
Pagi hari yang basah dan dingin. Meski rasa malas mengganggu, tapi membayangkan setumpuk pekerjaan yang harus selesai hari itu, anggota tim Dean memaksakan diri untuk bangun.
Aktifitas dimulai. Dean dan Alan pergi ke kota mati pagi sekali. Mereka akan menjemput Liam dan Laras, untuk dibawa ke tepi tebing. Itu cara praktis agar semua bisa berpamitan dan sarapan bersama.
Di kota mati.
Yabie ada di sana. Sibuk dengan aktifitasnya. Bersama Mattew dan Kenny, mereka mulai merapikan halaman depan rumah Yabie. Semua tanaman sayur dan ubi serta kentang di situ, dipindahkan ke area kebun.
"Kalian mulai bersih-bersih?" tanya Alan.
"Ya. Setelah semua tanaman dipindahkan, rumah ini bisa mulai diperbaiki," jawab Mattew.
"Harusnya bukan diperbaiki. Tapi Bangun ulang. Itu jauh lebih mudah. Seperti dulu kita meruntuhkan bangunan lain, dan membangun yang baru," usul Dean.
"Ku rasa paman benar. Seperti itu akan jauh lebih kokoh." Yabie mengangguk.
"Buatlah seperti itu. Sayangnya waktuku di sini sudah hampir habis." Dean menyesali itu.
"Mattew, Kenny, kami pamit. Kami akan melanjutkan perjalanan besok," ujar Dean.
"Bagaimana dengan Laras dan Liam?" tanya Kenny.
"Mereka memilih tinggal di sini. Jadi tolong jaga mereka ya...." jawab Dean.
"Tentu saja. Dan, semoga kalian menemukan jalan kembali," kata Mattew tulus.
"Terima kasih."
Dean menyalami Mattew dan Kenny.
"Yabie, ayo ikut aku sebentar," panggil Dean.
Yabie meninggalkan pekerjaannya. Mengikuti Dean dan Alan yang berjalan ke arah rumah Liam dan Laras.
"Kau harus mengajari Liam, Kenny dan Mattew jalur jalan yang aman menuju kota. Itu sangat penting, agar mereka tidak harus bergantung padamu di saat darurat." Dean menasihati.
"Nanti kau lihat, apakah semua kayu di sana cukup untuk kau membangun rumah. Jika kurang, siang nanti masih ada sedikit waktu untuk kita menebang pohon."
"Jam berapa paman ke rumah?" tanya Yabie.
"Sore nanti!" jawab Dean.
"Oh iya, aku sudah memotong seekor sapi untuk kalian. Mau diambil sekarang?" tanya Yabie.
"Bagi daging sapi itu jadi 4 bagian. Untukmu, untuk Liam dan Laras, juga untuk Mattew dan Kenny. Sisanya baru ku bawa," kata Dean.
"Baik!" ujar Yabie.
Tok.. tok.. tok..
"Ya? masuk!"
Terdengar jawaban dari dalam. Dean membuka pintu. Mereka bertiga masuk.
"Dimana Liam?" tanya Alan.
"Dia di kandang domba," jawab Laras.
"Aku akan memanggilnya."
Alan berjalan keluar rumah.
"Ini, ada daging sapi untuk kalian."
Yabie mengeluarkan satu bagian paha sapi. Daging itu diletakkan di meja dapur.
"Dia memotong sapi untuk bekal perjalanan kami," Dran menjelaskan pertanyaan yang tergambar di mata Laras.
"Terima kasih, Yabie." Laras tersenyum manis. Yabie hanya mengangguk.
"Aku dan dan Alan ke sini, mengundang kau dan Liam untuk sarapan bersama di tempat kami," kata Dean.
"Apa aku tidak diajak, paman?
"Kau kan bisa terbang sendiri," balas Dean.
__ADS_1
"Jadi, aku boleh ikut? Asiikk.. Akan ku bagikan dulu bagian daging untuk Kenny dan Mattew!"
Suara Yabie menghilang ketika dia buru-buru berlari keluar rumah.
"Baiklah. Aku juga ingin melihat tempat kalian tinggal," sahut Laras.
Ruangan itu lalu hening. Karena tak ada lagi yang bicara. Dean merasakan kecanggungan itu.
"Aku tunggu di teras. Kau bersiaplah." Dean berjalan keluar rumah.
Tak butuh waktu lama bagi Liam dan Alan untuk kembali ke rumah.
"Dean!" teriak Liam pada Dean yang sedang mengamati tananan berwarna kemerahan di halaman.
"Apa ini bunga?" tanya Dean tanpa menoleh.
"Sepertinya sih begitu. Yabie membawanya. Dan Laras menanamnya di sekeliling rumah. Agar jadi pagar hidup dan mempercantik rumah, katanya."
"Kata Alan, kalian akan berangkat besok?" tanya Liam.
"Ya. Hari ini kami mengundang kalian untuk sarapan bersama," ujar Dean tersenyum.
"Baiklah. Aku memang ingin sekali melihat suasana di luar kota mati ini."
Liam terlihat sangat gembira. Dia berjalan ke rumah untuk menjemput Laras.
"Ah,, kau ternyata sudah siap. Baguslah. Ayo kita keluar." Lian mendorong kursi roda Laras.
Dean mendekat dan membantu mengangkat kursi roda itu. Membuatnya melayang di udara.
Mereka berempat mulai jalan beriringan. Di gerbang kota, Yabie sedang berbincang dengan 2 orang gadis kecil.
"Apa urusanmu sudah selesai?" tanya Dean.
"Sudah, paman. Mari kita pergi!" ujar Yabie bersemangat.
"Dia terlihat selalu bersemangat jika diajak makan," celetuk Alan.
"Memangnya kenapa? Bahan makanan juga dari dia kan. Jadi biarkan dia ikut menikmati makan bersama yang terakhir kali."
Setelah keluar dari celah dinding kubah transparant itu, Dean dan Alan mulai membawa Liam dan Laras melayang naik.
"Wooaaaa... kita benar-benar tinggal di tengah belantara!" serunya terkejut.
Liam dan Laras baru menyadari hutan yang mengelilingi kota mati adalah hutan dengan pohon-pohon raksasa. Tumbuh tinggi dan besar. Daunnya yang rimbun membuat bagian bawahnya nyaris tak mendapatkan sinar matahari.
Mereka makin terkagum-kagum setelah terbang cukup lama, mereka masih belum sampai juga.
"Tempat tinggalmu jauh sekali, Dean," celetuk Liam.
"Ya. Kami tinggal di tepi pantai. Pantai bertebing tinggi." jelas Alan.
"Pantai? Kita bahkan belum melihat laut!" seru Liam keheranan.
"Berapa lama perjalananmu jika ke sini?" tanyanya penasaran.
"Jika terbang dengan kecepatan tinggi, bisa cepat sampai." Alan yang menjawab pertanyaan.
"Ohh...." Liam mengangguk mengerti.
Jadi sekarang mereka terbang dengan lambat, karena khawatir dengan Laras.
*
*
Apa semua sudah beres?" tanya Marianne.
"Sarapan sudah, cekk!" sahut Niken.
"Roti-roti untuk bekal sudah masuk pemanggang, cekk!" Widuri tak mau kalah.
"Minuman hangat juga sudah, cekk!" ujar Michael.
Mari kita siapkan meja." Indra nimbrung. Dia sudah sangat lapar.
__ADS_1
"Bibiii," terdengar suara khas Yabie.
"Mereka sudah sampai," kata Widuri.
Anggota tim itu bekerja sama mengisi meja dengan beberapa masakan sederhana.
"Laras!" seru Niken.
Dean meletakkan kursi roda Laras di pelataran, dekat meja makan besar itu.
"Akan ku panggil yang lainnya!" ujar Indra cepat.
Mereka berkumpul dalan kebersamaan yang hangat. mengobrol ke sana-kemari tak jelas arah. Tapi itu justru membuat suasana jadi lebih menyenangkan. Diselingi tawa di sana-sini. Itu moment yang indah.
Lalu tiba-tiba terasa angin kencang berputar dari arah atas.
"Itu pasti Kang dan Nastiti!" kata Niken antusias.
"Waahh, sudah ramai. Apa kami terlambat?" ujar Nastiti. Dia bahkan masih berada di punggung Kang.
"Aaagghhhh!" teriak Liam dan Laras.
"Makhluk apa itu yang ditunggangi Nastiti?" tanya Laras terkejut.
"Itu Kang. Tak perlu merasa takut." Wuduri menenangkan Laras.
"Kang? Orang yang mengobati penyakitku?" tanyanya lagi, tak percaya.
:Ya, Dia juga yang mengobati kami kemarin," Robert buka suara.
???
"Memangnya kalian kenapa kemarin?" tanya Liam.
"Duduk dulu, Nastiti, Kang. Ku siapkan piring untuk kalian," kata Marianne.
"Lanjutkan makan sambil ngobrol," sela Dokter Chandra.
"Ayo makan...." Dean menyuap lagi makanannya.
"Dean, katakan apa yang terjadi kemarin," desak Widuri.
Akhirnya Sunil dan Dokter Chandra yang menjelaskannya. Semua terkejut mendengarnya. Kejadian sebesar itu sama sekali tidak dikatakan tadi malam.
"Kalau bukan Robert yang terlepas omong, kalian pasti akan tutup mulut semua. Apa begini rasa persaudaraan?!" Emosi Widuri naik.
Dean merengkuh bahunya lembut. Mencoba menenangkan wanita yang selalu meledak-ledak itu.
"Aku lupa. Sungguh!" ujar Dean.
"Jika kau lupa, masa semua orang juga lupa?" Widuri tak puas dengan jawaban Dean.
"Tadi malam kita membahas banyak hal penting untuk mematangkan persiapan. Setelah itu kita pergi beristirahat. Kami benar-benar lupa," Sunil mendukung alasan Dean.
"Lagi pula, tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Kang sudah mengobati kami," tambah Robert.
Yang lain masih hening. Seakan kompak tak terima dengan diamnya Dean, Ribert, Sunil dan Dokter Chandra.
Dokter Chandra menghela nafas.
"Kalian bahkan tak melihat bekas apapun kan? Jadi tak perlu diributkan lagi. Aku juga lupa untuk mengatakannya.
"Sudahlah.. jangan rusak suasana yang bagus ini. Lagi pula orang jahatnya sudah dibasmi. Nastiti akan hidup dengan aman di sana," ujar Alan bijak.
Pelan-pelan suasana tegang kembali mencair setelah Alan mulai usil menggoda Nastiti dan Kang.
Kebersamaan terakhir mereka di hutan larangan. Kebersamaan yang manis untuk dikenang.
Mereka mengunjungi makam Dewi di tepi tebing. Mengucapkan salam perpisahan.
"Dewi, kami akan melanjutkan perjalanan. Di sini masih ada Laras dan Liam, serta Nastiti dan suaminya. Mereka akan mengunjungimu sesekali."
"Kau bisa menatap pemandangan indah laut biru dari sini, jika merasa kesepian."
Laras menyusut air matanya yang menggenang. Betapa beruntungnya Dewi. Sementara Leon dan Silvia entah dimana rimbanya. Jikapun tewas, tak juga diketahui makamnya. Laras memejamkan mata dan mengirimkan doa untuk dua temannya itu.
__ADS_1
*******