Chandra membuka pembicaraan, saat mereka bersantai setelah membersihkan ladang dan kebun sayur.


"Baik. Kapan kita mau berangkat?" tanya Sunil tak sabar.


"Jika pintu teleportasinya bisa disetel Ta hari ini, maka besok kita bisa coba ke sana!" jawab Dokter Chandra.


Semua pandangan mengarah ke Aslan, meminta jawabannya. "Bagaimana?"


"Baik. Setelah ini aku ke sana!" Aslan mengangguk.


"Sekarang kita punya dua intu teleportasi yang belum ada peruntukan. Bagaimana kalau itu dipakai untuk jalur kita pergi dan pulang ke Indonesia?" usul Robert.


"Memangnya kenapa kalau tetap menggunakan jalur yang ada?" tanya Sunil.


"Khawatir nanti jalur ke dunia lain itu akan ramai, dan terjadi persimpangan seperti saat kita pergi dan tersasar ke dunia Kakek Kang," jelas Robert.


"Masuk akal juga. Baiklah. Untuk menghindarkan hal-hal yang tak diinginkan, kita pasang pintu teleportasi baru yang khusus ke Indonesia saja. Lalu siapkan juga pintu yang sudah terhubung ke sini, untuk kita pasang di indonesia sebagai jalan kembali!" putus Dokter Chandra.


"Oke. Akan kubuat seperti itu!" Aslan menyetujuinya. Dia segera terbang ke gua untuk mengerjakan tugasnya.


*******

__ADS_1


__ADS_2