PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 267. Wormhole


__ADS_3

Setelah Dean, Widuri dan Cloudy melompat ke dalam cahaya, ketiganya segera terjatuh dan terjun ke dalam jurang gelap dengan kecepatan tinggi.


Dengan segera teriakan ketakutan menggema dari semua orang tanpa kecuali. Bahkan kuda-kuda Leon serta Cloudy memberi reaksi.


Dean memeluk Widuri dan Cloudy dengan erat. Dia tak tau seberapa dalam mereka jatuh. Tempat itu gelap gulita.


15 menit berlalu. Mereka masih terjun bebas di jurang yang tak diketahui dalamnya.


Suara-suara teriakanpun sudah hilang. Mereka sudah lelah berteriak. Meskipun perut rasanya dipilin dan diaduk-aduk, tak ada lagi suara yang bisa dikeluarkan, selain keluhan tertahan.


"Tidakkah kau merasa ini aneh? Dengan kecepatan jatuh kita, harusnya kita sudah mencapai dasar jurang kan?" bisik Widuri.


"Hemm.... Aku merasa kita bukan jatuh, tapi disedot...." ujar Dean ragu.


"Disedot??" Widuri auto bingung.


"Tempat ini terlalu gelap. Kita tak bisa mengetahui situasi yang sebenarnya."


Dean mencoba menggunakan mata supernya. Tapi itu juga tak membantu. Entah apakah ini seperti yang dipikirkannya atau tidak


"Alan! Coba gunakan apimu untuk melihat tempat apa ini!" teriak Dean.


"Ya!"


Suara Alan berasal dari sisi kiri Dean. Alan menyalakan api kecil dari telapak tangannya. Hanya sekejap, dan api itu segera padam. Tapi itu telah memberikan sedikit gambaran bagi Dean.


"Tempat ini seperti Worm Hole!" teriak Robert.


"Kau juga menyadarinya?" tanya Dean. Kekhawatirannya memuncak.


"Worm Hole?"


Michael dan Leon mengulangi dengan tak percaya.


"Kita akan mengetahui istilah worm hole jika kita menonton film tentang luar angkasa!" ujar Alan.


Ruang angkasa??? Yang lain jadi terbengong.


"Istilah sederhananya, worm hole itu seperti tempat teleportasi. Penghubung antar galaksi di angkasa raya," jelas Dean.

__ADS_1


Bagaimana ini bisa terjadi? Mereka baru saja merasa yakin bahwa mereka berada di bagian utara bumi. Dan sekarang?


"Apa maksudmu kita sedang tidak berada di bumi sekarang?" tanya Marianne.


"Hah?!!!"


"Indra, aku takut. Apakah kita memang takkan pernah pulang? Aku rindu rumah. Aku tak mau tinggal di planet asing... hu... hu..."


Indra hanya bisa memeluk untuk menenangkan Niken. Karena dia sendiri juga tak bisa memahaminya.


"Di depan ada cahaya! Sebaiknya hati-hati dan bersiap menghadapi benturan dengan kecepatan tinggi!" Dean memberi instruksi.


"Ya!"


Mereka memeluk pasangan masing-masing. Cahaya di depan sana makin terang. Dengan segera tubuh-tubuh tak berdaya itu, terlontar keluar.


"Aakhhh!"


"Aduhh!"


Mereka mendarat di permukaan keras berpasir yang panas dan asing. Tak ada pepohonan di sekitar situ.


Robert datang dan memeriksa kuda tersebut. Dua kaki depannya patah. Benar-benar patah. Kepalanya terbentur keras.


"Dia sekarat," ujar Robert sedih.


"Baiknya kita sembelih saja. Untuk menambah persediaan makanan kita."


Dean telah sampai di sebelah Robert. Robert mengangguk mengerti. Mereka harus mengakhiri penderitaan kuda itu, juga menambah bekal di tempat asing.


"Sunil, kau bisa menangani ini kan?" tanya Dean.


"Oke!" jawab Sunil segera. Dia berjalan menghampiri.


"Alan, kita harus bersiap dan membawa mereka semua, jika keadaan tak menguntungkan!" teriak Dean pada Alan yang berdiri jauh darinya.


"Ya!" jawab Alan.


Widuri memeluk Cloudy dengan erat. Dia ikut merasakan kecemasan Dean. Mereka tak tau ada di mana. Dan lingkungan yang seperti apa tempat asing ini. Semua anggota tim harus siap dievakuasi jika keadaan buruk. Tumpuan mereka kini hanya Dean, Alan dan Sunil.

__ADS_1


Semua berkumpul, di dekat Alan dan dekat dengan Dean. Sunil sedang mengelus-elus kepala kuda yang kesakitan itu. Dia menggumamkan nyanyian untuk menenangkannya. Kuda itu memejamkan matanya dan tanpa terasa bilah pedang Dean yang sangat tajam, telah mengakhiri hidupnya. Darah mengucur membasahi permukaan tanah keras berpasir. Tubuh kuda itu akhirnya berhenti bergetar. Baktinya telah selesai. Jane menatap nanar. Ada sejumput rasa lega dalam kesedihannya.


"Apa kalian merasakan gempa?" tanya Michael.


Semua mendengarkan dengan seksama. Permukaan tanah bergetar berirama.


"Itu bukan gempa! Alan, bersiap! Sunil, cepat bereskan!" teriak Dean.


Alan dan Dean segera mengangkat tubuh teman-temannya ke udara. Mereka terpekik kaget. Widuri tak melepaskan Cloudy yang terus menggeram dengan waspada.


"Ada yang kemari!" kata Dokter Chandra.


Anggota tim itu terkejut. Wajah mereka pias, menunggu makhluk apa yang datang hingga tanah bisa bergetar seperti gempa?


"Sunil, ku rasa ada makhluk buas yang mencium bau darah itu. Bisakah kau mengatasinya? Kita harus segera mencari tempat berlindung!" teriak Alan tak sabar.


"Aku sudah selesai!"


Tubuh kuda itu lenyap di kehampaan. Tapi kepalanya dilemparkan Sunil ke arah lain. Dia segera terbang menuju teman-temannya.


"Ayo kita pergi!" teriak Sunil.


Dean melihat ke sekitar. Ada bayangan hitam di kejauhan.


"Bagaimana jika kita ke sana?" tunjuk Dean.


"Kita harus segera pergi Dean. Lupakan analisamu. Makhluk itu sudah datang!" teriak Alan.


Dia sudah terbang mendahului Dean, sambil membawa beberapa anggota tim yang melayang bersamanya.


"Terbaaanggg!" teriak Sunil.


Dean segera terbang menyusul Alan. Membawa sisa anggota tim yang ditinggalkan Alan.


Sunil terbang di belakang rombongan itu, untuk menjaga mereka dari segala kemungkinan.


Dia terkejut melihat makhluk-makhluk yang muncul di sana. Besar-besar dan buas. Mereka membaui bekas darah di tanah. Sebagian lainnya mengejar makhluk jelek yang mendapatkan kepala kuda. Mereka saling menggigit dengan ganas dan niat membunuh! Sunil bergidik ngeri!


******

__ADS_1


__ADS_2