PARA PENYINTAS

PARA PENYINTAS
Chapter 392. Kegundahan Dokter Chandra


__ADS_3

Mereka mandi di laut air tawar dan bercengkrama seperti sebelumnya. Setelah puas menyegarkan diri, semua kembali ke rumah. Yabie dan Sunil menyalakan obor dengan sigap, agar tempat itu terang benderang.


Menunggu ikan hasil tangkapan matang, semua orang melakukan aktifitas seperti biasa. Dean masih sibuk mengisi penuh semua bak. Mereka mungkin akan perlu ke toilet malam nanti.


Robert dan Kang membantu membakar ikan hasil tangkapan, untuk makan malam. Sementara Yabie dan Sunil menyiapkan sayur, buah dan jagung rebus untuk tambahan.


Kakek Kang meneliti design rumah kayu yang dibuat Dean. Dia tak mengira, log kayu raksasa yang ada di pulau itu, bisa dijadikan kamar dengan cara memahatnya.


"Dean, ini kau yang buat?" tanya Kakek Kang saat Dean turun setelah mengisi penuh bak penampungan air di atas toilet.


"Ya," jawab Dean.


"Hanya dia yang punya keahlian membangun di dalam tim ini," timpal Sunil.


"Tapi tetap tak sehebat Kakek Kang," sahut Dean.


"Aku kagum dengan disain kamar log dan toilet ini. Sangat detail." Kakek Kang terus memeriksa dan melihat semua kamar di kompleks itu.


"Makanan malam sudah matang!" Panggil Yabie. Semua berkumpul dan mulai mendiskusikan tentang penempatan pintu teleportasi.


"Tak masalah jika diletakkan di tempatku," kata Kang.


"Tempatmu adalah yang terjauh dari kota, Kang. Itu tidak efektif," bantah Sunil.


"Tempat ini yang terdekat ke Kota Pelabuhan dan pasar. Tapi jika mau ditempatkan di sini, maka harus ada yang menjaga tempat ini," tegas Robert.


"Kalau begitu, di Kota Mati saja. Ada yang menjaga, dan tidak terlalu jauh juga dari kota. Atau mungkin Penghuni Kota Mati mau membuat pasar lokal untuk menyuplai kebutuhan di sana!" tawar Yabie.


"Di sana juga tanah pertanian, sama seperti yang dilakukan di Kota Mati. Tak ada yang bisa kalian pertukarkan satu sama lain," jelas Dean.


"Jadi memang harus mengakses pasar di Kota Pelabuhan yaa...." Yabie mengerti. Dia tak mendesak Dean untuk menempatkan pintu itu di tempatnya.


"Kenapa bukan salah seorang Suku Cahaya saja yang menjaga tempat ini?" usul Robert.


"Kau benar!" Sunil mengangguk setuju.


"Orang itu harus mampu menjaga pintu itu dan tempat ini dengan nyawanya!" Dean menekankan maksudnya.


"Si tangan api itu pasti mampu menjaga tempat ini. Bakatnya seperti Z!" kata Sunil.


"Benarkah? Bagus kalau begitu. Dia bisa ditempatkan di sini." Dean akhirnya mengangguk.


"Jadi, apakah pintu itu akan dipasang di sini sekarang?" tanya Kang.


Dean menggeleng. "Belum bisa. orangnya belum datang. Sementara Yabie sudah menikah dan harus pulang ke kediaman Ketua Kota saat malam."


"Kalau begitu, letakkan di Kota Mati saja dulu!" Kakek Kang nimbrung dalam pembicaraan.


"Baik. Itu ide bagus!' Dean mengangguk.


"Apa boleh pintu itu ditenpatkan di sana sementara waktu?" tanya Dean pada Yabie.


"Tentu. Silakan saja!" Yabie tak keberatan. "Mau ditempatkan di mana?" tanyanya.


"Bagaimana kalau di rumah ibumu?" tanya Dean hati-hati.


"Mungkin perlu dibuatkan ruang khusus untuk menempatkan pintu itu!" sahutnya.

__ADS_1


"Baik. Kita buat ruangan khusus di halaman rumah ibumu." Dean menyetujui. Tabie mengangguk.


"Berarti masalah pintu teleportasi sudah selesai. Kapan kita kembali?" tanya Sunil.


"Kakek Kang, Ketua Kota ingin bertemu dengan anda dan menanyakan beberapa hal," Dean mengalihkan perhatian pada Kang Tua.


"Oh, boleh. Besok pagi aku bisa ke sana," jawabnya.


"Aku akan mengantar Kakek ke sana," ujar Kang.


"Karena urusan di sini sudah selesai, baiknya kita segera kembali. Istrimu sendirian sekarang," tegur Kakek Kang.


"Ya, aku juga sudah harus kembali." Yabie berdiri dari kursinya.


"Wah, yang pengantin baru, sudah tak sabar mau pulang...." ledek Robert.


"Aku tak mendengar apapun!" balas Yabie sambil terbang pergi.


Robert dan Sunil tertawa melihatnya kabur secepatnya.


"Kami juga pulang. Sampai jumpa besok!" ujar Kang. Dua ekor naga terbang menembus gelapnya hutan di waktu malam.


"Kita juga harus istirahat!" ujar Sunil. Dia membereskan kekacauan di meja, dibantu Robert.


Dean segera berlalu menuju ke kamar yang ditempati sebelumnya.


*


*


Pagi hari itu, aktifitas sudah dimulai sejak matahari mencerahkan langit. Dean, Robert, dan Sunil menyiapkan sarapan sebelum pergi ke Kota Mati. Mereka tak ingin terus mereporkan Laras, menyiapkan makanan.


Tiga orang terbang melintasi pulau, menuju ke Kota Mati. Hari itu harus menyelesaikan ruangan khusus untuk pintu teleportasi. Kemudian, mereka bisa segera kembali ke dunia kecil.


Pekerjaan itu selesai dengan cepat. Yabie, Kang serta kakeknya tiba setelah waktunya makan siang. Yabie puas dengan ruangan kecil di sudut halaman yang disiapkan Dean.


Di depan semua orang, pintu ajaib itu diletakkan di sana. Kakek Kang mengatur koordinat dengan mengandalkan ingatannya. Sekarang pintu itu terhubung dengan pintu di dunia kecil Kakek Kang.


"Sudah terhubung!" ujarnya.


"Baiklah. Saatnya kami pergi dan mengatakan kemajuan ini pada Dokter Chandra." Dean berpamitan.


"Cepat sekali kalian pergi," ujar Kenny.


"Dengan pintu ini, kita bisa lebih sering bertemu," Sahut Robert.


"Baiklah. Sampai bertemu lag. Dan sampaikan salamku pada Niken, Widuri dan Marianne," kata Laras.


"Akan kami sampaikan," sahut Sunil.


"Kakek Kang ingin ikut? tanya Dean.


Pria tua itu menggelengkan. "Aku akan di sini sebentar. Nanti aku ke sana dan menyiapkan tempat untuk Suku Cahaya tinggal," jawabnya.


"Baiklah. Sampai jumpa!"


"Sampai Jumpa!"

__ADS_1


Dean, Sunil, dan Robert melesat masuk ke dalam lorong teleportasi.


*


*


Marianne dan Aslan sudah kembali dengan wajah cerah dan bahagia. Mereka banyak berbincang dan tertawa saat terbang melintasi ladang gandum.


"Cerita apa yang membuat kalian sangat gembira?" Suara Dokter Chandra terdengar di kepala Marianne dan Aslan.


"Kakek!"


Aslan mencari-cari keberadaan Dokter Chandra di ladang gandum. Tapi pria itu tak terlihat di sana.


"Aku di gazebo, di atas bukit," jawab Dokter Chandra.


Marianne dan Aslan menyusul ke sana. Pemandangan laut terlihat cantik di satu sisi. Di sini lain, hamparan ladang tang baru ditanami dan berbatasan dengan hutan, juga tak kalah indahnya.


"Ada kabar apa di sana?" ulang Dokter Chandra.


"Tidak ada yang spesial. Aku hanya mencobai kue buatan warga di pulau karang itu. Tak kusangka aku merindukan rasa itu. Mungkin dulu aku pernah mencobanya, jadi bisa segera mengenalinya," beber Marianne.


"Bagus kalau begitu." Dokter Chandra tersenyum tipis. Dia sedang menikmati kehangatan matahari sambil dibelai embusan angin.


"Apa Ketua Suku Cahaya sudah pulih?" tanya Marianne.


Dokter Chandra mengangguk. "Dia pulih dengan cepat."


"Kalau begitu, kami harus kembali ke sana secepatnya. Dan membawa anggota suku pindah ke dunia kecil Kang Tua!" kata Marianne antusias.


"Tim Dean bahkan belum kembali dari sana. Kita harus memastikan dulu, bshwa semua baik-baik saja di Kota Pelabuhan," kata Dokter Chandra.


"Baiklah. Kalau begitu, aku kembali ke rumah dulu!" Marianne berpsmitan pulang.


Setelah Marianne pergi. Aslan masih melihat bayangan mendung di wajah Dokter Chandra.


"Apa yang kakek pikirkan?" tanyanya penuh perhatian.


"Aku hanya berpikir ini dan itu yang tidak penting!" elak Dokter Chandra.


"Apa kakek tak ingin kembali ke Indonesia?" tebak Aslan.


Dokter Chandra terkejut mendengarnya. Kemudian dia terkekeh lucu. "Kau sudah menghiburku. Penting bagi kita untuk merasa punya keluarga. Dan kalian semua adalah keluargaku."


Aslan masih menunggu lanjutan kalimat Dokter Chandra yang dirasanya tak berujung pangkal. "Apa yang kakek takutkan?" desaknya lembut.


Dokter Chandra membuang pandangannya jauh ke lautan. Dia menghela nafas panjang sebelum mulai bicara.


"Aku cuma takut mendapatkan penolakan atau dipandang dengan aneh oleh orang-orang di sana!" ucapnya jujur.


Aslan tak tau harus menghibur Dokter Chandra seperti apa. Tetapi dia segera ingat satu hal. Peran pentingnya sebagai cucu Penguasa Cahaya. Sebagai keluarga!


'Jika merek membuat kakek tak nyaman, atau kalau mereka menolak kehadiran kakek, maka kembalilah ke sini. Selalu ada aku dan Suku Cahaya yang siap mendengarkanmu!" dukungnya.


"Kau benar. Aku sudah merasa lebih dekat dengan kalian di sini!" Dokter Chandra mengangguk setuju.


"Aku selalu bisa pulang ke sini, jika tak ada tempat lagi bagiku di sana!" tambahnya.

__ADS_1


*********


__ADS_2