PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 101. Dewi Hilang


__ADS_3

Selesai sarapan, dokter Chandra dan Silvia mengunjungi tuan Felix. Di sana sudah menunggu istrinya dan tabib Michfur. Terdengar tawa keras pecah dari dalam ruangan hingga terdengar ke lorong dimana dokter Chandra baru tiba.


"Dokter datang," kata penjaga.


Pintu terbuka dari dalam. Sejenak dokter Chandra berhenti di depan pintu. Tabib Michfur sedang membuka jendela agar udara ruangan berganti. Nyonya Felix masih tertawa kecil.


"Saya barusan kentut dokter. Apakah sudah boleh makan?" tanyanya dengan mimik lucu.


Dokter Chandra tersenyum lebar dan mengangguk.


"Tabib tolong bantu Silvia menyiapkan sarapan." pinta dokter Chandra.


Mereka berdua keluar ruangan. Seorang pelayan ruang obat mendorong meja kecil yang berisi kain-kain bersih dan wadah air serta obat luka.


"Saya periksa dulu, lalu memeriksa lukanya," kata dokter Chandra.


Glenn masuk saat dokter Chandra baru membuka balutan perban.


"Bagaimana dokter?" tanyanya ingin tau.


Dokter Chandra membiarkan Glenn melihat luka yang sudah dijahit itu.


"Tampaknya baik. Sementara masih akan terasa sangat sakit. Tapi tabib akan selalu menyediakan obat pereda nyeri. Kita tunggu perkembangannya selama 2 hari ke depan."


Dokter Chandra membersihkan luka dengan alkohol lalu mengoleskan campuran obat untuk menutup luka. Kemudian menutupnya dengan kain dan membalut ke sekeliling pinggang tuan Felix.


"Besok kita ganti lagi pembalut dan obatnya," jelas dokter Chandra.


Dokter Chandra mendengarkan detak jantung tuan Felix dengan seksama. Lalu mencatat rinci semua yang dilakukannya pagi itu.


"Setelah sarapan, dan jika sudah kuat duduk. Boleh kembali ke kamar. Tapi kamar itu harus dibersihkan dulu, ganti alas tidur dan selimut baru yang bersih. Luka itu rentan infeksi." Dokter Chandra kembali menjelaskan.


"Aku siapkan kamar dulu sayang." Nyonya Felix segera keluar kamar operasi.


"Ehem.."


Dokter Chandra berdehem kecil.


"Ada yang ingin ditanyakan dokter?"


Tuan Felix sangat peka.


"Waktu itu yang mulia raja menunjukkan sebuah kertas dengan tulisan yang biasa digunakan di sebagian negara yang ada di dunia kami. Yang mulia mengatakan bahwa anda kerap menceritakan tentang negeri jauh yang anda kunjungi. Bisakah anda memberitau kami cara ke sana?"


Dokter Chandra menyampaikan keinginan mereka untuk kembali ke dunia mereka lagi. Jika tuan Felix pernah pergi dan pulang dari tempat itu, bukankah itu berarti dia tau jalan ke sana?


Tuan Felix menerawang langit-langit kamar. Mengingat perjalanan masa mudanya.


Tok tok tok..


Tabib Michfur masuk diikuti Silvia. Seorang pelayan membawa semangkuk bubur oat dengan taburan ayam suwir dan kuah kaldu yang kuning oleh kunyit.


Tuan Felix tampak tak sabar ingin menikmati makanan pertamanya setelah operasi. Glenn menyuapi ayahnya dengan telaten dan sabar. Mangkuk itu kosong dengan cepat. Tuan Felix terlihat sangat puas.


"Anda bisa beristirahat. Jika kamar sudah siap, bisa pindah. Tapi hati- hati jangan sampai luka jahitan terbuka lagi. Kami permisi dulu."

__ADS_1


Dokter Chandra dan Silvia undur diri. Tabib Michfur menyusul di belakang. Mereka harus mendiskusikan obat tuan Felix berikutnya.


Di dalam kamar.


"Apakah ayah akan menceritakan yang sebenarnya pada mereka?" tanya Glenn.


Tuan Felix mengangguk-angguk.


"Setelah semua upaya ini, bukankah mereka layak mendapatkan kejujuran." balas tuan Felix.


Glenn tak menjawab. Ada hal lain yang mengganggu pikirannya kini. Gadis itu.. yang selama beberapa hari ini tak dilihatnya. Tapi tak mampu dihilangkan dari pikirannya.


*****


Sudah 3 hari tim Dean menyusuri dinding pembatas transparan dan menandainya. Gunung batu yang mereka tempati selama ini, sudah disegel. Dean sangat mahir membuat tipuan optik. Orang yang belum pernah masuk gua itu, pasti tak kan menyangka ada gua besar dan lorong serta kamar-kamar di perut gunung. Bahkan tangga turun yang semula dibuat Dean, kembali dilepas dan digunakan untuk menutup sebagian ruang gua tempat mereka menemukan jasad O dan Z. Ruang gua itu tinggal kecil saja lagi.


Sisa undakan batu itu dijadikan dinding pondok tempat mereka tidur. Dinding batu itu ditutupi dengan kulit domba yang dijahit dan disambung hingga cukup lebar.


Setelah lelah seharian, sore hari mereka dibawa terbang ke atas gunung dan mandi di pancuran air. Meski masih kikuk, tapi Widuri tak lagi bersikap ketus pada Dean. Dia berusaha mengerti bahwa Dean bukanlah orang yang romantis. Namun dia siap membantu siapapun teman mereka yang kesulitan.


Pekerjaan yang bergerak makin jauh, membuat Dean memindahkan lokasi tempat tinggal mereka ke tempat yang lebih dekat. Dibantu Alan, pekerjaan angkat-mengangkat jadi lebih mudah.


Siang itu matahari terasa lebih panas. Semua orang memilih untuk beristirahat dan berlindung di dalam rumah batu mereka yang dingin.


"Kapan kita bisa menemukan jalan keluar kalau begini," gerutu Dewi sambil mengipas-ngipas dengan bajunya.


"Ya sabar. Dinding itu tak bisa diterjang. Tak ada pilihan lain selain mengecek seluruh tempat."


Sunil menjelaskan dengan sabar pertanyaan yang itu lagi, itu lagi.


"Bosaaaaannnn.. Tak ada yang bisa dipandang selain tanah gersang ini," keluh Nastiti ikut-ikutan.


Menjelang sore, suhu jalur neraka itu kembali turun. Begitu selalu. Dimana malam hari suhu makin rendah dan membuat tubuh menggigil kedinginan.


Ke enam orang itu kembali menyusuri tembok transparant. Langit di ufuk mulai memerah tembaga.


"Sebaiknya kita berhenti dan mandi. Sudah waktunya menyiapkan makan malam."


Dewi yang sedang jongkok, berdiri tiba-tiba. Tubuhnya sedikit limbung. Dia berusaha meraih tembok transparan untuk menyeimbangkan posisi berdiri agar tak jatuh. Tapi dia justru merasa terdorong jatuh ke belakang.


"Aaaaaaahhh.. tolong."


Teriakan Dewi mengejutkan semua teman yang masih asik bekerja. Tapi Nastiti yang berdiri tak jauh dari situ berusaha meraih tangan Dewi untuk menjaganya agar tak jatuh terjengkang.


Tapi, tubuh Dewi justru menghilang di depan matanya.


"Dewi!" Teriak Nastiti panik.


"Dimana dia?" tanya Widuri kebingungan.


Tadi dia mendengar teriakan Dewi. Tapi saat menoleh, temannya sudah tak ada.


"Dia hilang di sana. Dia lenyap tepat di depanku."


Nastiti menunjuk bagian tembok transparan yang belum mereka tandai.

__ADS_1


"Ku rasa ini celah dunia lain. Biar ku susul dulu agar dia tak cemas. Kalian bereskan yang lain dan segera menyusulku."


Sunil meraba bagian itu. Tangannya melesak masuk. Tak ada tembok disitu. Semua temannya melihat itu juga. Dia segera melesat masuk menyusul Dewi.


"Kalian berdua tunggu di sini. Tandai bagian dinding ini. Aku dan Alan akan menyimpan semua barang kita sebelum menyusul Sunil dan Dewi."


Dean berpikir cepat. Nastiti dan Widuri mengangguk mengerti. Alan dan Dean terbang melayang menuju pondok batu mereka. Bagi Dean dan Alan, pondok batu itu tak begitu penting. Tapi menyelamatkan batu mata air abadi adalah hal terpenting.


Keduanya bergegas menyimpan semua milik mereka ke dalam kalung penyimpanan. Tempat itu kini bersih dari jejak keberadaan mereka. Dean menuangkan sebagian besar isi tempayan air yang terlalu penuh, agar tidak membasahi ruang penyimpanannya.


"Sudah beres." Lapor Alan.


"Mari kita susul Sunil dan Dewi," sambut Dean bersemangat.


Untuk mengantisipasi keadaan, Alan memeluk Nastiti, Dean memeluk Widuri. Mereka menembus celah itu bersamaan.


"Aaaaaaaaaahhhhh"


Terdengar teriakan panjang empat orang yang jatuh dengan cepat seperti ditarik dari langit.


Byuuurrrr...


Blup.. blup.. blup..


Suara benda tercebur air dan tenggelam.


Kejadian itu sangat cepat. Mereka tak sempat berpikir. Dean dan Alan bahkan lupa bahwa mereka sebenarnya bisa terbang.


Byuurr.. terdengar benda jatuh lainnya di air.


Sunil mencebur masuk dengan jengkel. 'Kalian ini bisa terbang, kenapa malah jatuh ke air?' batinnya heran.


"Uhuk.. uhuk.. uhuk.."


"Apa kalian sudah sadar?" tanya Sunil.


"Ya, terima kasih Sunil," jawab Widuri.


"Mana Dewi?" tanya Nastiti celingukan.


"Kalau sudah sadar, Dean, Alan, kau pegangi mereka dan terbang. Terbang.. jangan lupa. Aku mau mencari Dewi lagi. Pasti tercebur air itu. Tapi belum ku temukan."


Sunil melepaskan pegangannya dari Dean dan Alan. Keduanya segera meraih Widuri dan Nastiti dalam pelukan masing-masing.


Sunil segera melesat dan mencebur lagi ke dalam air. Byuuurrr..


Barulah saat itu keempatnya menyadari bahwa permukaan air itu sangaaaaaatt luas. Itulah sebabnya Sunil mengangkat mereka ke atas dan terus melayang, bukan mengantar mereka ke tepian.


"Tempat apa ini?"


"Apa ini laut?"


"Kita tadi menelan airnya saat tenggelam. Airnya tidak asin."


"Sungai apa yang seluas ini?"

__ADS_1


Mereka saling tanya, menjawab dan membantah. Tapi hingga Sunil lelah, jawaban dan Dewi masih belum ditemukan.


*****


__ADS_2