PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 275. Sadar


__ADS_3

Robert dan Michael tergeletak tak sadarkan diri setelah cahaya yang melingkupi mereka hilang.


Alan dan Sunil segera memberi minum air abadi untuk memulihkan kondisi tubuh keduamya. Lalu keduanya dibaringkan di lantai.


Dean duduk bersila dan meminta semua anggota tim mendekat. Mereka harus membuat keputusan, mau mengambil cara bagaimana untuk keluar dari dunia ini.


Dean menceritakan tentang pintu teleportasi yang sebelumnya telah mereka bicarakan. Dean akan mendengarkan pendapat mereka semua sebelum mengambil keputusan.


Anggota tim itu saling berpandangan. Memutuskan hal seperti itu juga sulit bagi mereka.


"Aku tak bisa menutuskan. Ikut kalian sajalah," kata Marianne.


"Aku juga ikut keputusan Indra aja. Bingung." Niken ikutan.


"Ku fikir, opsi tinggal di sini sudah jelas gak bisa. Jadi tinggal 2 pilihan saja," kata Dokter Chandra.


"Mencari jalan keluar juga bukannya tanpa bahaya hlooo." Leon menggeleng.


"Pilihanku mencoba jalur teleportasi itu saja," tambah Leon.


"Tapi jalur teleport itu tidak teruji. Dunia mereka kan sudah hancur!" bantah Indra.


"Apa kau lupa bahwa ada pintu teleportasi juga di dunia elf? Bisa jadi itu salah satu pintu yang jatuh dari dunia bintang." Leon mengajukan argumennya.


Indra diam. Kata-kata Leon punya kemungkinan benar dan kemungkinan salah. Tapi memang, memikirkan mencari cara lain diluar penjara ini, sangatlah menakutkan. Bukan cuma para penghuninya yang buas. Tapi juga iklimnya yang ekstrem.


"Aku fikir, mencoba pintu teleportasi jauh lebih mungkin ketimbang kita keluar dari bangunan ini lagi." Dokter Chandra sudah menentukan pilihannya.


Tinggal Indra yang masih ragu. Dokter Chandra dan Leon membiarkannya berfikir dengan tenang.


"Ughh...!"


Michael sudah sadar!" seru Alan yang duduk dekat tubuh Michael.


"Bagaimana perasaanmu?" tanya Dean.


Mata Michael bercahaya ungu.


"Aku baik-baik saja nak...." jawabnya.


"Tubuh temanmu lemah. Tapi, asalkan aku bisa hidup lagi, itu tak jadi masalah. Hehehee...." Penasehat Ma terkekeh.


Mata Alan bersinar merah. " Jangan lupa kalau kau sudah mati! Kita hanya kepingan jiwa yang tertinggal. Jadi kau harus berterima kasih pada mereka karena telah mengijinkanmu tetap eksis!" katanya tajam.


"Hati-hati bicaramu nak. Kau hanya pekerja rendahan!" katanya dengan nada tinggi.


"Kau bisa mati dalam sekejap, kalau kau mulai bertingkah. Jangan mengira posisimu lebih tinggi di tim ini!" Kata Dean pedas.


Sunil mengerubuti Michael juga. Mengancam penasehat Ma lebih keras.


"Posisimu paling rendah di sini karena tak punya keahlian apapun selain bicara omong kosong! Jadi jangan menguji kesabaranku. Aku bisa menghanguskanmu dalam sekejap!" ancam Sunil.

__ADS_1


"Kembalikan Michael ku!" Marianne berteriak dari sisi lain.


Dia lalu datang mendekati Michael yang sedang dikuasai Penasehat Ma.


"Michael yang ku kenal, adalah manusia berhati lembut dan penuh kasih. Bukan orang yang berotak culas sepertimu. Kau bisa keluar dan tinggal saja di penjaramu selamanya! Tak ada gunanya membantu orang picik dan rendahan sepertimu. Pantas saja kau mati kelaparan di penjara!" Marianne meluapkan emosinya.


Penasehat Ma tak percaya dia akan mendapatkan penghinaan seperti itu. Dia benar-benar tak percaya. Hingga membuatnya terdiam. Belum pernah ada yang merendahkannya.


"Di tim ini tak ada jabatan. Kita semua hanya PARA PENYINTAS dari pesawat yang jatuh. Kita sedang bekerjasama mencari jalan pulang. Jangan lupakan poin itu!"


Suara Dokter Chandra yang berat dan dalam membuat penasehat Ma terpaku. Kata-katanya yang bijak dan tanpa emosi, mampu mengimbangi kesombongan penasehat Ma sebelumnya.


"Sekarang kami akan memanggilmu Ma tanpa embel-embel. Aku Dean atau A," ujar Dean dingin.


"Aku Sunil, atau O."


"Aku Alan atau Z"


"Aku Dokter Chandra. Satu-satunya dokter di tim ini!"


"Dan ini Marianne. Ibunya Michael, ibu kami semua. Jadi jangan kau berani mencederai Michael. Kami akan melawanmu!" seru Widuri tegas.


"Hah?!!"


Penasehat Ma tak percaya dengan kenyataan yang diterimanya dalam waktu singkat.


'Mereka semua berani melawanku. Dan ibu? Wanita setengah tua ini ibu dari mereka semua? Apa maksudnya?' pikirnya bingung.


Dean tersenyum. A juga baru memahami konsep ibu setelah bergabung cukup lama dalam tim. Di dunia mereka, mereka tak mengenal ibu. Tidak pernah tau siapa ibu yang melahirkan. Dan siapa ayah mereka yang sebenarnya. Semua anak diasuh di asrama secara bersama-sama.


"Ibu adalah wanita yang dituakan dan dihormati. Ada lagi ibu kandung. Ibu yang terikat secara biologis dengan seseorang karena telah melahirkannya ke dunia. Ku rasa kurang lebih seperti itu. Jadi jangan coba-coba menyakiti Marianne dan Dokter Chandra! Mereka sosok ibu dan ayah dalam tim ini."


Dean menjelaskan lewat transmisi suara.


Penasehat Ma terdiam. Dia sedikit gamang dengan keadaan. Di tim ini, ternyata posisi ibu dan ayah jauh lebih dihormati. Dia salah pilih orang. Harusnya tubuh pria setengah tua itu saja yang ditempatinya. Diliriknya Dean dengan sebal.


'Dia cerdas dan sudah mengantisipasi hal ini dari awal. Itu sebabnya dia pilih Michael untuk ku tempati' pikirnya sebal.


"Terserah kalian saja!" ujarnya kesal. Mata ungunya meredup.


"Dean, lihat Robert. Tubuhnya kembali berasap!" teriak Sunil panik.


"Basahi!" ujar Dean Dean.


Alan dengan sigap membasahi tubuh Robert. Dia masih belum sadarkan diri.


""Sepertinya kesadaran Jenderal So sudah kembali. Dia mungkin sedang beradaptasi," ujar Dean.


"Tapi tubuh Robert terus bergetar. Mungkinkah Jendral So memberontak dan ingin keluar?" tanya Alan.


"Gawat!" ujar Ma.

__ADS_1


"Jendral So, jangan melawan! Terima saja tubuh barumu. Kita berdua sudah mati di penjara ini. Aku meminta bantuan mereka untuk membangkitkanmu agar kita bisa mencari jalan keluar dari sini!" suara Penasehat Ma merasuk dalam pikiran Jenderal So melalui transmisi suara.


"Mati?" balasnya linglung.


"Ya. Kita menumpangkan jiwa kita pada manusia bumi. Mungkin kita masih bisa menguburkan jasad kita secara layak di luar penjara," jawab Penasehat Ma.


Tubuh Robert perlahan berhenti bergetar. Dan tidak mengeluarkan asap lagi. Tampaknya Jenderal So sudah tidak melakukan perlawanan lagi. Dean merasa lega.


"Ughh.... tubuhku panas sekali rasanya. Seperti terbakar di dalam," kata Robert.


Alan menyodorkan air di cangkir. "Minum ini, agar tubuhmu mendingin."


Robert menurutinya. Dia minum hingga 5 cangkir. Sepertinya sangat kehausan.


"Apakah di tubuhku ada api?" tanyanya heran pada Dean.


"Hah! Kau tak tau saja kekuatan api neraka Jenderal So. Tubuhmu tidak hangus itu sudah sangat bagus!" kata Ma sinis.


Robert mengerutkan kepalanya. Lalu menggeleng. Dia mengabaikan kata-kata pedas Ma. Perhatiannya justru tertuju pada hal lain.


"Apa kau baik-baik saja, Michael?" tanya Robert sambil menepuk pundak Michael.


"Aku baik-baik saja. Lepaskan tanganmu di pundakku. Ini menjijikkan!"


Ma protes dengan rangkulan Robert. Matanya kembali bersinar ungu.


"Kau bukan Michael. Kembalikan Michaelku, atau aku akan terus merangkulmu seperti ini." Robert mengeratkan rangkulannya.


"Atau kau mau seperti ini?"


Robert menempelkan kepalanya ke kepala Michael.


Anggota tim itu menahan tawa melihat Robert mengganggu Ma.


"Atau kau mau lebih intim lagi?" tanya Robert sambil mengedipkan matanya.


"Menjijikkan! Kalian gila!" teriak Ma marah.


Cahaya ungu di mata Michael menghilang. Michael akhirnya kembali.


"Ada apa?" tanyanya heran.


"Tak ada apa-apa. Aku hanya melihat seekor kutu di rambutmu tadi," jawab Robert asal. Dia melepaskan rangkulan tangannya pada bahu Michael.


"Masa sih?!"


Michael terkejut. Dia lalu sibuk mengacak-acak rambutnya dengan panik. Mengerikan memikirkan ada kutu di kepalanya.


Semua akhirnya tertawa lega. Ternyata hanya dengan cara begitu, Ma bisa takluk dan menyingkir dengan mudah.


******

__ADS_1


1 Chapter 🙏


__ADS_2