PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 41. Gawat!


__ADS_3

Dear Readers, khusus menemani malam tahun baru, author bonusin 1 chapter tambahan untuk menemani yang stay cool di rumah.


๐Ÿ’•Selamat Tahun Baru 2022 ๐Ÿ’•


Semoga harapan kita semua tercapai di tahun 2022, aamiin


Maafin author yang masih banyak typho. Kritik dan saran diterima.


Thanks alot ๐Ÿ™


***


Begitu melewati dinding cahaya biru, Toni terpaku, dia kini berada di tengah padang luas yang dihampari alang-alang, semak, beberapa pepohonan di kejauhan, rerumputan dan bunga-bunga liar berwarna-warni, indah sekali. Tubuhnya yang sudah lama terpapar udara dingin, seketika merasa nyaman ditimpa sinar matahari yang hangat. Toni menikmatinya.


"Aduh!" Niken yang keluar dari dinding cahaya itu menabrak Toni yang belum beranjak dari tempatnya berdiri karena terlalu terkejut.


Toni melihat ke belakang dan menyadari kesalahannya. Dia menyingkir memberi Niken ruang.


"Maaf, aku terlalu terkejut melihat tempat ini, jadi.." Ucapan Toni diabaikan oleh Niken yang sudah bergerak ke sana ke mari dengan mulut ternganga saking takjubnya dengan tempat yang didatanginya sekarang.


"Waouuu.. amazing. This is beautiful isn't it? Hahaa.. udaranya nyaman sekali.." Niken berlarian ke arah hamparan bebungaan aneka warna.


"Hei, jangan jauh-jauh. Kita belum tau situasinya!" teriak Toni memperingatkan Niken yang entah mendengarkan atau tidak.


"Waouuu.. Surga.. ini surga," suara Laras yang tiba-tiba terdengar di sebelah Toni, membuat Toni terlonjak kaget.


"Astaga.. mengangetkan saja." Toni memegang dadanya meredakan detak jantungnya yang tiba-tiba berdetak tak beraturan.


Tapi dia segera menyadari sesuatu, Laras muncul dari kehampaan. Toni yang tak bisa mempercayai matanya, segera mendekati arah Laras berdiri tadi. Dia berjalan mengitari tempat itu dan makin shock ketika melihat punggung Marianne tiba-tiba berdiri di depannya.


"Hei, kau keluar dari mana?" Tanya Toni pada Marianne yang terpaku melihat pemandangan di depan matanya.


Marianne menoleh ke arah suara di belakangnya. Belum sempat mengatakan apapun, Silvia dan Angelina tiba-tiba menabraknya dari kehampaan. Mereka bertiga terjatuh di hamparan rumput.


"Adduuhhh.." rintih Marianne sambil memegang pinggangnya yang nyeri sebab tiba-tiba jatuh di rerumputan.


"Aahh.. aduh, sakit. Kenapa berdiri di tengah jalan? Ketabrak kan jadinya." Silvia meringis dan mencoba berdiri. Dibantunya Marianne berdiri.


Angel mengabaikan keduanya, dia tak bisa berkata-kata melihat keindahan pemandangan di depannya. Dihampirinya Laras yang menghirup udara dengan kedua tangan dibuka lebar kesamping tubuhnya. Dagunya sedikit terangkat dengan mata terpejam menikmati semilir angin dibawah kehangatan matahari yang lama tak dirasakannya.


"Apanya yang di tengah jalan? Kau muncul tiba-tiba seperti hantu dan langsung menabrakku," Marianne protes disalahkan.


"Hei, menyingkir dari situ, atau kalian akan ditabrak lagi." Toni mengingatkan.


Benar saja, barusan Marianne dan Silvia bergeser sedikit, Michael dan Gilang muncul hampir bersamaan. Hal itu kembali membuat Marianne terkejut dan jatuh terduduk lagi dengan bola mata membulat keheranan.

__ADS_1


"Astaga! Kalian muncul dari mana?" Silvia berseru. "Dimana dinding cahaya hijau biru itu?" Sambungnya heran.


Mendengar pertanyaan itu Michael dan Gilang segera menjawab:


"Di sini!" tunjuk mereka ke arah belakang sambil menoleh.


Tapi mereka juga tak melihat dinding cahaya yang baru saja dilewati. Mereka justru melihat Toni berdiri tak jauh dari situ dengan mimik yang tak bisa dijelaskan. Kepala Toni sedikit miring, kedua alisnya terangkat tinggi dan memasang senyum miring yang terlihat seperti sedang mengejek mereka berdua.


"Apa yang kau lihat? Apakah lucu?" teriak Michael jengkel.


"Hahaaa.." Silvia tertawa keras.


"Ekspresi kalian tadi memang lucu. Hahaaa.." Silvia kembali tertawa diikuti Marianne.


"Sudah.. jangan mudah kesal. Mari kita tunggu seperti apa ekspresi Robert dan lainnya saat muncul nanti." Marianne menenangkan Michael sambil tersenyum lebar.


"Yah, kalian bisa gantian mentertawakan mereka. Hahaa.." Toni pun tak bisa lagi menahan tawanya membayangkan ekspresi lucu di wajah Robert yang selalu serius itu.


Indra muncul tiba-tiba, disusul Leon dan Liam yang berjalan bersebelahan. Ketiganya bertubrukan karena Indra tidak langsung bergeser dari tempatnya setelah melintasi dinding cahaya.


"Aduh, ada apa sih?" Leon bertanya heran.


"Dinding cahayanya dimana?" tanya Gilang yang mengerjai kedua temannya itu seperti dia dan Michael dikerjai Silvia.


"Di si...tuuu," mereka bertiga melongo karena tidak menemukan apapun di tempat yang mereka tunjuk.


"Menyingkir dari sana," Toni kembali mengingatkan. Silvia menarik tangan Indra dan Leon untuk menyingkir.


"Perhatikan ke situ. Tunggu Robert dan dokter Chandra. Kalian juga bisa gantian menertawai ekspresi mereka kalau terlihat cukup lucu." Silvia kembali tertawa geli diikuti Michael dan Gilang.


Tak lama dokter Chandra berdiri di hadapan Indra, entah dari mana.


"Astaga! Kalian benar, tak terlihat dinding cahaya hijau kebiruan itu disini." Indra benar-benar heran.


Dokter Chandra yang mendengar perkataan Indra segera melihat ke belakang, dia hanya melihat Toni berdiri tak jauh dari situ. Dokter Chandra ingin bertanya, tapi lengannya segera ditarik Indra untuk menjauh dari situ.


Robert tiba terakhir dan dengan segera menoleh ke arah belakang, mengawasi kalau-kalau kawanan serigala mengikuti mereka melintasi dinding cahaya hijau kebiruan itu. Tapi keningnya segera berkerut heran, karena dia tak lagi melihat hamparan salju tempat para serigala berdiri sebelumnya.


"Dimana ini?" Robert bicara pada dirinya sendiri, tapi segera membuat Indra, Leon, Liam, dan dokter Chandra tersadar. Mereka segera memperhatikan sekitarnya.


Pandangan Robert diarahkan ke kejauhan. Dia memutar tubuhnya untuk memastikan tempat mereka saat ini. Wajahnya dipenuhi kekhawatiran. 'Gawat!' batinnya.


Indra melihat perubahan ekspresi Robert.


"Ada apa Robert? Apakah tempat ini tidak aman?" Indra berusaha memahami apa yang dipikirkan Robert.

__ADS_1


Robert tak segera menjawab. Ditengadahkannya kepala untuk melihat arah matahari.


"Sepertinya ini sudah lewat tengah hari. Kita sekarang ada di tempat terbuka. Bagaimana membuat shelter? Di sini minim pepohonan." Robert menjelaskan situasi mereka saat ini.


Indra dan dokter Chandra yang mendengar penjelasan Robert dengan segera menyadari situasi sulit yang akan mereka hadapi. 'Tempat terbuka tanpa shelter? OMG!' batin mereka bertiga.


"Robert..! Aku mendengar suara air dari sana!" Niken berteriak dari kejauhan dengan jari menunjuk ke satu arah.


"Mungkinkah itu sungai?" Indra bertanya sendiri.


"Kita periksa dulu," Robert bergegas menyusul Niken yang dengan senang memetik bunga-bunga yang ditemukannya.


Akhirnya semua anggota tim berjalan mengikuti Robert. Marianne memetik beberapa bunga dan meminta Laras dan Angel membantunya mengumpulkan beberapa jenis tanaman. Toni dan Leon menjaga mereka agar tidak tertinggal jauh dari rombongan.


"Jangan lama-lama memetik bunganya. Nanti kita terpisah dari tim." Leon mengingatkan.


"Ya, baiklah." Marianne mengangguk.


"Sudah cukup untuk malam ini. Besok bisa kita ambil lagi," ajak Marianne pada Laras dan Angel.


"Apakah bunga-bunga ini enak?" tanya Angel.


"Tentu saja. Kita bisa minum teh yang enak dan harum malam ini." Marianne menjawab sambil tersenyum. Mereka menyusul anggota tim lain yang sudah berjalan jauh di depan.


"Heii tunggu kamiii.." teriak Laras dan Angel sambil berlari kecil dan melambaikan tangan. Liam yang mendengar panggilan, menoleh ke arah suara lalu memperlambat langkahnya agar tetap dapat terlihat dari belakang.


Robert tiba-tiba berhenti. Indra bergegas menyusul dan mengalihkan pandangannya mengikuti arah yang ditunjuk Robert.


"Pantai?" bisiknya tak percaya.


"Apa katamu? Beneran pantai?" Niken antusias sekali. Dia dengan cepat mendahului Robert dan Indra yang masih berdiri terpaku.


"Yeahhh... pantai..! Asiikkk.." Niken kegirangan, berlarian di pasir sambil melompat-lompat.


Silvia dan dokter Chandra ikut tersenyum lebar melihat kegembiraannya.


"Niken, kita bisa berenang sampai puas di sini. Ini pantai kita sendiri. Indah bangeettt." Silvia berlari dengan bahagia ke arah Niken. Mereka tertawa-tawa bermain kejar-kejaran berputar-putar di tepi pantai.


"Hahaa.. hahaa.."


Tawa riang mereka terdengar oleh Laras, Angel dan Marianne yang berada di belakang.


"Suara tawa Niken dan Silvi riang banget. Apakah mereka bertemu penduduk?"


Tak ada yang bisa menjawab pertanyaan Laras. Jadi mereka segera mempercepat langkah untuk melihat apa yang terjadi. Sungguh mereka sangat berharap bertemu penduduk, agar bisa segera pulang ke rumah masing-masing.

__ADS_1


***


__ADS_2