PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 261. Kebenaran


__ADS_3

Di ruang tengah rumah itu, dokter Chandra benar-benar kelelahan. Dean mengeluarkan kendi air abadinya yang tinggal setengah.


"Minum dulu, Dok." Diangsurkannya kendi itu ke tangan dokter Chandra.


"Kita sudah kehabisan air abadi. Sudah waktunya kembali," lirih dokter Chandra.


"Tapi...."


Dean tak melanjutkan kata-katanya.


Aslan masuk ke rumah. Bubur yang terhidang di mangkuk, masih belum dimakan. "Maafkan aku. Mari silahkan makan. Aku akan menyuapi ibu, dulu," ujarnya.


Aslan mengambil satu mangkuk bubur dan secangkir air. Dia masuk ke dalam kamar, dimana ibunya masih terbaring lemah.


"Mari makan dulu, Bu," ucap Aslan lembut.


Wanita tua itu menatap putranya dengan kasih sayang. "Membawamu pulang saat itu, adalah keputusan terbaik yang kubuat. Terima kasih sudah menjagaku bertahun-tahun." Dihelanya nafas yang terasa sesak.


"Tolong maafkan aku, karena tak bisa jadi ibu yang sempurna untukmu," ucapnya sambil menitikkan air mata.


Aslan merasa tenggorokannya tercekat. Air matanya bisa tumpah kapan saja. Dengan kasar, disekanya mata yang mulai basah.


"Apa yang ibu katakan! Tanpa belas kasihmu, aku pasti sudah mati di laut," ujarnya.


"Sekarang ayo makan. Aku masih berhutang nyawa padamu. Jadi biarkan aku membalasnya." Aslan mengangkat sendok ke dekat mulut ibunya.


Dengan patuh, wanita itu membuka mulut dan mengunyah pelan bubur gandum.


"Dari mana kau mendapat gandum?" tanyanya.


"Teman-teman kakek memiliki persediaan gandum. Tinggal sedikit, jadi dibuat bubur. Jadi, habiskanlah." Disuapinya lagi ibunya.


"Apa rencanamu besok?" tanya ibunya lagi.


"Aku akan mencari pekerjaan di pasar, agar bisa membeli beras atau gandum untuk kita makan," ujarnya sambil tersenyum.


"Aku hanya menyusahkanmu saja," rajuk ibunya.


"Tidak susah. Ibu harus bangga padaku, karena tenagaku kuat. Aku bisa bekerja apa saja di pasar. Mereka butuh banyak orang dengan tenaga kuat untuk mengangkut barang-barang," jawabnya bersemangat.


"Kurasa, Nenek mengirimmu untuk menjagaku, setelah kepergiannya," ujar wanita itu sendu.


Sendok yang dipegang Aslan, tergantung di udara.


"Bu, seperti kataku sore tadi, jika ada yang Kau rahasiakan tentang Nenek, lebih baik katakan saja. Mereka mungkin juga sedang mencari keberadaan Nenek."

__ADS_1


Aslan kembali menyuapi. Wanita itu hanya diam sambil mengunyah makanan. Dia terus memikirkan banyak hal.


"Jika ingin berhubungan baik dengan mereka, maka kita harus mengatakan semua hal yang kita tau. Bukankah itu juga sama dengan membantu orang lain dan diri sendiri?" bujuk Aslan lagi.


Hingga selesai menyuapi, wanita tua itu masih bersikukuh untuk tak mengatakan apapun lagi tentang ibunya.


Malam berlalu dengan tenang. Dokter Chandra, Dean, Robert dan Aslan tidur berjejer di lantai kasar beralas tikar usang.


Semua ya tertidur pulas. Kecuali, wanita tua yang dipenuhi pikiran.


"Apakah harus kukatakan hal itu?" pikirnya.


Segala hal terasa rumit baginya. Kebenaran yang ditutupinya selama ini, akan terkuak. Dulu dia membuat keputusan, dengan pertimbangan matang. Demi menjaga persatuan kelompok, menghadapi suku lain yang selalu datang mengganggu.


Tapi masa sudah berganti. Raja yang memimpin negri ini sudah cukup kuat. Hukum juga sudah ditegakkan. Tak ada lagi kelompok atau suku yang menyerang suku dan kelompok lain.


Keahlian memanah sudah tidak diminati lagi. Kelompok yang dikumpulkan ibunya juga sudah mulai berbaur dengan suku dan kelompok lain dari pulau besar. Beberapa pindah dan masuk ke keluarga lain.


"Tak ada yang perlu diselali lagi. Jika dengan berkata jujur, mereka mau membawa Aslan, maka ini sepadan," batinnya.


Pagi Hari.


Dean mengeluarkan keping granola yang tersisa. Ini makanan darurat. Mereka harus segera kembali.


"Ini untukmu." Dean menyerahkan sekeping granola bercampur madu dan karamel maple pada Aslan.


Dean menggeleng. "Tidak! itu tak bisa untuk ibumu. Terlalu keras," larang Dean.


Kemudian terdengar suara batuk dari kamar. Aslan segera masuk kamar dan melihat ibunya sudah tergelatak. Kepalanya menelungkup di tepi temoat tidur. Di lantai, ada bercak darah.


"Ibu!" dia lari menghambur. Membatu ibunya untuk duduk. Di sudut bibir wanita itu meneteskan darah.


"Dokter! Dokter!" panggilnya panik.


Dokter Chandra masuk kamar dan memeriksa. Dia menggeleng perlahan. Waktu ibumu hampir habis. Kau temanilah dia untuk terakhir kali," ucap dokter Chandra. Dia segera keluar


"Tidak! Ibuku baik-baik saja. Ibu, Kau harus baik-baik saja. Aku akan menggendongmy ke Rumah Sakit!" tekadnya.


"Uhuk! Uhuk...."


"Ibu, akhirnya kau sadar. Mari kubawa ke Rumah Sakit," ajak Aslan.


"Panggilkan ... Kakekmu!" ujarnya terbata.


"Nek...." Aslan keberatan, menilai kondisi ibunya.

__ADS_1


"Tak ada waktu lagi."


Akhirnya Aslan kembali memanggil dokter Chandra untuk masuk ke ruangan. "Dokter, Ibu ingin bicara," ujarnya.


Dokter Chandra pun, kembali masuk ke ruangan itu. "Apa yang ingin kau katakan?" tanya ya datar.


"Ibu, ibuku sudah meninggal karena tua," ujarnya dengan suara lemah.


"Apa? Bagaimana kau tau? Di mana kuburnya?" tanya dokter Chandra setengah berteriak.


Hal itu mengundang keheranan Dean dan Robert. Bersama Aslan, mereka akhirnya ikut menyempit di dalam kamar.


"Ibu yang tak ingin kabar kematiannya diketahui orang lain. Dia memintaku merahasiakannya, agar kelompok kami tak terpecah."


Wanita tua itu sudah kepayahan untuk bicara panjang lebar. Aslan menyandarkan tubuh ringkih itu ke dadanya, agar bisa lebih muda bernafas.


"Lalu kau makamkan di mana Adikku?" tanya dokter Chandra dingin.


"Ibu telah menyiapkan tempat berbaringnya. Aku hanya diminta menutup peti matinya saja," jawabnya lagi.


"Di mana peti matinya!" tanya dokter Chandra tak sabar.


"Di bawah pembaringanku!" Suaranya tersedak tangis. "Maafkan aku ibu, aku harus mengatakan kebenaran sebelum waktuku habis."


"Singkirkan dia!" perintah dokter Chandra.


Dean mengangkat tubuh kurus dan renta itu, melayang menuju ruang tengah. Aslan mengikuti ibunya. Khawatir terjadi sesuatu. Namun dia lega, karena Dean memindahkan ibunya beserta alas tidur tipis, dan diletakkan di atas tikar.


"Kau jaga ibumu di sini," ujar Dean.


Dean berjalan masuk lagi ke kamar. Dia terpana, ternyata ibunya Aslan tidur di atas peti mati dari batu marmer.


"Melihat jenis, potongan dan ukiran di batu ini, tak mungkin wanita itu yang membuat," cetus Robert setelah mengamati.


"Ini tisan adikku. Memang dia yang menyiapkannya. Mungkin dulu, ini adalah kamarnya," sahut Penguasa.


"Mari singkirkan dulu tutupnya, usul Dean.


"Tunggu dulu Dean. Apa Penguasa mau melihat isinya?" tanya Robert pada dokter Chandra.


"Ya, bukalah. Aku ingin lihat dan akan kita kubur dengan layak di dunia kecil yang dijaganya," putus dokter Chandra.


Dean dan Robert menarik penutup peti mati dari batu marmer itu bersama-sama. Meski berat sekali, tapi setelah bekerja sama, akhirnya bisa terbuka juga.


Bau apek tiba-tiba keluar dari lubang itu. Memenuhi udara kamar dan menyesakkan napas. Dean melihat jendela kamar yang tertutup oleh tumpukan kain. Dia membuka jendela itu dengan paksa. Udara laut yang segar, akhirnya menggantikan kesumpekan di dalam kamar.

__ADS_1


Sekarang kamar jadi lebih terang karena jendela dibuka. Mereka dalat melihar dengan jelas, kerangka utuh di dalam peti mati batu marmer itu. Jasad itu masih lengkap dengan kalung dan lambang bintang di dadanya.


*********


__ADS_2