
Sambil makan, Marianne menceritakan hal yang terjadi sejak dia dan Michael diculik kapal viking. Bahwa Dean, Sunil dan Alanlah yang telah membebaskan dirinya dan Michael hingga lepas dari hukuman mati.
Marianne juga mengatakan kejadian yang menimpa Sunil hingga membuatnya koma. Jadi tak ada yang berniat jahat pada Sunil. Dan Alan adalah orang yang paling khawatir jika Sunil tak segera bangun.
Dokter Chandra mulai mengerti duduk persoalan sebenarnya. Dia merasa menyesal telah menyemburkan kata-kata kasar dan menyakiti semua orang.
"Alan, maafkan kekasaran perkataanku tadi," ucap dokter Chandra tulus.
"Yeah dok, ini cuma salah paham. Jadi, bolehkah kucoba merangsang saraf jarinya lagi malam ini?" Tanya Alan penuh harap.
"Jika tabib itu berkata seperti itu, cobalah. Mungkin bisa berhasil." Dokter Chandra memberi persetujuan.
Alan bangkit dari duduknya dengan gembira. Dia segera menuju kamar Sunil.
Kini giliran dokter Chandra yang menceritakan peristiwa setelah berpisah dari Marianne. Tentang hutan sihir dan dunia ajaib yang dihuni klan Elf, para peri, Orc dan kurcaci.
Berita pernikahan Angel dengan pangeran klan Elf begitu mengejutkan Widuri dan Nastiti. Keduanya saling pandang tak percaya.
"Bukankah Elf dan manusia itu berbeda? Bagaimana mereka bisa menikah?" Celetuk Nastiti tak percaya.
"Jika tak melihatnya, kau tak kan percaya." Dokter Chandra mengangguk setuju.
Lalu dokter Chandra menceritakan perjalanan mereka di laut untuk melintasi cahaya dan akhirnya menghadapi badai di tengah laut yang membuat perahu mereka terjungkir balik, pecah dihantam ombak besar. Lalu pingsan dan terdampar di pantai.
"Paman, aku sudah harus mengantar tabib pulang. Ayah sudah memanggilku." Yoshi keluar dari kamar Sunil sambil membimbing tabib tua berkaki satu itu.
"Oh ya. Baiklah." Dean mengangguk.
"Tabib, jangan tolak bayaran kami kali ini." Widuri menyodorkan sedikit uang mereka ke tangan tabib.
"Ah, baiklah. Aku tak enak bila menolak pemberian wanita cantik." canda tabib tua itu.
"Lalu, apakah Sunil ada perkembangan?" Tanya Dean.
"Belum." Tabib terlihat murung.
"Baik, mari kita kembali." Tabib mengajak Yoshi kembali.
"Paman, bibi.. kami pergi dulu. Besok jika tak ada tugas dari ayah, aku akan ikut membantu mencari di pantai sana." Yoshi berpamitan.
Yoshi memegang kedua tangan tabib, lalu mereka berdua melayang naik ke ketinggian pepohonan.
Dokter Chandra masih tak dapat mempercayai matanya. Dia masih belum mendapat penjelasan tentang kemampuan terbang Dean dan Alan. Dan sekarang ada gadis muda yang juga memiliki kemampuan yang sama. Bagaimana bisa? Dan bagaimana Dean, Alan dan Sunil berakhir dipanggil paman olehnya?
"Michael, kau boleh istirahat lebih dulu dan tidur dengan Alan. Aku berjaga pertama." Kata Dean.
"Kalau begitu, kami juga akan beristirahat dulu." Widuri dan Nastiti pergi meninggalkan meja.
Marianne bangkit dari bangkunya. Mengangkat piring-piring dan mangkuk kotor sehabis makan. Dia masih membereskan dapur sebelum masuk kamar.
"Dean, jika nanti Niken bangun dan ingin makan, masih ada makanan ku hangatkan dekat perapian." Ujar Marianne dari ambang pintu.
__ADS_1
"Oke." Jawab Dean.
"Anda juga bisa pergi beristirahat dok." Saran Dean.
"Biar ku temani kau berjaga. Tadi siang aku sudah cukup tidur, karena letih." Tolak dokter Chandra.
"Baiklah. Anggap rumah sendiri saja dok." Dean tersenyum.
"Kau mau kemana?" Tanya dokter Chandra yang melihat Dean pergi ke arah samping pondok yang gelap.
"Aku terinspirasi cerita anda tentang Angel." Kata Dean terus terang.
"Maksudmu? Kau ingin pergi ke negri para Elf?" Dokter Chandra tak paham.
"Bukan. Aku ingin menikah juga." Dean tersenyum misterius.
"Kau mau menikahi manusia Elf? Aku tak tau jalan ke sana." Kata dokter Chandra lagi.
"Bukan itu. Aku ingin menikahi Widuri." Ucap Dean dengan jelas.
"Oh, ku lihat kau dekat dengannya. Tapi kau juga dekat dengan gadis muda dan cantik itu. Kau bahkan memeluknya di depan Widuri." Dokter Chandra bertanya heran.
"Yoshi? Dia keponakanku. Ibunya adalah saudaraku."
Jawaban Dean sungguh diluar dugaan dokter Chandra.
"Ibunya? Apa maksudmu? Apa dia adalah adik yang kau ceritakan waktu itu? Apakah kita sudah berada di dunia yang sama? Pulau ini ada di negara mana? Bisakah kita kembali ke Indonesia?" Dokter Chandra jadi sangat bersemangat.
"Kau mau membuat kayu api?" Tanyanya saat melihat Dean memilih beberapa kayu yang cukup besar dan panjang.
"Aku menemukanmu." Dean tersenyum senang.
Diangkatnya tangan perlahan untuk mengeluarkan log kayu itu dari timbunan kayu-kayu lainnya.
Dokter Chandra tercengang. Sebelumnya dia melihat Alan membawa air melayang di atas kepalanya. Malam ini Dean mengeluarkan log kayu besar dari timbunan kayu-kayu setinggi 2 meter.
"Bagaimana kau melakukan itu?" Tanya dokter Chandra penasaran.
"Dengan jariku." Dean menjawab asal.
"Kau ini. Jangan mempermainkan orang tua yang penasaran." Dokter Chandra kesal.
"Ayo kita ke sana. Aku akan ceritakan perjalanan kami setelah melewati gua di hutan salju." Dean berjalan santai sambil membawa log kayu yang melayang di atas kepalanya.
Dokter Chandra mengikutinya ke halaman yang cukup luas dan diterangi perapian.
Dean mulai memotong dan mengukir log kayu itu. Dokter Chandra lebih tercengang lagi melihat Dean membelah log kayu menjadi lembaran-lembaran papan tebal selebar 2 meter hanya dengan telapak tangannya.
"Ba.. bagaimana kau melakukannya. Kau menakutkan."
Dokter Chandra bergidik ngeri membayangkan lehernya terlepas hanya dengan telapak tangan Dean.
__ADS_1
Dean tak menggubris keterkejutan dokter Chandra.
"Tim kita akan berkumpul lagi. Kita butuh meja yang lebih besar dan cukup bangku agar semua bisa duduk bersama. Ku kira ini cukup." Dean sedang mengira-ngira ukuran meja untuk semua orang.
Lalu dia asik bekerja, membuat kaki meja dan menyambungkannya. Kemudian Dean membuat beberapa bangku lagi untuk tambahan.
Saat tengah malam, meja besar dan panjang itu selesai. Dean mengeluarkan meja bundar dan menggantikannya dengan meja panjang.
Dokter Chandra takjub dengan kecermatan dan kecepatan kerja Dean.
"Ini masih kasar. Kulit bisa tertusuk dibuatnya." Kritik dokter Chandra saat menyentuh permukaan meja.
"Tugas Alan untuk menghaluskan meja. Anda akan mendapati perabot yang mengkilap setelah mendapatkan sentuhan tangan Sunil atau Alan." Kata Dean.
"Sekarang waktunya kita tidur. Masih banyak yang harus kita lakukan besok." Ujar Dean sambil menguap.
"Tapi kau belum jadi bercerita." Protes dokter Chandra.
"Ah, aku lupa. Tapi apakah itu penting? Bukankah kita adalah teman? Teman tak kan mempersoalkan hal-hal kecil seperti itu." Dean masuk kamar untuk membangunkan Alan.
Alan keluar dengan mata setengah terpejam.
"Mana yang mesti dihaluskan?" Tanyanya linglung.
"Cuci muka dulu sana." Dean mendorong Alan ke kamar mandi.
"Ini aku membuat meja baru. Juga beberapa bangku baru. Kau haluskan pernukaannya."
"Tapi sebelumnya, haluskan ini lebih dulu." Dean mengangkat selembar papan kayu bagian tepi.
Alan mendekat dan mengamatinya sejenak. Lalu tangannya mengeluarkan cahaya merah orange. Dikelilinginya seluruh permukaan papan itu dengan cahaya merah.
Dokter Chandra terperanjat melihat cahaya merah dari tangan Alan. Dia jadi ingat pesan tetua klan penyihir.
'Mungkinkah?' pikirnya resah.
'Tidak. Tetua klan penyihir berkata mata mereka yang bercahaya, bukan tangannya.' Dokter Chandra mengalami peperangan di hatinya.
"Ini sangat bagus. Terima kasih, Alan."
Dean menyentuh dan mengusap permukaan kayu yang sudah halus itu. Yah, Alan membakar serat-serat kayu kasar dengan cahaya laser merah panas yang keluar dari telapak tangannya.
"Tak perlu memuji. Aku tau kalau aku hebat dan tak ada duanya." Ucap Alan dengan bangga.
Dokter Chandra tak berkedip beberapa saat. Tak menyangka Alan akan senarsis itu. Ini pemahaman baru baginya.
"Dokter, beristirahatlah." Saran Dean.
Dean naik ke atas lembaran kayu yang sebelumnya dihaluskan Alan. Setelah itu mengambil posisi meringkuk, tak lama dia tertidur pulas dengan nafas teratur.
*****
__ADS_1