
Widuri dan Dewi membantu Sunil dan Alan untuk menangani daging-daging yang sudah dipotong dan dibersihkan. Mereka telah menyiapkan bumbu untuk stok daging-daging itu, lalu menyimpannya di ruang penyimpanan daging yang dingin.
Widuri sedang berjalan di lorong saat Dean melayang masuk dengan hati-hati dan membiarkan Nastiti memeluk lehernya. Dean bahkan tak menyapanya saat berpapasan di lorong. Mata Nastiti tampak terpejam. Wajah Widuri memanas melihat itu.
"Kau apakan dia?" seketika Widuri murka pada Dean.
Dean berhenti dan berbalik. Kepalanya menunduk, bingung mesti menjawab apa pada Widuri.
Namun dimata Widuri, sikap Dean tampak jelas seperti sikap orang yang bersalah.
"Mau kau bawa kemana lagi dia?" tanya Widuri sinis.
"Turunkan!" perintahnya galak.
Nastiti melepas pelukannya di leher Dean lalu menatap Widuri yang wajahnya sudah memerah.
"Aku lemes, jadi minta Dean membawaku mengambil air." sahut Nastiti. Dia malah jadi sakit kepala mendengar suara keras Widuri yang bergaung bersahutan di gua.
"Tolong bawa aku ke dalam Dean," pinta Nastiti mengabaikan Widuri.
Dean mengangguk, kembali memeluk Nastiti dan meninggalkan Widuri yang terbengong-bengong.
"Ada apa sih? Suara teriakanmu mengisi semua lubang di gua ini. Ayo lanjut angkat dagingnya masuk," ajak Dewi yang sejak tadi diam memperhatikan di depan lorong ruang makan.
"Apa kau cemburu?" Dewi menepuk bahu Widuri.
"Apa maksudmu? Ku lihat dia memeluk Nastiti, jadi ku tanya apa yang terjadi. Hanya itu." Widuri membela diri.
"Ya.. ya.. Tapi intonasi suaramu justru tidak menunjukkan bahwa kau benar-benar ingin tau keadaan Nastiti. Kau lebih seperti polisi yang menanyai tersangka." jelas Dewi dengan santai.
"Masa sih?" Widuri mengelak.
"Dan kau cemburu melihat mereka berpelukan. Itu sebabnya suaramu jadi melengking dan terdengar kemana-mana. Xixixii.." Dewi menebak dengan jitu.
"Siapa yang cemburu? Jangan gossip deh." Widuri menghentakkan kaki dan meninggalkan Dewi yang masih terkikik geli.
"Wajahmu yang semerah udang rebus sudah menjawabnya!" teriak Dewi dari belakang.
Hingga sore hari, Widuri tak dapat berkonsentrasi bekerja. Pikirannya kemana-mana.
Dilain pihak, Dean dengan giat menyelesaikan tangga turun yang tinggal sedikit lagi.
Sementara Nastiti sudah membantu menyiapkan menu makan malam mereka setelah tubuhnya kembali segar.
__ADS_1
Pekerjaan hari itu tuntas sudah. Persiapan seharusnya sudah rampung. Jadi mereka ingin membahas lagi, apakah keputusan untuk turun total dan menutup serta meninggalkan gua disaat ini adalah hal yang tepat atau tidak.
"Kalian sebenarnya mau lanjut jalan atau enggak sih? Rencananya kok mundur-mundur terus?" protes Widuri jengkel.
Semua orang diam mendengarnya. Mereka sudah menyadari perubahan suasana hati Widuri sejak siang tadi.
"Seharian dia diam, tapi tampangnya tampak mengerikan," bisik Alan.
"Seperti mau makan orang saja," balas Sunil.
"Pasti Dean nih yang cari masalah," tebak Alan lagi.
Sunil mengangguk setuju.
"Ho oh. Dan coba lihat wajah Dean yang polos itu. Seperti tak merasa bersalah," balas Sunil lagi.
"Kalian bisik-bisik apa?!"
Widuri melotot.
"Gak ada."
Alan menggeleng cepat.
Dewi dan Nastiti hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat sikap Widuri.
Widuri menunjuk sendok ditangannya ke arah Dean. Jadi jelas kalimat itu ditujukan pada Dean.
"Aku tak pernah merasa jadi pemimpin kelompok ini. Bukankah kita selalu mendiskusikan semua langkah yang diambil? Dan aku hanya melakukan bagianku, sama seperti yang lain. Tapi kalau kau memang ingin jadi pemimpin kelompok ini, silahkan saja. Aku sama sekali gak keberatan." jawab Dean pedas.
"Apa maksudmu?" tanya Widuri dengan suara tinggi.
"Silahkan nyonya jadi pemimpin dan pikirkan sendiri cara keluar dari tempat ini. Mau berangkat kapan dan bagaimana, putuskanlah sendiri. Aku mau tidur!" Dean bangkit dari duduknya dan pergi.
"Kami mau istirahat dulu, nyonya pemimpin." Sunil dan Alan menyusul Dean dan menghilang di balik pintu lorong. Mereka tak ingin menjadi sasaran kemarahan Widuri yang tak jelas.
"Kau sedang menunjukkan kemarahanmu padaku?" Nastiti meletakkan sendoknya di piring. Ditatapnya mata Widuri intens.
Dewi mencubit paha Nastiti di bawah meja batu, tapi Nastiti bergeming. Tatapannya lurus ke mata Widuri yang tampak membalas tatapan itu dengan sengit.
"Siapa yang marah padamu? Aku tak punya alasan untuk itu?" bantah Widuri.
"Tak punya alasan? Kau cemburu dan marah melihat aku dan Dean berpelukan tadi siang. Jangan bohongi dirimu sendiri Widuri. Semua orang bisa melihat kau jatuh cinta padanya, tapi sikap kekanakanmu justru makin menjauhkanmu darinya. Penyangkalan membuat emosimu tidak stabil," sergah Nastiti jengkel.
__ADS_1
"Aku akan membereskan peralatan kotor nanti. Kalian lanjutkan saja senda guraunya."
Dewi bangkit dengan cepat dan segera kabur dari ruang makan yang menjelma jadi neraka itu.
"Saranku, ubah sifatmu yang pemarah dan negatif thinking pada orang lain. Atau kau tak kan punya teman lagi," Nastiti ikut keluar.
Widuri terdiam dan berperang dalam pikirannya sendiri. Lama baru dia menyadari bahwa ruangan itu sudah sunyi. Entah kapan mereka meninggalkannya sendiri.
"Sudah berapa kali aku begini? Benar-benar tak bisa berpikir dewasa dan menahan emosi. Bodoh.. bodoh.. Aku justru membuat orang lain takut berada di dekatku."
Widuri ingin menelungkupkan kepala di meja, untuk mengistirahatkan pikirannya yang kalut. Tapi meja itu penuh dengan peralatan makan yang kotor. Widuri menghela nafas panjang, lalu mulai membereskan kekacauan di meja.
Widuri berjalan ke ruang gua besar. Dia melihat keempat temannya sudah beristirahat. Tapi Dean tak ada di situ.
'Dimana dia? Apa dia benar-benar marah kali ini?' pikir Widuri murung.
Widuri duduk di sebelah Dewi. Membuka ransel dan mengambil buku catatannya.
Diterangi cahaya redup perapian dan kristal cahaya, Widuri mulai menulis.
Dear diary,
Aku sudah tak tau berapa lama waktu berlalu sejak terakhir kali menyapamu. Tapi kami berencana pergi meninggalkan tempat ini dalam waktu dekat.
Kami sudah menyiapkan banyak hal, tapi selalu ada hal tak terduga yang membuat rencana itu tertunda lagi.
Aku sangat menyadari kendala ini, tapi entah kenapa aku tak tahan dan sangat ingin marah.
Ku kira dengan meledakkan semua kemarahan itu, aku akan merasa lega, tapi nyatanya tidak. Aku justru jadi sedih. Aku tak membenci siapapun, tidak juga Dean. Tapi tadi mereka mengambil sikap menjauhiku karena emosiku yang tidak stabil.
Benarkah yang dikatakan Nastiti? Hanya aku yang menyangkal telah jatuh cinta pada Dean? Apakah penyangkalan itu yang membuat emosiku bergejolak?
Tapi bagaimana mungkin aku bisa jatuh cinta pada pria yang sama sekali tak romantis itu? Sikapnya kaku dan keras kepala.
Berbeda dengan Frans ketika dulu mendekatiku...
-
"Frans? kenapa aku tiba-tiba ingat bajingan brengsek itu? Huh, bahkan romantismenya ternyata palsu! Dasar pengkhianat!" Widuri bergumam dengan geram.
"Baiklah, jika memang tanpa ku sadari telah jatuh cinta pada orang yang tidak romantis, maka aku akan membuka hati dan menerima keadaan ini. Mungkin dengan begini tak ada lagi silang sengkarut di dalam hatiku."
"Tapi, apa pentingnya aku menyadari perasaanku, jika dia tidak menyukaiku? Bukankah itu akan melukai hatiku sendiri?"
__ADS_1
Widuri kembali mengalami perang batin tanpa akhir dan hanya membuatnya lelah. Akhirnya dia menyimpan lagi buku catatan dan memaksa matanya untuk terpejam.
***