
Dean kembali ke gua dengan membawa sebongkah batu datar. Disusun dengan penyangga di kanan kirinya di dekat perapian. Dean memindahkan dan meletakkan beberapa batu yang membara di bawah batu datar. Menambahkan lagi bongkahan batu bara.
"Untuk apa itu?" tanya Widuri heran.
"Untuk membakar roti. Anggap saja sebagai loyang pembakaran. Tak perlu berterima kasih padaku." Dean memandang hasil kerjanya dengan puas.
"Siapa yang ingin berterima kasih padamu? Ge er sekali," ejek Widuri.
"Tak berterima kasih, tak apa. Bukannya memuji ideku yang cemerlang ini, kau justru mengejekku," kata Dean pedas. Membuat Widuri jadi makit sewot padanya dan mulai mengomel.
"Lihatlah mereka berdua. Benar-benar pasangan serasi," Sunil bergosip dengan Nastiti.
"Kelihatannya Dean menyukai Widuri dan selalu menggodanya," Nastiti menambahi bumbu berita.
"Tapi Widuri belum menyadari perasaannya sendiri. Makanya mereka hanya akan bertengkar pada akhirnya," Sunil menyimpulkan.
"Hahaa.. Kau benar sekali," tawa Nastiti yang menggema di gua, membuat Dean dan Widuri berhenti bertengkar.
"Huh. Kau menyebalkan!" kata Widuri ketus pada Dean lalu meninggalkannya keluar gua.
Dean tersenyum simpul melihat Widuri yang kesal. 'Wajahnya yang sedang kesal itu benar-benar imut," pikir Dean gemas.
Sunil menyenggol Dean saat lewat.
"Kalau kau tak cepat mengatakan cinta, nanti didului Alan hloo," goda Sunil sembari tertawa keras.
"Hei, apa yang kau katakan?" elak Dean dengan wajah memerah.
"Waahh.. Sunil, dia malu. Lihat wajahnya yang memerah itu," tunjuk Nastiti sambil berputar-putar memperhatikan wajah Dean yang terus menghindar.
"Hahaha.." Sunil dan Nastiti tertawa keras.
"Tak bisa ku percaya! Usiamu berapa Dean? Wajahmu masih bisa memerah karena jatuh cinta?" Sunil belum puas menggoda. Nastiti tertawa makin keras karenanya.
"Apa yang kalian tertawakan?" teriak Widuri dari mulut gua.
Semua menoleh kearahnya.
"Dean sangat lucu, jadi kami tertawa," Sunil masih tersenyum lebar.
" Huh. Sejak kapan dia lucu?!" Widuri kembali balik badan dan berlalu.
"Ppfftt.. hahaa.." suara tawa ketiganya kembali memenuhi gua.
Widuri muncul tiba-tiba lagi.
"Kalian menertawaiku ya?" Widuri tampak tersinggung.
"Tidak.. tidak. Dean yang.." belum selesai Nastiti menjelaskan, Widuri sudah memotong.
"Jadi kau yang menertawaiku Dean? Sudah puas?" Widuri melangkah masuk ke dalam gua dengan emosi.
"Bukan. Bukan aku. Mereka yang menertawaiku sejak tadi. Tak ada hubungannya denganmu." jelas Dean.
__ADS_1
Widuri memandang Dean dengan intens tepat di matanya.
"Jangan mencari ribut denganku Dean. Kau akan menyesal." kata Widuri memperingatkan.
"Tidak.. kau salah sangka," kata Dean sambil menggoyangkan kedua tangannya untuk meyakinkan Widuri.
Dean tampak gugup dan keringat dingin terasa di dahinya. 'Alangkah seramnya dia saat marah' batin Dean.
Widuri berlalu meninggalkan Dean yang terpaku di tempatnya. Melihat ini Sunil merasa bersalah.
"Widuri, jangan salahkan Dean. Itu benar-benar tak ada hubungannya denganmu. Dean tak bersalah," jelas Sunil.
"Ya Widuri, kami tadi hanya sedang mengganggu Dean saja. Bukan kamu," tambah Nastiti.
"Jangan mudah emosi, apa lagi mengancam orang yang tak bersalah." bujuk Nastiti.
Widuri tak peduli dengan ocehan keduanya.
"Kalian pergi mandi lah. Sebentar lagi sore," Widuri mengalihkan topik pembicaraan.
"Baiklah, aku pergi mandi dulu," Nastiti menyambar tasnya lalu menghilang di mulut gua.
Tak lama Alan dan Dewi kembali membawa cukup banyak hasil panen gandum, buah dan sayur. Alan juga mendapatkan beberapa telur ayam hutan beserta induknya dengan kaki yang masih terjerat.
"Apa kalian tau? Kemarin aku dan Widuri mencabuti rumput di kebun sayur lalu menumpuknya di tempat terpisah. Dan tadi pagi, saat tiba di sana, kami melihat beberapa domba gemuk berkumpul memakannya dengan lahap," Alan menjelaskan dengan semangat.
"Benarkah? Itu sangat bagus jika kita bisa memelihara domba untuk diambil susunya," seru Dean senang.
"Bukankah binatang liar tak mudah dijinakkan?" tanya Dewi.
"Baiklah. Lalu apa saranmu sekarang?" tanya Alan.
"Saat ini, kita perlu membuatnya terbiasa dengan kehadiran kita. Tetap siapkan rumput untuk mereka dan biarkan mereka makan tanpa gangguan." Jelas Dean yang dibalas Alan dengan anggukan.
"Bagaimana dengan kepalamu?" tanya Dewi.
"Sudah tak apa-apa," sahut Dean.
"Widuri, apa yang bisa ku bantu?" tawar Dewi. Sini, bersihkan sayuran ini untuk dimasak." jawab Widuri.
"Hanya sayur? kita masih punya 2 ekor kelinci hidup disana, kalau ingin dipotong," Alan menawarkan bantuan.
"Tidak. Biarkan kelinci itu melahirkan dulu, biar stok makanan kita makin banyak," Widuri menjelaskan idenya.
"Ayam itu? Apa mau kau pelihara juga?" Sunil mencoba memastikan rencana Widuri.
"Ya." Jawabnya pasti.
Nastiti kembali dari mandinya. Baju kotornya dihamparkan di bebatuan besar untuk dikeringkan.
"Sunil, kau bau guano. Sana pergi mandi." Teriakan Nastiti membuat Sunil tak bisa berkata-kata selain secepatnya mandi.
Alan dan Dean membicarakan beberapa hal terkait domba di kebun sayur. Sementara Nastiti, Dewi dan Widuri menyiapkan makan malam.
__ADS_1
Kedua wanita itu memperhatikan Widuri membakar roti pada batu yang sudah dipanaskan Dean.
"Waahhh ini roti pertama kita sejak terdampar. Aku jadi terharu banget," Dewi terisak pelan. Dewi membantu memipihkan roti untuk dipanggang Widuri.
Nastiti menyetujui pendapat itu. Ini memang roti pertama mereka sejak terdampar. Jadi terasa seperti di rumah saja. Nastiti mengusap sudut matanya sambil terus mengaduk sayuran. Dia merasa makin rindu rumah.
Malam itu mereka sangat menikmati makan malam yang tersedia. Tak banyak yang berkata-kata. Semua terhanyut dengan perasaan masing-masing. Roti yang dibuat Widuri membawa kembali kenangan mereka akan rumah dan keluarga.
"Hiks.. hiks.." Sunil terisak-isak saat sobekan roti berlapis sayur itu dimasukkannya ke mulut.
"Kita semua merindukan keluarga kita." Alan menepuk-nepuk punggung Sunil untuk menenangkannya.
"Ya, dan Widuri membantuku meredakan rindu dengan menyiapkan makanan ini. Terima kasih," ucapan tulus Sunil tercekat tangis.
"Ya, ya.. sekarang habiskanlah. Enak tidak enak tolong habiskan. Aku sudah capek membuatnya."
Widuri tersenyum ke arah Sunil dengan mulut penuh. Matanya sedikit menyipit dan pipinya gembung. Melihat Widuri terlihat menggemaskan seperti itu wajah Dean tiba-tiba memerah. Dialihkannya pandangan pada Alan..
"Ehmm.. Alan jadi tadi kau sudah menemukan lokasi tanah liat kan. Besok kita bisa mulai membuat tungku api untuk melelehkan biji besi. Jadi besok kita keluar bersama. Para pria mengumpulkan tanah liat dan membuat tungku pembakaran, yang wanita mengumpulkan bahan makanan." Dean membagi tugas.
"Tidak perlu mengambil batu di gua kelelawar lagi?" tanya Sunil.
"Sementara sudah cukup. Kita gunakan tenaga untuk membuat tungku dulu agar pekerjaan lain lebih mudah," jelas Dean.
"Dean, aku ingin bertanya. Kenapa kita bermalam cukup lama disini? Saat di hutan salju, kita membuat rencana turun gunung mencari rumah penduduk dan terus bergerak. Apa kau ingin menetap di sini?!" tanya Widuri tanpa tedeng aling-aling.
Dean terhenyak mendapat pertanyaan yang lebih mirip tudingan. Dilihatnya Widuri yang menatapnya dengan pandangan tajam menusuk. Dean menarik nafas panjang dan menghembuskannya pelan. Dilihatnya teman-teman lain juga menatapnya minta penjelasan.
"Mungkin penjelasanku nanti tak akan memuaskan kalian. Jadi kalian bebas menyimpulkan. Pada dasarnya kita punya prinsip dan tujuan sendiri. Kita bersama karena rencana yang dibuat langit. Tiap anggota tim berhak untuk bergabung atau tidak, berhak tinggal ataupun meneruskan perjalanan. Selama tidak saling ganggu dan mencelakai, maka itu baik." Dean berhenti sejenak memperhatikan reaksi teman-temannya yang sedikit terkejut.
Saat menemukan kebun buah, kebun sayur dan bekas hunian yang runtuh itu, aku memang tiba-tiba merasa lelah berlari dan ingin istirahat sejenak. Karena jika dipaksa terus berjalanpun, kita tak punya cukup peralatan yang mendukung. Aku ingin kita mengambil waktu untuk mempersiapkan diri. Menyiapkan senjata memadai sebelum mencari jalan pulang." Dean terpekur melihat sepotong roti tersisa, tiba-tiba itu tidak lagi terasa menggugah seleranya.
"Terus terang saja, aku tak tau ini di wilayah mana. Dan hutan ini bukannya tanpa penghuni sama sekali. Nyatanya Alan menemukan beberapa domba makan di dekat kebun. Lumrahnya, jika tak ada binatang karnivora, maka domba yang berkumpul akan memenuhi area terbuka, tapi Alan hanya menemukan beberapa ekor saja bukan? Lalu kira-kira makhluk apa yang jadi pemangsanya? Dan kita tak punya senjata memadai untuk melawannya kan?" Kata-kata Dean membuka pikiran mereka.
"Maksudku menetap sementara adalah untuk membuat senjata. Kalau bisa melatih beberapa teknik bertarung. Karena kejadian yang menimpa Alex sungguh membuatku sedih. Kita harus membuat panah misalnya, agar bisa melawan musuh dari jarak jauh. Untuk itu kita butuh pisau dan kapak untuk memudahkan kita menebang pohon atau kerja lainnya. Tapi tentu ada yang benci dan tidak curiga padaku, jadi silakan membuat kelompok sendiri. Aku hanya mengikuti hal yang ku yakini, yang lain terserah masing-masing."
Dean bangkit dari duduk menuju kolam dan mencuci tangannya dan berjalan ke mulut gua dengan membawa kristal cahaya.
Semua anggota tim berpandangan dengan terkejut mendengar penjelasan Dean yang panjang. Lalu mereka serempak menatap Widuri dengan mata penuh tuduhan. Terasa suasana hening yang aneh, membuat Widuri merasa terintimidasi. Punggungnya refleks ditarik ke belakang dengan keringat dingin mengembun di kening.
"Apa maksud pertanyaanmu tadi?"
"Kau menuduh Dean tanpa berpikir?"
"Kau ingin membuat kelompok sendiri?"
"Apa kau bisa selamat tanpa bantuan Dean?"
Semua berondongan pertanyaan itu membuat Widuri tak berkutik. Keadaan hampir memanas ketika Nastiti menepuk bahu mereka dan menyuruh menyingkir. Mereka satu persatu meninggalkannya.
"Pikirkanlah sikapmu yang buruk padanya selama ini. Apa kau sungguh membencinya Widuri? Pada hal dia sungguh baik dan siap membantu kita semua. Widuri, mulut judes itu sangat berbeda dengan prasangka negatif yang mengakar di hati" Nastiti ikut bangkit dan mengakhiri makan malam itu.
Dada Widuri bergemuruh, ada rasa marah dituduh seperti itu. Widuri tiba-tiba ingin menangis karena semua orang menjauhinya karena Dean.
__ADS_1
"Arghh sungguh licik! Padahal pertanyaanku tidak salah. Jika dia ingin tinggal di sini, tidak ada juga yang larang. Kenapa aku yang jadi tertuduh?" Widuri merasa makin tidak suka pada Dean, tapi dia tak bisa berbuat apapun. Semua anggota tim mendukung Dean.
***