PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 70. Kulit Pohon Willow


__ADS_3

Robert sampai di padang bunga, tapi tak menemukan siapapun. Liam menyusul di belakangnya menunggang kuda. Mereka memelankan lari kuda dan memeriksa. Sayup-sayup terdengar teriakan Niken yang sedang berlari. Dan jauh di depannya tampak seekor kuda putih berlari kencang ke arah bukit berbatu. Indra terseret terpelanting berkali-kali di belakangnya.


"Itu," teriak Liam lalu memacu kudanya.


"Oo tidak!" Robert menyusul Liam dan kudanya berlari lebih kencang karena Indra dalam bahaya. Dilewatinya Niken yang berlari terseok dan panik. Dalam 2 menit jarak dengan Indra terkejar.


"Lepaskan tali itu In. Bahaya!" teriak Robert tak sabar melihat Indra keukeh menggenggam tali meskipun dia sudah mendapati banyak luka akibat terbanting dan terseret.


Robert menyiapkan tali jeratnya untuk membantu menahan laju kuda saat melihat Indra tak merespon kata-katanya.


Hup!


Robert gagal memasukkan tali karena kuda berlari berganti arah. Robert mengejar lagi lalu bersiap melempar tali lagi.


Hap!


Kali ini kuda itu terjerat 2 tali. Robert menyentak dan menarik paksa tali itu sekuat tenaganya sambil menahan laju kudanya sendiri.


Akhirnya kuda putih itu mengurangi laju larinya sambil menggoyangkan lehernya yang terjerat makin kuat dan menyesakkan nafasnya. 20 meter kemudian kuda itu berhenti dan menggoyang lehernya dengan lemah. Tubuhnya sedikit bergetar.


Robert mengendurkan sedikit tali jerat dengan berjalan mendekati kuda tersebut. Saat Robert tiba, kuda itu terjatuh dan mengeluh pelan, matanya sayu. Robert turun, mengendurkan tali lalu memeriksa kondisi kuda yang tampak lelah dan lemas karena tadi lehernya terjerat tali dengan kencang. Robert mengelus-elus lehernya untuk menenangkannya. Kuda itu menjadi lebih tenang setelah tali jerat dikendurkan.


Liam yang menyusul, segera memeriksa Indra. Kondisi Indra tak lebih baik dari kuda putih itu. Wajahnya penuh luka dan darah mengucur bahkan dari pelipisnya. Banyak memar di sekujur tubuhnya.


"Indra, apa kau bisa mendengarku?" tanya Liam. Indra tak menjawab. Liam tak mengerti, menurutnya Indra mungkin pingsan.


"Bagaimana dia?" tanya Robert dari samping kuda yang rebah itu.


"Tidak tau. Dia tak menjawab kata-kataku. Mungkin pingsan. Baiknya dokter Chandra memeriksanya dulu, baru tau kondisinya. Yang jelas, dia tak kan bisa berjalan pulang," jawab Liam.


"Indraaaaa!" Niken sampai dan langsung menangis histeris.


Dia ingin memeluk tubuh Indra yang terbaring di rerumputan, tapi dicegah Liam.


"Jangan main peluk aja dong. Kita belum tau dia ada luka dimana. Kalau salah peluk malah bikin tulangnya patah, gimana?" Liam menarik tangan Niken agar menjauh.


Niken mengangguk mengerti lalu berjongkok di samping Indra dan menangis lagi.


"Sayang, bangun.. Bangun. Maafin aku. Kalau aku gak kepingin kuda itu, kamu gak kan jadi begini..." tangis Niken makin menjadi.


Robert dan Liam berdiskusi bagaimana membawa Indra kembali ke pondok. Liam berbalik menuju pondok membawa kuda hitam Robert, meninggalkannya mengawasi Niken dan Indra.


"Apa Indra masih bisa ditolong?" tanya Niken sesenggukan.


"Kita tunggu dokter Chandra datang. Aku juga tak mengerti hal seperti ini," jawab Robert pelan.


Robert memeriksa kuda putih yang jadi penyebab masalah itu.


"Kau membuat dia luka parah. Jadi harus patuh sekarang, ya." Robert terus mengelus leher kuda itu sambil mengomel di telinganya. Kuda itu meringkik pelan. Entah karena mengerti atau protes disalahkan.


10 menit kemudian Liam kembali bersama dokter Chandra. Mereka membawa 2 batang kayu panjang, dan lebih banyak tali serta selembar pasmina.


Dokter Chandra memeriksa kondisi Indra yang menyedihkan.


"Dia pingsan. Kemungkinan karena 2 hal, kehabisan tenaga menahan tali, atau karena kepalanya membentur benda keras." Dokter Chandra mengamati sekitarnya. Ada cukup banyak bebatuan di situ. Dia menggeleng prihatin.


"Apakah bisa dibangunkan dengan dipercikkan air?" tanya Niken.

__ADS_1


"Coba saja," kata dokter Chandra.


Liam memberikan satu wadah air pada Niken. Mereka tadi memang membawanya dari pondok. Satu wadah air lagi diserahkan pada Robert.


Robert menuang air pada telapak tangannya yang disodorkan ke kuda putih. Kuda itu menjilati tangan Robert dengan cepat. Beberapa kali Robert memberi kuda itu minum. Tak lama kuda itu bangkit dan berdiri, mengibaskan ekor dan menggoyang kepalanya ke arah Robert. Suara ringkikannya halus seakan berterima kasih sudah diberi minum. Robert tersenyum senang sambil menepuk-nepuk punggung kuda itu.


Sementara Niken tidak berhasil membuat Indra sadar. Liam dan dokter Chandra sudah selesai membuat tandu darurat dengan dua batang kayu. Diikatnya dengan tali menghubungkan kedua kayu. Menutupi tali-tali itu dengan pasmina.


Robert menyerahkan tali kuda putih pada Niken.


"Pegang ini, jangan sampai lepas. Dia sudah tenang, jadi jangan ganggu. Atau kau akan bernasib sama," Robert menatap tajam ke arah Niken yang tampak tidak senang pada kuda itu.


Niken mengangguk lalu memegang tali kuda dan membiarkan Robert, dokter Chandra dan Liam memindahkan Indra ke atas tandu. Indra masih bergeming.


Robert dan Liam mengangkat tandu di kedua sisi, sementara dokter Chandra mengikatkan batang kayu pada salah satu sisi kuda. Dokter Chandra mengikat erat kayu depan dan belakang pada tali pelana.


Kini tandu itu berada diantara kedua kuda Robert dan kuda Liam. Mereka siap untuk berangkat sekarang.


"Kau naiklah ke atas kuda ini," saran dokter Chandra pada Niken.


Niken menurut dan naik ke kuda hitam Robert. Liam yang mengendalikan jalan kedua kuda sekarang, karena Niken belum mahir berkuda.


Dibelakang, Robert dan dokter Chandra mengikuti di belakang. Robert menuntun kuda putih itu, mengikuti Liam yang berjalan pelan, takut Indra terjatuh dari tandu.


Sampai di pondok, Silvia sudah menyiapkan tempat di pondok para pria. Kain-kain pembalut sudah disiapkan. Mangkuk berisi air hangat juga sudah ada.


Mereka sigap membawa tandu ke dalam pondok. Indra masih belum sadar juga. Dibantu Liam, dokter Chandra membersihkan seluruh luka di tubuh Indra. Niken menyiapkan baju Indra yang bersih untuk ganti.


Sementara Robert langsung menghilang setelah Indra masuk ke pondok.


"Mau kemana?" Laras berpapasan dengan Robert saat akan mengantarkan wadah air lainnya ke dokter Chandra.


"Tolong beri makan dan minum kuda-kuda itu," teriak Robert pada Angel yang berdiri dekat pagar.


"Ya," jawab Angel.


Angel mengambil tumpukan rumput yang setiap pagi disiapkan Gilang untuk kuda-kuda mereka. Kuda-kuda yang diikat itu makan dengan lahap. Angel menambahkan air pada wadah air minum kuda yang terbuat dari batu bata.


10 menit berikutnya, Robert kembali dengan membawa sesuatu yang basah dalam pelukannya. Laras mendekati untuk membantunya.


"Apa ini? Kenapa basah begini?" tanya Laras.


"Obat Indra. Ini sudah ku cuci. Jadi tolong ambil wadah bersih," kata Robert.


Laras berlari masuk ke arah dapur untuk mengambil wadah lain. Saat dia kembali, Robert tampak duduk di bangku kayu sembari memotong-motong bahan obat itu menjadi potongan-potongan kecil, sementara yang ukuran besar, masih ada dipangkuannya.


"Ini," kata Laras menyodorkan wadah gerabah yang dibawanya. Robert menerimanya dan meletakkannya di atas meja.


"Yang ini rebus dulu di teko atau mangkuk. Beri Indra minum itu jika dia sudah bisa diberi minum." Robert menyerahkan segenggam potongan bahan obat pada Laras.


"Obat apa ini?" tanya Laras ingin tau.


"Obat untuk mengurangi rasa sakit dan nyeri." Robert menjawab singkat.


"Apa ini pahit?" tanya Laras lagi.


"Ya, sedikit pahit," jawab Robert.

__ADS_1


"Oke." Laras segera membawa bahan itu ke dapur dan mencari mangkuk gerabah untuk merebus obat. Jika obat itu pahit, makan jangan rebus di tempat merebus teh, nanti teh bunga mereka justru akan ikutan pahit.


"Masak apa?" tanya Silvia.


"Merebus obat Indra." Laras menjawab yakin.


"Jangan sembarangan. Obat apaan itu?" Silvia kaget.


"Tanya Robert. Dia bilang ini untuk meredakan rasa nyeri dan sakit," sahut Laras tak acuh.


Silvia keluar dari dapur dan menemukan Robert masih asik memotong-motong bahan obat yang sama.


"Kau yakin ini obat? Nemu dimana? Bagaimana jika Indra malah keracunan? Apa kau mau membunuhnya?" Silvia langsung menyerang Robert dengan kata-kata tajamnya.


Kening Robert berkerut mendengar tuduhan itu. Wajahnya segera menggelap.


"Aku akan lebih dulu meminum obat yang direbus Laras jika kau khawatir aku meracuni Indra." Robert menjawab pedas.


Mendengar jawaban Robert, Silvia menjadi emosi dan ingin membalas kata-katanya. Tapi Angel segera mencubit dan berbisik.


"Jaga kata-katamu. Jangan menuduh yang bukan-bukan. Tanya baik-baik kan bisa." Angel mengingatkan.


Silvia segera mengatupkan mulutnya lagi dan berpikir sejenak.


"Maksudku, itu obat herbal apa? Bahannya apa? Apa kau sudah pernah gunakan? Sudah terbukti belum?" Silvia berusaha meralat kata-katanya, tapi justru dibalas tawa ejekan dari Robert.


"Nanti jika ku bilang ini sudah terbukti, kau minta lagi bukti ilmiahnya, catatan klinisnya, jurnalnya dan sebagainya.. hahahaa." Robert menjawab sinis.


"Kau!" wajah Silvia merah padam menahan emosi. Giginya digertakkan karena ingin membalas tapi tak tau mau membalas bagaimana. Karena Robert menjawab tepat sesuai pola pikirnya sebagai mahasiswa kedokteran.


"Kau tak kan menerima jika hanya dari pengalaman orang. Kau tau jelas bahwa sebenarnya banyak obat pabrikan yang dibuat dengan meniru unsur-unsur kimia yang bermanfaat dari herba, yang telah digunakan secara tradisional selama ratusan tahun." Robert sepertinya belum ingin berhenti bicara.


Silvia terkesima karena kata-kata Robert menohok tepat pada titik resisten ego para ahli pengobatan yang berkiblat ke Barat yang mengagungkan pabrik-pabrik obat besar berbahan kimia buatan sebagai obat yang paling efektif.


"Robert, obat itu dibuat dari bahan apa?" kali ini Angel yang bertanya dengan suara halusnya yang merdu untuk meredakan ketegangan.


"Kulit pohon willow," Robert menjawab singkat. Angel mengangguk. Tapi reaksi Silvia justru makin tak terkendali.


"Tanaman yang dijadikan pagar, bangku dan meja itu kau jadikan obat? Kau gila atau apa?"


Kali ini emosi Silvia tak tertahankan lagi. Jari telunjuknya menuding ke arah Robert. Robert menggeram marah lalu meninggalkan semua yang sedang dikerjakannya di meja. Dia menghilang di balik pagar.


"Ada apa ribut-ribut?" Gilang masuk menuntun kuda yang membawa wadah penuh madu. Leon mengikuti dari belakang.


"Itu, si Robert. Masa kulit pohon willow disebutnya sebagai obat pereda nyeri? Kan gila!" Silvia masih gregetan.


"Memang bisa. Tapi siapa yang sakit?" Leon menjawab santai.


"Benaran bisa? Indra sakit," tanya Niken dengan cepat.


"Ya. Itu herbal yang umum di Amerika bahkan di Cina juga. Itu sama seperti aspirin. Sama terkenalnya dengan kunyit jika di Indonesia." Leon menjelaskan yang diketahuinya.


"Baguslah kalau begitu," Niken senang dan segera berlari ke dapur untuk menunggu obat yang sedang direbus Laras.


Tapi Silvi justru jatuh berlutut di tanah. Tubuhnya bergetar mengingat betapa kasar dan kejam tuduhannya pada Robert tadi. Dia sendiri yang kurang ilmu tapi justru tinggi hati tanpa mau membuka diri untuk menyerap ilmu baru. Rasa malu yang dirasakannya kini sungguh tak tertahan.


***

__ADS_1


Ilustrasi kulit willow untuk obat.



__ADS_2