PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 332. Memasuki Teleportasi


__ADS_3

Keempat orang itu melayang turun. Mengamati air terjun yang mengalir deras. Rasanya tak ada celah untuk bisa masuk dari samping.


"Bagaimana kalau kita melesat cepat untuk menembus air itu," saran Indra.


"Bagaimana kalau di balik tirai air yang kau tuju ternyata tebing batu?" sanggah Sunil.


Dean mengangkat tangannya. Tirai air itu tersibak sedikit.


"Robert, beri penerangan!" ujar Dean.


"Bukan. Ini hanya dinding tebing."


Dean memindahkan kekuatannya ke sisi lain. Robert segera menerangi. Mereka belum menemukannya. Bahkan setelah memeriksa ulang semua dinding tebing yang dijatuhi air, mereka tetap tak menemukannya.


"Penguasa, tidak ada apapun di balik air terjun ini," lapor Dean.


"Biarkan aku keluar untuk melihatnya," kata dokter Chandra.


"Tapi—"


"Kita tak boleh menunda lagi. Sebentar lagi orang-orang di atas itu pasti dicari!" tegas dokter Chandra.


"Baiklah."


Dean mengeluarkan dokter Chandra dari penyimpanan dan membantunya tetap melayang.


Dokter Chandra memejamkan matanya. Kemudian cahaya putih berkilau menyelubungi tubuhnya. Tak butuh waktu lama, matanya yang secemerlang air ditimpa cahaya, terbuka. Tangannya terangkat dan menunjuk agak ke kanan dari bagian tengah air terjun.


"Di sana!"


Dean segera membuka tirai air. Robert dan Sunil membantu menerangi. Memang tak ada apapun di sana. Dokter Chandra mengerutkan kening tak mengerti.


"Mungkin pintunya disembunyikan!" sela Sunil tiba-tiba. "Kau ingat Dean? Sama seperti yang kau lakukan di gunung batu!" tambahnya lagi.


"Biar ku buka!" ujar Dean. Dokter Chandra kembali dimasukkan dalam penyimpanan.


Dengan menggunakan kemampuannya, Dean menarik bagian dinding yang diperkirakannya telah menutup lubang masuk.


Benar saja. Suara berderak mulai terdengar dari bebatuan yang digeser. Indra akhirnya ikut membantu menarik batu besar yang mulai bergeser perlahan.


"Ini bongkahan batu yang sangat besar!" ujar Indra. Sunil ikut membantu dua temannya berbagi beban.


"Batu ini berat sekali loh!" kata Indra.


Meski mereka telah membagi beban bertiga, batu itu masih terasa sangat berat. Padahal belum juga lepas dari dinding. Bagaimana nanti jika sudah lepas?


"Tahan sebentar!" ujar Dean.


"Kalian tahan dulu, sementara aku belah kepingan pintu ini," tambahnya.


"Apa?"


"Pegang dulu. Tak usah banyak tanya!" seru Dean gusar.


Sunil dan Indra terdiam. Dibiarkannya Dean bekerja membelah lempengan batu yang menyumbat lubang yang ditunjuk dokter Chandra.


Sepuluh menit kemudian, lempengan besar itu telah selesai dibelah. Sunil dan Indra meletakkannya didasar kolam air terjun di bawah sana.


Lalu ketiga orang itu kembali menarik lempengan batu yang tersisa. Setelah cukup lama, barulah batu itu terlepas. Robert menerangi tempat itu.


"Terlihat seperti lorong gua biasa," celetuk Indra.


"Ayo masuk, Robert!" ajak Dean.


Setelah Robert masuk, maka ketiga orang itu membalikkan posisi bongkahan batu. Sekarang mereka masuk ke lorong gua sambil menarik bongkahan batu itu untuk kembali menutupi lubang. Indra dengan segera membakar seluruh tepian sambungannya, agar lubang gua tersamarkan.


"Sempurna!' puji Robert sambil menyalakan bola api di tangannya. Ruangan itu kini lebih terang. Tapi tak terlihat apapun di dalam situ.


"Kita istirahat dulu sebentar. Aku letih," kata Indra.


Teman-temannya setuju. Mereka juga sangat letih malam ini. Maka keempat orang itu berbaring di lantai gua yang penuh dengan debu dan runtuhan kerikil.

__ADS_1


"Menurut kalian, apakah kita masih harus masuk gua ini lebih dalam lagi?" tanya Indra.


"Kita belum melihat pertanda apapun dari sini. Jadi, bisa saja lokasinya lebih dalam," tebak Robert.


Tanpa disadari, istirahat yang rencananya sejenak saja, justru benar-benar tertidur.


Dean terbangun karena mendapat peringatan dari Penguasa.


"Cepat pergi dari sana!"


"Hah!" Dean terbangun dengan sangat terkejut. Tapi dia tak mau mengabaikan peringatan itu.


Dengan cepat, Robert, Indra dan Sunil dibangunkan juga. Tampaknya kawanan dari orang-orang yang mereka tahan sebelumnya, sudah mencari ke tempat ini.


"Ayo, kita harus cepat pergi dari sini!" seru Dean.


"Akh, kita ketiduran." Indra segera bangkit dari duduknya.


Di depan, Robert memimpin jalan dengan penerangan. Mereka berjalan memasuki lorong gua. Namun, baru beberapa langkah, gua itu terasa bergetar.


"Kita ketahuan!" Seru Indra.


"Mereka mengebom tempat ini!" tambah Sunil.


"Ayo cepat!" ajak Dean.


Dia terbang memasuki lorong. Temannya yang lain mengikuti. Robert mendampingi Dean untuk memberi penerangan. Dengan terbang, gerakan mereka jauh lebih cepat.


Gua di tebing itu panjang berkelok-kelok.


"Siapa yang punya ide membuat persembunyian serumit ini?" celetuk Indra.


"Pastinya orang yang punya kemampuan lebih. Dia harus mampu menggali terowongan di bebatuan," sahut Sunil.


"Seperti A?" tanya Indra lagi.


"Mungkin!" jawab Sunil acuh.


"Ada apa? Kenapa berhenti?" protes Indra.


"Ada dua lorong di sini. Mana yang kita pilih?" jawab Dean.


"Tanya penguasa saja," saran Robert.


Dean mengeluarkan dokter Chandra.


"Bagaimana kabar anda, Dok?" sapa Sunil.


"Sudah tak ada masalah. Lukaku sudah pulih. Hanya sedikit lemah karena sebelumnya kehabisan banyak darah," jawab dokter Chandra.


"Penguasa, di depan ini ada percabangan. Jalan mana yang kita pilih?" tanya Robert sambil menunjukkan dengan bola api di tangannya.


Dokter Chandra memejamkan mata sejenak. Cahaya putih kemilau mulai menyelubungi tubuhnya. Lalu dia membuka mata.


"Lewat sini!" tunjuknya ke arah kanan.


Mereka memasuki pintu terowongan itu.


"Dean, bisakah kau menutup lagi pintu masuk itu?" tanya dokter Chandra.


"Bisa!" jawab Dean.


Dengan segera, dipotongnya kepingan besar batu dari dinding di sampingnya. Indra membantu menempelkan kepingan batu ke pintu terowongan dengan sinar lasernya. Sekarang terowongan yang mereka masuki telah tertutup.


"Bagus!" puji dokter Chandra. "Ayo kita lanjutkan perjalanan. Harusnya tidak jauh lagi."


Lima orang itu kembali terbang menyusuri lorong gua yang mulai menyempit. Mereka lewat satu persatu. Sampai akhirnya tak ada jalan lain.


"Penguasa, terowongan ini buntu!" kata Sunil.


"Tidak! Orang itu menyembunyikannya di balik dinding ini." Dokter Chandra menunjuk dinding di depannya dengan yakin.

__ADS_1


Dean segera bekerja memotong dinding, seukuran mereka bisa masuk saja. Setelah mengeluarkan potongan batu besar seperti pintu itu, mereka akhirnya dapat melihat sebuah ruangan kecil. Mungkin hanya berdiameter dua meter saja. Di salah satu dinding, ada pintu dengan cahaya biru di tengahnya.


"Benar-benar ada di sini!" seru Sunil takjub.


Dokter Chandra melayang mendekati pintu itu dan mengamati ukiran di sekelilingnya.


"Ini seperti gerbang teleportasi antar bintang yang jauh di dunia kita," gumam dokter Chandra.


"Benarkah?" Indra sangat senang. "Berarti kita bisa kembali."


"Perjalanan jarak jauh butuh pengaturan koordinat yang tepat," sela dokter Chandra.


"Apa Anda bisa mengaturnya, Penguasa?" tanya Dean. Yang lain juga menunggu jawaban dokter Chandra dengan penuh harap.


"Tidak. Ada ahli sendiri yang mengatur perjalanan seperti ini. Bahkan untuk komunikasi laporan dari dunia kecil, ada ahlinya sendiri," jawab dokter Chandra.


"Ahh ... aku mulai ingat. Ketika ditugaskan ke tempatmu, A," ujar Sunil. "Aku dan Z pergi ke departemen teleportasi dan menunjukkan surat perintah. Setelah itu, mereka menyuruh kami memasuki gerbang cahaya yang telah diaturnya."


"Ya, memang seperti itu." Dokter Chandra mengiyakan.


"Tanpa pengaturan, maka kita bisa saja sampai di tempat lain lagi," gumam Robert.


Dduuaarrr!


Lantai gua itu bergetar lagi. Dan kali ini jauh lebih kuat dari sebelumnya. Beberapa batu berjatuhan dari atas.


"Orang-orang di luar itu, memakai bom yang lebih besar sekarang. Kita tak boleh berlama-lama di sini," tegas dokter Chandra.


"Tapi, kita belum tau itu jalan ke mana," ujar Indra.


"Mereka sudah melihat kita bisa terbang. Sudah melihat kau membuat kurungan cahaya yang penuh sambaran petir. Juga melihat Dean bisa menyembunyikan Dokter Chandra dan Widuri," jelas Robert.


Sunil setuju. "Mereka tidak akan tinggal diam, hingga tempat ini dibongkar untuk menemukan kita. Lalu menjadikan kita bahan penelitian dan eksperimen. Apa kau mau menunggu seperti itu?"


"Ah, lebih baik mengadu nasib ketimbang dijadikan kelinci percobaan!" Indra bergidik ngeri.


"Tapi, bagaimana kalau mereka menemukan pintu teleportasi ini juga? Bukankah mereka bisa menyusul kita? Atau menjadikannya objek penelitian. Mencoba berbagai koordinat lalu mendatanginya. Alangkah mengerikan!" Mata Dean membayangkan kengerian yang akan terjadi di dunia-dunia lain nantinya.


Semua jadi ikut terdiam. Ucapan Dean jelas menggambarkan kekacauan yang mungkin terjadi nanti.


"Penguasa, apakah kita bisa membawa pintu teleportasi ini saat kita pergi?" tanya Robert.


Dokter Chandra mengerutkan keningnya dan memikirkan sesuatu.


"Pada dasarnya, ini hanya sebuah pintu yang diletakkan. Dibawa dari pusat pemerintahan untuk memudahkan perjalanan ke dunia-dunia lain. Jadi, harusnya bisa kita bawa kembali." Dokter Chandra berhenti sejenak.


"Tapi, aku sendiri tidak tau apa akibat dari menarik pintu yang sedang kita gunakan."


Guncangan di gua kembali terjadi.


"Bisakah kita pikirkan itu nanti? Mereka sudah semakin dekat." Indra mengingatkan.


"Baiklah, kita coba saja. Apakah kalian punya sesuatu untuk mengikat pintu itu?" tanya dokter Chandra.


Mereka mengeluarkan simpanan yang mungkin bisa dijadikan tali. Ada dua tali tambang di penyimpanan Indra. Ada selembar selimut terakhir Widuri, yang segera di potong-potong dan dipilin jadi tali.


"Apakah ini akan cukup kuat untuk menarik dan mempertahankannya di lorong teleportasi?" tanya Dean.


"Alirkan kekuatan kalian lewat tali itu."


Dokter Chandra memegang tali yang terlihat rapuh itu. Seberkas cahaya putih lalu menyelubunginya.


Sunil, Dean dan Indra segera mengikat ujung tali pada bingkai pintu. Lalu ujung lainnya diikatkan di pinggang.


Lima orang berdiri di depan pintu cahaya yang kebiruan. Dokter Chandra membuat bola cahaya putih untuk menjaga semua orang tak terpisah selama perjalanan. Mereka bersiap untuk masuk.


"Ayo!"


Bola cahaya putih itu memasuki cahaya biru.


Di detik yang sama, pintu terowongan yang dibuat Dean sebelumnya, hancur berantakan dihantam bom.

__ADS_1


******


__ADS_2