PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 52. Kurang Garam


__ADS_3

Suasana kaku saat sarapan membuat selera makan tim kecil itu hilang. Widuri masih memasang muka perang pada Dean meskipun Dean sudah jelas kelihatan menghindarinya.


Aroma perang mulai berkurang setelah Dean, Alan dan Sunil keluar gua lebih dulu. Tinggal Dewi dan Nastiti yang akhirnya saling pandang bingung mau berkata apa, karena Widuri tampak seperti bom waktu yang siap meledak kapan saja jika salah perlakuan. Akhirnya mereka berdua memutuskan untuk keluar gua mencari makanan di kebun.


"Kalian mau kemana?" tanya Widuri akhirnya.


Dia diasingkan gara-gara Dean. Dan itu membuatnya terganggu serta makin tidak senang.


"Mencari bahan makanan," Dewi menjawab.


"Tidak mengajakku?" Widuri bertanya ragu.


"Kita satu tim, kenapa menunggu diajak? Kalau mau ikut, ikut saja," Nastiti berusaha mencairkan suasana.


Merekapun keluar bersama. Widuri sangat senang sesampainya di kebun sayur. Kebun itu terlihat lebih bersih setelah 2 hari dibersihkan. Mereka kembali membersihkan dan memetik beberapa sayur dan herba untuk masak. Tampak tak jauh dari sana sekumpulan domba memakan daun-daun yang telah disiapkan.


Widuri duduk tenang tak jauh dari tumpukan rumput dan dedaunan yang dibersihkan dari kebun sayur. Seekor domba mendekati tumpukan makanan yang terlihat lezat itu dengan takut takut. Widuri bergeming dan hanya melihat saja dengan senyum di wajahnya.


Domba gemuk itu sedikit demi sedikit makin mendekat ke arah Widuri saat melihat Widuri tak bereaksi. Binatang itu makan dengan kewaspadaan. Cukup lama tak melihat gerakan berarti dari Widuri, domba itu mulai tampak tenang. Dia makan dengan lahap. Sikapnya membuat seekor domba lain juga mendekati tempat Widuri.


"Lihat itu, domba itu bahkan tak takut makan rumput dari tangan Widuri." Nastiti tercengang melihatnya.


"Menakjubkan." Dewi menambahkan.


"Bagaimana bisa dia mudah dekat dengan binatang liar, tapi terus berantem dengan Dean?" Dewi sungguh heran.


"Yaahh kita kan tidak tau apa yang sudah dialaminya dalam hidupnya. Pengalaman hidup bisa membentuk karakter seseorang kan." Nastiti menjawab sekenanya.


Dewi mengangguk mengerti.


"Mungkin dia sudah disakiti pria, jadi tanpa sadar bersikap galak. Eh, tapi seingatku, Widuri tak pernah galak pada Sunil ataupun Alan. Dia hanya ketus pada Dean." Dewi berusaha mengingat-ingat.


"Cinta itu memang aneh." Tawa kecil Nastiti membuat Widuri menoleh ke arah mereka lalu melempar senyum.


"Yang ini sudah mulai jinak," teriak Widuri yang sambil memeluk dan mengelus domba gemuk itu.


Nastiti dan Dewi melihatnya dengan mulut ternganga tak percaya.


"Bisakah kami ikut ke sana?" tanya Dewi.


"Cobalah pelan-pelan ke sini. Jangan mengangetkan," jawab Widuri yang kini sudah memeluk domba yang seekor lagi.


Dewi dan Nastiti mendekat dengan langkah perlahan umtuk tidak mengejutkan kedua hewan itu. Mereka duduk diam-diam agar kedua domba itu terbiasa dengan kehadirannya.


Dewi pelan-pelan mengikuti langkah Widuri, mencoba menyodorkan tangannya yang penuh rumput ke arah domba-domba yang sedang dielus Widuri. Salah satu domba itu memandangnya sejenak lalu mengabaikan uluran tangan Dewi.


"Hahaha.." Nastiti tertawa terpingkal-pingkal melihat Dewi yang dicuekin seekor domba.


"Jangan patah hati kalau cintamu ditolaknya, masih banyak tuh domba lain yang bisa ditembak," ledek Nastiti yang disambung tawa Widuri.


Mereka terlihat gembira sementara Dewi memasang wajah cemberut. Mereka duduk di tempat terbuka itu menikmati siraman cahaya matahari pagi yang hangat.

__ADS_1


"Hmmm, nyaman sekali." Dewi membaringkan tubuhnya di rerumputan. Matanya terpejam.


"Andai kita tak menemukan jalan pulang, aku rela tinggal di sini. Tempat ini sangat damai dan tenang, berbeda jauh dengan hiruk pikuk kota besar," kata Dewi.


"Yaahh.. Akan lebih nyaman jika tinggal di sini dengan seorang suami. Punya anak yang lucu dan hidup sederhana dari hasil kebun dan ternak." Nastiti ikut-ikutan berangan-angan.


"Baiklah.. Kau dengan Sunil, aku dengan Alan." Dewi menyahut asal-asalan yang disambut derai tawa Nastiti.


Widuri memandang kedua temannya yang masih bisa tertawa saat mengatakan hal seperti itu. 'Sungguh mengherankan' pikirnya.


"Apa maksud kalian?" Widuri benar-benar tak mengerti jalan pikiran keduanya.


"Kawan, lebih baik belajarlah berpikir terbuka. Berusaha menerima segala kemungkinan yang paling mustahil sekalipun. Kita terdampar di tempat yang aneh, jadi cobalah berpikir dengan cara yang tak biasa. Lupakan logikamu saat ini," saran Nastiti.


"Betul. Jika kita tak menemukan jalan keluar, maka kita harus mampu berdamai dan tinggal disini selamanya. Dan nikmatilah itu." Dewi menambahkan penjelasan Nastiti.


"Bagaimana kita bisa menemukan jalan keluar jika tak berpindah dari gua?"


Suara Widuri yang bernada tinggi mengejutkan semua domba disitu. Dua ekor yang sedang dielusnya juga menjauh. Hal itu membuat Widuri menyesal.


"Kau selalu meledak-ledak seperti petasan banting," kata Nastiti pedas.


Widuri menoleh..


"Aku tidak begitu!" Serunya tinggi membela diri.


"Itu barusan meledak lagi." Dewi tertawa keras sementara Nastiti tersenyum miring.


"Tak ada yang membencimu. Kau sendiri yang memasang sikap bermusuhan padanya. Kurasa kau punya kesalah pahaman padanya. Dan itu hanya bisa kau atasi sendiri, karena hanya kau yang tau akar masalahnya." Nasehat Nastiti.


"Yups. Saat kau jatuh ke gua, Dean tanpa berpikir panjang segera mengorbankan dirinya ikut turun untuk menjagamu. Lalu kami ikut turun juga karena mempercayainya. Jadi jangan mulai memecah belah tim dengan sikapmu itu." Dewi mengingatkan.


Widuri sangat tak senang dipersalahkan seperti itu. Jadi dia bertanya kasar.


"Jadi menurut kalian yang bermasalah itu aku?!"


"Ya!" jawab Dewi dan Nastiti kompak.


Itu membuat Widuri terdiam dan termangu, berusaha menelaah sikapnya selama ini pada Dean.


"Apakah Sunil dan Alan juga berpikir sama?" gumam Widuri dengan sedih.


"Mereka pria, tak kan banyak bicara dan belum tentu juga benar-benar memahami sikap wanita. Tapi kalau kau sungguh ingin tau, tanyakan saja." Nastiti tetap santai menikmati matahari.


"Hei, kalian sedang apa di situ?" teriak Alan yang datang menyeret sesuatu di belakangnya.


Widuri menoleh ke arah Alan yang berjalan ke arah mereka. Bawaan Alan tampak berat.


"Apa yang kau bawa?" tanya Widuri.


"Ini tanah lempung," Alan kemudian berhenti tak jauh dari Widuri dan menumpahkan bawaannya.

__ADS_1


"Aku kembali lagi mengambil yang lainnya," kata Alan berbalik untuk pergi.


"Apakah tanaman gandumnya sudah habis dipanen?" Widuri ingin ikut jika masih bisa dipanen.


"Belum. Kami mendahulukan membuat tungku ini agar segera bisa membuat alat dan senjata, jadi kita bisa secepatnya melanjutkan perjalanan," sahut Alan sambil berlalu.


Widuri ragu, apakah ikut bersama Alan menuju kebun gandum yang pasti akan bertemu Dean di sana. Widuri masih tidak bisa berdamai dengan Dean dan dirinya sendiri. Dia tak ingin mencetuskan pertikaian baru dengan Dean. Jadi dia tak jadi mengikuti Alan.


"Sudah siang, mari kita kembali ke gua dan memetik beberapa buah untuk malam nanti," ajak Widuri pada kedua teman wanitanya yang masih santai berjemur seperti sedang di pantai saja.


"Aahh.. Kenyamanan ini memang harus dinikmati pelan-pelan," ucap Dewi sambil bangkit dari rerumputan.


"Ayo, kita juga harus memeriksa jebakan di hutan dekat gua." Dewi menggamit lengan Nastiti membuyarkan mimpinya.


Nastiti mengikuti keduanya dengan cemberut. Tapi dengan segera bahagia lagi saat menemukan buah blueberry matang di sepanjang jalur mereka pulang. Dia berjalan sambil mengunyah buah yang didapatnya.


"Kau ini. Simpan sedikit untuk dibuat minuman dan selai roti. Jangan dimakan semua."


Dewi bersungut-sungut melihat Nastiti yang terus menggodanya dengan memasukkan segenggam blueberry ke dalam mulutnya dan mengunyah dengan pipi menggembung kepenuhan. Matanya jenaka dan seolah mengajak tertawa.


"Dasar rakus." Dewi ikutan memasukkan segenggam blueberry yang dipetiknya ke dalam mulut.


"Aku juga bisa. Huh." Dewi mengejek Nastiti dengan mulut penuh sampai cairan ungu keluar dari sudut bibirnya.


"Yaa.. kau bisa.. Sampai ngences." Nastiti tertawa gembira menggoda Dewi yang mengejarnya dengan gemas.


Widuri meninggalkan rumpun blueberry dan mengikuti kedua temannya yang kini sudah berangkulan sambil tertawa-tawa.


*


Dean, Alan dan Sunil sejak pagi sudah menggali tanah lempung dengan tombak. Itu bukan hal yang mudah bekerja tanpa peralatan yang tepat. Tapi mereka terus bekerja dengan tangan mengeruk lempung yang sudah dilonggarkan. Sebelum matahari tinggi, ada cukup lempung yang lembut untuk dipindahkan. Mereka bekerja hingga matahari sedikit condong dari puncak kepala. Tak mengeluh mengangkuti lempung-lempung itu di bawah terik matahari.


Saat Dean merasa itu sudah cukup, mereka berhenti dan membersihkan tangan dari sisa-sisa lumpur.di bawah pancuran air. Mereka berjalan kembali ke tempat lempung dikumpulkan.


"Ahh, aku merasa lapar. Sebentar aku petik beberapa buah apel dan pir di kebun untuk ganjal perut," kata Alan meninggalkan kedua temannya yang berteduh dibawah pepohonan.


Dean dan Sunil membaringkan diri yang letih di rerumputan di bawah keteduhan pohon lemon yang sangat besar. Angin sepoi-sepoi membuat keduanya nyaris terbuai mimpi, saat suara Alan memasuki ruang telinga.


"Dean, Sunil, ini makan siang kita." Alan menyodorkan apel dan pir pada keduanya. Alan ikut duduk memandang ke padang rumput hijau yang masih diisi beberapa domba yang asik merumput.


"Sejujurnya Dean, aku juga terpikir bahwa hidup di sini pun tidaklah buruk. Tempat ini tidak kekurangan apapun untuk hidup." Alan memecah kesunyian.


"Tempat ini kurang satu hal," kata Dean


"Apa itu?" tanya Sunil ingin tau.


"Kurang garam," sahut Dean tenang.


"Saat di hutan salju, kita juga tak punya garam, kita baik-baik saja," kata Alan.


"Saat itu kita lebih sering makan daging buruan yang dalam darahnya sendiri mengandung garam. Lagi pula itu masa-masa awal kita terdampar. Tubuh kita masih bisa mentoleransi. Tapi jika kita memilih tinggal di sini, maka kita harus menemukan sumber garam, atau tubuh kita akan melemah seiring waktu," papar Dean.

__ADS_1


***


__ADS_2